Zhaira berdiri di dekat jendela kamar hotel. Fairel tersenyum, memperhatikan. Dapat terlihat jelas kalau Zhaira masih betah tinggal di Raja Ampat. Tapi mau bagaimana lagi? Fairel mempunyai tanggungjawab juga terhadap pekerjaannya, begitupun dengan Zhaira yang akan memulai bisnisnya. "Sayang, udah siap belum?" tanya Fairel, memeluk Zhaira dari belakang. Helaan napas terdengar. "Iya, Kang. Udah." Fairel membalikkan tubuh Zhaira, berhadapan dengannya. "Kalau begitu kita baca doa dulu, agar terhindar dari petaka dan juga gangguan syaitan saat di perjalanan." "Doa apa, Kang?" tanya Zhaira. "Doa saat akan melakukan perjalanan, Sayang." "Bimbing Zhaira ya, Kang. Zhaira nggak tahu," ucap Zhaira yang dibalas dengan anggukan oleh Fairel. Fairel pun mulai membimbing Zhaira untuk membaca doa

