15~A Mafia Obsession

1096 Kata
Segala barang yang dapat di jangkau oleh tangan mungil Fania dengan segera di lemparkan nya ke arah tubuh yang hanya diam tidak menghindari lemparan barang tersebut.   Membuat Fania semakin murka melihat nya saat lelaki tersebut tidak menunjukan rasa sakit akibat barang yang di lemparkan nya.   Breanch hanya berdiri diam dengan wajah datar juga tangan yang di masukan ke dalam kedua saku celana nya. "b******n ! KAU YANG SEHARUS NYA MATI !" teriak Fania dengan murka. Tangan nya mulai merambat mengambil lampu tidur di samping nakas, menarik nya paksa hingga kabel lampu tersebut putus.   Breanch memberi kode kepada Erthan untuk tidak melangkah maju saat Fania akan melempar nya dengan lampu yang berukuran sedang tersebut.   Keadaan kamar yang di tempati Fania selama tinggal di mansion milik lelaki bermata amber itu seketika hancur seperti kapal pecah. Tergelatak banyak barang - barang pecah di mana - mana bahkan seprei dari ranjang sudah berada di lantai begitu juga dengan bantal - bantal yang tadi nya di lemparkan Fania ke arah Breanch yang hanya berdiri.   Fania bahkan tidak memedulikan para pengawal yang sekitar 6 orang itu menatap nya saat Fania memaki - maki lelaki di depan nya. Karena bagi Fania berkata kasar kepada orang lain berarti mempermalukan diri sendiri, tetapi semua itu tertepis saat berhadapan dengan Breanch.   Fania merasa bahwa berkata kasar kepada lelaki di depan nya adalah hal yang pantas.   Dan yang membuat Fania semakin tersulut oleh amarah nya adalah saat Breanch, lelaki bermata amber itu bahkan tidak menunjukan rasa sakit saat lampu tidur tersebut mengenai d**a nya sebelum kembali jatuh ke lantai dengan keadaan rusak.   Fania melihat ke kanan kiri nya mencoba mencari benda lain yang dapat di lemparkan nya kepada Breanch yang masih berdiri menatap nya dengan pandangan datar saat tangan nya tidak dapat menemukan benda lain nya. Nafas Fania terdengar memburuh karena terus berteriak - teriak memaki Breanch dengan tangan yang tidak berhenti - henti melempar segala sesuatu yang dapat di jangkau oleh nya.   Hingga suara nafas Fania berubah menjadi tangisan yang pecah membuat orang yang melihat nya sedikit keheranan "Kau seharus nya tidak membunuh nya."isak Fania yang sudah berjongkok di bawah lantai bersamaan tangis nya yang semakin pecah.   "kenapa ? Kenapa kau membunuh nya ? Dia tidak bersalah. Bagaimana bisa kau membunuh seseorang dengan mudah nya saat orang lain bahakan berpikir dua kali untuk melakukan nya."   Fania memukul - mukul d**a nya yang terasa penuh membuat nya sesak. Rasa bersalah yang memenuhi diri nya membuat Fania semakin keras memukul d**a nya. "Kau bahkan sudah membunuh orang yang berarti bagiku, membuat ku merasa sesak mengingat nya dan kau menambah rasa sesak itu kembali menjadi dua kali lipat." ucap Fania dengan tangan yang masih tidak berhenti memukul - mukul d**a nya dengan kencang yang membuat nya mengeluarkan suara 'bub' setiap diri nya memukul d**a nya sendiri.   Suara langkah sepatu terdengar mendekat ke arah Fania dan tepat terhenti di depan nya.   Fania tidak memberontak saat sebuah tangan besar yang terasa kasar menarik dagu nya membuat diri nya mendongak menatap iris mata yang berwarna kekuning - kuningan jingga itu seperti mata seekor serigala.   Mata yang tidak menunjukan sisi kemanusiaan dari sisi manapun kau menatap nya   Mata yang hanya menatap datar saat seseorang terenggut nyawa nya karena diri nya sendiri   Dan, Iris mata indah yang menjadi awal kesengsaraan yang di miliki oleh Estefania Aretta.   Iris mata Amber tersebut tepat menghujam ke dalam bola mata hitam milik Fania "Kau yang melakukan nya." Cengkraman tangan Breanch di dagu Fania semakin menguat membuat Fania meringis menahan sakit "Saat aku menyuruh mu masuk ke dalam kamar mu,seharus nya kau masuk." Desis nya sebelum melepas cengkraman nya dengan kasar.   "Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kau perbuat. Aku sudah mempringat kan mu dan kau sendiri yang melanggar nya." sambung Breanch kembali berdiri tegak "Kau sendiri yang menyirami dirimu dengan bensin jadi jangan salahkan orang lain saat api membakar mu."   Fania yang sedari tadi hanya diam mendengarkan dengan kedua tangan yang mengepal saat mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut lelaki di depan nya. Menghapus air mata nya Fania kembali berdiri dari duduk nya lalu melangkah mundur dengan mata yang kini dengan berani menatap mata amber di depan nya.   Fania membasahi tenggorokan nya dengan air ludah nya sebelum membuka suara nya"Sekarang aku tahu kenapa pria tua tersebut menyebutmu sebagai darah kotor."Fania benar - benar mencoba menyulut api. "Karena setiap kata yang keluar dari mulutmu dan kau perbuat itu kotor, membuat setiap orang jijik mendengar nya bahkan untuk sekedar melihat nya. !"   Dan saat Fania berhasil menyulut api tersebut dengan cepat api tersebut merambat ke arah nya, mencoba membakar nya.   Breanch berjalan mendekati Fania yang bahkan tidak bergerak mundur seinci pun saat diri nya berjalan mendekat dengan rahang yang mengeras menahan amarah nya.   Breanch tidak bisa memungkiri bahwa perempuan yang di bawa nya ke dalam mansion nya ini adalah seseorang yang dengan mudah nya menyulut emosi nya melalui mulut manis nya tersebut.   Fania menelan dalam - dalam ringisan nya saat dengan kuat Breanch mencengkram kedua bahu nya lalu mendorong nya mundur hingga ke ujung batas balkon kamar. Membuat punggung Fania menabrak pembatas balkon tersebut dengan keras yang mengirim rasa nyeri di sekitar punggung nya.   "Ulangi." Desis Breanch di depan wajah Fania dengan rahang yang mengeras dan mata yang berkilat marah.   Dengan tersenyum sinis Fania menahan rasa sakit yang berada di pundak nya yang akan meninggalkan bekas "Kau tidak mendengar nya ? Kau menjijikan! Kau bahkan lebih menjijikan dari sampah manapun yang berada di dunia ini."   Cengkraman tangan Breanch di bahu Fania semakin menguat tetapi, tidak membuat perempuan tersebut menghentikan ucapan nya.   "Tarik ucapanmu. Sebelum aku melemparmu ke bawah.!"   Fania tanpa sadar melirik sedikit ke bawah dan tidak memungkiri bahwa rasa takut menyelelumuti nya. Di bawah terdapat kolam renang yang akan menjadi tempat terakhir nya untuk bernapas. Fania yakin itu, saat mata nya kembali menatap Breanch yang terlihat sungguh - sungguh dengan perkataan nya.   "Kau adalah sampah yang bahkan tidak bisa di daur ulang."   Byurrr...   Kalimat itu menjadi kalimat terakhir bagi Fania saat Breanch tidak bisa lagi mengendalikan emosi nya dan melempar Fania dari atas balkon kamar tersebut, membuat pengawal yang melihat nya sedikit tersentak kaget saat Breanch melempar perempuan tersebut tanpa belas kasih.   Mereka berpikir perempuan tersebut berarti bagi Tuan nya tapi, seperti nya tidak saat melihat Breanch melempar nya dari atas balkon tanpa gentar.   1 2 3... Terjadi keheningan hingga semua mata pengawal kembali tersentak kaget dan segera berlari turun saat teriakan Erthan menyadarkan mereka "Cepat ke bawah ! SEKARANG !"   Dan kini mereka yakin bahwa perempuan tersebut berarti bagi seorang lelaki bernama Breanch Hemiltton Altezza .   Untuk kedua kali nya terdengar suara ceburan air yang keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN