Pagi cerah Alex sudah tiba di tempat kerja. Tanpa di jemput dan lebih pagi dari sekretarisnya. Hasrat seksual yang tidak tersalurkan membuatnya gelisah sepanjang malam dan memutuskan untuk tidur di kantornya.
Lantai empat belas gedung Atmaja Group merupakan ruang kantornya. Tempat ia bekerja dan membuat keputusan besar yang berdampak bagi perusahaan dan karyawan yang dipimpinnya.
Segelas kopi espresso sudah tandas. Namun, rasa kesal dalam hatinya tak juga berkurang.
Pintu ruang kerjanya terbuka. Kenzi dengan ekspresi cerianya masuk ke dalam ruang kantor Alex.
"Selamat pagi Tuan! Anda bersemangat sekali pagi ini? Woow apa yang terjadi dengan mata Anda?" tanya Kenzi keheranan melihat kelopak mata Alex yang membiru.
"Tangkap Jesslyn sekarang juga bawa di ke apartemenku sekarang juga!" titah Alex.
"Tuan apa Anda lupa? Hari ini ada jadwal dengan arsitek dari Singapura yang ...," ucapan Kenzi terhenti.
"Jangan bantah! Bawa Jesslyn padaku saat ini juga!" teriak Alex.
"Baik Tuan!" sahut Kenzi. Ia segera menghubungi Ronald dan memintanya untuk membawa Jesslyn ke salah satu Villa milik keluarga Atmaja. Kenzi menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia harus pintar-pintar agar bosnya itu tidak terjerat kasus hukum karena main tangkap gadis yang bernama Jesslyn itu.
***
"Jesslyn!" panggil Bu Rani.
"Iya Bu!" sahut gadis delapan belas tahun itu. Ia berjalan mendekat ke arah sumber suara. Wanita paruh baya itu duduk dan menatapnya dengan pandangan serius.
"Ibu harus memberi tahumu!" ucap Bu Rani masih mengarahkan netranya ke raut wajah gadis cantik itu. "Kamu tetap harus pergi dari sini!" imbuhnya kemudian.
Kepala Jesslyn tertunduk. Bukan tanpa alasan ia masih tinggal di panti. Sejak kecil banyak usia enam tahun banyak yang ingin mengadopsi Jesslyn, tetapi ia tidak mau. Semua karena ia sangat yakin bahwa kedua orang tua, akan mencari dan menjemputnya.
"Tanah tempat mendirikan panti asuhan ini bukan milikku, dan pemiliknya meminta tanah ini kembali! Aku tidak bisa menggantinya dengan uang! Untuk anak-anak yang masih kecil dan belum memiliki orang tua adopsi, ibu akan membawa ke panti asuhan yang lain, dan untukmu ibu harap kamu bisa hidup mandiri mulai sekarang!" jelas Bu Rani. Ia menguatkan hati mengatakan ini pada Jesslyn. Tidak semudah itu. Ia tahu betul kesedihan Jesslyn saat kedua orang tuanya menitipkan di panti dua belas tahun silam. Saat gadis itu berusia enam tahun.
"Memangnya berapa uang yang dibutuhkan untuk tetap berada di sini Bu?" tanya Jesslyn dengan suara bergetar. Ia tahu nominalnya sangat banyak dan mungkin di luar jangkauannya.
"Kalau dulu saat panti ini berdiri harganya masih wajar. Tapi sekarang ibu harus membayar 1 milyar. Ibu tidak memiliki uang sebanyak itu." Bu Rani menunduk lesu. Bukan hanya Jesslyn dia juga merasa sedih jika panti harus pindah atau menitipkan anak-anak di panti asuhan lain.
"Kapan Bu? Kapan kita harus pindah dari sini?" tanya Jesslyn.
"Secepatnya!" jawab Bu Rani.
"Baik Bu, saya akan coba cari pinjaman dari Bagas!" pamit Jesslyn. Ia beranjak dari duduknya. "Aku juga pinjam uang pada Chika!" imbuhnya.
Bu Rani tersenyum sumbang. Tidak yakin dengan apa yang akan diusahakan oleh Jesslyn. Uang satu milyar bukan jumlah sedikit itu sangat banyak.
Jesslyn mengikat rambutnya sembarang. Ia mengenakan blazer dan segera keluar dari kamarnya. "Bu tunggu saya akan segera pulang semoga aku segera mendapat bantuan!" pamit Jesslyn keluar dari rumah panti.
Jesslyn yang kalut dan tergesa, berjalan dengan cepat. Kedua ibu jarinya bergerak dengan lincah menggeser layar ponsel mencari nomor Bagas dan ingin menghubunginya.
Bugh!
Ia tidak sadar akan seseorang yang mengintainya sejak tadi. Sesuai perintah Ronald menangkap Jesslyn. Tanpa ada satu orang pun yang mengetahuinya. Kemudian, ia memasukkan gadis itu ke dalam mobil.
Ronald membiarkan Jesslyn berbaring di kursi belakang. Dirinya sendiri duduk di belakang kemudi dan segera menghubungi Kenzi.
"Halo!" sapa Kenzi di seberang telefon.
"Gadis itu sudah bersamaku, aku antar dia ke mana?" tanya Ronald.
"Ke Villa!" suruh Kenzi.
"Baik!" jawab Ronald.
Klik.
Panggilan telefon berakhir dan Ronald menyalakan mobilnya menuju ke salah satu Villa milik keluarga Atmaja yang berada di puncak Bogor.
***
"Tuan! Permintaan Anda sudah terlaksana, Jesslyn sudah bersama Ronald dan mereka sedang dalam perjalanan ke puncak!" lapor Kenzi. "Sekarang, Anda tetap harus ...," ucapan sang sekretaris terhenti.
"Kenapa ke puncak?" protes Alex.
"Jika di bawa ke apartemen akan ada banyak orang yang melihat, atau saya harus membawanya ke rumah utama?" tanya Kenzi. Ia menyunggingkan senyum nakal.
"Jangan! Bisa bahaya kalau Mamaku sampai tahu!" sahut Alex yang mulai kehilangan kegeniusannya.
"Jadi apa Anda benar-benar sudah sembuh?" selidik Kenzi seraya berjalan menuju lift.
"Aku rasa dia memang spesial. Jesslyn berbeda, aku sembuh hanya saat bersentuhan dengannya. Saat bersama Cassandra tubuhku tak bereaksi sama sekali!" jawab Alex jujur.
"Apa itu artinya Anda akan melakukannya terhadap gadis itu?" Kenzi hanya tidak ingin terjadi masalah di kemudian hari, karena ia sendiri yang harus memperbaiki kekacauan yang dilakukan Alex. Tidak, jangan sampai bosnya itu menjadi pelaku tindak kriminal hanya karena masalah ini
"Tentu!" jawab Alex tanpa pikir panjang. Ia tersenyum dan hanya dirinya sendiri yang bisa mengartikannya.
"Tapi Tuan! Dia bukan istri Anda! Dia juga bukan wanita malam yang rela tidur dengan Anda tanpa di bayar! Apa Anda tidak kasihan! Dia gadis yatim piatu yang tinggal di panti asuhan! Apa Anda tidak terlalu jahat jika Anda merampas sesuatu yang paling berharga darinya?" protes Kenzi. Dulu ia tidak mempermasalahkan jika Alex tidur dengan banyak wanita. Ia mengganti teman kencan sesering mengganti kaos kaki.
"Kasih berapa pun yang dia mau! Aku butuh dia! Kau tahu rasanya aku sudah mulai gila!" ungkap Alex. Ia melonggarkan dasi dan membuka kancing di bagian kerahnya. Kemudian kedua pria itu masuk ke dalam lift.
"Jangan samakan Jesslyn dengan wanita malam Tuan! Dia sungguh malang jika Anda memperlakukannya seperti itu!" bela Kenzi. Untuk kali ini ia merasa harus membela Jesslyn.
"Jangan berisik, aku hanya ingin tidur dengannya!" tegas Alex. Dengan suara melirih karena tiba-tiba pintu lift terbuka dan ada beberapa karyawan di depan mereka.
Para karyawan menunduk hormat. Sementara Alex dan Kenzi terus saja berjalan melewati mereka.
“Baiklah, terserah Anda tapi saya tidak akan ikut bertanggung jawab jika sesuatu terjadi!" ancam Kenzi kesal.
"Diam! Aku rasa cuma kamu yang paling tahu betapa tersiksanya aku selama ini! Dan sekarang kamu mau mencoba menghentikanku?" Alex menatap tajam ke manik mata Kenzi.
Kenzi menggeleng pelan. Firasat buruk melintas dalam benaknya.
"Antarkan aku ke Villa sekarang juga!" titahnya tidak bisa di tunda dan tidak bisa di ganggu gugat.
To be Continue