bc

Boneka Tampan, Nona Muda

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
neighbor
heir/heiress
drama
kicking
city
childhood crush
like
intro-logo
Uraian

Mengejar cinta pertama hanyalah kedok.Yang diinginkan Irene Arnamalinda adalah d******i.

Ia menyembunyikan identitas aslinya, masuk ke SMA elit sebagai 'anak pengasuh',bukan untuk bertahan, melainkan mengamati.

Seberapa kejam anak-anak orang kaya saat merasa berkuasa.Setiap hinaan dicatat.

Setiap kekerasan disimpan.

Dan saat waktunya tiba,berlutut pun tidak akan cukup untuk menebus apa yang telah mereka lakukan.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
Bangunan itu berdiri dengan tenang, seolah sudah ada jauh sebelum para murid pertama kali belajar mengeja mimpi di dalamnya. Bata-bata merahnya tersusun rapi, tua namun terawat, memantulkan cahaya pagi dengan wibawa yang tak berisik. Dari kejauhan, ia tampak seperti istana kecil—bukan istana raja, melainkan istana waktu, tempat masa remaja disimpan, diuji, dan dilepaskan. Empat pilar tinggi menyangga wajah depannya, kokoh seperti prinsip yang tak mudah goyah. Di bawahnya, pintu-pintu besar membuka jalan menuju lorong-lorong panjang, tempat langkah kaki siswa bergema setiap pagi, bercampur tawa, keluh kesah, dan rahasia kecil yang hanya dimiliki usia tujuh belas. Jendela-jendela berjajar simetris, seakan menjadi mata bangunan itu—mengamati pergantian generasi dengan sabar, tanpa pernah menghakimi. Di halaman depannya, sebuah taman dengan air mancur berdiri di pusat lingkaran. Airnya memercik pelan, ritmis, seperti detak jantung sekolah itu sendiri. Di sanalah para siswa sering berhenti sejenak: mengatur napas sebelum ujian, menguatkan diri sebelum pengakuan, atau sekadar duduk diam sambil membiarkan hari berjalan. Jika dilihat dari atas, bangunan itu berubah wajah. Ia bukan lagi satu tubuh, melainkan sayap-sayap panjang yang merangkul halaman tengah. Jalur pejalan kaki membelah rumput hijau, membentuk pola yang rapi, hampir matematis—seolah ingin mengajarkan bahwa hidup pun punya keteraturan, meski sering terasa kacau saat dijalani. Di tengah halaman, air mancur kecil menjadi titik temu: tempat janji dibuat, persahabatan dimulai, dan perpisahan kelak akan terjadi. Sekolah menengah atas itu tidak sekadar tempat belajar rumus dan tanggal sejarah. Ia adalah saksi bisu kegagalan pertama, keberanian yang masih canggung, cinta yang belum tahu cara pulang. Setiap dindingnya menyimpan gema suara murid yang pernah percaya bahwa dunia dimulai dan berakhir di sana. Dan setiap sore, ketika matahari condong dan bayangan bangunan memanjang di atas halaman, sekolah itu kembali sunyi—menunggu esok hari, menunggu cerita baru, menunggu generasi lain untuk tumbuh di dalam pelukannya. Di sanalah Irene melanjutkan jenjang pendidikannya—sebuah sekolah menengah atas bergengsi yang namanya sudah lebih dulu harum sebelum ia menjejakkan kaki di gerbangnya. Masuk ke sana bukan perkara sulit baginya. Otak yang tajam dan prestasi yang konsisten menjadikan Irene murid emas, tipe siswa yang namanya diperebutkan sejak hari kelulusan SMP diumumkan. Banyak sekolah menengah atas siap membuka pintu lebar-lebar untuknya. Beasiswa penuh ditawarkan tanpa ragu, bahkan tanpa bertanya apakah Irene sanggup membayar dengan uang pribadi. Bagi para pendidik, mendidik generasi yang mampu mengangkat nama sekolah adalah tujuan utama—dan Irene adalah investasi sempurna. Namun Irene tak pernah peduli soal reputasi, piala, atau papan kehormatan. Alasannya masuk ke sekolah itu sesederhana sekaligus serumit ini: Bima. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya, obsesi pertamanya, dan—jika semua berjalan sesuai rencana—kemenangan terbesarnya. “Ren, lo yakin masuk ke sekolah yang sama ama Bima?” Pertanyaan itu keluar santai, tapi sarat makna. Yoga, sahabat Irene sejak SMP, adalah satu dari sedikit orang yang tahu bagaimana perasaan Irene tumbuh perlahan namun pasti. Ia melihatnya sejak awal—dari tatapan yang terlalu lama, dari nama yang terlalu sering disebut tanpa alasan. Irene tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar ponselnya, ekspresinya tenang, nyaris datar. Yoga ikut melirik, melihat nama yang sama di sana, nama yang tak pernah benar-benar pergi dari hidup Irene. “Yakin aja sih,” jawab Irene akhirnya, suaranya ringan. “Lagipula nggak ada salahnya ngejar. Sebelum janur kuning melengkung, masih milik bersama.” Yoga menghela napas panjang, menggeleng pelan. “Ceweknya Bima juga sekolah di sana. Setau gue mereka masih pacaran. Lo nggak takut di-labrak lagi?” Irene terkekeh kecil, seolah itu hanya candaan murahan. Dilabrak? Terasa seperti kemungkinan yang terlalu remeh untuk ditakuti. Jika Irene mau jujur—dan ia jarang mau—dia tidak perlu mengejar Bima dengan cara seperti ini. Dengan satu kata dari ayahnya, dengan sedikit permainan relasi dan pengaruh, segalanya bisa diatur agar berpihak padanya. Bima bisa datang sendiri, tanpa Irene perlu melangkah satu meter pun. Tapi justru itu masalahnya. Mengejar Bima tanpa kekuatan orang dalam, tanpa jalan pintas, adalah tantangan yang sesungguhnya. Sebuah pembuktian. Bahwa perasaannya bukan sekadar ambisi yang dimanjakan kuasa, melainkan keinginan murni—setidaknya menurut versi Irene sendiri. Bima Dirgantara. Anak dari rekan bisnis ayah Irene. Perusahaan keluarga Dirgantara pernah berada di ujung kehancuran. Hampir bangkrut, hampir hilang. Dan saat semua pintu tertutup, ayah Irene-lah yang mengulurkan tangan. Bantuan itu menyelamatkan segalanya. Irene masih kecil kala itu. Ia mengingat dengan jelas hari ketika Bima datang ke rumah mereka bersama kedua orang tuanya. Bima kecil, rapi, diam—dan sejak saat itu, sesuatu dalam diri Irene terkunci padanya. Setelah hari itu, Irene mulai mengumpulkan Bima seperti kepingan informasi. Di mana ia bersekolah. Apa makanan favoritnya, dan apa yang ia benci. Warna kesukaannya. Olahraga yang ia gemari. Kebiasaan kecil yang bahkan mungkin Bima sendiri tidak sadari. Semua Irene hafal. Semua ia simpan rapi, seperti arsip rahasia yang hanya boleh dibuka olehnya. Ia menyukai Bima sampai pada titik yang berbahaya. Sampai terlintas keinginan kekanak-kanakan namun gelap—memberinya kalung rantai, mengikatnya, menandainya sebagai milik. Sepenuhnya. Namun apa gunanya memiliki seseorang, jika hatinya tak pernah memilih untuk tinggal? Apa yang Irene lakukan sekarang bukan sekadar cinta remaja. Ini adalah perburuan. Sebuah permainan besar dengan satu target. Dan jika Irene menang, ia tidak hanya akan mendapatkan Bima. Ia akan memastikan Bima tahu—bahwa ia pernah menjadi sesuatu yang diperjuangkan, ditaklukkan, dan dimenangkan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
200.2K
bc

My Queen

read
82.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.3K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
42.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook