11. Kane Houston (1)

1355 Kata
Chapter 11 : Kane Houston (1) ****** PEMAKAMAN Austin dan Castro dilaksanakan di hari yang sama, yaitu tiga hari setelah Castro kecelakaan mobil. Mereka berdua dimakamkan di Cloverdale, salah satu kota di Kabupaten Sonoma, karena keduanya berasal dari kota yang sama. Banyak sekali orang yang menghadiri acara pemakaman itu, terutama dari asosiasi renang. Ada pengamanan polisi di sekitar pemakaman untuk mengantisipasi kematian selanjutnya. Keenam sisa peserta (yang ikut ke vila milik Keith), Dokter Gray, dan Pelatih Andrew pun tentunya menghadiri prosesi pemakaman itu. Berita soal kematian Bryant, Lucas, Austin, dan Castro sudah menyebar luas di Kabupaten Sonoma, bahkan sampai ke kabupaten-kabupaten lain. Berbagai baliho muncul di jalanan, berbagai karangan bunga dikirimkan, semuanya berisi belasungkawa terhadap Austin dan Castro. Semua baliho dan karangan bunga itu ada yang ditujukan kepada keluarga para almarhum… dan ada juga yang diberikan kepada Team Sonoma. Group chat renang yang mereka ikuti, status-status anggota tim renang lain, posting-an di sosial media, semuanya diramaikan dengan ucapan turut berduka cita. Kejadian ini juga masuk berita, di televisi dan di koran. Mereka adalah atlet-atlet yang masih muda, tetapi malah meninggal satu per satu secara beruntun dalam waktu kurang dari satu minggu. Di group chat, asosiasi renang California telah memberikan keputusan berupa: Dengan berat hati, mereka akan mencari pengganti untuk kesepuluh orang yang ikut ke Healdsburg, termasuk Pelatih Andrew, karena suasananya masih sangat kacau, penuh duka, dan tidak aman. Berita ini juga telah diberitahukan kepada Pelatih Andrew melalui panggilan telepon. Berita ini membuat orang-orang yang tersisa (enam peserta yang masih hidup) sangat frustrasi. Mengikuti turnamen ini adalah mimpi mereka; selama ini, mereka sangat menantikan turnamen tersebut dan sangat ambisius untuk menang. Semua harapan itu pupus seketika, tak bersisa. Runtunan peristiwa ini sukses mengosongkan jiwa mereka, membunuh mereka dari dalam sebagai perenang yang sungguh-sungguh mencintai renang. Namun, tak ada yang bisa membantah keputusan dari asosiasi karena itu adalah yang terbaik. Faktanya, situasi memang masih tidak aman (bisa jadi mereka adalah korban selanjutnya) dan di saat yang sama, mereka juga masih dicurigai oleh polisi. Orang-orang yang mendengar kasus ini pasti berpikir bahwa salah satu dari merekalah yang ‘bertanggung jawab’ dalam semua kematian beruntun ini. Jadi, mereka masih akan terus diawasi oleh polisi… dan diinterogasi secara berkala. Bayangkan betapa beratnya suasana duka di pemakaman Austin dan Castro saat ini. Pertama: keenam orang itu sedang menghadiri pemakaman dua teman mereka sekaligus (dan jangan lupakan bahwa mereka juga sudah kehilangan Bryant dan Lucas sebelumnya). Kedua: mereka telah kehilangan harapan untuk mengikuti turnamen renang nasional. Kehilangan ‘panggung’ mereka sebagai atlet di tahun ini. Ketiga: mereka akan sering berurusan dengan polisi. Keempat: ada rasa takut luar biasa yang terus menghantui mereka. Rasa takut bahwa mungkin saja… semua runtunan kematian ini belum selesai. Bisa jadi, mereka juga akan mati. Meskipun semuanya terlihat seperti ‘bunuh diri’ atau ‘kecelakaan’, apakah logis semuanya bisa terjadi secara beruntun seperti ini? Mental mereka benar-benar hancur. Mereka semua menghadiri pemakaman itu dengan lelah, ekspresi mereka sebagian tampak sendu dan sebagian lagi kosong seolah-olah tak ada motivasi hidup. Chris bahkan sampai menangis. Walaupun akan ada turnamen lagi di masa depan, belum tentu mereka terpilih lagi. Sebenarnya, ini adalah kesempatan emas yang bisa jadi batu loncatan untuk karir mereka sebagai atlet renang. Waktu itu, saat mendengar berita bahwa Castro kecelakaan dan mobilnya menabrak pohon, Detektif Jace langsung memerintahkan mereka semua untuk pulang. Mereka pulang tidak sendirian, melainkan dikawal oleh polisi dari vila langsung menuju ke rumah masing-masing. Detektif Jace memerintahkan agar semua mobil, perlengkapan renang, ponsel, dan koper mereka tetap berada di vila untuk diperiksa (karena beliau ingin mencari residu sianida yang dipakai Austin atau bukti sabotase mobil Castro. Mereka juga sebenarnya tak boleh menyentuh barang-barang itu karena dianggap sebagai bagian dari TKP/area investigasi). Jadi, mereka pulang hanya dengan pakaian yang melekat di badan. Mereka pulang dalam keadaan trauma, kehilangan teman, dan tanpa barang pribadi. Setelah mobil polisi yang mengantar para atlet itu pergi meninggalkan vila, jenazah Austin dan Castro pun dibawa ke kantor koroner Healdsburg. Lokasi kecelakaan Castro juga langsung ditutup total. Jenazah keduanya dibawa untuk autopsi fisik dan pengambilan sampel toksikologi. Selama tiga hari itu, sudah banyak hal yang terjadi. Dari sisi polisi, mereka memeriksa sidik jari pada bungkus sianida yang ada di kantung celana Austin dan di tempat sampah. Mereka juga memeriksa konsentrasi sianida dalam tubuh Austin dan mencocokkannya dengan sisa minuman di teko serta bungkus yang ditemukan di kantung celananya. Selain ponsel semua orang yang masih hidup, ponsel Bryant, Lucas, Austin, dan Castro juga disita untuk melihat riwayat pesan atau telepon terakhir. Mereka perlu tahu juga dari mana Austin mendapatkan sianida tersebut. Untuk Castro, tim mekanik kepolisian akan memeriksa rem, kemudi, dan ban mobil Castro untuk melihat apakah ada sabotase sengaja yang menyebabkannya menabrak pohon. Hasil autopsi fisik juga dilakukan untuk memastikan Castro meninggal murni karena benturan (trauma tumpul) atau ada penyebab lain sebelum kecelakaan terjadi (misalnya, apakah dia juga sempat ‘menelan’ sesuatu saat menyetir). Mereka juga menggeledah barang-barang Castro di mobil untuk mencari petunjuk tambahan. Jace sudah memegang profil lengkap semua orang yang ikut ke vila Keith, termasuk catatan kriminal atau masalah pribadi di antara mereka (ini didapatkan atas koordinasi dengan polisi dari kota tempat masing-masing peserta tinggal, agar ditanyai dari sana saja), sebab Jace masih harus berada di Healdsburg untuk menginvestigasi TKP. Karena tidak ada CCTV, Jace dan para polisi di sana melakukan penggeledahan menyeluruh di seluruh sudut vila Saunders untuk mencari sisa racun, tali, atau barang bukti lain yang mungkin disembunyikan pelaku di kamar-kamar peserta. Karena penyebab kematian Austin adalah racun (sianida), autopsi dilakukan dengan cepat untuk mengambil sampel toksikologi. Di California, setelah sampel diambil, jenazah bisa langsung dilepaskan ke keluarga. Karena keluarga Austin (orangtuanya) sudah ada di lokasi Healdsburg waktu itu, proses birokrasinya jadi lebih cepat. Selain itu, kematian akibat kecelakaan lalu lintas traumatis (kematian Castro) juga biasanya lebih cepat ditangani. Karena dia meninggal di tempat dengan luka fisik yang jelas, koroner hanya perlu memastikan tidak ada zat asing di tubuhnya (alkohol/narkoba/zat tertentu). Setelah semua sampel diambil (darah, jaringan tubuh), jenazah pun dilepaskan ke rumah duka (funeral home) atas izin Jace. Sayangnya, Jace baru ‘ditugaskan’ memegang kasus ini sejak kematian Austin. Waktu kematian pertama (Bryant), Mr. Benjaminlah yang memegang kasus ini, dan kasus itu ditetapkan sebagai kecelakaan. Lucas juga kematiannya tidak dilaporkan ke kepolisian, jadi sebenarnya Jace cukup kesal, sampai-sampai dia menekan kantor koroner untuk bekerja cepat pada Austin dan Castro. Soalnya, dia merasa seperti ada ‘lubang hitam’ di dalam penyelidikannya. Dia tak bisa membongkar kuburan Bryant atau Lucas karena proses ekshumasi (pembongkaran makam) memerlukan perintah pengadilan yang sangat kuat. Jace harus membuktikan kepada hakim bahwa ada kesalahan fatal dalam autopsi sebelumnya atau ada bukti baru yang sangat telak. Lagi pula, mengurus surat perintah ekshumasi biasanya memakan waktu berminggu-minggu. Sepulangnya keenam peserta yang tersisa (serta Dokter Gray dan Pelatih Andrew) dari pemakaman itu, mereka semua langsung dikawal untuk pergi ke kantor polisi. Jace sudah datang ke Cloverdale (berkoordinasi dengan polisi di sana) untuk melakukan penyelidikan di kantor polisi Cloverdale. Jace akan menanyai mereka satu per satu di dalam ruangan yang tertutup. Untungnya, mereka semua kooperatif. Mereka datang ke kantor polisi dan menunggu giliran mereka untuk ditanyai. Lagi pula, apa yang bisa mereka lakukan? Walau lelah begitu, mereka sudah tahu bahwa situasi seperti inilah yang akan mereka hadapi. Sesampainya di kantor polisi Cloverdale, orang pertama yang dipanggil masuk ke ruangan adalah Keith, anak sang pemilik vila. Keith masuk ke ruang interogasi itu dengan wajah yang pucat. Ada kantung hitam di bawah matanya, matanya juga bengkak dan merah. Dia seperti kurang tidur berhari-hari… dan menangis terus-menerus. Meskipun di pemakaman tadi dia tidak menangis… dialah yang terlihat paling memilukan di dalam diamnya. Dia diam, menunduk, matanya kosong, dan wajahnya pucat. Bagaimana tidak? Ada empat temannya yang meninggal di vila milik keluarganya. Dia merasa bersalah setengah mati, tetapi di sisi lain juga bingung mengapa ini semua terjadi. Hal pertama yang Keith lihat tatkala memasuki ruangan itu adalah Jace yang sedang duduk di balik sebuah meja panjang. Ruangan itu tidak terlalu besar. Dindingnya berwarna hitam. Posisi meja itu ada di ujung ruangan. Jace menatap Keith dengan saksama; matanya memenjarakan Keith dari ujung sana. Di hadapannya, ada sedikit tumpukan berkas yang rapi serta sebuah pena. “Selamat siang, Mr. Saunders.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN