Bab 5

1009 Kata
Ronald mengantar gadis yang masih dalam keadaan tidak sadar itu ke sebuah bangunan Villa milik keluarga Atmaja yang berada di puncak Bogor. Yaitu sebuah bangunan dua lantai, dengan tiang kokoh dan tinggi. Setibanya di sana, ada dua orang pelayan wanita yang menyambutnya. "Tolong, bawa Nona ini ke kamar utama, Tuan Alex akan ke sini sekarang juga!" titah Ronal sesuai arahan dari Kenzi. "Apa Nona ini calon istrinya Tuan Alex?" tanya pelayan wanita lebih muda. "Sstttt!" Mbok Ijah yang merupakan pelayan lebih tua dan penjaga senior di Villa itu, menaruh telunjuk di bibir. Sebagai isyarat agar keponakannya itu diam! Tidak sopan ingin tahu urusan majikan. "Sudah bawa dia cepat!" suara Ronald meninggi membuat Mbok Ijah dan Parti segera memapah Nona Muda itu menuju kamar utama yang berada di lantai dua. Ronald segera meraih ponselnya. Kemudian ia segera menghubungi Kenzi. "Halo," sapa Kenzi "Iya Halo!" sahut Ronald. "Apa lagi?" tanya Kenzi yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Hari ini ia cukup di buat pusing oleh keinginan Alex. "Target sudah aman!" ucap Ronald yakin. "Tetap berjaga! Jangan sampai kabur! Jangan ganggu aku dulu, ini malam minggu waktu yang harus aku habiskan bersama istri dan anakku! Paham!" Kenzi mengakhiri panggilan telefon begitu saja. Ronald menatap kesal ke arah telepon pintarnya. Menelan ludah, itu artinya Kenzi sedang tidak ingin diganggu. *** Alex menghentikan mobilnya di halaman luas Villa miliknya. Kemudian, ia berjalan menghampiri Ronald yang sudah menunggunya. "Selamat sore Tuan!" sapa Ronald. "Di mana Jesslyn?" tanya Alex. Hanya ada Jesslyn dalam pikirannya. Tidak ada hal lain yang ada di otak dan pikirannya kecuali gadis itu. "Di kamar utama lantai dua Tuan!" jawab Ronald. Alex bergerak cepat ia bergegas. Ia berjalan ke lantai dua menuju kamar utama. Langkah kakinya lebar dab cepat. Pria itu berhenti sejenak di depan pintu Jesslyn kau milikku. Kali ini kamu tidak bisa kabur dan aku tidak akan melepaskanmu! Seringaian Alex sangat mirip dengan serigala yang mendapatkan mangsanya. Ia menegak saliva, benar-benar sudah tergoda dan tidak sabar. Tangan Alex terulur, memutar kunci. Kemudian ia menarik handle pintu dan kembali mengunci pintu rapat. Kedua manik matanya tertuju, pada seorang gadis yang tengah berbaring di ranjang king size. Jesslyn masih tak sadarkan diri. Alex melangkah mendekat ke ranjang. Ia berdiri tak berkedip menatap wajah Jesslyn. Tertuju pada bibir gadis itu, merah merona bagai delima yang siap di lahap. Tangan kanan bergerak lincah melonggarkan dasi, lalu melepas jas dan melemparkannya sembarang. Alex, naik ke atas ranjang. Ditatapnya Jesslyn dengan tajam. Ia menggigit bibir bawahnya. Dalam sekejap tubuhnya langsung b*******h saat jemari tangan kanannya membelai pipi Jesslyn. Tiba-tiba Jesslyn membuka matanya perlahan. Pandangan mata mereka saling bertemu. "Tolooonggg!" teriak Jesslyn sekuat tenaga. "Teriaklah, tidak akan ada orang yang mendengar dan menolongmu!" ujar Alex. Ia segera mencium gadis itu dengan rakus. Jesslyn yang masih belum sepenuhnya sadar hanya bisa menerima ketika pria itu terus menciumnya dengan basah dan dalam. Alex yang sudah merindukan kehangatan. Dan merasa penyakitnya sudah sembuh tidak bisa menundanya lagi. Kini tubuh mungil Jesslyn sudah dalam kuasa Alex. Baru saja Alex ingin membuka celananya. Ponselnya berdering, keduanya sama-sama terkejut. Dengan kesal Alex meraih ponselnya. Kemudian segera menerima telefon dari sang mama. Jesslyn yang sudah terbebas, memukul kepalanya pelan. Ia mengingat kejadian tadi, saat ia keluar dari panti. Tujuannya adalah mencari pinjaman uang. Kemudian Jesslyn meraih ponselnya entah bagaimana ponselnya masih ada di saku blazernya. "Halo!" sahut Bu Rani di seberang telefon. "Halo Bu, aku akan segera pulang tunggu aku ya Bu!" ujar Jesslyn dengan berbisik ia berusaha kabur dari pria yang tadi berniat buruk padanya. "Sudah Jesslyn, semua sudah terlambat! Sore ini juga kita harus pindah tadi Pak Kasim sudah datang ke sini dan akan merobohkan bangunan ini dalam waktu dekat!" jelas Bu Rani. "Tapi Bu!" Teriakan Jesslyn membuat Alex sadar bahwa gadis itu sudah berhasil kabur darinya. Alex berusaha mengejarnya. Namun, Jesslyn sudah berhasil kabur. *** Turun dari angkutan umum Jesslyn lari tergopoh-gopoh dari gang menuju panti. "Tunggu Pak Kasim!" cegah Jesslyn. Melihat Pak Kasim yang sudah bersiap pergi. "Ada apa lagi?" tanya Pak Kasim kesal. "Beri saya waktu Pak! Beri saya waktu satu minggu untuk mendapatkan uang satu milyar! Tolong Pak!" Jesslyn berlutut berharap mendapat kesempatan. Mengabaikan rasa perihnya di sekitar bibir karena gigitan dari pria gila bernama Alex. "Satu hari! Aku akan memberikan waktu satu hari!" jawab Pak Kasim sesumbar yakin jika uang satu milyar tidak mungkin mereka dapatkan hanya dalam satu hari. "Dua hari Pak!! Beri waktu saya dua hari!" Jesslyn kembali memohon. "Baik! Aku beri waktu kamu dua hari! Tapi aku tetap tidak yakin kalian akan mendapatkan uang satu milyar!" Ia tersenyum mengejek sebelum akhirnya pergi dari sana. "Maafkan aku Bu! Aku belum bisa mendapatkan uangnya!" Jesslyn yang berantakan mendekat ke arah Bu Rani. "Besok kita pindah saja!" ajak Bu Rani semakin pesimis. Tidak yakin bisa mendapatkan uang satu milyar. Siapa yang akan memberinya! Tidak mungkin uang sebanyak itu akan turun dari langit. Alex mengamati dari jauh. Mendengar semua percakapan antara Jesslyn dengan pria tadi. Kemudian, ia mendekat berjalan ke beranda. "Kamu pemuda yang semalam datang kan?" tanya Bu Rani melihat kehadiran Alex. Jesslyn menoleh ke belakang. Astaga! Kenapa pria gila ini di sini! Kenapa Bu Rani mengenalnya. "Sini Nak, silakan duduk!" pinta Bu Rani. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini Bu?" tanya Alex. Bu Rani menjelaskan dengan singkat mengenai Pak Kasim yang menginginkan tanahnya kembali. Sementara Jesslyn hanya menatap keheranan pada Bu Rani dan pria gila itu yang tampak akrab. "Baiklah Bu, saya akan memberikan uang satu milyar agar panti asuhan ini tetap bisa menjadi milik ibu! Agar anak-anak panti juga masih bisa tinggal di sini!" ujar Alex. Bu Rani melongo tidak percaya. "Tapi Nak!" Bibir Bu Rani gemetar. "Besok sekretaris saya akan datang dan membawa uangnya! Sekarang juga bisa!" Alex meraih ponsel dan berusaha menghubungi Kenzi. "Halo!" sapa Kenzi kesal. "Bawa uang satu milyar ke panti asuhan kasih bunda sekarang!" titah Alex. Klik. Alex mengakhiri panggilan telefon begitu saja tanpa memberikan kesempatan pagi Kenzi untuk menjawab. Jesslyn memperhatikan Alex dengan saksama. Pria gila itu, tetap gila. Sebaik apa pun, sebanyak apa pun uang yang ia punya. Menurut Jesslyn dia adalah pria gila. To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN