6. Lucas Anguiano (4)

1442 Kata
Chapter 6 : Lucas Anguiano (4) ****** “BEGINI saja,” ucap Pelatih Andrew kemudian. “Semuanya terserah kalian. Kalau mau pulang, ayo kita pulang sekarang. Bersiap-siaplah sekarang juga. Namun, kalau tetap mau melanjutkan latihan bersama di sini, maka aku akan memeriksa barang-barang bawaan kalian. Tidak ada yang boleh membawa benda yang aneh-aneh. Lanjutkan latihan ini dengan tertib. Lakukan dengan aman dan terkendali.” Semua orang masih diam. Mereka semua tengah berpikir. “Aku masih ingin berlatih di sini,” ujar Austin tiba-tiba setelah mereka lama terdiam. Hal ini membuat semua orang lantas menoleh ke arahnya. Russel kontan menganga. “Austin, you—” “Russ, apa renang gaya dadamu sudah benar-benar oke? Kau harus mempercepat waktumu,” potong Austin. Sindiran dari Austin jelas membuat Russel merasa kesal bukan main. Namun, dia tak memungkiri bahwa kata-kata dari Austin itu benar. Jadi, karena tidak mampu menangkis ucapan Austin (walau sebetulnya kesal), Russel pun mengeluarkan napasnya melalui mulut dengan dongkol, sampai mengeluarkan suara, “Hah!”, lalu pria itu mengalihkan pandangannya dari Austin dan alisnya menyatu kembali. Kedua tangannya semakin terkepal. “Kita tidak punya banyak waktu, Russ, Cas, Chris. Aku tahu semua orang di sini pasti trauma karena kejadian kemarin, tetapi latihan ini penting bagiku. Lagi pula, aku sering main ke vila ini bersama Keith dan aku percaya pada Keith. Periksa saja barang-barang bawaanku, Coach,” ujar Austin, lalu ia menoleh ke arah Pelatih Andrew. Beberapa dari peserta yang ada di sana langsung menatap Austin seraya melebarkan mata. Mulut mereka terbuka; mereka agak kaget dengan keputusan Austin yang terbilang sangat cepat. “Kau yakin, Austin?” tanya Dokter Gray. “Iya, aku yakin, Dok.” Austin mengangguk. “Selagi tidak ada yang bertingkah, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Yang kemarin itu…anggaplah itu sudah menjadi takdirnya. Tidak ada yang bisa kita lakukan.” Mendengar kata-kata dari Austin itu…pelan-pelan mereka semua mulai mengangguk, kecuali Russel. Namun, jauh di dalam hatinya, Russel juga tahu bahwa memang tidak ada yang dapat mereka lakukan. Semuanya sudah terjadi dan itu adalah kecelakaan. Apalagi, Russel juga mengakui bahwa dia memang mesti banyak latihan untuk mempercepat waktu renangnya. Daripada bolak-balik latihan renang di klub renang, tinggal di vila dengan kolam renang pribadi seperti ini sebenarnya adalah ide yang brilian. Lebih efisien. Dia bisa bolak-balik sepanjang waktu, apalagi kolam renangnya juga dibuat mirip seperti kolam renang yang ada di klub renang. Namun, memutuskan untuk tetap berenang di sana setelah ada kejadian seperti ini…apakah itu merupakan keputusan yang bagus? Lupakan soal bagus, apakah itu bahkan terdengar normal? Russel melihat ke arah Castro, Chris, Kane, dan juga peserta-peserta lainnya. Mereka semua tampak tertunduk. Berpikir. Russel memalingkan wajahnya lagi dan mendengkus. Ah, ya sudahlah. Russel menunggu saja apa kepastiannya. Kalau memang teman-temannya lebih dominan merasa tidak terganggu untuk lanjut latihan di sini, berarti Russel juga harus berusaha untuk melupakan kejadian kemarin dan tetap latihan di kolam renang itu. Akhirnya, Ibarra yang sedari tadi hanya diam pun mulai berbicara, “Aku…benar-benar berduka untuk Bryant. Meskipun kepribadiannya tidak cocok denganku, tetapi aku benar-benar berduka untuknya. Namun, aku…memang butuh untuk berlatih bersama kalian. Aku tidak bisa maksimal jika berlatih sendirian.” Lucas yang duduk di samping Ibarra pun mulai menepuk pundak pemuda itu, mencoba untuk menenangkannya. Semua orang yang mendengarkan pengakuan itu pun sebenarnya mengerti dengan situasi Ibarra. Ibarra adalah pemuda yang tidak terlalu pandai bersosialisasi. Dia pendiam dan bersikap seperti tentara ‘kaku’ yang hanya mengikuti perintah dan tidak memiliki emosi. Semuanya template. Melihat dia berusaha untuk menempatkan dirinya di tengah-tengah mereka semua agar bisa ikut latihan bersama saja sudah merupakan usaha yang luar biasa untuk ukuran manusia yang kurang bersosialisasi sepertinya. Meskipun Ibarra adalah orang yang kurang bersosialisasi, mereka semua tahu bahwa Ibarra adalah jenis manusia yang mudah simpatik dengan orang lain, sama seperti Lucas. Jadi, kejadian yang menimpa Bryant sudah pasti membekas di benak Ibarra. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa latihan ini juga penting bagi pemuda itu. Kata-kata dari Ibarra tersebut jadi semakin menggerakkan hati para peserta yang tadinya langsung ingin pulang. Mereka yang sudah goyah, kini jadi semakin goyah karena ucapan Ibarra. Benar juga. Ibarra yang orangnya simpatik dan lembut saja bisa menerima semuanya dan lanjut berlatih, bagaimana dengan mereka? Berarti mereka juga harus berusaha untuk move on dan lanjut berlatih. Turnamen ini penting. Karir mereka bisa melejit apabila mereka menang. Akhirnya, Kane yang sedari tadi hanya diam pun mulai membuka suara. “Well, then,” ujar Kane. Pria itu pun menegapkan posisi duduknya dan mengedikkan bahu, lalu menatap semua teman-temannya. “Sepertinya…jauh di dalam hati, kita semua sudah mulai memikirkan hal yang sama, bukan? Yaitu mau lanjut latihan di sini.” Secara perlahan-lahan, semua peserta yang ada di sana pun…satu per satu mulai mengangguk. Kane pun tersenyum dan mengangguk. Mulai berusaha untuk menyemangati orang-orang yang ada di sana beserta dirinya sendiri seraya berkata, “Baiklah. Ayo kita hentikan pembicaraan yang membuat depresi ini dan mulai beristirahat. Kita tenangkan diri kita dulu, lalu mulai latihan.” “Aku akan mulai memeriksa barang-barang bawaan kalian,” ujar Pelatih Andrew. Sang Pelatih itu lantas menoleh ke arah Dokter Gray. “Tolong bantu aku, ya, Dok.” Dokter Gray pun mengangguk dan tersenyum. “Sure.” Setelah itu, mereka akhirnya mulai berbincang-bincang santai, menghilangkan suasana sedih dan kalut yang sedari tadi menyelimuti mereka. Namun, tiba-tiba Lucas mulai berdiri dan berkata, “Aku permisi ke toilet dulu, ya.” Mereka semua mengangguk. Thomas mengacungkan jempolnya pada Lucas. “Oke, Bung.” Setelah Lucas pergi, mereka semua kembali mengobrol santai. Memang tidak langsung menghidupkan suasana—tidak ada tawa—tetapi setidaknya mereka bisa menjadi lebih rileks dan tenang. Setidaknya beban di kepala mereka dan tekanan di hati mereka bisa sedikit menjadi lebih ringan. Tidak lama setelah itu, mereka semua pun sepakat untuk kembali ke kamar masing-masing. Mereka memutuskan untuk istirahat dan menenangkan diri mereka terlebih dahulu hari ini, hitung-hitung sambil menguatkan diri karena mereka akan mulai latihan kembali besok pagi. Ibarra, Thomas, dan Chris tengah berjalan bersama menuju ke kamar mereka. Tatkala baru saja membuka pintu kamar, Ibarra yang melihat bahwa di kamar mereka tidak ada Lucas pun mulai berbicara, “Lho, ke mana Lucas?” Chris mengedikkan bahu. “Entah, ya. Tadi dia ke toilet, ‘kan?” Mereka semua melihat ke sekeliling kamar, tetapi di sana memang tidak ada Lucas. Pintu kamar mandi yang ada di dalam kamar itu juga terbuka sedikit, menandakan bahwa Lucas kemungkinan tidak ada di dalam sana. “Mungkin dia sedang ada di tempat lain. Tunggu saja, nanti dia pasti akan ke sini,” ujar Thomas. Chris pun menutup pintu kamar dan Ibarra mengangguk. Chris dan Ibarra pun berjalan menuju ranjang mereka dan duduk di sana, mulai memainkan HP mereka masing-masing. Namun, berbeda dengan mereka berdua, Thomas justru berjalan menuju kamar mandi seraya berkata, “Aku mau buang air kecil dulu, ah.” “Hmm.” Chris berdeham singkat untuk merespons Thomas, nadanya terdengar agak malas. Thomas pun melangkah ke kamar mandi itu. Ketika sudah sampai di depan kamar mandi itu, Thomas lantas membuka pintunya dan berencana untuk masuk. Namun, tatkala Thomas baru saja ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar mandi itu, mata Thomas menangkap sesuatu. Tepat di depan matanya. Di sana, di dalam kamar mandi itu, tepat di depan mata Thomas, ia melihat ada sebuah tubuh yang tergantung. Jantung Thomas mendadak terasa begitu sakit bagaikan tertusuk lembing yang begitu tajam. Lembing itu menohok jantungnya, membuat organ itu berhenti berdegup. d**a Thomas terasa sesak, napasnya pun tertahan seolah-olah paru-parunya mendadak berhenti berfungsi. Kedua mata Thomas membelalak penuh, wajahnya pucat, dan mulutnya menganga. “Thomas, ada apa??!” “Hei!” Suara-suara dari teman-teman sekamarnya itu kini terdengar bagai dengungan semata di telinga Thomas. Thomas bagaikan mendengar suara mereka dari dalam air. Suara itu seolah tenggelam begitu saja karena kacaunya otak Thomas saat ini. Dengan tubuh yang bergetar, Thomas pun perlahan-lahan mengangkat kepalanya ke atas. Pelan-pelan ia menelusuri tubuh itu dengan kedua matanya. Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ia punya feeling. Ia punya firasat. Ia seperti sudah tahu siapa pemilik tubuh itu hanya dengan melihat pakaiannya. Namun, otaknya menolak untuk memercayai instingnya. Otaknya terus menolak untuk menerima kenyataan. Otaknya masih berusaha untuk memungkiri segalanya. Jadi, ia masih kukuh untuk meneruskan gerakan mata dan kepalanya itu agar bisa melihat sampai ke atas, sampai ke wajah dari pemilik tubuh itu. Namun, tatkala Thomas sudah benar-benar melihat bagian wajahnya, dia sontak terjatuh ke lantai. Thomas lagi-lagi mendengar teman-temannya sibuk memanggilnya dan kali ini agaknya teman-temannya langsung berlari ke arahnya. Akan tetapi, satu detik kemudian, teman-temannya pun berteriak kencang. Pada akhirnya, seluruh instingnya yang merupakan mimpi terburuk itu ternyata benar adanya. …sebab ketika ia melihat ke atas untuk memastikan siapa pemilik tubuh yang sedang tergantung itu, ia melihat wajah Lucas. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN