13. Kane Houston (3)

1149 Kata
Chapter 13 : Kane Houston (3) ****** APA? Rem? Sengaja dirusak?! Siapa…? Siapa yang merusaknya?! Kapan?! “Seseorang… menyabotase mobilnya?” tanya Keith. Dia sudah pucat, tetapi gilanya, sekarang seperti tak ada darah lagi yang mengalir di wajahnya. “Remnya dirusak…?” “Yes,” jawab Jace. “Potongannya sangat presisi hingga sulit disadari. Namun, itu memang dirusak. Butuh keahlian dan ketelitian yang tinggi untuk melakukan itu, terutama dalam waktu yang singkat. Aku tahu bahwa Castro membawa mobil itu saat kalian kembali ke vila dan waktu itu tak terjadi apa-apa. Namun, tiba-tiba saja, saat Castro kabur sendirian, dia kecelakaan.” “Berarti…” Keith menyatukan alis. Dia berpikir keras. “…seseorang merusak remnya saat kami sampai di vila, packing bersama… sampai saat Anda datang dan menginterogasi kami di ruang tamu ketika Austin meninggal...?” Jace mengangguk. “Tepat sekali. Awal timeline-nya adalah saat kalian masuk ke vila itu kembali. Kalau dia fokus meracuni Austin terlebih dahulu, berarti dia baru merusak mobil Castro saat kalian sedang panik akibat menemukan mayat Austin. Atau ketika kami datang memeriksa. Namun, kalau dia fokus ke dua-duanya—yakni Austin sekaligus Castro—maka dia memberikan sianida terlebih dahulu ke teko dapur, lalu pergi merusak rem mobil Castro, atau sebaliknya. Dalam waktu cepat. Namun, untuk melakukan keduanya, berarti dia menghilang cukup lama. Teman sekamarnya akan tahu bahwa dia cukup lama menghilang saat packing bersama.” Oh, astaga. Detektif Jace sudah mempersempit kemungkinan. Keith hanya bisa diam. Dia shock, tetapi di sisi lain dia pelan-pelan paham dengan semua yang Jace katakan. Semuanya masuk akal. Benar. Dia sekarang jadi merasa "telanjang" karena si pembunuh punya akses ke seluruh sudut vilanya sendiri. “Sekarang, berhubung vila itu tak punya CCTV sama sekali, bahkan sampai ke parkirannya, maka pertanyaannya adalah: apakah kau tahu siapa di antara kalian yang tahu cara kerja mesin… atau pernah belajar sesuatu yang relevan?” tanya Jace. Keith menggeleng. “Tunggu. Aku tak mau menuduh seseorang, sir, aku—" “Aku tidak membuatmu menuduh siapa pun. Aku hanya ingin tahu. Kalau ternyata kau salah, aku takkan memperpanjang ini,” jelas Jace. Keith menghela napas. Ini benar-benar menyesakkan. Lama Keith terdiam… …sampai akhirnya, dia pun membuka suara. “Aku tak tahu siapa yang pintar melakukan itu. Sejauh ini, obrolan kami belum pernah sampai ke sana,” jelas Keith. “Kebanyakan dari kami sebenarnya baru bertemu, karena sama-sama terpilih untuk mewakili Sonoma dalam turnamen renang. Namun, kalau Anda menyuruhku untuk menebak lewat sifat, mungkin aku akan menyebut orang yang paling terlihat tenang. Ibarra Silva.” Sebelum Jace sempat merespons, Keith langsung melanjutkan, “Namun, aku tak yakin Ibarra pelakunya. Dia memang terlihat tenang dan kaku, tetapi dia juga orang yang paling peduli dengan teman-temannya. Sulit untuk memercayai bahwa dialah pelakunya. Dialah yang paling ingin berinteraksi dengan kami meskipun dia sulit bersosialisasi.” “Kita tak tahu isi pikiran orang lain, Keith. Dalam penyelidikan, aku tak menilai seseorang dengan perasaan,” ujar Jace. “Aku tak bisa memercayai siapa pun sebelum aku tahu siapa pelakunya.” Jace diam. Dia menatap Keith dengan tajam. Intens. “…termasuk kau,” lanjutnya. Tatapan dan kata-kata itu seolah-olah menikam Keith dari dalam. Keith duduk di sana… tetapi tubuhnya terpaku. Tatapan Jace sukses memenjarakannya. Tangan dan kakinya seolah-olah kaku. Meneguk ludah pun rasanya sulit. Beberapa detik kemudian, akhirnya Jace melepas tatapannya. Pria itu menatap berkas-berkas yang ada di hadapannya, lalu berkata, “Baiklah. Untuk sekarang, that’s all I want to know, Mr. Saunders. Terima kasih karena sudah mau kooperatif. Sekali lagi, aku turut berduka cita untuk sahabatmu, Austin.” Setelah Jace mengatakan itu, barulah anggota tubuh Keith terasa bisa bergerak kembali. Dia tersentak. “Y—Ya, Mr. Corbin. Aku juga berterima kasih. Semoga kau bisa menangkap pelakunya dengan cepat,” jawab Keith. “Kau boleh keluar. Tolong panggilkan Chris untukku,” ucap Jace pada akhirnya. Keith mengangguk. “Baiklah. Aku permisi dahulu.” “Okay. Be careful on your way home.” Beberapa saat setelah Keith keluar, Chris pun masuk ke ruangan Jace dengan wajah sembap. Jace memperhatikan Chris dan di titik ini, Jace sudah tahu betul bahwa Chris adalah salah satu anggota yang paling trauma di antara teman-temannya. Dia terlihat paling terpukul, paling fragile. Rapuh. Dia sering terlihat gemetar, fidgeting, panik, takut, dan… menangis. Itu bukan tanpa alasan juga, sebenarnya. Dialah yang menemukan mayat Bryant pertama kali. Dia juga merupakan salah satu dari orang-orang pertama yang menemukan mayat Lucas. Mentalnya sudah compang-camping. Mata Chris merah; dia jelas masih terus menangis. Mungkin, saat menunggu gilirannya tadi, dia juga menangis. Tubuhnya terlihat lemas. “Please have a seat, Mr. Fletcher,” ujar Jace. “I'm sorry for making you come here like this after you got back from the funeral.” “It’s okay, Mr. Corbin…” jawab Chris dengan lemah. Sambil berjalan, ia menghapus sisa-sisa air matanya. Begitu Chris duduk di hadapannya, Jace pun membuka lembaran selanjutnya pada berkasnya. Informasi-informasi yang sudah dia dapatkan dari polisi-polisi Windsor saat Chris mereka interogasi. “Agar lebih leluasa, bolehkah aku memanggilmu Chris?” tanya Jace. Chris mengangguk pelan. “Silakan, Mr. Corbin.” “Baiklah,” ujar Jace. “Aku takkan lama. Hanya beberapa pertanyaan.” “Ya, Mr. Corbin,” jawab Chris. Dia mencoba untuk menguatkan dirinya, menegapkan tubuhnya. “Aku tidak apa-apa. Silakan dimulai.” Jace mengangguk singkat. “Okay.” Dua detik kemudian, pertanyaan pertama dari Jace pun terdengar. “Chris, kau adalah orang pertama yang menemukan Bryant. Kau bilang, dia mengambang. Bryant adalah atlet tingkat nasional. Secara biologis, meskipun seseorang mabuk, insting bertahan hidup seorang perenang sangatlah kuat. Apakah kau yakin bahwa dia ‘tergelincir’ atau tenggelam karena mabuk?” tanya Jace. Chris teringat kembali bagaimana mata Bryant terarah kepadanya saat mengambang di air. Hal itu membuat rasa takutnya kembali merayap, membuat traumanya kembali. Selain takut, dia juga sangat… hancur tatkala mengingat itu. Meskipun dia tak dekat dengan Bryant, menyaksikan semua itu tentulah… menggoncangkan jiwa. “Sejujurnya, itu memang ironis, sir…” jawab Chris. “Aku… sejujurnya tak yakin kalau Bryant kecelakaan. Sama seperti kami semua, dia adalah atlet renang. Namun, semua bukti… mengarah ke sana. Seolah-olah Bryant memang meninggal di kolam karena terlalu mabuk.” “Apakah kau melihat seseorang berlari di koridor sayap kiri saat kau pergi ke dapur?” tanya Jace. “Aku sangat mengantuk saat itu, tetapi… sepertinya tak ada siapa pun di koridor selain aku. Tak ada suara langkah kaki juga. Mengapa Anda menanyakan ini, sir? Apakah Bryant…” Chris melebarkan mata. Jantungnya berdegup cepat dan tak keruan. Dia mulai takut mendengar fakta baru yang dia terka-terka sendiri di kepalanya. “Kita tak bisa mengecualikan segala kemungkinan, Chris,” jawab Jace. “Aku perlu tahu segalanya, terutama aku belum memegang kasus ini saat itu. Di kasus Bryant, Mr. Benjaminlah yang menanganinya. Bukan aku.” Chris mengangguk pelan. Jace pun kembali bertanya, “Saat kau berteriak dan membuat semua orang langsung pergi ke kolam renang, apakah kau melihat ada seseorang yang tidak hadir?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN