"Apa dia baik - baik saja ?" tanya Breanch berjalan mendekati ranjang yang di atas nya terdapat Fania dengan seorang Dokter yang sedang memeriksa tubuh perempuan tersebut.
Dokter pria yang umur nya tidak jauh dari Breanch dengan kulit putih nya berbalik menatap Breanch yang berdiri di samping nya dengan pakaian yang basah mencetak seluruh bisep - bisep otot nya berbeda dengan kulit Dokter tersebut, kulit milik Breanch berwarna kecoklatan.
"Bagaimana bisa dia baik - baik saja ? Kau baru saja melempar nya dari atas balkon kamar ! Tubuh nya shock."
ucap Leoniel, Dokter yang menangani Fania sekaligus Dokter pribadi Breanch. Membuat Leoniel mengenal dekat dengan Breanch meskipun tidak terlalu dekat.
Pekerjaan yang di lekati Breanch mengharuskan diri nya untuk memiliki Dokter pribadi seperti Leoniel karena diri nya tidak bisa untuk selalu ke Rumah Sakit untuk melakukan pengobatan, jejak nya tidak boleh di temukan. Sekecil apapun itu.
Karena saat kau meninggalkan jejak sekecil apapun itu, maka tidak memungkinkan jika kau tidak akan meninggalkan kembali jejak kecil lain nya yang akan menjadi kepingan Puzzle yang perlahan terselesaikan.
Breanch menggeram marah saat mendengar ucapan Leoniel "Aku serius."
Leoniel terkekeh mendengar geraman Breanch sebelum kembali membuka suara nya "Dia baik - baik saja. Tapi, aku tidak berbohong saat aku mengatakan tubuh nya shock berat. Tenang saja, dia akan segera sadar."
Breanch menganggukan kepala nya mendengar kembali penjelasan Lionel lalu kembali menatap tubuh Fania yang telah di pasangi sebuah infus di tangan kanan nya.
Untuk sesaat Leoniel mengamati Breanch yang sedang mengamati tubuh Fania, entah apa yang tengah di pikirkan oleh lelaki di depan nya.
Leoniel sedikit tauh banyak tentang Breanch setelah bertahun - tahun menjadi Dokter pribadi nya. Tidak pernah seorang Breanch mendatangkan nya untuk mengobati orang lain kecuali diri nya. Dan sekarang diri nya datang untuk memeriksa keadaan seorang perempuan ? Itu aneh.
Pelacur nya ? Pikir nya sebelum kembali di tepis nya saat melihat cara Breanch menatap perempuan tersebut.
Sebuah senyuman tipis tersungging di bibir Lionel, mengetahui dengan pasti tatapan apa yang di lontarkan nya kepada perempuan tersebut.
Tatapan seorang pria kepada wanita nya... Jadi, haruskan diri nya menyimpulkan Bahwa lelaki yang telah menjadi penghasil terbesar nya dengan satu kali merawat nya sedang jatuh cinta ?
Atau menyimpulkan bahwa seorang Breanch kini mempunyai
kelemahan ?
"Kau boleh pergi." suara berat tersebut membuat Lionel tersadar dari lamunan nya lalu mengemasi barang nya.
Lionel berdehem sedikit menarik perhatian Breanch yang sekarang menatap nya yang tengah mengemasi barang nya "Apa perempuan itu berarti bagimu ?"
Breanch mengkerutkan kening nya mendengar ucapan Leoniel "Erthan antar Dokter Lionel keluar." perintah Breanch kepada Erthan yang hanya diam sedari tadi di dalam kamar.
Tidak mendapat jawaban yang pasti membuat Lionel hanya tersenyum pasti lalu pamit untuk pergi dengan Erthan di belakang nya. Lagipula tidak memerlukan jawaban yang pasti dari seorang Breanch karena diri nya sudah mendapat jawaban nya sendiri.
"Erthan, sepertinya Tuan mu sudah memiliki kelemahan." ucap Leoniel saat sudah keluar dari kamar ,membuat Erthan hanya diam lalu kembali melanjutkan jalan nya.
Breanch membuka kancing kemeja putih nya yang basah lalu melempar nya ke atas sofa setelah semua kancing nya telah terbuka
Sebuah tatto di d**a kiri nya terlihat jelas yang menjalar hingga ke bawah perut nya dengan gambar burung elang juga ular yang bercampur menjadi satu.
Menghadap ke arah kaca lalu menyalakan rokok nya, menghisap nya dalam - dalam sebelum menghembuskan asap nya melalui mulut nya bersamaan dengan Erthan yang membuka pintu dan masuk.
"Apa Dokter Lionel sudah pergi ?" tanya Breanch tanpa membalikan badan nya.
"Ya tuan. Dia mengatakan bahwa dia menginginkan bayaran lain."
"Bayaran lain ? Bayaran lain seperti apa ?" tanya Brenach kembali dengan kening yang berkerut.
"Dia menginginkan kita untuk mengirim salah satu pembunuh bayaran yang berada di bawah perintah anda."
Untuk beberapa saat Breanch berpikir kenapa dia tidak melakukan nya sendiri ? Lionel bukan seseorang yang tidak mampu membayar seorang pembunuh bayaran apalagi dengan uang yang telah di kumpulkan nya selama menjadi Dokter gelap bagi seorang Breanch.
Tetapi, seperti nya lelaki tersebut tidak ingin jejak nya terlihat jauh. Dia ingin Breanch yang memberi perintah seolah - olah Lionel tidak terlibat. Karena selama kau berbisnis di dalam dunia gelap tidak mustahil jika seorang yang kau percayai akan menusuk mu kembali, sebuah penghianatan. Yang jelas Lionel ingin orang yang di miliki Breanch yang melakukan nya karena pria itu tauh bahwa apa yang telah di jadikan seorang Breanch sebagai milik nya tidak akan berhianat, karena seorang Breanch selalu selangkah maju dengan memegang kelemahan orang tersebut.
"Benarkah ? Kalau begitu lakukan seperti yang dia inginkan kan."
Untuk sesaat terjadi keheningan, Breanch menatap ke kiri ke atas tempat tidur yang di atas nya masih terdapat Fania yang berbaring.
Melempar puntung rokok nya ke bawah lalu menginjak nya sebelum membalikan sepenuh badan nya dan Menatap Erthan yang masih berdiri di posisi nya yang sama.
"Saat dia terbangun jangan biarkan dia beranjak keluar dari kamar ini."
Ucap Breanch lalu menarik kemeja putih nya dari sofa dan melangkah keluar dari kamar tersebut.
Sebuah lenguhan panjang membuat Erthan dengan cepat melangkah masuk dan melihat Fania telah sadarkan diri dengan memegang kepala nya.
Fania merasakan kepala nya sakit dan melihat sebuah jarum infus telah terpasang di tangan kanan nya membuat Fania bertanya - tanya apa yang terjadi dengan diri nya.
Hingga sebuah kilasan ingatan membuat jantung Fania berdetak kaget dan tanpa bisa di tahan nya tubuh nya mendadak gemetar mengingat nya.
Dengan kasar Fania mencabut jarum infus nya membuat ringisan sakit tanpa bisa di tahan keluar dari mulut nya, bersamaan dengan darah yang mulai mengalir dari punggung tangan nya.
"Anda tidak apa - apa ?" sebuah suara mengalihkan pandangan Fania dari punggung tangan nya. Fania tauh lelaki ini, dia adalah salah satu pengawal Breanch yang selalu berada di samping nya bahkan saat diri nya di lempar dari balkon dan dia hanya diam melihat nya.
Saat Erthan memberikan nya tissue untuk melap darah yang mengalir dari punggung tangan nya dengan kasar Fania mengambil nya tanpa mengucapkan terimah kasih dan seperti nya Erthan sendiri tidak keberatan.
"Saya akan pergi memberi tauh Tuan bahwa anda telah sadar." ucap Erthan lalu berlalu pergi dari hadapan Fania yang menatap nya tajam.
Fania mulai bertanya - tanya kenapa dia masih berada di sini ? Seharus nya dia tidak berada di sini. Bukannya lelaki tersebut melempar nya dari atas balkon kamar ?
Sesaat Fania turun dari ranjang dengan menahan sakit kepala nya, saat baru akan melewati pintu diri nya di tahan oleh 2 orang pengawal yang menjaga pintu kamar tersebut dari luar.
"Minggir, aku mau lewat." ucap Fania dengan terus memegang kepala nya yang masih berdenyut sakit.
"Maaf, Tuan memberitakan untuk tidak mengizinkan nona keluar dari kamar."
"Siapa yang membutuhkan izin ? Aku tidak membutuhkan izin untuk keluar dari sini." bentak Fania dengan marah yang hanya di acuhkan oleh pengawal tersebut sebelum mendorong nya sedikit untuk masuk ke dalam.
Apa sekarang aku menjadi tawanan ? Bahkan saat aku yang menjadi korban ?
Saat diri nya akan mendekati pintu balkon tempat nya di lempar dari atas balkon, tanpa sadar lagi - lagi tubuh nya gemetar ketakutan dengan sendiri nya saat kilasan ingatan tersebut kembali muncul. Menenangkan rasa gemetar nya Fania mencoba memutar handle pintu yang memisahkan nya dari balkon di luar.
Fania rasa nya sudah tidak tahan untuk tinggal bersama Breanch bahkan untuk menatap wajah nya.Jadi, tidak ada salah nya jika melemparkan tubuh nya sekali lagi dari atas balkon kamar.
Bajingan, dia mengunci nya Setelah beberapa kali mencoba pintu nya tetap saja tidak bisa terbuka. Dengan kesal Fania menendang beberapa kali pintu tersebut tetapi hasil nya tetap sama.
"Berhenti menendang nya. Pintu itu tidak akan terbuka." mendengar suara yang sekarang sangat di kenali nya membuat Fania dengan cepat membalikan tubuh nya menatap Breanch.
"Apa kau sudah baikan ?" tanya Breanch sambil berjalan duduk di sofa dengan tenang. Fania melempar tatapan nya ke belakang dan ternyata pintu sudah tertutup menyisakan diri nya dan lelaki yang memberinya ingatan buruk.
"Menurutmu apa aku baik - baik saja setelah kau lempar ?" ucap Fania dengan sinis membuat Breanch terkekeh. "Tetapi, aku menolongmu."
Breanch mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celana nya lalu memantik nya dengan api, membuat Fania yang sudah cukup jauh kembali melebarkan jarak nya. Tidak suka dengan asap yang di keluarkan oleh benda tersebut.
"Kenapa kau tidak biarkan saja aku mati ?! Setelah kau melemparku kau kembali menolong ku ? Apa kau tidak gila ?!"Hardik Fania dengan suara yang cukup lantang yang membuat kepala nya menjadi lebih berdenyut.
"Atau kau sengaja membuatku tersiksa ?"
"Aku sendiri sudah mempringatkan mu tapi, kau sendiri yang terus menerus menyulut api." jawab Breanch dengan acuh.
Fania menatap Breanch yang hanya menatap nya dengan santai. Terlihat jelas jika lelaki di depan nya ini tidak memiliki niat untuk meminta maaf, lagipula diri nya juga enggan untuk menerima permintaan maaf dari lelaki tersebut.
Mencoba terlihat kuat Fania mengabaikan rasa sakit di kepala nya lalu melipat kedua tangan nya di depan d**a dengan senyum sinis, kembali mencoba menyulut api "Tentu saja. Lagipula itu bukan satu dua kali nya kau membunuh seseorang. Seperti yang ku katakan sebelum nya kau itu seorang pria berdarah kotor, tidak berbeda jauh dari jenis sampah."
Hisapan rokok Breanch terhenti, diri nya mematikan rokok tersebut di asbak lalu berdiri dari duduk nya dengan tersenyum membuat Fania yang melihat nya melangkah mundur tanpa sadar. Breanch yang melihat diri nya berhasil mengintimidasi Fania dengan cepat senyuman itu berubah menjadi seringaian.
"Perkataanmu menyakitiku nona. Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun ?" Ucap Breanch lalu menarik tangan Fania dengan kuat sebelum membanting nya ke atas tempat tidur dengan diri nya yang mengurung Fania di bawah tubuh nya.
Fania mendadak kaku dan keberanian nya dalam sekejap menghilang saat Breanch berbisik di telinga nya dengan lembut tetapi terdengar menakutkan.
"Kalau begitu aku yang akan mengajari mu. Tetapi, pertama - tama aku akan mengajarimu bagaimana cara memuaskan ku."