Setelah kejadian di mana para pelayan di cambuki oleh Breanch, Fania mungkin bisa di katakan menjadi sedikit lebih tenang dan mematuhi Breanch.
Tenang sebelum badai.
Seperti pagi ini, diri nya di bangun kan oleh Seila pelayan nya yang terluka karena ego nya sendiri.
"Nona, anda di minta bersiap - siap sebelum turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama Tuan." Ucap Seila dengan kepala menunduk sebelum membantu Fania turun dari ranjang.
"Saya sudah siapkan keperluan mandi nona." Fania menganggukan kepala nya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Terimahkasih Seila dan Maaf." Hanya itu yang di katan Fania lalu berlalu masuk meninggalkan Seila yang hanya menunduk kan kepala nya.
Setelah kejadian di mana Seila juga di cambuki, gadis muda tersebut sudah tidak berani lagi menatap langsung mata Fania. Membuat Fania yang menyadari nya hanya mendesah pasrah.
Fania tidak banyak protes saat salah satu pelayan menarikan nya kursi untuk duduk di sebelah kiri Breanch yang sudah lebih dulu menyantap sarapan nya.
Fania sedikit mengernyitkan alis nya saat melihat bubur yang di sajikan pelayan di depan nya, tetapi tidak kunjung protes.
"Aku yang menyuruh pelayan menyediakan bubur untukmu. Agar kau lebih mudah di mencerna nya." Ucap Breanch memecah keheningan saat melihat Fania mengernyit kan alis nya.
Fania hanya diam tidak nembalas dan mulai menyendokan bubur tersebut ke dalam mulut nya.
Breanch yang sudah selesai sarapan nya mengambil serbet yang di taruh di pangkuan nya lalu melap mulut nya dengan gerakan yang anggun.
Tidak berniat beranjak dari kursi nya, melainkan diri nya mengambil gadget
tipis yang memiliki layar cukup lebar "Kau lebih tenang hari ini."
Fania yang masih menyuap makanan nya terhenti saat mendengar ucapan Breanch, menatap lelaki yang masih menatap gadget di tangan nya.
"Aku mendapati pembelajaran." jawab Fania dengan santai tidak ada nada menantang di dalam nya.
Mendengar jawaban Fania membuat Breanch menaruh kembali gadget tersebut di atas meja lalu bersedekap menatap Fania yang masih menatap nya. "Pembelajaran ? Pembelajaran seperti apa ?"
"Bahwa menantang raja serigala di dalam sarang nya sendiri bukan hal yang baik. Jika aku tidak ingin di cabik - cabik. Jadi, aku akan diam dan menunggu waktu yang tepat untuk membunuh raja serigala tersebut."
Breanch menyeringai mendengar perumpamaan perempuan di depan nya "Ya, kau harus memilih waktu yang tepat. Karena aku yakin, setelah kau berhasil membunuh raja serigala itu kau tidak akan berhasil keluar dari sarang nya tanpa terluka atau mati. Jadi, jangan menyiakan - nyiakan nya."
Mendengar ancaman itu tidak membuat Fania bergetar ketakutan, hal yang di takuti nya sudah terjadi. Jadi apa lagi yang perlu di takut kan nya ? Diri nya sudah kehilang seseorang yang berharga bagi nya. Di depan mata nya.
Pembicaraan itu tertutup bertepatan dengan Erthan yang berjalan menghampiri Breanch, mengalihkan tatapan pria tersebut dari Fania.
Sehingga Fania yang seolah - olah baru saja tidak melakukan apapun hanya kembali menyuap bubur ke dalam mulut nya.
Suara derit kursi yang berbunyi saat Breanch mendorong kursi tersebut ke belakang agar bisa keluar, tidak mampu membuat Fania mengalihkan tatapan nya dari bubur di depan nya.
Hingga bunyi langkah sepatu yang mulai menjauh, membuat Fania mendongakan kepala nya sebelum berbalik menatap pelayan lalu berkata "Aku sudah selesai." dan berjalan kembali menaiki tangga menuju kamar yang di tempati nya.
Breanch sedang duduk di dalam mobil dengan orang kepercayaan nya Erthan yang berada di depan bersama sopir.
"Jadi apa b******n itu belum berhasil keluar ?" tanya Breanch membuat Erthan membalikan kepala nya sedikit lalu menatap Breanch dengan patuh.
"Belum. Dia tertangkap saat akan menaiki pesawat dan tidak dapat menghindari polisi yang sedang memeriksa."
"Kalau begitu singkirkan dia. Jangan sampai dia memberikan pernyataan sekecil apapun itu." Perintah Breanch tanpa bersusah payah menatap Erthan, diri nya hanya menatap keluar jalanan yang di lewati nya.
Tidak di sangka nya seorang pria muda berumur 20 tahun itu dapat tertangkap dengan mudah bahkan sebelum dapat menyampaikan 'barang' tersebut ke Albania salah satu bagian dari negara besar kota New York. Seharus nya diri nya tidak mempercayai pria tersebut saat memohon kepada nya untuk mendapat kan pekerjaan tersebut dari nya.
Diri nya pikir seorang pria berumur 24 tahun dapat berpikir dengan cepat dan bergerak leluasa. Ternyata tidak.
Sekarang diri nya yang terkena rugi sebesar $500 pounds. Memikirkan nya membuat Breanch tersenyum sinis, betapa bodoh nya diri nya mempercayakan 'barang'itu kepada pria muda yang tidak memiliki pengalaman.
"Kirimkan pengganti nya malam ini Erthan. 'Barang' itu harus tiba besok pagi." lagi - lagi Erthan hanya mengangguk mengerti."Baik."
Hingga mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan gedung tinggi dan besar. Membuat Breanch menyimpan ponsel nya lalu berjalan keluar dari mobil saat pintu di samping kiri nya di buka.
Breanch melangkah masuk dengan di ikuti Erthan di samping nya yang berjarak 1 jengkal di belakang nya. Lalu di susul dengan 4 anak buah berseragam yang sama. Pengawal yang akan selalu berada di sekitar Breanch.
Saat melangkah masuk ke dalam gedung, Erthan kembali menyampaikan informasi yang di dapat nya. "Ini soal Tn. Alert, keberadaan nya sudah di temukan."
"Di mana ?" Dengan senyum sinis yang mengembang, Breanch kembali bertanya tanpa menghentikan langkah kaki nya.
Fania duduk dengan nyaman di atas balkon kamar nya yang menghadap langsung ke arah kolam renang di bawah nya dengan sebuah buku tebal di tangan nya, tidak lupa di temani dengan secangkir lemon tea hangat.
Buku itu di dapati nya saat diri nya sedang dilanda rasa bosan membuat diri nya berkeliling mansion jauh lebih dalam.
Dan Fania tidak menyangka bahwa mansion ini memiliki sebuah ruang baca dengan buku yang banyak tertata rapi di dalam rak - rak tua yang cukup menjulang tinggi itu.
Memilih salah satu buku yang menarik perhatian nya, lalu membawa nya di kamar membuat rasa bosan Fania sedikit terobati.
"Seperti nya kau sangat menikmati membaca buku itu ?" Suara baritone yang khas membuat Fania tersentak kaget lalu mendongak menatap pemilik suara tersebut.
Breanch berdiri menjulang di samping nya dengan wajah yang tidak menunjukan ekspresi apapun. Semua nya datar. Hanya kosong dan dingin.
"Ya. Kau keberatan aku membaca buku ini ?" Fania mengangkat buku yang sudah di tutup nya di hadapan Breanch.
"Oh, tentu tidak. Kau bisa membaca semua buku yang ada di ruang baca itu. Jika, itu bisa membuat mu tenang seperti ini." ucap Breanch dengan nada mencemoh.
Fania berdiri dari duduk nya dengan masih menggenggam buku tersebut. "Kau datang hanya untuk mengatakan itu ? Aku tidak punya banyak waktu Tuan Hemiltton Altezza, ada banyak bab yang menunggu untuk ku baca." lalu berjalan melewati Breanch.
Breanch mengangkat sebelah alis nya saat mendengar Fania menyebut dermaga nya, lalu ikut berjalan masuk dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celana nya.
"Seperti nya kau sudah tauh cukup banyak hal tentang ku."
Fania tertawa mencemoh saat mendengar ucapan Breanch dengan mata yang masih tertuju ke halaman buku yang sudah di buka nya kembali.
"Jangan menyimpulkan sesuatu dengan mudah 'tuan'. Hanya karena aku tauh dermaga mu bukan berarti aku tauh segalah hal tentang mu."
Fani membalikan halaman berikut nya setelah selesai membaca "Lagipula bagiku semua itu tidak penting. Karena dengan cepat aku akan pergi dari sini."sambung Fania lalu kembali fokus dengan buku yang di baca nya.
Tanpa di sadari Breanch berjalan ke arah Fania yang tengah duduk di salah satu sofa dalam kamar tersebut, sebelum membungkuk sedikit lalu menutp buku yang di baca Fania dengan lembut. Membuat Fania mengangkat wajah nya menatap Breanch yang sedang tersenyum ke arah nya dengan jarak yang dekat.
"Kau yakin bisa pergi dari sini nona Estefania ?"
Dan hembusan nafas mint milik Breanch menerpa wajah Fania dengan hangat, saat lelaki tersebut membuka suara nya.