5. Lucas Anguiano (3)

1411 Kata
Chapter 5 : Lucas Anguiano (3) ****** HARI ini langit sedang mendung. Cuacanya cukup berangin; anginnya tidak terlalu kencang. Pada hari ini, pemakaman Bryant Thompson dilaksanakan. Pemakaman itu dilaksanakan di Sonoma, tepatnya di area pemakaman yang tidak jauh dari rumah Keluarga Thompson. Banyak sekali orang-orang yang hadir pada hari ini dan kebanyakan dari mereka adalah para atlet renang dari Tim Sonoma. Mereka semua berdiri di sekeliling makam Bryant yang sedang didoakan. Ibunya Bryant menangis di depan mereka; wanita paruh baya itu menangis seraya terduduk tepat di samping makam Bryant. Keluarga Bryant yang lain juga tampak menangis, mereka berdiri seraya mengusap air mata mereka sendiri. Sebelas orang yang pergi ke vila milik Keluarga Saunders bersama Bryant juga mengikuti prosesi pemakaman tersebut. Sama seperti orang-orang lain, mereka juga memakai pakaian yang serba hitam dan memperhatikan ibunya Bryant yang tengah menangis di depan sana. Beberapa dari mereka terlihat mengerutkan dahi karena masih merasa bahwa kejadian ini betul-betul tak bisa diduga, sementara beberapa yang lainnya tampak menatap ibunya Bryant dengan simpati. Namun, satu hal yang menyamakan mereka semua adalah mereka merasa bersalah dan tidak enak dengan Keluarga Thompson akibat kejadian ini. Sejak kematian Bryant, banyak sekali ucapan belasungkawa dari orang-orang yang ada di dalam group chat Tim Sonoma. Group chat yang mereka ikuti, posting-an di sosial media para perenang, semuanya diramaikan dengan berita kematian Bryant. Banyak juga ucapan-ucapan dari asosiasi renang California. Namun, info yang terakhir kali mereka dapatkan adalah katanya, posisi Bryant akan digantikan dengan anggota tim yang sudah tersedia. Bryant kebetulan hanya mengikuti satu nomor pertandingan. Jadi, ada seorang anggota tim yang akan merangkap nomor pertandingan tersebut. Waktu itu, tatkala Bryant sudah dibawa ke rumah sakit, kedua orangtua Bryant datang ke rumah sakit tersebut dan ibunya langsung menangis histeris. Waktu itu, yang ikut ke rumah sakit hanyalah Pelatih Andrew dan Dokter Gray. Mr. Benjamin beserta Pelatih Andrew pun menjelaskan kejadiannya kepada kedua orangtua Bryant. Kedua orangtua Bryant sempat marah-marah dan berencana untuk menuntut Pelatih Andrew beserta semua peserta yang terlibat untuk kejadian ini, tetapi Pelatih Andrew dan Dokter Gray betul-betul meminta maaf kepada mereka. Sejujurnya, Pelatih Andrew dan Dokter Gray pun tahu bahwa kelalaian mereka ini—di mana mereka tidak tahu bahwa Castro ternyata membawa alkohol—bisa menyebabkan mereka masuk penjara, tetapi mereka benar-benar harus menyelidiki semuanya terlebih dahulu. Kalau saja mereka bisa menyelesaikan ini semua dengan cara kekeluargaan, maka mereka semua akan sangat berterima kasih. Soalnya, memang tidak ada satu orang pun yang minum alkohol pada saat itu, bahkan Castro sendiri pun tak mengeluarkan alkohol itu dari dalam kopernya. Jadi, sepertinya Bryant sendirilah yang mengambil alkohol itu. Namun, tetap saja ini terhitung sebagai sebuah kelalaian. Setelah menjelaskan kronologinya, Mr. Benjamin pun meminta izin kepada kedua orangtua Bryant agar mereka bisa melakukan autopsi pada jenazah Bryant. Kedua orangtua Bryant pun setuju. Hasil dari autopsi tersebut adalah tidak ada tanda-tanda percobaan pembunuhan. Tidak ada kejanggalan. Bryant tenggelam karena terlalu mabuk tatkala berenang. Alhasil, kematian Bryant pun ditetapkan sebagai kecelakaan. Meski pada awalnya kedua orangtua Bryant tidak terima, lama kelamaan mereka mulai mengerti. Pada akhirnya, mereka tahu bahwa kematian Bryant adalah ulah Bryant sendiri. Maka dari itu, semuanya diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Tidak ada yang dituntut dalam kejadian ini. Sepulang dari acara pemakaman Bryant, semua orang pulang naik mobil ke rumah mereka masing-masing, kecuali kesebelas orang yang barang-barangnya masih ada di vila milik Keluarga Saunders. Mereka ada di dalam tiga mobil yang berbeda, mobil yang sama yang mereka gunakan untuk pergi ke vila Keluarga Saunders waktu itu. Tiga mobil tersebut berjalan beriringan untuk kembali ke Healdsburg, tempat di mana vila Keluarga Saunders berada. “Setelah sampai di vila, kita harus segera membereskan barang-barang kita dan pulang,” ujar Russel dengan tegas, dia tampak menyatukan alisnya. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat serius seakan-akan dia tak mau mendengar penolakan sama sekali. Dia terlihat marah, kesal, tak menyangka, tak habis pikir, atau sesuatu sejenis itu. Dia membuat orang-orang yang semobil dengannya jadi merasa tegang. “Iya, aku juga ingin pulang,” ujar Castro yang kebetulan saat itu semobil dengan Russel. “Mana mungkin kita bisa fokus kalau kita latihan di kolam renang itu.” Thomas, yang juga satu mobil dengan mereka, lantas berkata, “Hei, sabar dulu. Kita tunggu dulu hingga kita sampai di vila. Aku yakin di sana teman-teman yang lain beserta Pelatih Andrew akan berbicara dan memutuskan sesuatu,” ujar Thomas. Setelah itu, Thomas menghela napas dan melanjutkan, “Tenang dulu, Russ, kau sedang mengemudi.” Russel pun mendengkus. “Ya kau pikir saja, Thomas, apakah kau sanggup berenang di kolam renang itu lagi? Jelas-jelas Bryant mengambang di sana!” “Hey, can you just calm the f**k down?” ujar Kane tiba-tiba. “Bukan hanya kau saja yang terbebani karena kejadian ini.” “Huh?! What did you just say, you motherfucker?!” teriak Russel balik, dia jadi marah bukan main tatkala mendengar ucapan Kane. Melihat kedua orang tersebut justru jadi bertengkar, Thomas pun lantas meninggikan suaranya. “Mengapa kalian jadi bertengkar?! Kita sedang berduka!! Diamlah!” Castro yang tadinya mengeluh pun, kini jadi menghela napas. “Sudah, sudah. Russ, fokuslah mengemudi. Jangan sampai kita kecelakaan di jalan dan mati semua di dalam mobil ini, menyusul Bryant.” Akhirnya, Russel dan Kane pun mendengkus. Menahan amarah mereka masing-masing. Mereka jadi sama-sama diam di sepanjang perjalanan mereka menuju ke vila. ****** Sembilan peserta yang ada di dalam vila itu tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Pelatih Andrew dan Dokter Gray. Lama mereka duduk terdiam di sana tanpa mengatakan apa-apa. Semuanya sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing. Pikiran mereka kalut sampai-sampai mereka semua tidak tahu harus berbicara apa atau harus mulai dari mana. Russel yang tadi marah-marah di dalam mobil pun kini tampak hanya duduk diam, tertunduk dengan wajah kesalnya. Alisnya menyatu dan kedua tangannya terkepal. “Jadi,” buka Dokter Gray, dokter itu tiba-tiba bersuara. Suara Dokter Gray kontan memecah keheningan tersebut dan semua orang refleks menoleh ke arahnya. “bagaimana? Apakah kita masih mau lanjut berlatih di sini?” Chris, orang yang melihat mayat Bryant pertama kali, lantas menjawab, “Aku tidak yakin, Dok. Mungkin…sama sepertiku, teman-teman yang ada di sini juga akan kepikiran soal mayat Bryant ketika berenang di kolam renang itu.” Ibarra dan Lucas mengangguk. Castro pun akhirnya ikut bersuara, “Lagi pula, diskusi ini…bukankah tidak penting? Sudah jelas kita harus menghentikan latihan bersama ini, bukan?” “Iya, itu harusnya normal untuk dilakukan karena ada kejadian seperti ini,” ujar Russel. “I can’t see why we must discuss something so obvious like this. We should definitely go back today.” Dokter Gray mengangguk. “Sebagai dokter, aku juga berbicara dengan para dokter di rumah sakit waktu itu. Akhirnya, aku juga yakin bahwa itu adalah kecelakaan. Tidak seharusnya kau membawa alkohol kemari, Castro.” Semua orang lantas menoleh ke arah Castro. Benar juga, ini semua tidak akan terjadi kalau Castro tidak membawa alkohol. Castro pun tertunduk. Dahinya berkerut. Kali ini dia memang bersalah meskipun tidak secara langsung. Keith tampak menghela napas. “Jadi, bagaimana keputusannya?” tanya Keith. “Aku tidak masalah kalau kalian mau pulang hari ini. Akan tetapi, apa kalian yakin bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan latihan sendiri-sendiri? Kita mengadakan latihan bersama ini karena merasa bahwa cara ini lebih efektif, bukan?” Sontak semua orang jadi terdiam. Iya, itu benar. Pelatih Andrew pun akhirnya berbicara, “Apakah kau sudah mengganti air kolam renang itu, Keith?” “Sudah,” jawab Keith. Dia bernapas samar dan mengangguk. “Semuanya sudah dibersihkan sejak kolam itu tidak menjadi lokasi penyelidikan lagi. Bahkan benda-benda yang seharusnya tak tersentuh pun sudah diganti oleh keluargaku tadi pagi. Untuk kolam renang, semuanya sudah aman dan sudah bersih. Akan tetapi, pastinya ingatan kalian belum bersih dari kejadian itu.” Semua orang pun terlihat menunduk, tengah berpikir matang-matang. Sebetulnya, pulang ke rumah masing-masing adalah pilihan yang paling logis. Paling normal. Akan tetapi, di sisi lain…mereka adalah atlet-atlet ambisius yang sedang sangat membutuhkan latihan maksimal demi mengikuti turnamen nasional. Mereka sudah terpilih untuk mewakili Sonoma di turnamen nasional dan ini adalah lompatan yang sangat tinggi untuk karir mereka sebagai perenang ke depannya. Jelas hati kecil mereka semua masih ingin berlatih bersama agar bisa mendapat hasil yang lebih maksimal, terutama setelah mendengar bahwa segala benda yang ada di kolam renang itu sudah diganti serta kolam renangnya juga sudah dibersihkan. Lagi pula, kejadian kali ini ditetapkan murni karena kecelakaan. Itu adalah nahas. Bryant tidak akan tenggelam kalau dia tidak minum alkohol. Tidak ada faktor eksternal lainnya selain karena kesalahan Bryant sendiri. Hati mereka jelas mulai goyah. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN