Chapter 14 :
Kane Houston (4)
******
NAPAS Chris tertahan saat mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan Detektif Jace sejak tadi agaknya lebih mengarahkan kasus Bryant ke arah pembunuhan. Chris tiba-tiba merasa ngeri tatkala memikirkan bahwa… ada seseorang di antara mereka yang saat itu baru saja membunuh Bryant.
“A—Aku…” Suara Chris bergetar. “Aku tak ingat, Mr. Corbin. Aku terlalu ketakutan saat itu…”
Iya, benar juga. Apakah semuanya ada di sana saat itu?
Oh, ya Tuhan.
“Coba diingat-ingat kembali. Apakah semuanya ada di sana?” tanya Jace lagi.
Chris menunduk. Dia mengerutkan dahi, mencoba untuk mengingat-ingat dengan baik. Dia seolah-olah kembali ke masa itu hanya untuk mengingat wajah orang-orang yang hadir menemuinya langsung di kolam.
Namun, ujung-ujungnya, Chris gagal.
Beberapa detik kemudian, Chris pun mulai menjawab, “Aku melihat… Pelatih Andrew. Dokter Gray. Thomas. Kane. Ibarra. Sepertinya, lebih dari itu. Atau mungkin memang semuanya ada di sana. Namun, hanya orang-orang itulah yang kuingat…”
Jace mulai mencatat sesuatu di berkasnya. Setelah itu, dia bertanya lagi, “Kau sekamar dengan Ibarra, Lucas, dan Thomas. Apakah mereka semua ada di ranjang saat kau keluar untuk mengambil minum?”
“Ya,” ucap Chris dengan yakin. “Aku seranjang dengan Thomas dan saat itu Thomas ada di sebelahku, sedang tidur. Begitu pula dengan Lucas dan Ibarra yang sedang tidur di ranjang mereka. Aku sempat melihat mereka semua sebelum keluar dari kamar.”
“Oke. Terima kasih. Sekarang, aku ingin bertanya soal Lucas,” kata Jace.
Chris menunduk. Dia mulai fidgeting. Dia teringat kembali dengan kondisi Lucas yang tergantung di kamar mandi saat itu. Dia teringat bagaimana lidah Lucas terjulur…
Oh, Tuhan.
"Thomas adalah orang yang pertama kali membuka pintu kamar mandi dan melihat Lucas, tetapi kalian bertiga—kau, Thomas, dan Ibarra—masuk ke kamar itu bersama-sama. Saat kalian masuk ke kamar, apakah kalian mencium aroma yang aneh sebelum Thomas berteriak?"
“…Aroma?” Chris mengernyitkan dahi. “Tidak ada aroma apa pun, seingatku. Memangnya… ada apa dengan aromanya, sir?”
“Aku hanya ingin memastikan tidak adanya sabotase. Jika ada aroma manis yang menyengat atau bau kimia pembersih yang tak wajar, itu indikasi kuat adanya sabotase. Bisa jadi, dia "dipaksa" minum sesuatu sampai pingsan atau teler sebelum dieksekusi.”
Chris membelalakkan mata. “T—Tapi, sir—Lucas… Lucas gantung diri saat itu! Dokter—Dokter Gray bilang, Lucas—”
Jace menatap Chris dengan tajam. Fokus. Dingin. Setelah itu, dia berucap, “Gantung diri…”
“…atau digantung?” lanjutnya.
Bagaikan ada tombak besar yang menusuk d**a Chris saat itu. Tangannya langsung bergetar. Wajahnya pucat pasi. Dia lupa bernapas.
…Digantung?
Lucas… mungkin… digantung?
Siapa…?
Siapa yang melakukannya…?
“Itu tidak mungkin, sir—” Chris menggeleng. “Semua orang, aku ingat semua orang ada di ruang tamu saat Lucas permisi ke toilet. Tak ada yang pergi dari ruang tamu saat itu!”
Jace mengangguk. “Baiklah. Setidaknya aku tahu bahwa kalian semua memiliki alibi yang sama saat itu. Terima kasih atas konfirmasinya.”
Astaga. Apakah itu pertanyaan jebakan?
Entahlah. Chris terlalu shock untuk memikirkan itu.
“Sekarang, terkait kematian Austin. Kau yang pertama kali menyebut ini terdengar seperti sengaja ‘bunuh diri’ di depanku. Mengapa kau begitu cepat menyimpulkan itu? Apakah karena kau melihat sesuatu yang tidak kau ceritakan pada polisi?" tanya Jace.
Chris menggeleng. Matanya sedikit melebar. “No, sir. No! Aku tidak melihat apa pun. Aku bisa bilang begitu murni karena penjelasanmu saat itu terdengar seperti Austin bunuh diri. Lagi pula, bukan hanya aku yang mendapat kesimpulan seperti itu. Kane, Thomas, Russel, dan Ibarra juga berpikir hal yang sama. Namun, akulah yang menyebutnya dengan jelas.”
Jace mengangguk. “Oke. Apakah semua orang ada di sana saat Keith memanggil kalian dari dapur?”
“Aku tidak ingat. Situasinya terlalu gila saat itu. Semua orang panik. Aku tak memperhatikan itu, sir…” Chris menunduk, merasa frustrasi karena sepertinya dia tak membantu polisi sama sekali. Dia mungkin adalah manusia yang paling rapuh di sepanjang kejadian-kejadian itu. Otaknya blank kalau sedang ada kejadian buruk; dia akan ketakutan dan panik setengah mati.
“Baiklah. Cukup untuk kematian Austin. Sekarang, untuk kematian Castro… sepertinya tak ada yang ingin kutanyakan padamu selain… apakah ada orang yang kira-kira paham cara kerja mesin mobil?” tanya Jace.
Chris menatap Jace kembali, lalu mengerutkan dahi. “Apakah mobil Castro disabotase, sir?”
“Ya. Seseorang merusak remnya. Namun, potongannya sangat bersih. Rapi,” jawab Jace.
“What?!!!!” Chris membulatkan mata. Jantungnya serasa mencelus ke perut. Dia menggeleng tak percaya. “C—Castro—"
“Kau tahu siapa orang yang paham soal mesin mobil?” tanya Jace.
“No!!” Chris menggeleng kencang. “Kalaupun ada, dia pasti terburu-buru melakukan itu. Jarak waktu kematian Austin dan Castro sangatlah singkat! Anda dan polisi lainnya juga ada di vila saat menginvestigasi dapur itu. Kapan dia melakukannya?”
Jace diam sejenak. Dia hanya memperhatikan Chris.
Setelah itu, dia pun mulai berbicara.
“Ya. Aku tahu itu sulit dicerna,” ujar Jace. “Di vila itu tidak ada CCTV. Namun, pembunuh ini tahu kapan dapur kosong, tahu kapan mobil Castro tidak diawasi, dan tahu kapan Lucas sendirian di kamar mandi. Ini bukan orang luar. Pembunuh ini adalah bagian dari rutinitas kalian.”
Selesai.
Chris selesai diinterogasi tak lama setelah itu.
Namun, kalimat Jace tadi, yakni: "bagian dari rutinitas kalian" terdengar lebih dari mengonfirmasi pembunuhan. Itu seperti pengingat bahwa pelakunya selama ini makan bersama mereka. Tidur di vila yang sama. Duduk di sofa yang sama. Menghadiri pemakaman yang sama.
… dan Chris yang rapuh, yang otaknya blank kalau ada kejadian buruk, yang tangannya bergetar, yang sampai lupa bernapas…
… harus pulang ke rumah malam ini.
Sendirian.
Dengan pengetahuan bahwa seseorang yang dia kenal… adalah pembunuh dari empat orang.
Chris menangis dan bergetar ketakutan di sepanjang jalan pulang.
Setelah Chris diinterogasi, satu per satu dari keenam orang yang tersisa (Thomas, Kane, Russel, Ibarra, Dokter Gray, dan Pelatih Andrew) mulai dipanggil. Jace banyak menanyakan pertanyaan yang sama kepada mereka untuk mencocokkan keterangan. Namun, ada juga beberapa pertanyaan yang ‘berbeda’ karena menurut Jace, sudut pandang orang yang sedang ia tanyakan itu ada perbedaannya.
Contohnya, saat bersama Dokter Gray, pertanyaan Jace terdengar cukup banyak yang berbeda.
Jace menatap Dokter Gray dengan tajam, lalu bertanya, “Dokter Gray, saat Lucas meninggal, Anda sangat yakin bahwa dia bunuh diri. Sekarang, di depan mataku, Austin mati dengan pola yang hampir sama, seolah-olah 'dipaksa' terlihat seperti bunuh diri dengan barang bukti yang diletakkan terlalu rapi di sakunya. Biar kutanya sekali lagi: apakah Anda yakin Lucas Anguiano benar-benar menggantung dirinya sendiri? Atau Anda hanya ingin kasus ini cepat selesai? Atau Anda ingin menenangkan para atlet bahwa ‘tidak ada’ pelaku di antara mereka?”
Dokter Gray jadi tegang. Ada rasa bersalah yang tersirat dari nadanya saat mengatakan, “Maafkan aku, Mr. Corbin. Aku memang salah karena tak melaporkan kematian Lucas pada polisi. Namun, saat kulihat keadaan Lucas… itu memang bunuh diri, sir. Kalau memang aku sadar bahwa dia dibunuh, aku akan ketakutan dan langsung menyuruh semua orang pergi dari sana saat itu juga.”
“Anda menurunkan tubuhnya, Anda memeriksa nadinya,” ujar Jace. “Karena Lucas sebatang kara, tidak ada autopsi resmi dari negara. Sekarang, aku punya dua mayat lagi di tanganku. Aku ingin bertanya satu hal yang sangat teknis: saat Anda memeriksa Lucas di lantai kamar mandi, apakah otot-ototnya sudah mengalami kaku mayat atau rigor mortis? Jika belum, itu artinya dia baru saja naik ke tali itu beberapa menit sebelum ditemukan. Namun, Thomas bilang dia menemukan Lucas sudah tergantung. Apakah durasi waktu yang Anda lihat di tubuh Lucas sinkron dengan pengakuan Thomas?"
Oh, well, sebenarnya dia sudah mendengar soal ini dari Keith dan Chris, tetapi dia ingin mendengarnya dari Dokter Gray. Sebab Dokter Graylah yang menetapkan kematian Lucas sebagai bunuh diri.
“Dia belum mengalami rigor mortis. Tubuhnya belum kaku. Thomas memang menemukannya sudah tergantung, tetapi mungkin saja itu baru terjadi,” jawab Dokter Gray. “Begitulah yang kuamati dari jenazahnya waktu itu.”
"Anda memvonis bunuh diri dan jenazah langsung dikubur. Anda melangkahi kewenanganku. Jika aku membongkar makam itu sekarang dan menemukan tulang lehernya patah karena cekikan, bukan jeratan, apakah Anda siap kehilangan lisensi medis Anda?" tanya Jace. Tatapannya sangat dingin. Dia memiringkan kepalanya. []