11~A Mafia Obsession

1435 Kata
Setelah membayar sewa Taxi dengan terburu -buru, Fania dengan cepat berlari masuk ke dalam gedung apartemen milik Rio. Tepat, saat pintu lift di depan nya terbuka dengan cepat diri nya masuk menerobos beberapa orang yang sudah menunggu untuk masuk ke dalam lift. Fania terus membungkuk meminta maaf kepada beberapa orang di depan nya, dengan terus memencet tombol agar pintu lift tersebut segera tertutup. Di dalam lift Fania mencoba mengatur detak jantung nya yang berdegup kencang. Fania meremas buket bunga yang terbawa oleh nya, membuat buket bunga tersebut sedikit rusak. Ting! Membuka mata nya setelah menghembuskan nafas nya, mencoba menguatkan diri. Melangkah keluar dari lift tersebut Fania langsung terlonjak kaget saat melihat ada 3 orang lelaki berseragam yang menunggu di depan pintu apartemen milik Rio. Salah satu lelaki yang berpakaian sedikit berbeda dari 2 orang lain nya menoleh menatap Fania yang berjalan keluar dari lift. Dan saat Fania tepat berada di depan nya, lelaki tersebut membuka pintu apartemen yang awal nya tertutup dan mempersilahkan Fania untuk masuk. "Tuan Breanch, sudah menunggu anda di dalam." "Apa pria pemilik apartemen ini baik - baik saja ?" Tanya Fania sebelum melangkah masuk, menunggu jawaban atas pertanyaan nya. Tetapi, lelaki yang di tanyai nya hanya menatap Fania sebentar sebelum kembali menunduk. "Silahkan masuk." hanya itu yang keluar dari mulut yang di tanyai nya. Membuat Fania semakin erat meremas buket bunga . Saat Fania mulai melangkah masuk ke dalam apartemen dengan pencahayaan yang remang, membuat Fania terlonjak kaget dan menoleh ke belakang saat pintu yang di jaga oleh 3 orang pria tersebut tertutup. Semakin dekat Fania dengan ruang keluarga, semakin jelas pula suara rintihan tertahan dari Rio. Membuat Fania yang awal nya berjalan perlahan - lahan di tengah pencahayaan yang remang, mempercepat langkah nya menuju asal suara Rio. Di depan nya Fania melihat lelaki yang di cintai nya sedang meringkuk menahan rasa sakit di seluruh tubuh nya. "Kau terlambat 20 menit." Dan di sebalah sana terlihat Breanch yang sedang duduk di atas sofa dengan kaki yang menyilang di dampingi dengan 2 orang pria di sebelah kiri juga kanan nya. Tidak menghiraukan ucapan Breanch, Fania melangkahkan kaki nya mendekat ke arah Rio yang masih meringkuk kesakitan. Fania menutup mulut nya dengan kedua tangan nya, mencoba menahan pekikan rasa kaget saat melihat keadaan Lelaki yang di cintai nya. Membuat nya terduduk di lantai dengan bulir air mata yang mengalir menggenggam erat tangan sahabat sekaligus lelaki yang di cintai nya dengan kuat. Rio mengadah dengan menahan rasa sakit yang di rasakan nya, mencoba menatap Fania yang kini menangis sambil menundukan kepala nya. "La-ri. Per-gi da-ri sini." Ucap Rio dengan susah payah yang langsung terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulut nya. Membuat Fania yang melihat nya semakin menangis. "Aku minta maaf. Ini salah ku."Ucap Fania dengan menggelengkan kepala nya. Seandai nya diri nya datang lebih cepat, pasti. Pasti lelaki di depan nya ini akan baik - baik saja. Terdengar langkah sepatu mendekati Fania juga Rio yang masih bersimpuh di lantai. Fania tauh itu langkah sepatu Breanch yang datang menghampiri diri nya, tetapi rasa marah yang berada dalam diri nya membuat Fania mengabaikan langkah sepatu tersebut. Breanch berjongkok di samping Fania, perempuan yang membuat nya kalut selama dua hari ini. Menarik dagu Fania agar menatap mata Amber milik nya. Dengan bulir air mata yang masih mengalir dari kedua mata hitam nya, Fania mencoba melepaskan cengkraman tangan Breanch di dagu nya. Tidak sudi untuk berlama - lama menatap mata Amber pria tersebut. Membuat nya jijik. Semakin berusaha Fania melepaskan tangan Breanch dari dagu nya, Semakin kuat cengkraman tangan tersebut. "Apa yang kau tangisi ? Aku sudah memperingat kan mu."Desis Breanch membuat Fania berhenti memberontak lalu menatap benci kepada Breanch. "Iblis." Gumam Fania dengan suara yang kecil tetapi, sangat jelas tertangkap di indera pendengaran Breanch. Membuat Breanch membentuk senyum licik. "Kau tauh kau sedang bermain dengan seorang ibilis. Lalu kenapa kau tidak lebih berhati - hati ?" Breanch memperkecil jarak nya dengan Fania, menyisakan sejengkal jarak. Hingga sebuah senyuman itu pudar dari wajah nya di gantikan dengan wajah yang datar tanpa ekspresi."Kau seharus nya sudah memperhitung kan semua nya. Aku sudah memperingat kan mu." Dengan kasar Breanch melepas dagu Fania membuat wajah Fania terbuang ke samping. Breanch beralih menatap Rio yang masih berbaring di bawah lantai."Kau terlambat datang dari waktu yang di tentukan Fania." Fania berbalik menatap Breanch yang kini mengeluarkan sebuah pistol dari dalam jas nya, memposisikan ujung pistol tersebut di atas kepala Rio yang kini tidak berdaya. Bersiap menarik pelatuk nya. "Jangan." Ucap Fania dengan suara yang tercekat. Untuk sesaat Breanch menaikan alis nya lalu berbalik menatap Fania yang menggeleng. Dengan tersenyum bengis Breanch menarik pelatuk nya melepaskan peluru tersebut. DORR... Suara keras memenuhi apartemen kecil itu bersamaan dengan suara teriakan Fania. Hingga perempuan tersebut terjatuh lemas dengan mata yang tertutup dan wajah juga pakaian nya yang terciprat oleh darah merah segar tersebut. Fania menangis di bawah pancuran air dengan pakaian yang masih lengkap melekat di tubuh nya. Menangis dengan kuat mengeluarkan segala nya dengan air mata yang kini tidak dapat di bedakan lagi dengan air dingin yang mengalir dari pancuran. Fania duduk dengan kapala yang yang tertelungkup di antara kedua lutut nya. Mengabaikan teriakan beberapa pelayan yang terus mengetuk di depan pintu kamar mandi yang telah di kunci nya. Fania semakin menelungkupkan kepala nya saat ingatan Rio, lelaki yang di cintai nya tertembak di depan mata nya sendiri. Semua karena lelaki itu. Semua karena nya. Pembunuh Kali ini sebuah gedoran di luar pintu berbeda dan semakin kencang seakan - akan orang tersebut akan menghancurkan pintu itu dengan tangan nya. "Buka pintu nya Fania ! Jangan sampai aku masuk dan memberimu pelajaran." Fania tauh suara teriakan itu adalah milik Breanch, lelaki bengis yang membunuh orang di cintai nya. Mengabaikan teriakan tersebut, Fania semakin kencang memutar keran air hingga suara Breanch yang berulang kali berteriak teredam dengan suara air. "s****n. Perempuan itu benar - benar menguji kesabaran." Erang Breanch dengan frustasi saat ucapan nya hanya di acuhkan oleh Fania. Dengan kesabaran yang telah habis juga emosi yang telah mencapai ubun - ubun, Breanch mendobrak pintu di depan nya dengan kuat membuat beberap pelayan tersentak kaget dan berjalan mundur. "Kami akan mengambil kunci cadangan." Suara Erthan, orang kepercayaan nya mengintrupsi kegiatan Breanch. "b******n kau Erthan !. Darimana saja kau !" Ucap Breanch dengan emosi meluap tetapi, tidak menghentikan kegiatan nya yang masih mendobrak pintu. Erthan hanya menunduk meminta maaf sebelum berbalik pergi keluar dari kamar yang di tempati Fania untuk mencari kunci cadangan. Saat Breanch sudah mendobrak beberapa kali, dengan satu tendangan kuat pintupun terbuka dengan suara yang keras. Dengan nafas yang tidak beraturan, Breanch berjalan masuk dengan mata nya yang tidak lepas dari tubuh Fania yang sudah menggigil kedinginan. Fania masih menelungkupkan wajah nya, mengabaikan Breanch yang sedang berjalan menghampiri nya dengan emosi yang mencapai ubun - ubun. Dengan satu kali sentakan Breanch menarik Fania berdiri hingga jas nya juga jam tangan nya basah karena terkena air yang masih mengalir dari pancuran. "Apa yang kau lakukan ? APA YANG KAU LAKUKAN ?! HA!" Bentak Breanch kehilangan kontrol, membuat Fania yang masih di bawah pancuran mengangkat kepala nya menatap mata Amber di depan nya. "Pembunuh."Desis Fania membuat Breanch mengkerutkan alis nya."PEMBUNUH!"Teriak Fania berusaha melepaskan cekalan tangan Breanch dari tubuh nya. "LEPASKAN AKU ! JANGAN MENYENTUH KU ! MENJAUH DARIKU !" Beberapa saat Fania terus berusaha melepaskan tangan Breanch dari nya, hingga Breanch benar - benar melepaskan nya. Mendorong Fania dengan kasar. Membuat Fania jatuh tersungkur dengan air mata yang masih tidak berhenti mengalir. Kini mata Amber milik Breanch berkilat dengan tajam, membuat mata nya terlihat seperti serigala yang siap membunuh mangsa nya. Tidak melepas pandangan nya dari tubuh Fania yang tersungkur di bawah nya, Breanch melepas jam tangan nya lalu ikut melepas jas nya. Melempar nya ke sembarang arah. "Kalian semua keluar dari sini. Jangan ada yang masuk hingga aku yang memberi izin. CEPAT !" Perintah Breanch sambil membuka satu persatu kancing jas nya. Satu persatu pelayan juga pengawal pun keluar. Seila, pelayan muda itu menatap khawatir Fania sebelum ikut keluar karena di seret dengan pelayan yang lebih tua dari nya. Seila sangat ingin menolonong 'nona' nya tersebut, tetapi apa yang bisa di perbuat oleh nya seorang pelayan muda yang tidak bisa apa - apa. Setelah melempar jas juga jam tangan nya, Breanch membuka 2 kancing teratas kemeja nya sebelum menggulung lengan kemeja nya, memperlihatkan tangan kekar nya. "Jadi kau tidak ingin di sentuh oleh ku ? Pembunuh ?" ucap Breanch dengan nada mengejek. "Jadi, karena itu kau membasahi tubuhmu selama berjam - jam di dalam kamar mandi ?" Sambung Breanch dengan mulai melangkah masuk tanpa melepas sepatu nya. "Kalau begitu biar aku membantumu. Membersihkan tubuhmu dengan benar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN