Chapter 4 :
Lucas Anguiano (2)
******
MENDENGAR itu, Pelatih Andrew pun langsung menjelaskan, “Begini, Pak. Latihan resmi akan diadakan pada tanggal 1 April nanti. Sementara itu, sebelum tanggal 1 April tiba, para peserta diarahkan untuk berlatih secara mandiri dan menjaga kesehatan. Namun, sebagian dari peserta tim putra, yaitu mereka-mereka ini, memiliki sebuah ide. Ketimbang berlatih sendiri-sendiri, mereka yang sudah akrab ini memilih untuk berlatih bersama-sama di sini sekaligus refreshing.”
Mr. Benjamin kembali manggut-manggut. Ia memegangi dagunya seraya memperhatikan mereka semua sekali lagi.
“Well, inisiatif kalian untuk berlatih bersama-sama di luar Sonoma ini telah berhasil merenggut satu nyawa,” ujar Mr. Benjamin, sukses membuat semua orang yang ada di sana kontan merasa seolah tertampar. Beberapa dari mereka mulai tertunduk dan berpikir keras, menyatukan alis mereka karena menyesali apa yang sudah terjadi. Walaupun begitu, sebetulnya kejadian ini benar-benar di luar rencana mereka. Di luar kendali mereka. Kejadian ini adalah kejadian yang tidak mereka sangka-sangka.
Mereka semua terdiam. Tengah berpikir di dalam kepala mereka masing-masing. Suasananya benar-benar keruh.
“Kami menemukan beberapa botol alkohol di pinggir kolam,” ujar Mr. Benjamin tiba-tiba, memecah keheningan mereka. Semua orang yang ada di sana langsung kembali melihat ke arah Mr. Benjamin.
Ya. Pelatih Andrew dan yang lainnya juga memang sempat melihat ada beberapa botol alkohol di pinggir kolam pada saat mereka menemukan mayat Bryant dan menunggu polisi datang. Namun, tidak ada yang berani menyentuh apa pun yang ada di TKP, apalagi Dokter Gray juga bersikeras menyuruh mereka untuk tetap diam di tempat. Biarkan polisi yang menyelidiki semuanya.
“Kalian adalah atlet yang mau latihan, tetapi kalian membawa alkohol?” tanya Mr. Benjamin, matanya menatap semua peserta dengan tatapan penuh selidik.
Mendengar pertanyaan itu, semua peserta langsung menoleh ke arah Castro. Mereka semua tahu jelas bahwa Castrolah yang membawa alkohol ke vila ini. Castro yang merasa bahwa seluruh pasang mata telah menatap dirinya pun lantas mendengkus. Dia langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu, lalu mengangkat tangannya. Sial, ini kacau sekali. “Aku yang membawa alkohol-alkohol itu ke sini, Pak.”
Mendengar pengakuan dari Castro, Pelatih Andrew sontak menganga. Pria itu menggeleng, lalu memijit kepalanya sendiri. Dia benar-benar telah lengah. Seharusnya dia juga memeriksa barang-barang bawaan para peserta ini. Riwayatnya benar-benar telah tamat.
Dokter Gray juga menghela napas, dia betul-betul tak habis pikir. Bisa-bisanya kejadian ini terjadi, padahal mereka semua datang ke sini dengan niat yang baik.
“Apakah kau yang memberikannya kepada Bryant?” tanya Mr. Benjamin, matanya menatap Castro lurus-lurus. Castro sontak membelalakkan matanya dan menggeleng. “No! Tadi malam, aku memang menawari mereka semua untuk minum ketika kami mengobrol di kolam renang. Botol-botol alkohol itu ada di dalam koperku. Akan tetapi, karena kebanyakan dari mereka langsung menentangku, aku akhirnya tidak jadi mengeluarkan alkoholku. Tidak ada satu pun dari kami yang minum. Aku sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya botol-botol alkohol yang kubawa tersebut bisa ada di pinggir kolam renang itu!!”
Mr. Benjamin pun menyatukan alisnya. “Jadi, maksudmu…ada orang yang mengambil botol-botol alkohol itu dari dalam kopermu?”
Castro mengangguk. “Kupikir begitu. Aku tidak pernah mengeluarkan botol-botol itu. Atau mungkin Bryant sendirilah yang mengeluarkan botol-botol itu. Kami tidur di dalam satu kamar yang sama, mudah saja baginya untuk membuka koperku. Terlebih lagi, dia memang kelihatan tertarik tatkala kutawari untuk minum alkohol di kolam renang.”
Mr. Benjamin dan banyak peserta yang ada di sana pun terlihat mengangguk. Setelah itu, Mr. Benjamin mulai melipat kedua tangannya di depan d**a dan menatap ke arah Chris. “Anda yang menemukan Bryant pertama kali, ‘kan? Mr.—”
“Chris. Namaku Chris,” potong Chris. Memang, tatkala polisi baru datang tadi, Pelatih Andrew kembali menjelaskan kronologinya kepada polisi secara singkat. “Benar, aku yang menemukan tubuh Bryant pertama kali.”
“Baik, Mr. Chris,” ujar Mr. Benjamin. “Bisa tolong ceritakan kejadiannya padaku dengan lebih rinci?”
Chris mengangguk. Ia pun mulai menjelaskan, “Aku terbangun dari tidurku karena haus, tepatnya jam 2.30 AM. Aku lantas pergi ke dapur dan perjalanan untuk menuju ke dapur harus melewati ruangan kolam renang terlebih dahulu, you see.”
Chris menunjuk ruangan kolam renang itu dengan dagunya.
Mereka semua, termasuk Mr. Benjamin, lantas jadi menoleh ke belakang sana dan memperhatikan susunan ruangan di daerah sayap kiri lantai satu vila itu. Mr. Benjamin memperhatikan ruangan-ruangan itu dengan fokus, lalu ia mengangguk. Setelah itu, ia kembali menoleh ke arah Chris.
Chris pun kembali bersuara.
“Jadi, sebelum aku berhasil sampai ke dapur, aku melihat pintu indoor pool itu terbuka sedikit. Itu agak aneh, menurutku, karena aku ingat bahwa Keith sudah mematikan lampu dan menutup pintu ruangan itu saat kami semua keluar dari sana,” jelas Chris. Chris kini mulai sedikit tertunduk, dia menggelengkan kepalanya dan terlihat frustrasi. “Lampu ruangan itu juga hidup sepenuhnya. Jadi, itu membuatku heran. Aku pun masuk ke dalam sana dan aku—aku menemukan Bryant sudah…sudah mengambang di permukaan kolam. Awalnya, kupikir itu adalah baju yang mengambang karena aku masih mengantuk, tetapi setelah kudekati…ternyata itu adalah tubuh seseorang. Tubuh Bryant.”
“Apakah kau melihat seseorang di sekitar sana?” tanya Mr. Benjamin.
Chris menggeleng. “Tidak. Tidak ada seorang pun yang ada di dalam sana selain aku. Teman-teman sekamarku juga sedang tidur.”
Mr. Benjamin mengangguk. Setelah itu, Mr. Benjamin mulai memperhatikan semua orang yang ada di sana lagi, kecuali Chris. “Apakah ada yang belum tidur pada saat itu?”
Beberapa dari peserta mulai menjawab.
“No.”
“Tidak. Aku tidur.”
“Tidak.”
“Aku juga sedang tidur. Aku terbangun saat mendengar teriakan Chris.”
“Aku justru terbangun karena dibangunkan oleh Kane.”
“Iya, kita semua kaget saat itu, ‘kan?”
Mr. Benjamin memperhatikan mereka dan mendapati bahwa mereka semua menjawab ‘tidak’. Ada juga yang ujung-ujungnya jadi membahas kejadian itu dengan orang yang sedang duduk di sampingnya. Intinya, mereka semua memang benar-benar sedang tidur dan tidak akan terbangun apabila bukan karena suara teriakan Chris.
“Alright, guys, enough,” ujar Pelatih Andrew yang kontan membuat mereka semua kembali terdiam. Semua orang kini beralih menatap Mr. Benjamin kembali.
“Baiklah,” ujar Mr. Benjamin. Dia pun mengangguk pelan, lalu menatap mereka semua satu per satu. “Aku benar-benar butuh kesaksian dari kalian karena ternyata vila sebesar ini tidak memiliki CCTV sama sekali. Hasil penyelidikan dari kejadian ini akan kami umumkan segera. Kami akan membawa jenazah Bryant ke rumah sakit terlebih dahulu.”
Ketika Mr. Benjamin mulai berdiri, semua orang yang ada di ruangan itu pun ikut berdiri. Mereka merunduk hormat pada Mr. Benjamin, lalu Mr. Benjamin mulai berbalik untuk meninggalkan ruang tamu itu dan masuk kembali ke ruangan kolam renang. []