6~A Mafia Obsession

1089 Kata
Untuk kesekian kali nya Fania terus menengok keluar untuk mengamati situasi sebelum kembali menutup pintu nya. Sekarang sudah jam 17.30 yang berarti tinggal beberapa menit lagi sebelum Breanch kembali. Kembali membuka pintu kamar nya untuk mengamati situasi dan mendapati semua pelayan sedang sibuk bekerja, Fania melangkah keluar lalu menuruni tangga. Beberapa pelayan sedang sibuk mengatur meja makan untuk persiapan makan malam Breanch setelah pulang, bahkan karena terlalu sibuk dengan makan malam Breanch para pelayan tidak memedulikan Fania. Tapi, tunggu ada 7 buah piring yang di tata di atas meja tersebut. Berarti bukan hanya lelaki itu yang akan makan malam, ada orang lain yang akan makan malam dengan nya. Dengan cepat Fania berjalan menuju dapur dan melihat hanya ada 2 orang pelayan yang sibuk berkutat di dapur. Pintu yang akan membawa nya ke dunia luar ada di depan nya dengan jarak 10 langkah dari nya. Fania dengan bimbang berdiri memperhatikan 2 orang pelayan tersebut sebelum kembali berbalik menatap ke arah pintu. Setelah yakin pelayan tersebut tidak mengetahui keberadaan nya dengan langkah kecil dan pelan Fania berjalan ke arah pintu. Fania hanya harus memutar gagang pintu tersebut dan pintu itu akan terbuka untuk nya. Tapi, entah kenapa rasa nya Fania sangat gugup hanya untuk membuka pintu itu. Kembali mengintip melihat kedua pelayan yang sudah hilang entah kemana membuat Fania semakin cemas. Tanpa menunggu lagi Fania memutar gagang pintu tersebut dan pintu itu Tidak terbuka ! Pintu nya terkunci ! Hingga taklama sebuah bunyi sepatu pentofel terdengar masuk ke dalam indera pendengaran nya. "Kau mencoba kabur ?" pemilik suara berat itu adalah Breanch. Membuat jantung Fania berhenti berdetak untuk sesaat. Fania tidak tauh karena apa diri nya menjadi ketakutan. "Sakit! Lepas. Ini sakit !" Ucap Fania sambil menghentakan tangan nya agar terlepas dari genggaman Breanch tepat saat pintu kamar Fania tertutup. Dengan kasar Breanch menarik pergelangan tangan Fania dan menyeret nya kembali kedalam kamar. "Kau mencoba kabur ?" Tanya Breanch dengan tenang dan kedua tangan yang berada di dalam saku celana nya. Mengepal dengan kuat, berusaha tidak marah dan melempar perempuan ini keluar dari balkon kamar. Fania membuang arah pandang nya ke arah lain dengan satu tangan nya yang masih mengelus pergelangan tangan nya yang merah "Tidak." Suara sepatu pentofel milik Breanch kembali bergema mengeluarkan suara mengintimidasi saat lelaki tersebut berjalan ke arah nya. Dengan tenang Breanch berjalan pelan dan mata yang mulai menyipit menatap Fania "Lalu sedang apa kau di depan pintu dapur itu ?" "Ak--Aku. Aku... Mencari Seila." Dusta Fania. Dahi Breanch mengerut mendengar jawaban dari Fania. "Seila ? Siapa Seila ?" tanya Breanch. "Dia seorang gadis berumur 16 tahun yang bekerja di mansion mu ini." jawab Fania dengan ketus tanpa berbalik menatap Breanch. Terjadi keheningan yang cukup lama. Breanch tidak beranjak dari tempat nya dan menatap Fania yang masih membuang arah pandang nya tidak ingin memandang Breanch. Breanch menanggukan kepala nya sebelum kembali membuka pembicaraan dengan Fania "Dengar, itu terakhir kali nya aku melihatmu di depan pintu dapur." "Ah, bukan hanya di depan pintu dapur melainkan di semua pintu menuju keluar." sambung Breanch. Fania berbalik menatap Breanch yang sekarang berdiri tidak jauh dari nya yang juga sedang memandang nya. "Kenapa aku harus mendengarmu ! Kau tidak punya hak melarang ku keluar dari mansion ini." tegas Fania yang mulai tersulut emosi nya. "Aku punya hak." Breanch menatap jam tangan hitam bermerek yang melingkar di lengan kiri nya, lalu berbalik menatap Fania."Atau kau akan menyesal." Sepertinya Breanch ingin mengakhiri pembicaraan mereka saat diri nya berbalik berjalan meninggalkan Fania. "Apa kau mengancamku ?" Hingga suara marah juga kesal Fania kembali mengintrupsi diri nya, membuat Breanch berbalik menatap perempuan tersebut. Sebuah seringai muncul di bibir Breanch dengan kedua tangan yang masih di dalam saku celana nya yang berwarna hitam senada dengan pakaian nya juga sepatu pentofel nya. "Tidak. Itu sebuah peringatan." Hingga seringaian itu lenyap dari bibir nya di gantikan dengan wajah Breanch yang kembali tidak menunjukan ekspresi apapun. Fania menopang dagu nya dengan kedua tangan nya tanpa melepas kan mata nya dari pintu balkon yang terbuka. Fania ingin keluar dari kamar ini tetapi, Breanch ada di ruang makan bersama pria lain nya. Fania tauh Breanch sedang makan malam dengan beberapa pria karena beberapa kali suara pria asing masuk ke dalam indera pendengaran nya, saat diri nya turun ke bawah sebentar hanya untuk kembali mengecek keadaan. Entah kenapa sebuah peringatan dari Breanch membuat nya semakin gencar untuk keluar dari mansion ini. Sudah 2 jam berlalu dengan diri nya yang masih setia dengan posisi nya. Hingga sebuah pintu terdengar di buka dari belakang. Tidak berbalik, Fania hanya menghiraukan seseorang yang ada di pintu. "Seila, aku sedang tidak ingin di ganggu. Pergilah." usir Fania. Fania berpikir bahwa orang yang sedang berdiri di ambang pintu itu adalah Seila. Hingga sebuah bunyi sepatu pentofel kembali bergema mendekat ke arah nya. Dengan cepat Fania berbalik dan menemukan Pria bermata Amber itu, Breanch. Sedang berjalan mendekat ke arah nya. Breanch berjalan dengan tegap lalu duduk di salah satu sofa dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari Fania. Menahan kekesalan nya, Fania hanya diam saat Breanch belum juga mengatakan tujuan nya untuk kembali menemui nya setelah sore tadi. Berniat membuka mulut untuk berbicara yang langsung di putus oleh Breanch "Kau sudah makan ?" "Kau kembali menemuiku hanya untuk mengatakan itu ? Aku ingin keluar dari sini !" sinis Fania. "Kau terlihat mungil dengan tubuh pendekmu itu. Kau harus banyak makan." Mengabaikan ucapan sinis Fania, Breanch kembali berbicara. "Aku ingin keluar !" ulang Fania geram. "Kenapa kau begitu pendek ? Tinggimu bahkan belum mencapai daguku ?. Ayahmu berbohong mengatakan kau cantik." "Kubilang aku ingin keluar ! Apa kau tuli." "Kau benar - benar jelek." Entah apa yang membuat Fania marah. Apakah saat Breanch mengabaikan perkataan nya atau saat Breanch mengatakan diri nya perempuan jelek ? Dengan marah yang memenuhi d**a nya juga kepala nya yang butuh di lampiaskan sekarang, Fania berjalan ke arah Breanch yang masih dengan tenang nya duduk. Setiba nya di depan Breanch, dengan cepat Fania menarik dasi yang masih di pakai lelaki itu lengkap dengan setelan jas nya yang masih belum di ganti nya. Menarik dasi itu dengan kuat hingga wajah Breanch dan Fania berdekatan. "Kau Brengsek." geram Fania di depan wajah Breanch yang sedang mengangkat sebelah alis nya. PLAK... Dan satu tamparan keras mendarat di wajah Breanch membuat wajah Breanch menoleh ke samping kanan karena kuat nya tamparan yang di berikan Fania. Yang tidak di mengerti Fania adalah saat Breanch tersenyum sinis sesudah diri nya menampar lelaki bermata Amber itu. Breanch kembali menoleh menatap Fania yang sudah melepaskan dasi nya dan berdiri tegak di depan nya. "Menarik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN