10. Castro Cortez (2)

1408 Kata
Chapter 10 : Castro Cortez (2) ****** MEREKA semua semakin terkejut. Mata Pelatih Andrew membulat sempurna. “Apa?!” “Sebentar—sebentar.” Kane menggeleng. “Bagaimana mungkin?!” “Anda sudah memastikannya??” Russel ikut bertanya; dia tak habis pikir. Tanpa sadar, suara mereka semua meninggi. “Itu tidak mungkin…” Chris menggeleng dengan wajah pucatnya. “Yang ada di kantung celananya adalah satu bungkus kecil sianida yang masih utuh, sementara yang ada di tempat sampah adalah bungkus kecil yang sama…tetapi sudah kosong. Sepertinya, bungkus kecil yang sudah kosong itu tadinya berisi sianida yang dicampurkan ke air putih di dalam teko itu.” Ibarra menganga. Sama seperti teman-temannya, ia menggeleng tak menyangka. “No… There’s no way… Austin adalah yang paling vokal dalam mengajak kami semua latihan mandiri. Dia sangat ambisius, sangat realistis. Bagaimana mungkin dia…” “Ya,” sambung Thomas. “Rasanya…tidak mungkin dia melakukan itu.” “Kasus ini masih diselidiki. Terlalu cepat untuk mengira bahwa Mr. Rivera mengakhiri hidupnya sendiri. Kami akan tetap meneliti barang-barang di sekitarnya lebih lanjut. Semua barang bukti akan dibawa ke laboratorium dan diperiksa oleh ahli forensik,” ujar Detektif Jace. “Kami perlu melihat dan mengidentifikasi seluruh sidik jari yang ditemukan.” “Walaupun begitu…” ujar Chris. “Mengapa ini terdengar seperti…Austin sengaja melakukannya?” Semua orang terdiam sejenak. “No way, Chris,” ujar Keith. Dia menggeleng, mengetatkan rahang, dan napasnya memburu. “Aku cukup mengenal Austin dengan baik.” “Aku tahu, Keith, aku tahu,” ujar Chris sambil mengangkat kedua tangannya, mencoba untuk menenangkan Keith. “Namun—” “Ada sebungkus zat itu di kantung celananya. Why would he keep it in his pocket?” sambung Thomas, membenarkan keraguan Chris. Tiba-tiba saja, Castro bangkit dari duduknya dengan tangan terkepal. Entah mengapa, dia yang sejak tadi tidak terlihat semarah Russel dan Kane, tiba-tiba murka. Mungkin, sejak tadi dia sudah menahan semuanya. Dia tak terbiasa berpikir matang-matang, sebenarnya. Dia juga tidak cukup sabar. Pikirannya selalu simpel, sedikit gegabah, seperti saat dia memutuskan untuk membawa alkohol di hari pertama mereka datang ke sana meskipun tahu bahwa tujuan mereka adalah untuk latihan. Jadi, saat dia tiba-tiba berdiri dengan ekspresi penuh amarah, semua orang tidak terlalu terkejut. Namun, mereka kira…Russellah yang akan terlebih dahulu melakukan itu. Ternyata mereka salah. “Apakah kalian lagi-lagi mau bilang kalau ini adalah bunuh diri atau kecelakaan?! Ini sudah tiga kali!! Are you guys f*****g serious?! Buka mata kalian!!! Mana mungkin kejadiannya beruntun seperti ini!!!” teriak Castro. “I never said anything like that,” bantah Detektif Jace. “Aku sudah bilang bahwa kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan terburuk.” “No! I’m talking to them,” ujar Castro, menunjuk semua teman-temannya. “Aku yakin bahwa mereka akan kembali mengatakan bahwa ini adalah ‘kecelakaan’ atau ‘bunuh diri’, padahal mereka sendiri meragukan itu! You guys act like smart people, but you always deny that there is anything wrong!!!” Chris membelalakkan mata. “Cas, calm down!! Maksud kami bukan begitu—” “SHUT THE f**k UP!!!” teriak Castro. "You too, Chris! Weren't you the one who found Bryant's body?!! ARE YOU SURE THAT IT WAS JUST AN ACCIDENT?!! SOMEONE MUST HAVE GIVEN HIM MY ALCOHOL!! HE WAS A SWIMMING ATHLETE, WHY THE f**k DID HE DROWN? THAT MAKES NO SENSE AT ALL!!" “YOU THINK YOU'RE THE ONLY ONE WHO THINKS LIKE THAT?!! WE'VE BEEN TALKING ABOUT IT!! CAN'T YOU SEE?!” Kane balas berteriak. Dia memelototi Castro. “SUDAH, SUDAH!!” Pelatih Andrew menengahi. Dia ikut meninggikan suaranya; dia menatap Castro dan Kane secara bergantian, lalu menghela napas. “Apakah ini waktunya untuk bertengkar? Kita sudah kehilangan tiga orang!!!!” Castro mengepalkan tangannya. Napasnya memburu, dadanya naik turun, rahangnya mengetat; ia terlihat seperti akan meledak sebentar lagi. Wajahnya memerah akibat menahan emosi. Akhirnya, Castro pun berkata dengan tajam, “I'M DONE. I DON'T WANT TO HEAR ANYONE HERE ANYMORE. I DON'T WANT TO BE THE NEXT PERSON TO DIE.” Thomas memijit keningnya ketika Castro mulai bergerak; Castro ingin pergi dari vila itu sekarang juga. Namun, tiba-tiba suara Detektif Jace terdengar. Suaranya sangat mencekam. “No one is allowed to leave before we complete the investigation.” Castro tertawa sinis. Dia menggeleng. "Spend 5 minutes here and you'll be the next. There's bound to be someone laughing at our stupidity behind the scenes." Castro tidak menghiraukan ucapan Detektif Jace sama sekali. Ia berjalan cepat menuju ke pintu utama vila tanpa menoleh ke belakang. Beberapa orang menunduk saat melihat Castro pergi, tetapi beberapa lagi sibuk memanggilnya, bahkan menyusulnya hanya untuk menarik tangannya. Sementara itu, Detektif Jace tetap diam di tempat. Matanya menyipit tajam tatkala menatap meja yang ada di hadapannya. Dia pun mendengkus. “Apakah dia membawa mobilnya sendiri?” tanyanya pada semua orang yang ada di sana. Pelatih Andrew mengangguk. “Y—Yes. Yes, he is.” Detektif Jace langsung mengunci mata Pelatih Andrew dengan tatapan tajamnya. “Which one?” “The white one,” sahut Dokter Gray. Detektif Jace mengangguk. Dia langsung mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku celananya, lalu menelepon seseorang. Kurang lebih empat detik setelah menempelkan ponsel itu ke telinganya, dia pun mulai membuka suara. “Tolong amankan…” ****** Beberapa menit kemudian, proses olah TKP pun selesai. Jenazah Austin baru saja dipindahkan ke mobil dan akan dibawa untuk diautopsi. Orangtua Austin—yang sedang berlibur ke San Jose—baru saja sampai di vila itu dan menjemput jenazahnya Austin sambil menangis terisak-isak dan marah-marah ke mereka semua. Dia mengancam semua peserta yang tersisa di sana, termasuk Pelatih Andrew dan Dokter Gray, berkata bahwa dia akan menuntut mereka semua. Suasananya ricuh; ayahnya Austin membanting meja yang ada di ruang tamu hingga pecah berkeping-keping. Dia hampir menusuk Keith dan Pelatih Andrew dengan pecahan kaca itu. Ruang tamu tersebut hampir saja menjadi TKP pembunuhan juga apabila polisi tidak menangani situasi itu dengan cepat. Ibunya Austin pingsan dan Ayahnya Austin akhirnya dibawa ke luar oleh dua orang polisi yang menahan pergerakannya; para polisi berkata bahwa mereka akan menangani kasus ini dengan sebaik mungkin dan pasti akan menangkap pelakunya. Namun, mereka harus mengumpulkan buktinya terlebih dahulu. Saat semua anggota polisi sudah berada di luar—membawa kedua orangtua Austin, membawa jenazah Austin, dan membawa seluruh barang bukti—Detektif Jace tinggal di belakang. Dia berhenti di pintu depan (pintu utama) vila bersama dengan kedelapan orang itu. Mereka ikut mengantar para polisi hingga ke luar. Detektif Jace tiba-tiba berbalik dan menghadap ke arah mereka. Dia mendengkus, lalu berkacak pinggang. Dengan tatapan tajam, dia pun mulai memberikan sebuah peringatan. “Kuharap kalian semua keluar dari sini sekarang juga. Kembalilah ke Sonoma; aku akan kembali menelepon polisi dari Sonoma untuk mengamankan kalian. Kami masih tidak tahu kalian tersangka atau bukan.” Mereka semua menunduk tatkala mendengar itu. Mau mereka salah atau tidak pun, rasanya sudah tak ada hak untuk berkomentar lagi. Mereka tak tahu harus merasa takut atau merasa bersalah atas semua kejadian ini. Rasanya…mereka hampir gila. Mereka seperti… …diincar. Mereka sedang diawasi… …oleh sesuatu. Ini sinting. Mereka bahkan tak tahu apa sebabnya. Mereka juga tak tahu harus bagaimana. Terlebih lagi, siapa yang melakukan semua ini?!! Semuanya terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlalu ‘beruntun’ untuk dikategorikan sebagai kebetulan belaka. Kebingungan-kebingungan itu rasanya bagai mampu meledakkan otakmu sendiri. Terlihat kebetulan, tetapi di sisi lain juga terlihat seperti bukan kebetulan. Terlihat mencurigakan, tetapi di sisi lain juga terlihat seperti bunuh diri atau kecelakaan biasa akibat kondisi TKP-nya. Detektif Jace baru saja ingin kembali berbicara pada mereka tatkala tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu. Ternyata, itu adalah panggilan telepon dari rekan kerjanya yang ada di kantor kepolisian Healdsburg, yakni orang yang ia telepon di ruang tamu sebelumnya. Detektif Jace mulai membuka suara, “Hal—” “Jace,” potong polisi yang ada di seberang sana. “That white car. Is it Chevrolet Malibu?” Detektif Jace mengernyitkan dahi. “Chevrolet Malibu?” tanyanya, kurang mengerti. Namun, begitu mendengarnya menyebut brand mobil itu, kedelapan orang yang ada di hadapannya langsung melebarkan mata. Tubuh mereka menegang. Ia sempat melirik mereka—melihat reaksi mereka semua—sebelum akhirnya kembali mendengar rekannya berbicara di seberang sana. “Yes. Kupikir kau harus cepat datang ke sini. Aku hampir sampai di lokasi vila itu, tetapi aku menemukan sebuah mobil di tengah jalan. Mobil Chevrolet putih,” ujarnya. “Mobil itu menabrak sebuah pohon di pinggir jalan dan bagian depannya hancur. Pengemudinya meninggal di tempat.” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN