Chapter 12 :
Kane Houston (2)
******
SAPAAN singkat dari Jace itu terdengar seperti dentang lonceng kematian di telinga Keith. Suaranya rendah, tetapi tajam dan bergema di ruangan yang sempit itu. Membelah kesunyian. Suara itu membuat Keith tersentak kecil, seolah-olah baru saja ditarik paksa dari kekosongan pikirannya sendiri.
Keith akhirnya mencoba untuk fokus… meskipun harus memaksa dirinya sendiri. Dia pun mengangguk.
“Yes, Mr. Corbin.”
Keith berjalan mendekati meja itu. Di sepanjang jalan, Jace tidak berhenti memperhatikannya.
Begitu Keith duduk di hadapannya, Jace pun membuka suara lagi, “I apologize for making you all come here so soon after the funeral.”
Keith mengangguk mengerti. “It’s fine, Mr. Corbin. I understand.”
Jace mengangguk pelan. “Ini takkan lama karena kalian juga telah banyak diinterogasi oleh polisi Cloverdale. Data itu sudah ada di tanganku. Semua kronologi kejadian dan bukti yang sudah kudapat saat ini akan menjadi dasar pertanyaan-pertanyaanku. Bisa kita mulai?”
“Ya,” ujar Keith. “Silakan dimulai, Pak.”
Jace mulai membuka berkas yang ada di hadapannya, halaman pertama.
“I'm going to call you Keith from now on. I hope you don't mind,” ujar Jace.
“Yes. No problem,” jawab Keith.
Jace mengangguk.
Dua detik kemudian, pria itu mulai membicarakan sesuatu.
“Omong-omong, aku telah mengonfirmasi bahwa sianida yang ditemukan di teko, tempat sampah, dan kantung celana Austin itu… identik.”
Keith menunduk. Mendengar nama Austin… membuatnya kembali sedih dan merasa bersalah. Napasnya tersekat di tenggorokan. Rasanya, dia ingin menebus semua kematian itu dengan nyawanya sendiri. Andai waktu bisa diulang, dia takkan menawarkan vilanya kepada mereka semua.
Austin adalah teman terdekatnya. Sahabatnya. Namun, Austin mati di vilanya…
Keith benar-benar terpukul.
Jika sianida yang ditemukan itu identik… berarti sianida itu jugalah yang membunuh Austin.
Jace mulai bertanya, “Kau adalah orang terakhir yang melihat Austin packing. Sianida itu ditemukan di kantung celana yang dia pakai. Saat dia packing, apakah kau melihat dia mengambil sesuatu dari laci atau tempat lainnya sebelum ke dapur? Karena bungkus sianida itu tidak berkerut sama sekali, seolah-olah baru diletakkan di sana setelah dia meninggal, bukan saat dia sibuk packing dan bergerak."
Keith langsung menatap Jace. Matanya melebar sempurna. “W—What…?! A—Apa maksud Anda…?!”
“Sianida itu kemungkinan baru ditaruh di kantung celananya,” jelas Jace.
Wajah Keith semakin pucat. Dia menggeleng tak percaya. “N—No way… Bagaimana mungkin?"
Jace mengangguk. “Aku masih menyelidikinya. Apakah kau melihat dia mengambil sesuatu sebelum ke dapur?”
“Tidak…” Keith menggeleng. “Kami sedang mengobrol sebelum dia pergi ke dapur. Dia tidak mengambil apa pun.”
“Baiklah…” Jace mencatat kesaksian itu seraya melihat apa yang ada di filenya selanjutnya. “Kau bilang, dia sangat menyesali keputusannya saat itu, yang membuat Lucas meninggal dunia. Ini terlihat seperti dia memang sangat terpukul sebelum akhirnya memutuskan untuk meminum racun. Apakah menurutmu dia adalah jenis orang yang mudah menyerah seperti ini?”
“Tidak. Dia bahkan sangat mengotot untuk tetap latihan di villa walaupun Bryant meninggal di kolam renang, walaupun kejadian itu membuat kami semua shock. Dia sangat ambisius. Ya, dia memang sedang terpukul saat itu, tetapi tak mungkin dia meminum racun dengan sengaja,” jawab Keith sambil menggeleng.
“Sepuluh menit. Itu waktu yang lama hanya untuk minum air. Kudengar, kau baru menyusulnya setelah sepuluh menit. Selama sepuluh menit itu, koridor lantai dua sangat sepi, ‘kan? Apakah kau mendengar suara pintu lain terbuka? Atau suara langkah kaki yang terburu-buru? Karena seseorang harus memasukkan bungkus utuh itu ke saku Austin setelah dia tumbang.”
Keith kembali menggeleng. “Tidak… aku tidak mendengarnya. Dapur ada di lantai satu. Kalau ada orang dari lantai dua yang naik turun untuk meletakkan racun itu di saku Austin, lalu membuka dan menutup pintu, mungkin aku akan mendengarnya. Namun, kalau dia hanya melangkah atau membuka dan menutup pintu di lantai satu, aku takkan bisa mendengar apa pun, kecuali kalau dia membanting pintu itu.”
“Apakah Austin memakai sarung tangan saat kau melihatnya packing? Atau mungkin… dia membawa sarung tangan? Soalnya, ada keanehan. Bagaimana seseorang bisa mengambil bungkus racun dari sakunya, menuangkannya, tetapi tidak meninggalkan sidik jari pada bungkus itu? Apakah Austin memakai sarung tangan saat kamu melihatnya packing?"
“Tidak, sir,” jawab Keith. “Aku tak tahu dia membawa sarung tangan atau tidak, tetapi aku ingat bahwa saat packing, dia tidak memakai sarung tangan.”
“Okay—”
“But, Mr. Corbin,” potong Keith. Matanya melebar. Suaranya sedikit bergetar. “Dari semua yang Anda katakan, sepertinya ini… kasus pembunuhan, ya? Berarti, salah satu dari kami adalah—”
Jace begitu tenang, tetapi juga begitu serius saat mengatakan, “Ya. Kemungkinan besar begitu. Namun, aku belum punya bukti kuat soal siapa yang melakukannya.”
Keith spontan menunduk dan mengusap rambutnya ke belakang dengan frustrasi. “Oh, Tuhan… Bagaimana mungkin ini bisa terjadi…?”
“Maka dari itu, kita harus selidiki ini, Keith,” ujar Jace. “Aku telah memeriksa ponsel Austin dan dia tak pernah membeli racun ini secara online atau melalui siapa pun. Kalau dia memang bunuh diri, berarti dia membeli racun itu secara langsung, tanpa membuat janji sama sekali dengan sang penjual.”
Keith masih menunduk.
“Sekarang, aku ingin bertanya padamu soal kematian lainnya,” ujar Jace. Pelan-pelan, Keith pun mulai menatapnya kembali.
Tanpa menunggu Keith mengiyakan, Jace lantas bertanya, “Ini soal Bryant Thompson. Kaulah yang mematikan lampu dan mengunci pintu kolam malam itu. Akan tetapi, Chris menemukan pintu itu sedikit terbuka dan lampunya menyala. Apakah kau yakin tak ada kunci cadangan yang disimpan di area publik vila yang bisa diakses siapa pun? Atau apakah pintu kolam itu sebenarnya rusak dan bisa dibuka dari luar tanpa kunci?"
Mata Keith membulat. Napasnya tertahan.
Astaga. Benar juga.
Dia baru sadar ini!
Mengapa Bryant bisa masuk ke sana malam itu???!
Mengapa dia tak ingat? Apakah karena terlalu shock saat itu?!!
Keith terdiam, mematung total selama lima detik.
“Keith?” Jace memiringkan kepala, alisnya menyatu.
Keith masih diam.
Jace semakin heran. “Keith…?”
“…benar…” bisik Keith.
Kening Jace berkerut. “What?”
“Benar…” ucap Keith dengan lirih. Dia seperti dihantam oleh kesadarannya sendiri yang sepertinya hilang beberapa hari terakhir. “Aku… aku telah mengunci pintu itu. Mengapa…?”
“…Apakah kau punya kunci cadangan?” tanya Jace.
Tiba-tiba saja, Keith mengangguk cepat. Dia seperti jadi panik. Seperti tersambar petir di siang bolong. “Ya! Aku punya kuncinya—astaga—aku punya kunci cadangan seluruh ruangan! Oh, Tuhan—bagaimana ini—astaga!! Aku—apakah seseorang mengambil kunci itu?!! Ya Tuhan, jadi—”
Jace memegang bahu Keith. “Keith, calm down. Di mana kau meletakkan kunci itu? Karena aku serta tim kepolisian lainnya tak bisa menemukan kunci itu saat kami menginvestigasi TKP beberapa hari terakhir.”
“Astaga…” Keith mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Aku memang tidak mengecek kunci itu… Aku ingat bahwa aku selalu meletakkannya di laci nakas kamarku, tetapi aku tak pernah mengeceknya waktu itu karena terlalu sibuk memikirkan kematian-kematian yang terjadi.”
Jace mengangguk. “Kami sudah memeriksa nakas di kamarmu. Tidak ada kunci itu. Berarti, memang ada yang mengambilnya.”
Keith memijit keningnya. Dia hampir gila memikirkan ini semua.
“Sekarang… kita pindah ke Lucas Anguiano,” ujar Jace.
Begitu nama Lucas disebut, terlintas di otak Keith bagaimana keadaan Lucas waktu itu. Lucas tergantung… di kamar mandi. Keith adalah salah satu orang yang membantu menurunkan tubuh Lucas. Ingatan itu membuat hatinya teriris.
Jace pun mulai bertanya.
“Kau membantu menurunkan jenazah Lucas. Sebagai atlet, kemungkinan besar kau tahu bobot tubuh temanmu. Apakah saat kau menopang tubuhnya, lehernya terasa sudah kaku atau masih lemas? Aku perlu tahu apakah dia baru saja 'naik' ke tali itu tepat sebelum kau masuk.”
Keith lagi-lagi membulatkan mata. Ada lembing yang seolah-olah menohok jantungnya.
“Sir—”
“Aku tahu ini terdengar kejam, Keith,” ujar Jace. “Namun, aku perlu tahu. Aku akan mencocokkan keteranganmu dengan keterangan teman-temanmu.”
“Aku… seingatku… lehernya belum kaku. Sewaktu kuangkat… lehernya… lunglai…” Ingatan itu membuat Keith merasa pedih di hatinya. Kepalanya sakit. Itu adalah memori yang tak mau dia ingat lagi, sebenarnya. Menyaksikan kematian bertubi-tubi seperti ini jelas membuat mentalnya terganggu.
“Baiklah.” Jace mengangguk. “Sekarang, soal Castro. Tim forensik kepolisian kami menemukan bahwa kabel rem mobil Castro sengaja dirusak dengan alat pemotong. Potongannya sangat bersih. Presisi.”
Lagi-lagi, jantung Keith serasa berhenti berdetak. []