7~A Mafia Obsession

759 Kata
Saat Fania masih menerka - nerka dengan seringaian milik Breanch, secara tiba - tiba kedua tangan besar milik lelaki yang baru saja di tampar nya bergerak dengan cepat dan menarik pinggang Fania mendekat. Membalikan keadaan, kini Fania yang berbaring di bawah sofa yang tadi di duduki oleh Breanch dan kini Breanch yang berada di atas nya dengan jarak yang dekat. "Menjauh dariku." Desis Fania dengan memalingkan wajah nya kesamping. Salah satu jari telunjuk milik Breanch sudah menelusuri bagian wajah milik Fania mulai dari dagu hingga berhenti di kening, lalu mulai mengusap lembut kening perempuan yang berada di bawah nya. "Aku salah." ucap Breanch dengan tatapan nya yang tak pernah lepas dari wajah milik Fania. Fania masih memalingkan wajah nya hingga di rasa nya deru nafas milik Breanch semakin dekat dan tepat bibir terasa panas itu berhenti di daun telinga nya, menyalurkan hembusan nafas yang menggoda. "Ternyata, kau cantik." sambung Breanch sebelum dengan segera kembali berdiri. Fania dengan segera ikut bangun dari posisi berbaring nya saat Breanch sudah melepas nya. Menatap geram kepada lelaki yang hampir saja melecehkan nya, sepertinya. "Kau!" tunjuk Fania dengan berani tepat di depan wajah Breanch sebelum kembali menurunkan tangan nya dan mengepal nya kuat - kuat, berusaha untuk tidak kembali menampar lelaki yang berada di depan nya. "Kau lelaki b******k yang pernah ku temui." Dengan acuh Breanch hanya menganggukan kepala nya, seolah - olah membenarkan perkataan dari Fania. "Ya, aku lelaki b******k yang sekarang menjadi pemilik mu." tekan Breanch lalu berjalan keluar meninggalkan Fania dengan mulut yang kehabisan kalimat. Untuk beberapa saat Fania masih berdiri di tempat nya dengan mata yang mengerjap - ngerjap. Apa lelaki itu baru saja mengakui diri nya lelaki b******k ? Lelaki gila ! Fania duduk di meja makan bersama Breanch. Jika Fania tauh bahwa dirinya akan sarapan bersama Breanch pagi ini maka diri nya akan lebih memilih kelaparan di dalam kamar. Jujur saja, Fania merasa tidak enak jika selalu di bawakan makanan kedalam kamar, dirinya seolah - olah nyonya di dalam mansion ini. Tapi, nyata nya dirinya bukanlah seorang nyonya di sini. Dirinya hanyalah sebuah jaminan. Sebuah jaminan yang di lakukan oleh ayah nya sendiri, ayah kandung nya. Sampai sekarang Fania bahkan tidak bisa mempercayai hal tersebut. Di tambah kurang nya bukti yang di paparkan Breanch. Keadaan hening dan mencekam. Breanch makan dalam tenang sedangkan Fania yang awalnya sangat kelaparan kini menjadi sangat kenyang juga muak melihat lelaki yang ada di depan nya makan dengan tenang, seolah tidak terjadi apa - apa. Semalam harga diri Fania hampir terkoyak karena lelaki yang ada di depan nya. Tidak tahan lagi, dengan malas Fania menggeser kursi ke belakang berniat untuk berdiri dan berjalan kembali ke kamar. Sebelum sebuah tangan kekar kembali mendorong kursi ketempat nya semula, tepat saat Fania baru saja akan berdiri. Fania menoleh manatap salah satu tangan Breanch yang sudah berada di belakang kursi yang di duduki nya, sebelum kembali mengangkat kepala nya dan menatap kedua mata amber milik Breanch. "Kau mau kemana ? Sedaritadi kau tidak makan. Kau tidak lapar ?" tanya Breanch dengan datar. "Aku kenyang. Dan aku muak melihat wajahmu." Breanch mengangkat sebelah alis nya mendengar jawaban ketus dari Fania. Dengan tenang Breanch kembali bersandar di kursi yang di duduki nya dengan kedua tangan yang sudah terlipat di depan d**a nya. Tanpa melepas tatapan nya ke dalam bola mata milik perempuan di depan nya. Untuk beberapa menit Breanch terus menatap Fania, seolah berusaha merobek sesuatu yang berada di dalam diri Fania. Dan tanpa takut, Fania kini ikut berbalik menatap Breanch seolah menantang nya. Hingga sebuah senyuman sinis membentuk di bibir milik Breanch. "Aku akan keluar kota untuk 1 minggu." ucap Breanch sambil menarik gelas berisi kopi di depan nya lalu menyesap nya. Jujur Fania tak bisa mengontrol ekspresi wajah nya saat Breanch mengatakan bahwa dirinya akan keluar kota. Itu berarti akan ada kesempatan untuk kembali pergi dari sini. "Tapi..." Kini Fania kembali menatap Breanch yang masih mengalihkan pandangan nya ke dalam gelas berisi kopi yang baru saja di minum nya. "Jangan membuatku kembali lebih cepat dan membuatmu mendapat kan kejutan yang tidak kau inginkan." sambung Breanch dengan tenang lalu kembali mendekatkan gelas ke bibir nya dan kembali menyesap kopi hitam tersebut. Fania tauh itu sebuah ancaman tersirat. Dan kejutan apa yang akan di dapatkan nya, seperti ucapan Breanch saat dirinya membuat lelaki di depan nya pulang lebih cepat ? Hingga sebuah memori ingatan di malam saat Breanch menyuruh anak buah nya untuk memotong jari seorang lelaki tanpa ekspresi apapun, kembali merasuk ke dalam pikiran nya. Dan kini Fania sedang bermain taktik dengan seorang lelaki bermata Amber yang kejam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN