Sudah 3 hari berlalu dengan Fania yang terserang demam, Breanch benar - benar membantu Fania membersihkan tubuh nya. Tanpa belas kasih Breanch terus menyirami tubuh nya selama berjam - jam dengan air dingin, setelah merobek paksa semua pakaian milik Fania mengekspos seluruh tubuh Fania tanpa sehelai benang.
Membuat Fania yang mendapat perlakuan seperti itu terus memberontak dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dari kedua sudut mata nya.
Setelah kejadian 3 hari lalu itu, Breanch tidak menemui Fania lagi begitu juga Fania yang berubah drastis. Di saat bersamaan Fania merasa terpukul dengan kejadian Rio yang mati tertembak di depan mata nya, begitu juga dengan diri nya yang terlecehkan oleh Breanch. Semua nya terasa berat.
Fania tidak menyentuh semua makanan yang di antarkan oleh pelayan bahkan diri nya menolak untuk mengkonsumsi obat. Fania seperti seseorang yang telah kehilangan jiwa nya dari dalam tubuh. Fania menjadi pendiam dan hanya terus menatap keluar jendela kamar.
Seperti saat ini Fania sudah berjam - jam menatap keluar jendela kamar, mengabaikan nampan makanan yang berada di samping nya yang sudah dingin.
Bahkan saat pintu kamar nya di ketuk dari luar Fania tidak merespon, tetap sama dengan yang di lakukan nya.
Seila berjalan masuk ke dalam kamar, menghampiri Fania yang masih duduk mengabaikan nya.
"Nona tidak menyentuh makanan lagi ? Sudah 3 hari nona tidak makan apapun." Fania tetap mengabaikan Seila yang masih berbicara di samping nya, seolah - olah gadis muda tersebut tidak ada.
Merasa semua ucapan nya hanya di abaikan oleh Fania, Seila menghembus kan nafas nya lalu mulai mengangkat nampan makanan tersebut. "Nona akan membuat Tuan Breanch semakin marah jika terus seperti ini." Sambung Seila yang berhasil menadapat kan lirikan mata dari Fania tanpa di sadari nya, lalu mulai berjalan keluar.
"Saya akan kembali dengan makanan baru." Pamit Seila. Lalu pintu tertutup.
Tanpa sadar Fania mengepalkan tangan nya saat mendengar nama lelaki tersebut.
Malam ini Fania lagi - lagi tidak menyentuh makanan nya, membuat Seila kembali menghela nafas nya.
Merasa hari sudah gelap dan tidak ada lagi yang dapat di lihat nya, Fania pun berdiri dari duduk nya memilih untuk membaringkan tubuh nya di atas kasur.
Bersamaan dengan pintu kamar nya yang terbuka dengan keras, menampilkan Breanch lelaki yang sudah 3 hari tidak di lihat nya kini menampakan diri nya.
Untuk sesaat mata tajam Amber milik Breanch menatap nya. Memperhatikan tubuh Fania dari atas ke bawah sebelum mata nya kembali menatap tepat ke dalam bola mata hitam milik Fania.
Fania dapat melihat rahang lelaki di depan nya yang mengeras dengan bola mata yang kembali mengkilat seperti saat Breanch merobek paksa semua pakaian nya. Terasa gelap dan menakutkan.
Membuat kilasan bayang - bayang saat Breanch menembak mati Rio juga saat lelaki tersebut merobek paksa seluruh pakaian nya. Fania menutup mata nya mencoba menenangkan detak jantung nya.
Hingga tanpa sadar Breanch berjalan ke arah nya dengan langkah tegas, kembali mengeluarkan bunyi sepatu yang mengintimidasi.
Mencengkram pergelengan Fania lalu menarik nya keluar dari kamar dengan langkah lebar. Membuat Fania tidak dapat menyeimbangkan langkah nya.
Fania meringis sakit di sepanjang jalan dengan terus memberontak mencoba menarik keluar tangan nya dari cengkraman Breanch, Tetapi hal tersebut tidak membuahkan hasil membuat Fania semakin meringis sakit saat Breanch semakin kuat mencengkram tangan nya.
Fania berhenti memberontak saat sayup - sayup pendengaran nya menangkap suara. Itu suara yang hampir sama dengan suara yang di keluarkan Rio saat sahabat nya mencoba menahan rasa sakit. Tapi kali ini yang berbeda adalah tidak hanya satu suara melainkan ada beberapa suara yang berbeda juga tangisan.
Fania mematung saat dari atas diri nya dapat melihat seluruh pelayan yang bekerja di dapur juga pelayan pribadi nya Seila, sedang di cambuk oleh beberapa orang pengawal milik Breanch.
Tidak mampu memberontak lagi, Fania hanya diam saat Breanch kembali menarik nya menuruni tangga.
Untuk sesaat cambukan itu berhenti, para pengawal yang tadi nya mencambuk tubuh para pelayan yang kini menangis meminta ampun, membungkuk ke arah nya juga ke lelaki yang kini tidak lagi mencengkram tangan nya.
Perlahan - lahan tangisan milik pelayan berhenti saat cambukan tersebut berhenti.
Fania tersentak kaget saat pengawal berseragam hitam itu kembali mencambuk seluruh pelayan, kembali mendengarkan suara tangis yang di iringi dengan suara meminta ampun.
Fania menutup mata nya membiarkan air mata lolos terjatuh dari kedua mata hitam nya. Tidak mampu melihat yang ada di depan nya.
Sebenar nya apa tujuan lelaki ini melakukan semua ini ?
Fania semakin menangis saat mendengar suara Seila yang terus meminta ampun dengan tangisan nya yang tidak di gubris oleh siapapun di dalam ruangan.
"S-st-op" Ucap Fania dengan bibir yang gemetar. Rasa nya Fania tidak mampu mengeluarkan suara nya, tenggorokan nya terasa kering juga lidah nya terasa tercekat.
Entah kepada siapa Fania mengucap kan nya, dengan suara kecil yang nyaris tidak di dengar oleh siapa pun.
"Stop." Kali ini Fania berhasil mengeluarkan suara nya yang kini dapat di dengar oleh Breanch.
Mendengar ucapan Fania, Breanch memberikan perintah kepada Erthan melalui tangan nya agar para pengawal berhenti mencambuki tubuh pelayan, yang kini sudah terkapar lemah di lantai dengan goresan - goresan darah hampir di seluruh tubuh menembus pakaian.
Erthan mengangguk patuh sebelum menyampai kan nya kepada pengawal "Berhenti." Membuat para pengawal serentak berhenti setelah mendengar perintah tersebut.
Fania mulai membuka mata nya saat suara tangis mulai mereda, Tetapi hal tersebut tidak mampu membuat Fania untuk tidak menutup mulut nya dengan kedua tangan nya saat melihat tubuh pelayan yang sudah tidak berdaya lagi selain mengeluarkan suara nafas yang tidak beraturan.
Pemilik langkah sepatu yang terdengar di dalam ruangan yang tiba - tiba terasa sunyi itu sudah berdiri di depan Fania, menutup penglihatan Fania kepada pelayan yang terkapar di lantai.
Fania menatap wajah Breanch yang berada di depan dengan mata yang masih tidak berhenti mengeluarkan air mata nya.
"Kudengar kau tidak makan makanan yang di sediakan oleh pelayan ? Ada apa Fania ? Apa itu cara barumu memberontak ?" tanya nya dengan nada rendah, menghujam tepat ke dalam bola mata milik Fania.
"Sayang nya itu bukan langkah yang tepat. Aku menganggap bahwa para pelayan tidak mampu membuat makanan yang layak untukmu." sambung nya sebelum melirik ke belakang nya sedikit menatap tubuh para pelayan "Sehingga aku menghukum mereka."
Breanch berjalan mundur memberikan jarak lebih untuk menatap Fania "Hari ini kau membuat belasan orang menjerit kesakitan karena egomu. Jadi, jangan ulangi lagi atau aku akan mengambil langkah yang lebih."
Breanch berjalan menjauh meninggalkan Fania yang terduduk di lantai dengan lemas, menatap para pelayan yang tidak bersalah terluka karena ego nya.
Apa benar aku egois ?