Chapter 9 :
Castro Cortez (1)
******
PENYELIDIKAN oleh polisi kembali dilakukan di vila milik Keluarga Saunders. Namun, kali ini, para polisi datang bersama detektif dari satuan kepolisian mereka sendiri yang bersama Jace Corbin.
Jace Corbin adalah seorang laki-laki muda yang cenderung kurus, berkulit putih, dan berambut coklat. Dia tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek; ukuran tubuhnya standar. Wajahnya terlihat seperti pekerja kantoran yang bekerja hampir dua belas jam sehari dan belum terhitung lembur. Tidak, dia tidak terlihat selelah itu, sebenarnya; perumpamaan itu lebih diarahkan kepada ‘tipe’ wajahnya (jika kau mengerti maksudnya), bukan kepada seberapa hitam kantung matanya.
Jenazah Austin belum dipindahkan. Polisi telah melakukan olah TKP sejak setengah jam yang lalu. Mereka sedang mengamati kondisi TKP secara keseluruhan, melakukan pengamanan serta mempertahankan status quo di lokasi kejadian, mengumpulkan bukti-bukti, dan mendokumentasikannya.
Semua atlet yang tersisa beserta Dokter Gray dan Pelatih Andrew menunggu di koridor. Ada police line yang menghalangi mereka agar tidak masuk ke TKP alias dapur tempat di mana Austin tergeletak dengan mulut berbusa.
Tadi, saat melihat kondisi Austin, Keith merasa vilanya seperti kejatuhan sebuah meteorit besar. Bukan, bukan maksudnya mau memakai metafora yang berlebihan. Keith terkesiap saat melihat teman baiknya itu tergeletak di lantai; rasanya seolah-olah dunianya runtuh mendadak dan jantungnya berhenti berdegup. Di momen itu, waktu seakan-akan ikut berhenti. Ada sesuatu tak kasat mata, sebuah tekanan besar, yang mendadak bagai mencekik lehernya.
Keith sempat bersimpuh di samping tubuh Austin, mengguncang dan menepuk-nepuk tubuh serta pipi pemuda itu dengan panik—pikirannya benar-benar kacau saat itu—tetapi untungnya, otaknya masih berjalan. Masih bisa berpikir untuk menemukan solusi terbaik tatkala sadar bahwa Austin sudah tidak bergerak lagi.
Dengan d**a yang sesak, napas yang memburu, tangan yang gemetar, serta suara yang dipenuhi rasa takut, khawatir, dan kebingungan yang luar biasa itu—karena hampir lepas kendali—dia pun menelepon polisi. Setelah itu, dia langsung menjauh dari dapur—tak mau berlama-lama mengacaukan TKP dengan jejaknya—dan berteriak kencang untuk memanggil semua orang yang ada di vila itu. Semua orang datang ke sana dan langsung kembali merasakan ketakutan yang luar biasa, sama seperti ketika mereka menemukan mayat Bryant dan Lucas. Namun, kali ini, ekspresi mereka mulai dihantui oleh keputusasaan. Ada yang bahkan langsung terduduk dan meremas rambutnya dengan frustrasi. Mata Ibarra sampai berkaca-kaca; ia menggeleng dan berkata, “No… Not again…”
Sekitar satu setengah jam kemudian, sang Detektif Kepolisian (Jace Corbin) pun keluar dari TKP. Dia berjalan melewati koridor dan tidak menemukan para atlet beserta pelatih dan dokter itu di sana.
Detektif Jace mulai turun melalui tangga menuju ke lantai satu. Dari atas, dia sudah bisa melihat bahwa kesembilan orang itu ada di lantai satu, yaitu di area ruang tamu. Mereka duduk di sofa itu tanpa membicarakan apa pun. Suasananya sangat hening; ekspresi mereka ada yang takut, ada yang menunduk dan diam saja, ada yang khawatir setengah mati seraya mengusap kepala atau wajahnya dengan frustrasi, dan ada juga yang menangis dalam diam. Begitu mendengar suara langkah kaki Detektif Jace yang sedang menuruni tangga, mereka semua berdiri dan menyambutnya. Ada juga yang langsung mendekati tangga; mereka menunggu Detektif Jace di bawah tangga itu.
‘Mereka’ yang dimaksud adalah Keith, Russel, dan Kane. Sementara itu, yang lain tetap berada di tempat (di area sofa). Ibarra bangkit dari duduknya dengan wajah pucat. Chris pun sama, tetapi dia mulai fidgeting. Thomas dan Castro berdiri di samping Ibarra, tetapi dua-duanya hanya diam dengan dahi berkerut, tegang bukan main karena otak mereka sama-sama sudah yakin bahwa: something’s definitely wrong here.
Ketika Detektif Jace sudah sampai di lantai satu, Keith, Russel, dan Kane pun langsung mengikuti langkahnya menuju ke area sofa.
“Bagaimana, sir?” tanya Keith, dia terdengar panik bercampur frustrasi. “Apa yang sebenarnya terjadi pada Austin?”
“Why does this keep happening to us anyway??” ujar Russel. “Something is definitely wrong!!”
“Haruskah kita keluar dari vila ini sekarang juga? We definitely should, shouldn’t we?!” ujar Castro, dia terdengar sudah tidak sanggup, sudah tidak mau berada di vila itu lebih lama lagi.
“I know that this is frustrating, but please calm down, both of you,” ujar Dokter Gray dari area sofa. “Jangan mencecar Mr. Corbin. Ayo kita dengar apa yang telah polisi temukan.”
Pelatih Andrew menatap Detektif Jace dengan penuh penantian; dia ingin segera mendengar penjelasan Detektif Jace.
Begitu Detektif Jace duduk di sofa, mereka semua pun berkumpul di sana. Ada yang duduk di sofa dan ada yang berdiri, tetapi semuanya menghadap ke Detektif Jace; mereka menunggu detektif itu berbicara.
Begitu duduk di sofa, tanpa menunggu semua orang tenang terlebih dahulu—karena hal itu rasanya tidak mungkin—Detektif Jace pun mulai berbicara.
“First of all,” ujarnya. “I honestly can’t believe a big villa like this has no CCTV.”
Semua orang menunduk, terutama Keith. Namun, Keith harus apa? ‘Memasang’ atau ‘tidak memasang’ CCTV itu adalah keputusan keluarganya, jadi ia pun bingung harus menjelaskan apa kepada polisi.
Detektif Jace duduk tegap, tatapannya yang penuh sindiran halus itu melihat mereka satu per satu. Seolah-olah ia mau menginterogasi mereka semua hanya dengan tatapannya. Seolah-olah ia tak percaya dengan mereka semua. Well, bahkan kalimat pertama yang ia ucapkan pun merupakan sindiran terhadap vila itu.
Detektif Jace menghela napas. “Kami sudah hampir selesai mengumpulkan barang bukti dan dokumentasi. Mereka juga sedang mengumpulkan sidik jarinya untuk dianalisis lebih lanjut. Jenazah Mr. Rivera akan dipindahkan sebentar lagi.”
“Apa penyebab kematiannya, sir? Benarkah dia keracunan?” tanya Andrew.
“Anda dan Mr. Sullivan, selaku pelatih dan dokter mereka, selaku dua orang yang paling dewasa di sini, apakah Anda serius?” Detektif Jace menaikkan sebelah alisnya. “Mengapa masih nekat berada di sini setelah kejadian pertama yang menimpa Bryant Thompson?”
Catatan: Detektif Jace sudah tahu runtutan kejadian meninggalnya Austin dari rekan-rekan polisi lainnya. Siapa yang menjelaskan semua itu ke polisi? Tentu saja Pelatih Andrew saat ia menelepon polisi begitu melihat Austin tergeletak di lantai dapur dengan mulut berbusa.
Mereka berdua (Andrew dan Gray) pun menunduk. Meskipun sebenarnya itu bukan kemauan mereka, mereka tetaplah orang-orang yang paling dewasa di sana. Mereka jelas memiliki kontrol yang lebih besar.
Akhirnya, satu-satunya kalimat yang keluar dari mulut mereka adalah:
“Maafkan kami, sir.”
Ibarra menunduk dan mengepalkan tangannya. Dia merasa bersalah karena ikut andil dalam meyakinkan teman-temannya untuk tetap berlatih di sana.
“Kami sudah berencana untuk pergi sejak Bryant meninggal dunia.” Dokter Gray—yang hampir selalu terlihat calm itu—mulai berbicara. “tetapi mereka masih ingin berlatih di sini. Namun, setelah Lucas meninggal dunia, kami semua sudah sepakat untuk pergi. Kami semua sedang mem-packing barang-barang kami yang tertinggal di vila ini, di ruangan masing-masing, ketika tiba-tiba Keith menemukan Austin sudah meninggal dunia di dapur. Kami tak bermaksud untuk tinggal lebih lama.”
“Ya.” Keith menimpali. “Aku dan Austin sedang mem-packing barang-barang kami ketika tiba-tiba Austin merasa haus. Dia pergi ke dapur sendirian, lalu ketika aku merasa dia sudah terlalu lama berada di dapur, aku pun mencarinya…dan malah menemukannya sudah…”
Keith meremas rambutnya frustrasi, matanya berkaca-kaca.
“Aku sudah mendengar semua itu. Namun, aku sangat menyayangkan kecerobohan kalian yang langsung membawa Lucas Anguiano kembali tanpa memberitahu kami terlebih dahulu,” jawab Detektif Jace.
Dokter Gray mencoba untuk menjawab, “Lucas…benar-benar bunuh diri, sir. Aku memastikan kondisi tubuhnya serta kondisi sekitar. Kami semua memang sama-sama ada di ruang tamu ketika itu terjadi. Tidak ada yang ikut bersama Lucas atau berada di tempat lain.”
“Walaupun begitu, Dokter Gray,” ujar Detektif Jace, menatap Dokter Gray dengan tajam. “Kami harus tahu. Hal itu sebaiknya dilaporkan, terutama mengingat bahwa sebelum kematian Lucas, ada kematian lainnya. Aku tahu bahwa Anda adalah dokter yang berpengalaman; aku percaya dengan analisis Anda. Namun, jika kejadian itu dilaporkan kepada kami, kami bisa menginvestigasinya lebih dalam. Siapa tahu itu bukan kebetulan. Kita tidak bisa mengecualikan kemungkinan-kemungkinan terburuk.”
Dokter Gray menunduk. “Maafkan aku. Ini pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini. Aku juga sangat terguncang saat itu.”
“Apa pun yang terjadi, tolong hentikan kegiatan latihan mandiri ini,” ujar Detektif Jace. “Aku sudah menelepon para polisi di Sonoma dan mungkin saja beritanya sudah menyebar hingga ke Sacramento. Aku ingin banyak orang melarang kalian untuk berlatih secara mandiri, just in case kalian masih keras kepala.”
Semua orang di sana—yang mendengarkan ucapan Detektif Jace—jadi menunduk.
Dua detik kemudian, Detektif Jace menghela napas.
“Mr. Rivera menelan air yang sudah dicampur dengan sianida,” ujar Detektif Jace tiba-tiba. Kata-katanya spontan membuat semua orang yang ada di sana menoleh ke arahnya dan membelalakkan mata. “Sepertinya, dia tidak dapat mendeteksi baunya. Namun, kami tidak menemukan adanya jejak bubuk sianida di tempat lain selain di teko minuman itu, di tempat sampah…dan di kantung celana Mr. Rivera sendiri.” []