17~A Mafia Obsession

1335 Kata
Beberapa kali ketukan di pintu membuat Breanch menggeram kesal dengan posisi nya yang masih sama menindih Fania di bawah nya. "Masuk." perintah Breanch tanpa berniat berdiri dari posisi nya. Fania yang berada di bawah tubuh Breanch, tanpa bisa di tahan merona malu saat Erthan masuk ke dalam kamar dan melihat mereka dengan posisi yang intim. Beda hal nya dengan Fania, Erthan terlihat biasa saja seolah hal tersebut sudah sering di lihat nya dan bukan hal yang asing. "Katakan dengan cepat, Erthan." ucap Breanch dengan terus menatap Fania yang kini memalingkan wajah nya malu "Ada hal yang harus aku selesaikan." Fania terus bergerak gelisah saat Erthan menyampaikan pesan nya kepada Breanch yang hanya diam mendengarkan dengan terus menatap Fania yang masih memalingkan wajah nya. "Keberadaan barang sudah terkirim dan malam ini adalah waktu untuk melakukan 'pesta'--" "Cukup." Sela Breanch menghentikan ucapan Erthan yang langsung di patuhi. "Apa hanya itu saja ? Kau bisa keluar." Kali ini Fania semakin keras bergerak di bawah tubuh Breanch, berusaha semaksimal mungkin untuk lepas dari kungkungan tubuh lelaki di atas nya. Semakin keras Fania bergerak semakin kencang juga cengkraman tangan Breanch di pergelangan tangan nya, membuat Fania harus menggigit pipi dalam nya agar tidak meringis sakit. "Tuan--" Breanch menggeram marah lalu berbalik menatap Erthan yang hanya menunduk patuh "Katakan cepat !" "Ini tentang Tuan. Alert." Breanch menaikan sebelah alis nya mendengar nama tersebut "Ada apa dengan nya ? Bukannya diri nya sudah terlacak ?" Erthan tidak melanjutkan ucapan nya melainkan menatap Fania yang masih berada di bawa tubuh Breanch, membuat Breanch menangkap sinyal bahwa hal tersebut tidak dapat di bicarakan di sini. "Aku mengerti. Keluar." Dengan patuh Erthan mengangguk lalu berbalik berjalan keluar, kembali meninggalkan Fania dan Breanch berdua di dalam kamar. Breanch berbalik menatap Fania yang masih memalingkan wajah nya. Terlihat Fania yang berusaha mengatur nafas nya karena terlalu lelah terus bergerak - gerak. "Kau sudah lelah ?" tanya Breanch dengan nada mengejek. "Padahal aku belum memulai apapun." Tidak ada yang perlu di mulai b******k ! Geram Fania dalam hati tidak berniat membuka suara. "Apa aku harus memulai nya sekarang nona Estefania ?" Breanch kembali merapatkan tubuh nya dengan tubuh Fania hingga benar - benar tidak tersisa jarak di antara mereka. Di susul dengan perlahan - lahan Breanch yang mulai mendekatkan wajah nya ke arah Fania yang kini menutup mata nya. Breanch dapat merasakan detak jantung Fania yang berdegup kencang bersamaan dengan wajah nya yang semakin mendekat ke arah wajah Fania. Saat Fania benar - benar sudah dapat merasakan hembusan nafas hangat milik Breanch di depan wajah nya, tanpa sadar Fania menggigit bibir bawah nya. Sebuah kecupan hangat terasa di kulit nya. Lebih tepat nya di kulit leher nya. Dengan perlahan - lahan Fania membuka mata nya dan sedikit terkejut saat melihat kepala Breanch kini terbenam di dalam ceruk leher nya. Tiga kecupan hangat yang mendarat di leher nya mampu membuat Fania menahan nafas nya. "Bernafas." Bisik Breanch dengan nada yang terdengar lembut. Dan tanpa sadar Fania yang sudah menahan nafas nya, dengan cepat menghembuskan nya. "Jangan ulangi lagi. Aku tidak masalah jika itu orang lain tapi, Jangan kau." Bisik Breanch yang terdengar sendu dengan terus membenamkan wajah nya di ceruk leher milik Fania. Membuat Fania tidak fokus mendengar nya saat diri nya merasa kan sensasi panas di sekitar leher nya setiap kali Breanch membuka suara nya. Entah hanya perasaan nya saja atau tidak tapi, Fania sekilas melihat tatapan sendu di dalam mata amber tersebut sebelum mata tersebut kembali berubah dingin. "Seperti nya kita harus menunda nya." Ucap Breanch yang kini benar - benar berubah menjadi pribadi dingin dalam hitungan detik. Breanch melepaskan kedua tangan nya yang mencengkram pergelangan tangan Fania, menyisakan bekas merah. Lalu kembali berdiri membenahi pakaian nya sebelum berbalik berjalan menuju pintu. Meninggalkan Fania yang tanpa sadar menatap nya berjalan menjauh dengan bingung, hingga tubuh nya menghilang di balik pintu. Fania yang sedang berendam di bathub dengan pikiran yang melayang mengingat kejadian tadi siang. Tanpa sadar tangan nya meraba sisi leher nya yang di kecup oleh Breanch yang meninggalkan sensasi panas. Yang lagi - lagi tanpa sadar ingin kembali di rasakan nya. Butuh beberapa saat Fania hanya diam dan terus mengusap sisi leher nya dengan lembut, hingga diri nya tersentak kaget. Ada apa dengan ku ? Sadarlah. Fania menggelengkan kepala nya mencoba menjernihkan pikiran nya sendiri tetapi, semua nya terasa sia - sia saat bayangan tubuh nya yang merapat dengan tubuh Breanch melayang di pikiran nya. Fania mengingat dengan jelas tubuh nya yang merasakan otot - otot keras tersebut di balik kemeja tipis . Fania menggigit bibir nya dengan mata terpejam saat di rasa nya tubuh nya bergetar hanya dengan mengingat tubuh lelaki amber tersebut. Sebuah ketukan di pintu kamar mandi membuat Fania membuka mata nya dan keluar dari hayalan nya tentang tubuh Breanch. Sial. Aku terlalu jauh memikirkan nya. "Sebentar. Aku sudah selesai." Teriak Fania sambil berdiri dari posisi bersandar nya di dalam bathub. Dengan gerakan cepat Fania menarik bathrobe yang tergantung di dekat nya lalu memakai nya sebelum berjalan membuka pintu. Breanch duduk dengan setelan jas hitam yang terlihat sangat elegan dan berkelas di tubuh nya. Untuk kesekian kali nya Breanch menggeser lengan jas nya yang menutupi jam tangan hitam bermerek Rolex di tangan kiri nya. "Apa perempuan memang sangat lama berpakaian ?" tanya Breanch menatap Erthan yang berdiri di samping nya. "Saya akan pergi menanyakan nya." Breanch menyudahi duduk nya sebelum berdiri dengan kedua tangan yang di masukan di dalam kantong celana nya. "Tidak perlu." Ucap Breanch lalu berjalan mendahalui Erthan yang mengikuti nya di belakang. Dengan langkah tenang tetapi mengintimidasi Breanch menaiki tangga berjalan menunuju sebuah kamar berpintu coklat. "Aku bilang aku tidak mau !" Semakin dekat Breanch dengan pintu coklat tersebut semakin nyaring juga terdengar sebuah bentakan dari dalam. Dengan sebelah alis yang di angkat Breanch menatap kedua pengawal yang menunduk patuh saat melihat nya "Buka pintu nya." "Kubilang jauhkan gaun itu dariku ! Aku tidak akan memakain nya .!" Bentak Fania sambil menjauhkan diri nya dari tiga orang maid. "Nona, jangan seperti ini. Tuan sudah menunggu di bawah. Nona harus segera bersiap - siap." "Lalu kenapa jika dia sudah menunggu di bawah ?! Aku tidak peduli !" Mata tajam Breanch mengamati apa yang terjadi di dalam kamar tersebut. Terlihat Fania dengan rambut yang masih basah begitu juga dengan tubuh nya yang masih di tutupi oleh bathrobe. "Keluar." satu kata tersebut mampu membuat seluruh mata berbalik menatap nya. Tiga orang maid yang tadi nya masih berusaha membujuk Fania dengan patuh berjalan keluar sebelum itu menaruh gaun berwarna hijau gelap yang terlihat berkilau - kilauan di atas ranjang dengan hati - hati. Pintu tertutup yang lagi - lagi kembali menyisakan Breanch dan Fania. Terlihat Breanch yang lagi - lagi menggeser lengan jas nya untuk melihat jam tangan nya. "Apa kau harus keras kepala ? Aku tidak punya banyak waktu untuk itu." Dengan sinis Fania menatap Breanch yang tidak bisa di pungkiri terlihat sangata menawan dan... s**l nya menggoda malam ini. "Setelah aku menjadi tahanan mu apa sekarang aku menjadi bonekamu ?" sinis Fania mengabaikan Breanch yang sudah berdiri di depan nya. "Pakai. Pakai gaun itu sekrang,Fania." Desis Breanch dengan tatapan mengintimidasi. "Aku bilang aku tidak mau ! Kau saja yang pakai jika kau terus memaksa !" Terdengar geraman rendah Breanch membuat Fania sedikit ketakutan mendengar nya. Dengan mata yang menyipit Breanch menatap Fania "Apa kau tidak tauh berapa banyak perempuan di luar sana yang sangat ingin memakai gaun tersebut ? Jadi pakai gaun itu sebelum aku yang memaksa !" Dengan angkuh Fania mengangkat dagu nya di depan wajah Breanch seolah merendahkan lelaki di depan nya yang masih menatap nya dengan mata menyipit "Kalau begitu pergi dan cari perempuan yang akan dengan senang hati menjadi bonekamu ! Karena aku bukan salah satu perempuan yang akan melakukan nya.!" Merasa geram dengan penolakan keras kepala Fania dengan kasar Breanch mencengkram kedua bahu Fania lalu menarik nya merapat dengan tubuh nya. "Pakai. Pakai Gaun itu, Fania. Sebelum aku benar - benar menunjukan bagaimana aku memperlakukan boneka."Desis Breanch dengan mata amber nya yang menajam, menusuk bola mata Fania.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN