8. Austin Rivera (2)

1580 Kata
Chapter 8 : Austin Rivera (2) ****** KEESOKAN harinya, pemakaman Lucas pun dilaksanakan di Sonoma. Hari itu mereka semua—sepuluh orang yang tersisa—ikut menghadiri pemakaman Lucas dengan pakaian yang berwarna hitam. Pakaian mereka rapi, tetapi wajah mereka benar-benar terlihat keruh. Saat berdiri di samping makam Lucas, ada yang sempat menangis, ada yang tertunduk dengan alis yang menyatu, ada yang terlihat lemas seakan-akan pikirannya terus terganggu, dan ada juga yang ‘kelihatan’ memandangi makam Lucas, padahal sesungguhnya pandangan matanya kosong. Usai pemakaman Lucas, tatkala mereka semua mulai berjalan keluar dari area pemakaman itu, Pelatih Andrew dan Dokter Gray langsung mengumpulkan semua peserta. Mereka akhirnya berkumpul di dekat mobil Keith. Setelah beberapa detik terdiam, Pelatih Andrew pun mulai berbicara, “Ayo hentikan latihan mandiri ini. Kalian semua pasti sudah memikirkan ini, bukan? Bahwa kita harus berhenti.” Semua orang hanya diam. Dokter Gray memperhatikan mereka satu per satu. Beberapa peserta perlahan mulai mengangguk. Akhirnya, Russel sendirilah yang menjawab Pelatih Andrew. “Iya. Ayo pulang. Sejak awal, tetap lanjut berlatih di sana setelah kematian Bryant itu sungguh tidak normal. Perasaanku sudah tidak enak sejak saat itu, tetapi banyak yang kontra denganku.” Mendengar perkataan Russel, orang-orang yang mendukung ‘keputusan’ untuk berlatih kembali di vila Keith itu tampak menunduk. Mereka menyesali keputusan itu; otak mereka mengingat kembali betapa keras kepalanya mereka waktu itu. Betapa ambisiusnya mereka waktu itu. Russel kalau bicara memang agak kasar dan ceplas-ceplos, tetapi dia benar. Setidaknya otaknya lebih normal daripada mereka yang hanya memikirkan kemenangan. Mereka jadi seolah tertampar. “Ayo kita pergi ke vilaku,” ujar Keith tiba-tiba, membuat semua orang lantas menoleh kepadanya. Keith menghela napas, lalu melanjutkan, “Aku dan keluargaku juga takkan menempati vila itu untuk sementara waktu, bahkan bisa jadi kedua orangtuaku akan menjual vila itu karena kemalangan yang telah menimpa Bryant dan Lucas di sana. Ayo kita pergi ke vila itu dan mengambil barang-barang kita, lalu pulang ke rumah masing-masing.” Dengan pelan, semua orang pun mengangguk. “Ayo berangkat sekarang,” ajak Pelatih Andrew. Mereka semua pun mulai bergerak ke mobil yang mereka tumpangi. Perbedaannya, kali ini Castro membawa mobilnya sendiri. Mereka semua pun pergi ke vila milik Keluarga Saunders itu lagi untuk menjemput barang-barang mereka. Kini mereka semua memang tak lagi bisa berlatih bersama, tetapi itu jauh lebih baik daripada harus menyaksikan kematian yang berikutnya. Kematian Bryant dan Lucas memang dihitung sebagai kecelakaan dan bunuh diri—bukan pembunuhan—tetapi akibat kejadiannya yang beruntun, mereka jadi berpikir bahwa: Jika kita berada di sana lebih lama lagi, mungkin saja akan ada kematian yang berikutnya. Mereka semua tidak mengerti—hell, otak manusia mana yang langsung bisa mencerna kematian mendadak yang tak masuk akal itu? Mereka masih bisa waras saja sudah luar biasa. Orang-orang di sekitar mereka terus berbelasungkawa terhadap kematian Bryant dan Lucas, tetapi tak sedikit juga yang mengkhawatirkan keadaan mereka. Sejujurnya…Pelatih Andrew juga sudah ditekan oleh para petinggi asosiasi renang California untuk segera menghentikan latihan mandiri itu. Meski mungkin latihan sendiri-sendiri tak sebagus latihan bersama, setidaknya nyawa mereka akan lebih terjamin. Latihan sendiri-sendiri masih lebih baik daripada harus menanggung risiko berupa kematian. ****** Keith sedang membereskan barang-barang bawaannya bersama Austin di kamar mereka. Namun, saat memasukkan pakaian-pakaian yang ia bawa ke tas, Keith melihat Austin yang mendadak terdiam. Austin tengah menunduk; pemuda itu menatap tasnya—dengan tatapan kosong—dan diam seribu bahasa. Ia sedang melamun dengan wajah yang murung. “Austin,” panggil Keith seraya mengernyitkan dahinya. “What’s wrong?” Austin mengerjap. Pemuda itu lantas menoleh kepada Keith, lalu menemukan Keith yang sedang menunggu jawaban darinya. Namun, alih-alih menjawab Keith, Austin justru memalingkan wajahnya. Ia kembali menunduk—menatap tasnya—dengan wajah yang murung. Kelopak matanya sedikit bergetar, ia seolah tengah menahan sesuatu. Ada berbagai penyesalan yang tersirat di tatapan matanya. Melihat Austin yang seperti itu, Keith pun menghela napas. “Apakah kau menyesal karena memutuskan untuk tetap berlatih di sini kemarin?” tebak Keith tepat sasaran. Pertanyaan dari Keith itu seolah memberikan sekakmat pada Austin. Austin serta-merta tersentak; matanya melebar penuh dan tubuhnya menegang setelah mendengar pertanyaan itu. Austin membungkuk. Bahunya tampak turun. Ia semakin larut dalam penyesalan. Namun, tidak. Keith tidak mencoba untuk berbicara ataupun bertanya lagi. Suasana di antara mereka juga sangat suram saat itu; mereka masih bingung, menyesal, kecewa, tak percaya, trauma…rasanya isi kepala mereka jadi kusut tak keruan. Mereka agaknya masih kesulitan dalam memahami dan menerima situasi rumit yang sedang terjadi. They can’t wrap their head around the situation. Otak mereka sedang berjuang untuk memproses apa yang telah terjadi. Insiden itu terasa seperti peluru yang memelesat entah dari sudut mana dan tiba-tiba sudah menembus jantung mereka. Secepat dan semudah itu, seperti membalikkan telapak tangan. Terus terang saja, jauh di dalam benak mereka, mereka semua sempat berpikir: Bagaimana jika yang mati selanjutnya adalah aku? Kematian Bryant dan Lucas terasa tak masuk akal, terasa tak natural, terasa seperti disebabkan oleh faktor eksternal yang hanya-Tuhan-yang-tahu, tetapi kenyataannya…kematian mereka memang disebabkan oleh diri mereka sendiri. Namun, mengapa kematian mereka…terlalu tiba-tiba? Well, meskipun ada yang janggal, tetap saja penyebab kematian Bryant dan Lucas itu adalah sebuah fakta yang harus semua orang telan bulat-bulat. Percaya tidak percaya, mereka harus membenarkan fakta itu. Anehnya, meski faktanya sudah ada di depan mata, mengapa otak mereka belum bisa menerimanya? Austin meneguk ludahnya. Jakunnya naik turun saat melakukan itu. “Kalau aku tak bersikeras untuk tetap berlatih di vila ini—dan berujung memprovokasi peserta lain—maka Lucas…” Napas Austin tertahan, pemuda itu menggeleng. “Lucas…mungkin tidak akan mati.” Keith menunduk. Ekspresi wajahnya juga penuh dengan penyesalan. Ah, ternyata Austin benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Mereka sama-sama diam. Sama-sama merenung. Sama-sama menyesal, takut, dan tertekan. Lama mereka terdiam, hingga kemudian Keith mulai berbicara. “Aku…tak ingin membandingkan penyesalanmu dengan penyesalanku, Austin, tetapi…” Keith tersenyum pahit. Pedih. “Dua kematian itu terjadi di dalam vila milik keluargaku.” Austin mematung. Pemuda itu langsung menoleh kepada Keith dan melihat Keith yang juga terlihat begitu menyesal, takut, dan sakit dalam waktu yang bersamaan. Agaknya, selama beberapa hari ini…Keith telah menahan semuanya. Benar. Dua kematian itu terjadi di vila milik keluarganya. Dia pulalah yang menawarkan vila itu untuk menjadi tempat mereka berlatih bersama. Rasa bersalah serta rasa takut pastilah menyerang Keith habis-habisan; penyesalan dan ketakutannya pasti jauh lebih besar daripada Austin. Hari-hari yang Keith jalani pasti terasa bagai disiksa di neraka. Dua temannya mati di vilanya. Kecelakaan dan bunuh diri di vilanya. Seolah-olah…vilanya itulah yang bermasalah. Mungkin kedepannya akan ada orang yang menuduh Keith membunuh kedua temannya sendiri. Austin akhirnya menunduk. Kelopak matanya sedikit bergetar; matanya mulai memerah. Tangannya terkepal. Karena tak ingin ditelan oleh rasa takut serta rasa sesal yang menyelimuti mereka berdua, Austin pun mendengkus. Ia lantas berdiri, lalu berkata dengan lantang seolah-olah ingin memecah ketegangan itu. “Aku ke dapur dulu. Mau minum.” Keith mendongak, menatap Austin dengan kurang bertenaga—akibat pikiran yang kacau—lalu ia mengangguk pelan. Dilihatnya Austin sudah memunggunginya dan menuju ke pintu kamar. Mungkin Austin ingin keluar dari kesesakan itu dan pergi ke dapur untuk minum supaya pikirannya tenang. Supaya kepalanya terasa agak dingin. Setelah Austin pergi, Keith pun menghela napas dan kembali mem-packing barang-barangnya. Meski tak bersemangat, dia dan teman-temannya harus pergi dari vila ini hari ini juga. Tak ada ba bi bu lagi; tak ada bantahan, alasan, ataupun tawaran lagi. Harus selesai sampai di sini. Sepuluh menit berlalu sejak kepergian Austin dan kini Keith telah selesai mem-packing barang-barangnya. Ia juga telah merapikan kamar itu, tetapi Austin belum juga kembali. Mengapa lama sekali? Bukankah Austin hanya ingin minum? Dapur memang ada di lantai satu, tetapi tidak sejauh itu juga sampai harus menghabiskan waktu selama sepuluh menit. Apakah Austin mampir ke kamar teman-teman mereka yang lain? Kalau memang benar begitu, rasanya agak aneh, soalnya Austin sendiri belum selesai membereskan barang-barangnya. Pemuda itu tahu bahwa mereka harus pergi dari vila ini secepatnya, jadi tak ada alasan baginya untuk ‘bermain’ ke kamar teman-teman yang lain. Lagi pula, semua orang pasti sedang mem-packing barang-barang mereka juga. Apalagi…Austin terlihat sangat menyesali kejadian ini. Tidak mungkin dia akan membuang waktu. Keith mengernyitkan dahi. Ada sesuatu yang sedikit mengganggu perasaannya. Ia agak penasaran dengan apa yang Austin lakukan. Mereka harus cepat pergi dari vila ini. Keith lantas berdiri dan berjalan ke pintu kamar. Saat sudah berdiri di ambang pintu itu, Keith pun mulai memanggil Austin. Dia membesarkan suaranya. “Austin?” Karena tidak ada jawaban, Keith pun mulai berteriak, “Austin!” Namun, masih tidak ada jawaban dari Austin. Apa dia tidak dengar, ya? Menghela napas, Keith pun mulai berjalan di koridor lantai dua. Koridor itu sepi karena hanya Keith sendirilah yang ada di sana. Keith mulai berjalan menuruni tangga, lalu menyeberangi ruang tamu agar sampai di sayap kanan lantai satu vila itu. Ketika sudah sampai di area sayap kanan, Keith pun kembali berjalan sebentar; dia mulai menuju ke dapur. Ketika sudah sampai di depan pintu dapur—baru saja mau belok dan masuk ke dapur itu—Keith lantas berkata, “Austin, what the hell took you so long? Kita harus cepat pergi dari—” Tiba-tiba langkah Keith terhenti. Tepat di ambang pintu dapur. Mata Keith langsung membulat sempurna. Wajahnya langsung tegang; napasnya tertahan di tenggorokan. Jantungnya serasa berhenti berdegup. Dadanya sesak, lehernya seakan tercekik. “AUSTIN!!!!” teriak Keith kencang, ia panik setengah mati. Rasa takut telah membuat wajahnya memucat, ia langsung berlari memasuki dapur dengan secepat kilat. “AUSTIN!!!!” Keith terduduk di tengah-tengah dapur. Dia bersimpuh di samping tubuh Austin…yang sudah tergeletak di lantai dengan mulut yang berbusa. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN