Rio terbangun dari tidur nya saat mendengar suara berisik di dapur apartemen nya. Bangun dari posisi berbaring nya di sofa, Rio berjalan menuju dapur.
Rio tauh sahabat nya itu sedang memasak sarapan untuk mereka berdua, itu bukan pertama kali nya.
"Pagi." sapa Rio dengan suara serak khas suara bangun tidur nya.
Fania yang sedang sibuk mengaduk adonan makanan di mangkok berbalik menatap Rio yang juga berdiri di belakang nya.
"Pagi. Kenapa kau sudah bangun ? Sarapan bahkan belum siap, aku bangun agak kesiangan." ucap Fania lalu kembali sibuk dengan masakan yang akan di buat nya.
"Tidak apa. Aku akan mandi lalu setelah itu kita akan sarapan bersama dan kau..." tunjuk Rio kepada Fania yang kini menatap nya. "Akan menceritakan semua yang terjadi padamu selama beberapa hari ini."
Selepas menyelesaikan kalimat nya, Rio kini berjalan kembali menuju kamar mandi seperti yang di ucapkan nya.
Selepas sarapan bersama, Fania juga Rio duduk di ruang tamu dengan teh yang menggepul. Rio tidak menyukai kopi, karena kopi sangat pahit untuk nya sehingga Rio selalu memilih untuk meminum teh di banding kopi yang menemani nya bersantai atau lembur.
Sudah beberapa menit berlalu dengan keadaan hening. Fania tauh bahwa Rio sahabat nya itu sedang menunggu nya berbicara, menceritakan semua nya.
Tapi, haruskah Fania menceritakan kepada Rio bahwa ayah nya meminjam uang lalu melarikan diri ? Di tambah diri nya menjadi jaminan dari uang tersebut ?
Jujur, Fania tidak ingin menceritakn hal tersebut kepada Rio. Demi Tuhan, Fania menyukai sahabat nya itu dan apa jadi nya jika diri nya menceritakan semua nya. Fania bukan hanya akan di tatap iba tapi, pernyataan cinta nya juga akan ikut di tolak.
Pria mana yang mau hidup bersama pasangan nya yang memiliki utang tergolong besar.
Fania tersentak kaget dari lamunan nya saat Rio memanggil nama nya.
Berbalik menatap Rio yang duduk di samping nya bersandar sambil menghela nafas. "Kau masih belum mau cerita juga ?"
Fania menggeleng kan kepala nya. "Bukan begitu, hanya saja... Aku sedikit bingung harus menjelaskan apa."
Kali ini Rio tidak membalas ucapan Fania melainkan menatap Fania tepat di mata nya, membuat Fania merasakan debaran jantung yang kencang.
"Kau hanya perlu menceritakan semua nya." Fania mengikuti pergerakan tangan Rio yang bersiap meraih jemari nya, memberi nya semangat.
Tepat saat Rio akan menggenggam tangan Fania, pada saat itu terdengar suara bell apartemen berbunyi.
Fania mendesah lemah dengan mata terpejam. Sedikit lagi, hanya sedikit lagi dan tangan itu akan menggenggam tangan nya. Tetapi, semua gagal hanya karena suara bell apartemen.
Fania sangat ingin menyentuh tangan orang yang di cintai nya itu tanpa alasan apapun, merasakan kehangatan juga kelembutan yang di salurkan.
"Aku akan mengecek siapa yang datang." Ucap Rio sembari berdiri dari duduk nya melangkah menuju pintu meninggalkan Fania yang hanya mendesah lemah.
Dengan lesu Fania mengulurkan tangan nya mengambil gelas berisi teh di depan nya.
Tepat saat tangan nya akan mendekatkan gelas tersebut di bibir nya sebuah pemikiran masuk dalam kepala nya, membuat Fania kembali menaruh nya di atas meja dengan sedikit membanting gelas , hingga air teh tersebut sedikit tumpah di atas meja.
Dengan tergesa - gesa Fania berdiri dari duduk nya lalu berjalan menuju pintu apartemen, ingin melihat siapa yang datang.
Tidak mungkin pria bermata Amber itu tauh tempat tinggal sahabat nya, bukan ? Dan terlebih baru 19 jam lebih diri nya pergi dari mansion itu dan diri nya sudah akan tertangkap ?
"Siapa ?" Fania berhenti melangkah bersamaan dengan suara seorang perempuan di depan nya yang mengintrupsi langkah nya.
Fania tauh perempuan itu. Dia perempuan cantik dan mempesona. Arlinca.
Rio melepas pelukan Arlinca di pinggang nya lalu berbalik menatap Fania yang membeku di tempat nya.
"Ah, kau tauh dia bukan Fania. Dia Arlinca, kekasih ku. Aku sudah pernah cerita padamu. Dan Arlinca, dia Fania sahabat ku."
Kini Fania tidak hanya membeku di tempat nya melainkan tidak bisa berkata - kata.
Rio, sudah jadian dengan Arlinca ? Ke-kenapa ak-u baru tauh.
Arlinca tersenyum manis ke arah Fania yang masih membeku di tempat nya, tidak melakukan apapun. Tangan putih pucat itu terulur ke hadapan Fania, untuk berjabat tangan dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir merah muda yang menggoda.
Seakan - akan senyuman itu tengah mengejek nya. Fania sudah kalah. Diri nya sudah kalah. Tepat saat Rio memperkenalkan diri nya sebagai seorang sahabat dan Arlinca sebagai seorang kekasih.
Tidak. Dari awal Fania memang sudah kalah. Saat seorang sahabat nya lebih memilih menjaga Arlinca yang baru keluar dari Rumah Sakit di banding merayakan ulang tahun Fania.
Fania menatap tangan Arlinca yang masih terulur di depan nya, dengan kaku Fania mengangkat tangan nya lalu menjabat tangan perempuan di depan nya.
"Fania." Ucap Fania dengan senyum kaku nya.
"Arlinca. Senang berjumpa dengan mu." Fania mengangguk kaku, sebelum menatap Rio yang juga menatap interaksi antara diri nya dan Arlinca.
"Rio."Panggil Fania dengan suara tercekat."Ak-Aku harus pergi."
"Kemana ? Arlinca baru saja datang. Kalian bisa menghabiskan waktu berdua."
Tidak. Justru aku yang akan melihat kalian menghabiskan waktu berdua bersama. Jerita Fania dalam pikiran nya.
"Aku sibuk. Aku harus ke toko bunga, mengecek keadaan toko."
"Perlu ku antar ?" tiba - tiba suara yang sedari tadi hanya diam, kini mengalun lembut keluar dari bibir menggoda perempuan itu.
Fania tersenyum paksa "Tidak, terima kasih. Kau baru datang, tidak baik jika kau langsung pergi."
Melihat penolakan Fania terhadap Arlinca, membuat Rio ingin mengajukan diri untuk mengantar sahabat nya ke toko. Tetapi, belum sempat Rio berucap, Fania sudah berjalan melewati nya keluar dari apartemen. Tanpa berbicara apapun.
Di lain tempat.
Breanch dudk dengan kaki yang tersilang. Terlihat sangat anggun namun tidak dapat di sentuh.
"Lanjutkan." Ucap nya kepada Erthan setelah menutup Telphone yang masuk.
"Kami sudah mencari nona Estefania di apartemen milik nya juga toko bunga nya. Namun kami tidak dapat menemukan nona Fania."
Breanch berdecak saat mendengar informasi tersebut dan mulai meregangkan leher nya kekiri dan kekanan.
"Kau tidak dapat menemukan nya." Sebuah pernyataan ulang keluar dari bibir Breanch dengan suara terdengar rendah.
"Tapi, setelah kami kembali menelusuri tempat yang kemungkinan nona Estefania datangi, kami menemukan bahwa nona Estefania kemungkinan sedang berada di apartemen seorang pria bernama Rio."
"Seorang pria ? Kekasih nya ? "kedua alis Breanch berkerut tidak suka mendengar nya.
"Tidak, Tuan. Menurut informasi yang kami dapat, nona Estefania sudah berteman lama dengan pria bernama Rio itu. Sebagai sahabat."
Breanch menganggukan kepala nya, lalu berdiri dari duduk nya memperbaiki jas nya yang sempat kusut karena duduk terlalu lama.
"Sahabat atau apapun itu. Tidak mengubah kenyataan bahwa dia memilih bersembunyi di belakang seorang pria." Gumam Breanch dengan nada mencemoh dan senyum sinis yang tersungging.
"Siapkan semuanya. Kita akan kembali membawa pulang seekor singa betina dan aku akan merantai nya."
Fania menghabiskan waktu nya di dalam toko bunga dengan membersihkan juga mengecek beberapa bunga yang masih bisa di jual atau tidak lagi.
Melupakan kejadian yang membuat hati nya mencelos sakit.
Terkurung di mansion milik lelaki bermata Amber itu membuat beberapa bunga menjadi layu dan rusak karena tidak terurus.
Untung saja Fania sudah menyimpan salah satu kunci cadangan di bawah kaset kaki, Sehingga diri nya bisa masuk ke dalam toko. Beberapa surat terdapat tertumpuk di dalam kotak surat nya. Hanya berisi pesanan pelanggang - pelanggan yang memesan bunga dari luar kota.
Dan 1 dari 5 surat lainnya sudah jatuh tempo pengiriman bunga nya, tepat nya kemarin. Sedangkan yang 1 lainnya, hari ini bunga itu harus di kirim.
Semua nya karena lelaki itu. Jika saja aku tidak terkurung di mansion nya, aku pasti tidak akan mengecewakan 4 pelanggan lain nya.
Fania membungkus sebaik - baik nya bunga carnation atau nama lain nya bunga anyelir berwarna pink muda itu.
Saat diri nya akan melangkah keluar dari toko bunga nya dengan segenggam buket bunga yang sudah di bungkus nya dengan baik, telphone yang terdapat dalam ruangan tersebut berbunyi mengeluarkan suara nyaring.
Berjalan mengahampiri telphone yang masih berdering itu dengan suara nyaring.
"Selamat sore, LV Flowers di sini. Ada yang bisa--"
"Kau membuatku pulang cepat, Fania." Untuk sesaat suara tajam dan rendah itu berhenti, memberikan jeda. Mengirim rasa takut ke seluruh tubuh Fania membuat semua bulu Fania meremang. "Aku beri kau waktu 10 menit kemari atau aku akan melobangi kepala temanmu."
Dan sambungan telphone terputus. Fania mendengar semua nya dengan tangan kanan yang gemetar memegang buket bunga.