7. Austin Rivera (1)

1186 Kata
Chapter 7 : Austin Rivera (1) ****** BEGITU mendengar teriakan yang amat kencang itu, semua orang langsung berlari ke asal suara, yaitu kamar rombongan Thomas. Vila itu besar, tetapi apabila ada yang berteriak sekencang itu, semua orang pasti bisa mendengarnya. Apalagi, saat ini vila itu sedang sepi karena mereka masih dalam suasana berduka. Tidak ada yang berisik, tidak ada yang menghidupkan TV, tidak ada yang lasak juga. Jadi, suara teriakan rombongan Chris tentu bisa terdengar dengan jelas. Kamar-kamar yang mereka tempati di vila itu juga tidak ada yang kedap suara. Saat para peserta beserta Pelatih Andrew dan Dokter Gray sampai di kamar itu, mereka semua heboh menanyakan, ‘Ada apa?! Mengapa kalian berteriak?’ atau ‘Apa yang terjadi?!’ dan Thomas langsung menunjuk ke kamar mandi dengan wajah yang pucat. Mata Thomas melebar ketakutan, tangannya bergetar; ia sudah terduduk di lantai. Thomas merasa bagai tercekik saat mengatakan, “I—itu—itu—Lucas—” Ibarra mematung di depan pintu kamar mandi dengan mata yang melebar sempurna. Sementara itu, Chris—yang juga terjatuh di lantai seperti Thomas—kontan menunjuk kamar mandi itu dan berteriak, “Lucas!!! Di sana!! Lucas—di kamar mandi—” Mendengar itu, dengan secepat kilat Pelatih Andrew berlari dan memasuki kamar mandi itu. Dokter Gray dan beberapa peserta lain juga mengikutinya. Alangkah terkejutnya mereka semua saat melihat Lucas yang telah tergantung di kamar mandi. Ada yang berteriak, ada yang langsung mundur ketakutan, dan ada yang mematung di tempat—shock berat—seperti Ibarra. Lucas gantung diri di kamar mandi itu. Ibarra menggeleng tak percaya. Dengan wajah pucatnya itu, Ibarra terus komat-kamit. Tubuhnya menegang. “Tidak mungkin… Tidak mungkin… Tidak mungkin… Tidak—” Dari semua peserta yang ada di sana, Ibarralah paling akrab dengan Lucas. Lucas orangnya tidak neko neko; dia orang yang baik dan paling lurus kelakuannya ketimbang peserta-peserta yang lain. Ibarra yang dari kecil dibiasakan untuk ‘selalu bersikap baik’ oleh kedua orangtuanya, terutama dia sifatnya agak ‘kaku’ begitu, sangat lega saat menemukan orang seperti Lucas di Tim Sonoma. Saat mengikuti kegiatan latihan mandiri ini pun, hal yang bisa membuatnya jauh lebih tenang adalah karena di kegiatan ini ada Lucas. Ia pikir, selama latihan mandiri ini, ia bisa berada di sekitar Lucas karena kepribadian mereka sangat cocok. Namun, apa ini? Lucas…gantung diri? Mengapa?!! Apa yang membuat Lucas gantung diri di sana?!! Dia tidak menunjukkan tanda-tanda depresi atau apa pun itu! Pelatih Andrew dan Dokter Gray langsung berusaha untuk menurunkan tubuh Lucas. Mereka berdua—dibantu oleh Keith dan Kane—mulai mengevakuasi Lucas, menggotong Lucas ke tengah ruangan. Lucas dibaringkan di lantai kamar itu dan Dokter Gray langsung memeriksanya. Semua peserta mulai mengerumuni jenazah Lucas. Begitu memeriksa napas dan denyut nadi Lucas, Dokter Gray langsung menatap mereka semua dan menggeleng dengan penuh penyesalan. Semua orang di ruangan itu kontan terlihat takut dan terpukul. Wajah mereka tampak tegang dan memucat. Ada yang masih menggeleng tak percaya, ada pula yang langsung tertunduk karena pikirannya kacau. Beberapa dari mereka langsung memikirkan hal yang sama. Apa lagi ini?! Mengapa Lucas tiba-tiba menggantung dirinya sendiri?! Tadi dia baik-baik saja!! “Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?” Pelatih Andrew menggeleng tak menyangka. Ia betul-betul tak habis pikir; wajahnya terlihat begitu panik saat ia menoleh kepada Thomas, Chris, dan juga Ibarra. “Bukankah tadi dia baik-baik saja?!!” Chris tertunduk, kini otaknya betul-betul terganggu karena dia sudah dua kali menyaksikan kematian di vila itu. Ibarra masih memandangi jenazah Lucas dengan tubuh yang mematung. Maka dari itu, akhirnya Thomaslah yang menjawab pertanyaan dari Pelatih Andrew. Wajah Thomas pucat. Ia menjawab dengan suara yang bergetar; ia terbata-bata. “Kami—kami bertiga baru sampai…di kamar ini. A—aku tadi ingin—aku hanya ingin buang air kecil.” Thomas menunduk dan menggeleng tak percaya. Alisnya bertaut. “Begitu kubuka pintu kamar mandi…Lucas—Lucas sudah tergantung…di sana…” Meski terlihat penuh dengan penyesalan, Dokter Gray tetap lanjut memeriksa jenazah Lucas. Ada luka lebam di bagian belakang leher Lucas. Ada air liur di sudut kanan mulut Lucas; lidahnya terjulur kurang lebih 1 cm. Dokter Gray lalu memeriksa lidah Lucas itu dan ia menemukan adanya luka robek di sana. Luka itu lumayan panjang, mungkin mencapai 3 cm. “Dia meninggal karena bunuh diri,” ujar Dokter Gray dengan nelangsa, mengonfirmasikan penyebab kematian Lucas. “Dia memang menggantung dirinya sendiri di kamar mandi itu.” Semua orang di sana semakin terlihat kacau. Tidak ada yang bersuara. Mereka tertunduk, penuh akan trauma dan penyesalan. Russel bahkan sampai terduduk di ranjang; pemuda itu membungkuk dan memijat keningnya frustrasi. Dokter Gray telah memastikan bahwa ini adalah kasus bunuh diri. Namun, pertanyaannya adalah: mengapa Lucas melakukan ini? Well, mereka memang tidak begitu mengenal Lucas dengan baik; mereka belum lama kenal dengan Lucas. Akan tetapi, kalau dilihat-lihat…Lucas bukanlah pemuda yang sedang depresi. Dia bahkan semangat untuk memenangkan olimpiade renang ini. Apakah selama ini Lucas menyembunyikan rasa sakitnya dengan sangat rapat? Namun, tetap saja itu tak masuk akal. Dilihat dari mana pun juga, Lucas…baik-baik saja! Apakah orang-orang yang mau bunuh diri memang tidak ada tanda-tandanya sama sekali? Tidak mungkin! Mereka pasti memberikan sebuah pertanda. Beberapa detik kemudian, di tengah-tengah suasana yang keruh itu, Pelatih Andrew mulai membuka suara. “Ayo kita hubungi keluarganya sekarang.” Pelatih Andrew pun mencari keberadaan ponsel Lucas. Setelah menemukan ponsel Lucas yang ternyata ada di kantung celana pemuda itu, Pelatih Andrew langsung mencoba untuk membuka kunci layarnya. Akan tetapi, ternyata ponsel itu dilindungi oleh password. Pelatih Andrew pun mencoba untuk mencari cara lain. Namun, sepertinya…hanya ada satu cara yang tersisa, yaitu membukanya dengan Face ID. Kontan saja Pelatih Andrew semakin terlihat getir. Ia mencengkeram ponsel itu sejenak, sebisa mungkin menguatkan dirinya sendiri. Setelah itu, dengan terpaksa…ia pun mengarahkan layar ponsel itu ke wajah Lucas yang telah tiada. Kunci layar ponsel itu pun terbuka. Dokter Gray dan para peserta yang ada di sana tertunduk saat menyaksikan kejadian itu. Pelatih Andrew menarik dan mengeluarkan napasnya dengan berat. Ada sesuatu yang seolah menekan dadanya. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Pelatih Andrew pun mulai mencari nomor telepon keluarga Lucas di ponsel itu. Akan tetapi, ternyata… …nomor telepon keluarga Lucas tidak ada di ponsel itu. Sudah bolak-balik Pelatih Andrew men-scroll kontak di ponsel itu, tetapi nomor ponsel keluarga Lucas tidak kunjung ia temukan. Tak ada satu pun kontak dengan nama atau embel-embel ‘Ibu’, ‘Ayah’, ‘Tante’, ‘Paman’, dan semacamnya. Lucas agaknya tidak menyimpan nomor telepon keluarganya sama sekali. Akan tetapi, tiba-tiba saja Ibarra bersuara. Ibarra, yang sejak tadi hanya mematung, mendadak meneguk ludahnya dan bersuara. Dia sukses menengahi apa yang Pelatih Andrew lakukan saat itu; dia memecah fokus Pelatih Andrew yang sedang kebingungan. Kebingungan karena tak bisa menemukan nomor telepon keluarga Lucas. “Lucas… Lucas pernah berkata padaku…bahwa dia yatim piatu. Dia sebatang kara,” ujar Ibarra dengan tangan yang terkepal. Matanya menatap Pelatih Andrew, lalu ia kembali meneguk ludahnya. “Dia tidak punya siapa-siapa.” Semua orang yang ada di sana kontan tercengang bengang, terutama Pelatih Andrew. Pria itu langsung menatap Ibarra dengan mata yang membulat. Namun, Ibarra hanya diam. Dia tidak mengulangi perkataannya sama sekali. Mereka semua jadi saling tatap. Dahi mereka berkerut. Lucas…sebatang kara? []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN