BAB 2 Pertemuan berdarah

1311 Kata
Sekarung semen diletakkan bertumpuk di atas karung lainnya, Daphne menuruni tangga, kembali naik dengan karung berisi semen di pundak. Langkahnya yang tertatih-tatih menjadi perhatian pekerja lain yang tengah beristirahat. Matahari serasa di atas kepala, panasnya membuat mereka bermandi keringat. "Astaga, istirahatlah dulu. Mataku sakit melihatmu bolak-balik seperti itu," keluh salah seorang pekerja bertubuh gemuk. Daphne melirik sambil tersenyum tipis, sebelum mulutnya bicara, pekerja lain lebih dulu memotongnya. "Biarkan saja. Toh bersusah payah cari muka di depan bos pun, gaji kita tetap sama." Daphne menelan senyumnya, dan kembali membopong karung-karung lain. Bukan sesuatu yang aneh, justru lebih aneh melihat perempuan bekerja berat di tempat kontruksi. "Heh! Kau punya tubuh bagus. Ya meski penuh memar, kurasa masih ada lelaki yang suka itu." Pria botak kembali bicara, senyum aneh tampak di wajah keriputnya. Disusul tawa cengengesan yang lain. Daphne mengabaikan, pekerjaannya harus selesai lebih awal sebelum pukul dua. Sebab kehilangan pekerjaan lagi diusia awal 30an, serasa begitu menyedihkan. "Ha, lihatlah! Cuma barang rusak saja, sok jual mahal!" Daphne meletakkan karung semen terakhir, lalu menegakkan tubuh sembari memandang datar. Dia menoleh, melangkah tenang menuju sekumpulan pekerja yang sontak terdiam. "Apa? Benarkan? Tubuhmu rusak, sebab itulah suamimu tak mau memberimu nafkah. Ku jamin, sebentar lagi kalian bercerai. Setelah itu kau bisa apa dengan tubuhmu yang rusak? Sudah syukur masih ada_" Sebuah sumpit melayang, menembus karung semen membuat isinya berhamburan. Pria botak mematung, tubuhnya tegang dengan mulut menganga. Perih dirasa dari goresan di pipi kanannya, sumpit itu menancap di tumpukan karung semen di belakang kepalanya. Apa itu tadi? Bagaimana sumpit melayang dengan cepat? Sejengkal saja ujung sumpit mengenai mata, bila saja dia bergerak sedikit. "Kau_!" "Ah, maaf. Sepertinya tubuhku terlalu rusak sampai-sampai jariku ikut tidak berguna," ujar Daphne sambil menyuap sepotong roti isi ke mulut. Mengabaikan emosi pria botak yang hendak menyerangnya, tetapi pekerja lain bergegas menahan. Bedebah. b******n gila. Melebarkan s**********n saja tidak akan cukup untuk mereka, otak m***m seperti itu perlu di beri sedikit kejutan, seperti tadi misalnya. Hidup bersama Damian membuat Daphne terlatih, terlatih untuk menahan segalanya termasuk kesakitan hingga kini makin mati rasa. Tidak ada seorang perempuan yang mau berakhir dalam rumah tangga beracun, begitu pun dengan Daphne. Entah di mulai dari mana sampai kebersamaan mereka kurang lebih 10 tahun ini, menjadi hambar. Nyeri di punggung membuat Daphne tak henti memukul-mukulnya, tidak ada suara meringis, hanya kekosongan di wajah pucatnya yang kehilangan binar. "Astaga, Kak. Sebenarnya apa yang kau lakukan dengan tubuhmu? Apa kau bekerja di tempat proyek konstruksi?!" Suara melengking itu terdengar terkejut, mata bulatnya melirik ngeri pada memar-memar memudar di punggung telanjang Daphne. Sontak membuat Daphne tersenyum tipis, melihat dandanan nyentrik anak awal 20 tahunan itu membuatnya tanpa sadar termenung. "Pagi bekerja di toko bunga, siang di kedai ayam goreng, malamnya di minimarket. Dan sekarang di tempat kontruksi?!" Terdengar nada tak percaya di sana, disusul ekspresi iba. "Kak," panggilnya. Daphne bergumam sembari menyusun bunga-bunga yang telah dirangkainya. Mereka mendapat pesanan banyak lagi, tiga kali berturut-turut dalam seminggu. "Kak, kau masih terlihat muda dan cantik. Apa tidak sayang merusak tubuhmu seperti ini? Maksudku, kau bisa saja mencari lelaki kaya. Atau mau kukenal kan satu_" "Aku sudah menikah," potong Daphne tanpa menoleh pada ekspresi terkejut perempuan muda disampingnya. Beruntung lonceng yang berbunyi di pintu, memecah kecanggungan. Seorang pria berkacamata hitam dan bersetelan hitam mendekat. Perempuan muda itu beringsut ke belakang tubuh Daphne yang lebih kecil, sesekali melirik gelisah. "Ah, gangster itu lagi." Kalimat itu merujuk pada tato ular yang menjalar dari punggung sampai rahang kiri pria asing itu. Sesuatu yang dianggap cap sebuah kelompok kriminal tertentu di wilayah itu. "Selamat siang, ada_" "Seperti biasa," potong pria itu sambil meletakkan beberapa lembar uang ke meja marmer. Daphne mengangguk singkat, lalu meraih sebuket bunga mawar merah besar yang telah dirangkai dan menyodorkannya yang diterima langsung pria bertato ular itu. Namun, perhatiannya terhenti. Pada sosok tak asing yang berdiri di tepi jalan sana, tepat di luar sebuah mobil hitam yang terparkir di pelataran toko bunga. "Kak? Kakak!" Seruan itu membuyarkan lamunan Daphne, sementara pria asing itu sudah berada di luar. Daphne bergegas menuju pintu kaca. Menunggu sampai mobil hitam pergi, barulah ia keluar. "Damian?" Sosok itu tersentak, tampak begitu terkejut mendengar namanya dipanggil. "Daphne? Sedang apa kau_ Ah, aku lupa kau kerja di sini." Daphne mendekat, Damian terburu-buru membenarkan penampilannya. Lelaki itu tampak gelisah, berulang kali melirik jalanan sibuk di sana. "Sedang apa...." Daphne memperhatikan penampilan rapi Damian dalam setelan jas kerja hitam, lengkap dengan dasi hadiah ulang tahun darinya sembilan tahun lalu. Melihat itu tanpa sadar melengkungkan senyum di bibirnya, rona kemerahan itu tampak di wajah yang kini berseri. "Kau selalu pulang terlambat akhir-akhir ini." Daphne berujar sedikit tersipu. "Ya, aku dapat kerja. Baru sebulan, perusahaannya lumayan bagus. Jadi...." Damian berulang kali melirik arlojinya, menyadarkan Daphne waktu menjelang tengah hari. "Ah, sebentar lagi jam makan siang. Mau makan bareng? Kudengar ada_" "Tidak, aku buru-buru." Damian membenahi penampilannya, tepat dengan sebuah mobil putih yang berhenti di samping mereka. "Dengar... Aku tidak akan pulang selama beberapa hari, kalau... kalau ada yang mencariku, katakan saja kau tidak kenal. Mengerti?" Daphne mengernyit, sementara Damian tak memberinya ruang untuk berpikir. Lelaki itu bergegas memasuki mobil putih tadi, menyadarinya bergegas Daphne mendekat. Mengetuk-ngetuk kaca mobil yang perlahan meninggalkan area toko. "Ian, tunggu... Damian!" Namun, mobil lebih dulu pergi. Meninggalkan kekosongan lain di hati Daphne yang disambut seribu tanya. Sejak hari itu, delapan hari terlewati dengan tanda tanya akan menghilangnya Damian. Tidak ada kabar, meski sekadar pesan singkat. Daphne duduk termenung, aroma sedap mie yang masih mengepulkan uap, tidak mampu menggodanya. Ruang temaram serasa menyesakkan, semilir angin malam berembus dari jendela rumah. Kekosongan itu menggerogoti jiwanya seperti racun. Memakan sisa kewarasannya. Rumah mereka mungkin tidak lagi hangat, tetapi kehadiran Damian mampu menjadi lentera di hatinya yang sunyi. "Buka!" Seruan disusul gedoran di pintu menyentak kesadaran Daphne. Sontak ia berdiri, melirik kalender kecil di atas meja yang seketika membuatnya membeku. Para rentenir itu kembali. Bergegas Daphne meraih garpu di atas meja, lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu. "Buka! Daphne!!" Mendengar namanya disebut, sontak Daphne membuka pintu. "Damian?" Berbeda dengan kali terakhir mereka bertemu, lelaki itu kini hanya mengenakan kaos hitam berbalut jaket dengan topi dan masker. Memasuki rumah dan mengunci pintunya cepat. Damian melirik ke luar dari celah tirai. Napas lelaki itu memburu, wajahnya dipenuhi teror seolah hendak didatangi malaikat maut. "Sial," gerutu Damian. "Sial... Sial... Sial!!" Damian melempar asal tas ranselnya, lalu mondar-mandir gelisah. "Ian?" panggil Daphne ragu. Tidak ada jawaban, sebaliknya justru terdengar derap langkah mendekat. Mereka melirik ke arah pintu yang mencoba di buka. "Siapa_" Damian bergegas menutup mulutnya, deru napas panas lelaki itu berembus di telinga. Jantungnya bertalu-talu. "Jangan berisik," bisik Damian. "Bos, apa kita dobrak?" Suara berat itu terdengar dari luar. Belum sempat menghindar, pintu di dobrak keras membuat engselnya terlepas. Daphne dan Damian terdorong nyaris tersungkur. Para pria bersetelan jas serba hitam mengepung rumah sempit mereka. Kemudian memberi ruang untuk sosok misterius yang melangkah tenang. Asap cerutu berembus dari bibir tipis itu, perawakannya tinggi kekar nyaris menyentuh atap rumah. Mantel hitam menjulur nyaris menyentuh lantai, samar tercium aroma anyir darah terselip dari aroma tobacco, menguar dari tubuh itu. Perpaduan vanilla, madu, kayu, dan wiski yang bold membuat kegelisahan Daphne sedikit memudar. "Damian Marley." Suara berat menggema, netra kelamnya melirik tajam pada sosok Damian yang mematung. "Apa? Kalian mau membunuhku?!" Daphne sontak menoleh. "Membunuh? Siapa_" Kalimat Daphne tertahan, menyadari bahaya sudah mengancam. Mereka tidak lagi berperan sebagai rentenir, melainkan gangster yang memusnahkan manusia seperti lalat. Sepasang pantofel hitam mendekat bersama sepasang iris kelam yang menatap lekat, seperti serigala siap memangsa. Nyawa mungkin tak berarti apa-apa bagi para penguasa di dunia gelap itu. Namun, tidak ada lagi yang tersisa untuk Daphne bila harus kehilangan Damian. "J-Jangan mendekat!" Langkah itu terhenti, alis tebalnya terangkat heran. Ujung tajam garpu tepat di depan mata, siap menghunus bagai senjata. Sosok rupawan itu tersenyum miring. Ah, ternyata rubah. Kelinci yang dikiranya penakut, justru berdiri paling lantang di tengah kepungan senjata api yang siap melubangi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN