Hari pertama masuk sekolah—dan hari pertama pula bagi Irene memulai debutnya sebagai siswi beasiswa yang cupu.
Peran yang sengaja ia pilih.
Irene memang menyukai drama picisan semacam ini: berpura-pura tidak berdaya, berpura-pura sederhana, bahkan—jika perlu—berpura-pura miskin. Semua demi kesenangan kecilnya sendiri.
Beruntung, status penerima beasiswa memberinya alasan sempurna. Semua elemen drama bisa dijalankan tanpa cela.
Pagi itu, Irene memasuki gerbang sekolah dengan sepeda tuanya. Rantai berdecit pelan, catnya kusam, dan keranjang depannya sedikit miring. Tatapan-tatapan remeh langsung menyambutnya—tajam, menilai, merendahkan.
Irene tidak peduli.
Jika saja mereka tahu, sepeda itu baru ia kendarai setelah turun dari mobil mewah yang berhenti dua blok dari sekolah, mungkin mulut-mulut itu akan langsung terkunci rapat. Tapi rahasia akan selalu terasa lebih nikmat jika disimpan sementara.
Baru saja Irene hendak memarkirkan sepedanya, sekelompok siswi mendekat. Salah satu dari mereka mendorong setang sepeda itu dengan kasar hingga hampir terjatuh.
“Heh,” dengusnya. “Di sini tempat parkir motor mewah, bukan rongsokan.”
Irene mengangguk pelan. Matanya bergerak santai, menatap wajah mereka satu per satu, lalu ia menghela napas ringan.
Oh… baiklah.
Sepertinya hari ini akan menarik.
Ia ingin melihat seberapa jauh mereka berani bermain. Dan betapa menyenangkannya membuat mereka berlutut saat kebenaran akhirnya terungkap.
Namun sebelum Irene sempat membuka mulut, suara mesin mobil terdengar memasuki area parkir. Sebuah mobil hitam mengilap berhenti dengan elegan.
Pintu terbuka.
Dan tentu saja—
Bima.
Keluar bersama pacarnya. Gadis yang namanya bahkan sudah tak Irene anggap penting untuk diingat.
Seketika perhatian Irene berpindah. Para siswi itu lenyap dari pikirannya. Langkah kakinya mantap, wajahnya berubah cerah seolah dunia hanya berisi satu orang.
“Kak Bima!” panggilnya lantang.
Irene tersenyum. Bima menoleh—jelas terkejut melihatnya berdiri di sana.
Tanpa ragu, Irene langsung memeluknya. Hangat, akrab, tanpa rasa bersalah. Sama sekali tak memedulikan gadis di sisi Bima yang kini menatap mereka dengan mata membara.
“Kak…” Irene mendongak sedikit, suaranya manja. “Kangen.”
Bima buru-buru melepaskan pelukan itu. Tatapannya turun pada Irene, dan di sanalah ia menangkap pesan yang terlalu jelas untuk diabaikan.
Irene ingin dia bertindak.
“Ngapain lo peluk-peluk pacar gue, hah?!”
Suara itu tajam. Bima langsung mengalihkan pandangannya.
“Gisel! Jangan bentak Irene,” katanya cepat.
Gisela Agnasia menelan ludah. Wajahnya memucat sebelum akhirnya memerah menahan emosi. Ia tahu betul—Bima selalu takut pada Irene. Dan ketakutan itu membuatnya patuh, selama Irene tidak tersinggung.
Irene tersenyum kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke Bima.
“Kak,” bisiknya lembut, nyaris seperti permintaan sepele.
“Tampar pacarnya. Mulutnya agak lain.”
Bima terdiam. Matanya melirik Gisela yang kini mengepalkan tangan, wajahnya merah menahan malu dan amarah.
Irene kembali mendekat, lebih pelan, lebih dingin.
“Mau gampar dia,” bisiknya, “atau… aku minta Papa atur perjodohan kita?”
Darah Bima terasa surut dari wajahnya.
Ia tahu itu bukan ancaman kosong.
Irene bisa—dan akan—melakukannya.
Dan jika hari itu tiba, Bima tidak akan punya pilihan selain tunduk.
Namun sebelum Bima sempat bereaksi—sebelum tangannya benar-benar terangkat untuk menampar Gisela—sekelompok siswi yang tadi merundung Irene kembali mendekat.
“Sel, lo nggak apa-apa, kan?” tanya salah satu dari mereka. Tatapannya bergantian menilai Bima dan Irene, penuh kecurigaan. “Dan lo,” lanjutnya tajam ke arah Irene, “ngapain peluk-peluk Bima? Lo nggak liat dia udah punya pacar?”
Gisela menoleh cepat, lalu menggeleng pelan. “Udah. Nggak apa-apa. Gue baik-baik aja.”
“Heh, miskin,” ejek siswi lain tanpa sungkan. “Lo siapa sih? Dan lo, Bima—kok bisa-bisanya mau dipeluk cewek cupu kayak gini?”
Salah satu dari mereka maju selangkah, tangannya langsung meraih pergelangan tangan Irene dengan kasar.
“Sini lo—”
Tapi Irene lebih cepat.
“Kak…” suaranya mendadak melemah, nyaris bergetar. Ia bersembunyi setengah di balik tubuh Bima. “Tolong… mereka jahat ke aku. Aku kan anak pengasuh Kakak… masa Kakak tega?”
Bima menutup mata sesaat. Ia tahu.
Ia tahu betul Irene sedang menyeretnya masuk ke dalam alur yang telah ia susun rapi.
Dengan rahang mengeras, Bima langsung menahan tangan siswi itu. Genggamannya kuat, dingin.
“Jangan sentuh Irene,” ucapnya rendah namun mengancam. “Kalau kalian nekat, jangan salahin gue kalau bisa jadi kasar.”
Lalu matanya beralih ke Gisela.
“Dan lo, Gisel.”
Plak.
Suara tamparan itu memecah udara. Menggema keras. Seketika semua orang terdiam—beberapa refleks menutup mulut, yang lain mematung tak percaya.
“Maaf, Sel,” kata Bima, suaranya terdengar terkendali namun berat. “Tapi lo juga keterlaluan ke Irene. Nggak seharusnya lo bentak dia.”
Irene menahan senyum yang hampir lolos.
Tanpa memberi waktu siapa pun mencerna kejadian itu, ia berdiri berjinjit dan mencium pipi Bima—jelas, sengaja, dan tanpa rasa malu.
“Kak Bima…” katanya manis. “Makasih banyak udah belain aku.”
Bima tersenyum. Senyum yang terlalu lebar, terlalu dipaksakan. Matanya hampir terpejam karena menahan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan.
Ia harus sabar.
Jika Irene memilih menggunakan cara lain—cara yang lebih kejam—Bima tak akan punya ruang untuk menghindar.
Irene tak pernah menyembunyikan niatnya. Ia akan mengejar Bima. Dan jika Bima berani menjauh, berani bersikap tidak menyenangkan, maka Irene akan meminta orang tua mereka mengatur perjodohan. Bahkan—jika perlu—pernikahan.
Bima tahu itu bukan gertakan.
Ia seharusnya bersyukur. Selama ini Irene hanya bermain seperti ini. Belum sampai mengikatnya sepenuhnya.
Ia hanya perlu bertahan. Irene pasti akan bosan suatu hari nanti. Semua kegilaan ini—cepat atau lambat—akan berakhir.
Gisela pernah melabrak Irene saat SMP. Dan sejak hari itu, Bima belajar satu hal pahit: ia bisa menghukum pacarnya sendiri hanya karena Irene tidak senang.
Bima menyukai Gisela. Gadis itu menawan, lembut, dan—sayangnya—tidak berdaya di hadapan Irene.
Sesuka apa pun Bima pada Gisela, ia tak akan pernah bisa melawan Irene. Bahkan jika itu berarti menampar dan menyakiti orang yang ia cintai.
Dan entah itu karena cinta, ketakutan, atau kelelahan—Gisela memilih bertahan. Menutup mata. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia juga sudah keterlaluan.
Sementara Irene?
Ia tersenyum puas.
Permainannya baru saja dimulai.