14~A Mafia Obsession

1264 Kata
Setelah pertemuan terakhir nya dengan Breanch sore hari itu, Fania lagi - lagi tidak melihat lelaki bermata amber itu. Bahkan untuk sarapan bersama pagi ini. Fania yang sedang duduk di ruang makan untuk menikmati sarapan nya pagi itu terusik saat sebuah benda pecah berbunyi keras. Melap sudut bibir nya yang terdapat remah - remah roti yang di makan nya, Fania menoleh ke samping menatap Seila yang berdiri menunggu nya menghabiskan makanan. "Suara apa itu ?" "Saya akan pergi mengecek nya nona." "Tidak perlu." Ucap Fania lalu mengakhiri sesi sarapan nya pagi itu dengan tegukan teh hangat. "Aku akan pergi mengecek nya." Fania melangkah keluar dari ruang makan dengan Seila yang mengikuti nya di belakang. Saat Fania tiba di ruang tamu di sana telah terlihat Breanch dengan beberapa pengawal nya yang sedang menatap pria berumur lanjut yang sedang memegang stik golf nya. Lebih tepat nya mengawasi pria tersebut. Fania bisa melihat jika pria yang berumur sekitar 50 tahunan itu yang memecahkan guci besar dengan stik golf yang sedang di pegang nya. Dan di sana ada Breanch yang hanya menatap pria tersebut dengan tangan yang terlipat di d**a juga wajah yang datar. Tiba - tiba manik mata coklat pria tua tersebut menubruk manik mata hitam milik Fania, membuat Fania tersentak kaget saat diri nya bisa melihat kemarahan yang bercampur kesedihan dalam manik mata coklat itu. Breanch sedikit tersentak kaget sebelum mengernyit tidak suka saat melihat Fania berdiri di ujung sana sedang menatap pria yang berhasil masuk ke dalam mansion nya. "Apa yang kau lakukan di sini ?" Pertanyaan itu mampu membuat Fania memutuskan kontak mata nya lalu menatap Breanch yang masih mengernyit tidak suka. "Apa dia p*****r barumu ? Hik." kali ini suara serak yang di miliki oleh pria tersebut kembali menarik perhatian Fania. Membuat Fania mengernyit tidak suka saat pria tersebut menyebut nya sebagai seorang p*****r. Di lihat dari cara nya yang berbicara dan terus - menerus cegukan Fania yakin jika pria tersebut mabuk. Mabuk ? Pagi - pagi begini ? Saat pria tersebut mulai melangkah dengan sempoyongan ke arah Fania, dengan segera Breanch memberi perintah kepada pengawal nya untuk menghentikan langkah pria tersebut. Pria tersebut tertawa - tawa dengan cegukan nya yang tidak berhenti saat melihat dua orang pengawal berdiri menghadang nya. "Masuk ke kamarmu Fania." perintah Breanch dengan terus memijit pangkal hidung nya. "Kenapa, hik ? Biarkan saja p*****r kecil mu itu hik, melihat nya. Hik." Pria tersebut mengangkat stik golf nya dengan sempoyongan, mencoba memukul para pengawal yang menghadang nya. "Biarkan dia tauh semua nya.Hik." sambung pria tersebut lalu mulai mengayunkan stik golf nya untuk mulai memukul pengawal di depan nya yang dengan cepat menghindar dan merebut paksa stik golf tersebut. Pria tersebut tersungkur ke bawah langai saat dengan kasar para pengawal merampas stik golf nya. Seolah tidak mengetahui keadaan nya pria tersebut kembali berbicara dengan tersenyum menatap Fania "Nona hik, kau harus tauh hik, dengan siapa kau memberikan tubuhmu. Hik." tangan pria tersebut menunjuk - nunjuk Fania lalu beralih menunjuk Breanch yang berdiri di sebrang sana "Dia hik --" "KUBILANG MASUK KE DALAM KAMARMU !" Breanch berteriak marah kepada Fania yang masih saja tinggal mendengarkan omong kosong pria tua bangka di depan nya. Tatapan tajam itu beralih ke arah Seila yang bergetar ketakutan saat Breanch menatap nya. "Apa yang kau lakukan ? Kau tidak akan membawa nya masuk ?" Ucap Breanch dengan bibir yang sudah menipis menahan amarahan nya. Seila memegang lengan Fania dengan tangan yang gemetar menahan ketakutan nya, mencoba membawa Fania masuk seperti yang di perintahkan Breanch. "No-na, ma-mari saya antar ke kamar." Ucap Seila di balik bahu Fania. Fania yang mendengar suara ketakutan Seila menghela nafas sebelum berbalik menuju ke kamar nya. Sudah cukup bagi Fania membuat Seila kesusahan karena nya, diri nya tidak ingin membuat gadis berusia 16 tahun itu mendapat lagi masalah karena nya. Pria tersebut mengernyit saat melihat Fania mulai berjalan menjauh seperti yang di perintahkan Breanch. "Ukh, jangan menyuruh nya hik, pergi b******n hik. Aku belum selesai bicara dengan pelacurmu. Hik." Breanch memijit pangkal hidung nya dengan mata tertutup saat kembali mendengar ocehan pria tua tersebut."Sebaik nya kau diam. Sebelum aku memotong lidahmu."geram Breanch. Pria yang masih tersungkur di lantai itu mencoba berdiri dengan susah payah meskipun pada akhir nya gagal lalu membiarkan diri nya terduduk di lantai dingin itu. "Kau ? Pria berdarah kotor sepertimu yang akan memotong lidah ku ? Hik." ucap pria tersebut mempropokasi Breanch yang sudah memicing menatap nya. "Sebaik nya kau segera pergi, selagi aku memberimu kesempatan." Breanch berbalik melangkah meninggalkan pria tua tersebut dan menyerahkan nya ke Erthan. "Cih, Pria berdarah kotor. Hik." Breanch menghentikan langkah nya saat mendengar kembali ucapan pria tersebut. Dengan langkah tegas Breanch berbalik menghampiri pria tersebut yang masih terduduk berada di bawah lantai. Terlihat dengan jelas jika wajah Breanch sudah mengeras. "Pria tua ini benar - benar memprovokasi." ucap Breanch dengan seringai di wajah nya. Seketika suara teriakan memenuhi mansion tersebut dengan Fania yang menghentikan langkah nya menaiki tangga sebelum kembali berbalik berlari menuruni tangga. Fania tanpa sadar menutup mulut nya dengan mata yang membulat membesar melihat Breanch dengan tersenyum setan menginjak telapak tangan pria tersebut. "Kau datang ke orang yang tepat untuk memberimu kematian yang lebih cepat." Suara patah tulang terdengar saat Breanch semakin menginjakan sepatu pentofel hitam nya tanpa belas kasih. Fania semakin menutup mulut nya dengan kedua tangan nya dan mulai bertanya - tanya dalam benak nya, kenapa tak ada seorangpun yang menolong pria tua tersebut ? Apakah semua orang yang tinggal di mansion ini sudah tak memiliki belas kasih ? Fania tidak bisa mempertahankan kesadaran nya saat Breanch menarik sebuah revolver dari dalam jas hitam nya. Bayangan saat pria di cintai nya di tembak kini melintas. Tatapan Breanch tidak lepas dari sosok Fania yang mengerang saat terbangun dari pingsan nya. Tidak mengeluarkan suara apapun, Breanch kembali menghisap rokok yang berada di tangan kanan nya sebelum menghembuskan asap nya. Fania bangun dari posisi berbaring nya sebelum bersandar di kepala ranjang hingga pergerakan nya berhenti saat melihat lelaki bermata Amber itu sedang duduk dengan tenang di sofa depan nya yang di temani dengan sebatang rokok. Fania benci rokok. Mencium asap nya dapat membuat kepala Fania berdenyut sakit. "Apa yang kau lakukan di sini ?" Tanya Fania dengan ketus saat posisi duduk nya sudah di rasa nya nyaman. Sedangkan Breanch hanya mengedikan bahu nya sebelum kembali menghisap rokok nya lalu mematikan nya di asbak yang sudah berada di depan meja. "Aku sudah menyuruhmu masuk ke dalam kamarmu. Kenapa kau tidak masuk ?" ucap Breanch dengan menyilangkan kaki nya di ikuti dengan menyilangkan kedua tangan nya. Fania tertawa sinis mendengar penuturan Breanch "Ada orang yang akan mati lalu aku hanya berdiam diri dalam kamar ?" Breanch mengangguk - anggukan kepala nya mendengar penuturan Fania yang lebih tepat nya menyindir diri nya. "Dia menyebutmu p*****r. Kau suka dengan sebutan itu ?" Fania melemparkan tatapan sengit nya saat mendengar penuturan lelaki di depan nya. Dia pikir perempuan mana yang akan senang di sebut sebagai p*****r ? Bahkan p*****r yang sebenar nya tidak akan menyukai sebutan itu. "Dia hanya pria tua yang sedang mabuk." Cukup lama Breanch hanya menatap Fania tanpa mengucapkan apapun, membiarkan ruangan itu hening untuk sementara. Fania melirik Breanch yang hanya menatap nya dalam diam dengan intens tanpa mengetahui pikiran lelaki di depan nya. "Kau benar - benar perempuan bodoh." Desis Breanch sebelum beranjak dari duduk nya. Sedangkan Fania yang mendengar hal tersebut menutup mata nya mencoba meredam kemarahan nya. Membiarkan lelaki tersebut pergi dengan tenang hingga sebuah suara kembali masuk ke dalam indera pendengaran nya. "Sebaik nya kau segera berlari ke halaman belakang, seperti nya gadis muda tersebut sudah tidak dapat bertahan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN