bc

Jerat Pesona Janda Kesayangan Mafia

book_age16+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
dark
dominant
mafia
heir/heiress
bxg
city
enimies to lovers
villain
like
intro-logo
Uraian

Daphne, pewaris tunggal perusahaan raksasa milik konglomerat Lumanova, memilih meninggalkan takhta demi cinta.

Alih-alih mengikuti tradisi keluarga, Daphne menukar kemewahan dengan sebuah rumah sederhana dan menikahi Damian, mantan staf perusahaan ayahnya, yang ia cintai.

Namun, kenyataan jauh lebih pahit. Usaha Damian bangkrut, sifat aslinya terkuak. Luka fisik dan batin menjadi sahabat setia Daphne, yang kini terlilit utang rentenir.

Takdir mempertemukannya dengan Caesar. Seorang anak mafia, penerus kekuasaan gelap yang dibangun kakeknya, mantan polisi yang kini mengendalikan dunia bawah tanah. Hubungan yang berawal dari setitik rasa tertantang, berubah menjadi hal asing bagi Caesar.

Caesar menawarkan kesepakatan melalui kontrak pernikahan dengan jaminan utang Damian lunas.

Namun, Daphne terlanjur hancur. Percikan benci itu menjadi kobaran dendam, memanfaatkan kelengahan Caesar, untuk membuat kehidupan Damian hancur lagi.

Mampukah Daphne membalaskan dendamnya? Atau apakah Daphne temukan penyembuhan dalam kegelapan yang ditawarkan Caesar?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 Kehidupan di balik tirai.
"Untukmu." Sekuntum mawar merah teracung, bibir tipis itu tersenyum hangat. Daphne tertegun, hatinya yang berdenyut nyeri terasa berbunga-bunga. "Kau dengar tidak? Dasar cacat!!" Ingatan indah itu melebur, ujung tajam botol kaca teracung, bagai tombak yang siap menerkam. Damian berdiri di depannya, tidak dengan bunga, tapi dengan lampiasan emosi yang akan menyisakan luka lagi. Pandangan Daphne mengedar, memperhatikan kondisi rumah sempit mereka yang bak kapal pecah. Botol minuman berserakan, sisa makanan ringan dan tumpukan sampah dalam kantung plastik di hinggapi lalat, aroma pengap dan sumpek mengisi ruang temaram itu. "Cepat hubungi ayahmu! Kau kan tetap putri pewaris satu-satunya, tidak mungkin mereka_" "Tidak, Damian." Daphne menyela, ia menggeleng lemah. "Aku sudah bukan keluarga mereka lagi." Pedih. Perihal luka lama yang disiram lagi, perlahan mengakar menjadi bunga duri. Namun, Damian enggan mengerti. Wajahnya memerah, urat-urat di sekitar leher menegang. Dia melotot, lalu menjambak surai kelam Daphne. "S-Sakit, Ian." Suaranya habis. Damian justru terkekeh sadis. "Sakit? Aku gila karena semua ini! Sebagai istri harusnya kau paham! Kalau kau sudah cacat! Bergunalah sedikit!!" Tubuh kurus itu didorong keras, kepalanya terantuk ujung meja reyot. Tidak terdengar suara meringis, hanya seruan hina. Sekali lagi tubuh ringkih itu menjadi samsak amarah. "T-Tolong berhenti, Ian. Kumohon..." Kekosongan mengisi kegelapan di sana, embusan angin malam tak mampu menggoyahkan kebekuan di hati suaminya. Daphne tidak ingat kapan kehangatan dirasakan di rumah mereka. Tahun pertama pernikahan mereka penuh dengan kebahagiaan, tetapi tahun-tahun berikutnya berubah menjadi mimpi buruk. Usaha kecil yang dirintis Damian gagal total. Ia mulai kehilangan kendali diri dan menjadi pribadi yang temperamental, kasar, dan sering melakukan kekerasan fisik terhadap Daphne. Mereka terlilit utang besar pada rentenir. Di mata dunia, Daphne terlihat seperti wanita mandiri dan kuat, tetapi di balik pintu rumahnya, ia adalah korban kekerasan yang terperangkap dalam hubungan yang toxic. "Sakit..." *** "Bibi! Satu botol lagi!" Seruan seorang lelaki menggema, Daphne bergegas menghampiri dengan sebotol minuman di tangan. Namun, langkah pincangnya terhuyung. Botol minuman jatuh dan menjadi serpihan kaca, saat tubuh kurusnya menghantam tanah. "Ah! Sial!" Bergegas Daphne berdiri. "M-Maaf, Pak. Kami akan_" "Kau buta?! Kau tahu berapa harga setelan ini?! Sepasang kaus kakinya saja, tidak akan bisa kau beli dengan gajimu sebulan!!" Pria kantoran itu mencaci. Telunjuknya mengacung tepat di wajah Daphne yang memucat, jemarinya saling terikat. Gundah melanda membuatnya tak sanggup mengangkat kepala. "Ha! Kenapa diam! Selain kakimu yang cacat, apa mulutmu juga bisu?!" Decak dengan pandangan jijik seperti mengulitinya hidup-hidup. Meski itu hal biasa. Daphne mendongak, wajahnya menjadi datar. "Itu hanya sebotol minuman yang pecah, tidak akan melukaimu. Kenapa berlebihan?" Pria kantoran menganga kaget, wajahnya semakin merah hingga cengkeraman kuat diberikan di rambut hitam Daphne yang diikat rendah. Tatapannya bagai elang yang hendak memangsa, menelusuri lekuk tubuh sempurna perempuan di depannya. "Apa? Coba katakan sekali lagi! Mentang-mentang punya wajah cantik, kau pikir bisa dimaafkan semudah itu?" Alis tipis Daphne terangkat, seperti bibir penuhnya yang tertarik ke atas di satu sudut. "Ah, kau mau dilayani?" Pria kantoran tersentak, jakunnya naik turun dengan gugup. "A-Apa? Apa aku terlihat semurah itu, huh?!" "Memang apa lagi yang b******n butuhkan selain melampiaskan nafsu mereka?" Daphne berkata tanpa emosi. Ia terkekeh lalu melanjutkan, "Tapi maaf. Kau bukan tipeku." Semburat merah menjalar sampai telinga, urat-urat di sekitar lehernya muncul. Merasa dipermalukan, pria kantoran itu mendorong tubuh Daphne hingga tersungkur. "Kau! Kau pikir kau siapa?! Sok jual mahal, padahal hanya barang rusak!" Daphne menepuk-nepuk debu di pakaiannya, sesekali memijit kecil pergelangan tangannya yang sedikit terkilir. Kalimat kejam itu terasa menyakitkan, tetapi terdengar biasa untuk Daphne. "Maaf, Pak. Kami akan mengganti rugi, Anda bisa mendapat satu menu gratis setiap ke mari." Seorang pria paruh baya menjadi penengah, senyum tampak di wajah keriputnya. Pria kantoran masih enggan beranjak, memperhatikan Daphne lantas mendengkus. "Apa sulitnya memperkerjakan orang normal? Dengar, Pak tua, kau bisa bangkrut kalau masih mempertahankan wanita cacat seperti ini." Daphne menegang, sampai suara riuh dan bisik penuh hinaan itu hening. Terganti tawa kebebasan mengudara. "Bereskan ini dan ikuti aku." Titah pemilik kedai bagai alarm, bergegas Daphne berjongkok memunguti pecahan botol kaca dengan tangan telanjang. Mengabaikan goresan di telapak kasarnya, yang kini mengeluarkan darah. "Ck. Ini ulah suamimu lagi, kan?" Pemilik kedai mie berdecak, sesekali melirik penampilan kumal karyawannya. Daphne bungkam. "Apa yang ada di otakmu bekerja dengan penampilan seperti itu? Kau mau menghancurkan usahaku?" Daphne sontak menggeleng, di sudut matanya yang bengkak. Ia menatap datar bosnya. "Saya akan pakai masker dan kaca mata hitam_" Helaan napas panjang menjadi pertanda tak menyenangkan, membuat gelisah kala memikirkan. Pemilik kedai mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya, lalu melempar sebuah amplop putih ke meja. "Gajimu, ku tambah bonus untuk tiap lembur." Daphne memandang kosong, beralih menatap wajah keras bosnya yang berpaling. "Jangan datang lagi besok, aku tidak mau bisnisku hancur karena memperkerjakan orang sekarat." Daphne tertegun, sontak memperhatikan penampilannya sendiri. Gaun musim panas sebetis berwarna putih yang sudah menguning, berpadu jaket rajut merah, dan sepatu tali putih usang dengan sol yang hilang. Tampak serasi, kecuali memar di sekujur tubuhnya yang tersembunyi apik. Nyeri itu kian terasa, meski sekadar menggerakkan jari. Daphne memilih undur diri, amplop berisi uang sudah dikantongi. Ia berbalik pergi. Melangkah tergesa-gesa melalui gang sempit dan gelap. Membiarkan rintik gerimis membasahi tubuh, langkahnya terpincang-pincang sesekali tersandung jalanan berlubang. "Sial, kau terlambat lagi?" Seorang perempuan muda mengutuknya di ruang ganti minimarket. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, lima menit terlambat dari yang telah ditentukan. "Maaf," bisik Daphne sambil mengenakan seragam kerjanya. "Cih, menyebalkan." Perempuan itu beranjak pergi, disusul Daphne yang bergegas ke meja kasir. Sesekali menguap menahan kantuk yang membuat matanya berat. 24 jam serasa sewindu, waktu berlalu begitu lambat. Sunyi menyapa menjelang dini hari, matanya kian berat, hingga tanpa sadar Daphne terlelap. Embusan angin malam membelai lembut wajahnya, membuai Daphne dalam mimpi. Mimpi di mana tawa meluap tanpa harus ada imbalan. Sudut matanya basah, kening itu mengernyit gelisah. Membuat pria tua yang diselimuti amarah, sedikit tersentuh. "Hei, bangunlah! Bangun!" Sambil menggebrak meja, pria tua bersuara lantang. Daphne tersentak, wajah pucatnya dipenuhi teror. Bahkan dalam mimpi pun, Damian menjelma menjadi bagian utuh dari traumanya. "Pak_ Ah, maaf." Daphne berdiri, disusul helaan napas dari pemilik minimarket. "Lagi-lagi tertidur, apa aku memaksamu bekerja? Tidak, kan. Aku membayarmu penuh karena...." Pak tua tak sanggup berkata, tangannya memberi isyarat pada penampilan karyawan part time-nya. Pak tua memandang risih. "Ada banyak barang hilang saat shift kerjamu, lihat itu!" Pak tua menunjuk pada rak berisi minuman kaleng yang tercecer di lantai, lantas menghela napas sembari mengeluarkan amplop putih ke meja. Daphne menegang. "Saya akan ganti_" "Ya, harus. Dan aku sudah memotongnya dari setiap gajimu," sela pak tua. "Besok, jangan datang lagi. Aku tidak mau bisnisku jadi TKP ditemukannya mayat penuh memar." Sontak Daphne menarik ujung jaket rajutnya, menutupi luka di pergelangan tangan yang terasa gatal. Lukanya mulai sembuh, tapi tidak pernah pulih. Sebab Damian masih menjadi bagian darinya yang utuh.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook