Bab 3

1034 Kata
Bab 3 Membaca pesan dari Kenzi, Alex sudah tidak sabar lagi. Dia ingin segera bertemu dan merealisasikan keinginannya terhadap si gadis. Ibu jari Alex bergerak lincah, menelepon nomor yang baru saja mengirim pesan padanya. "Halo, selamat malam Tuan!" sapa Kenzi sopan. "Kamu di mana? Bawa biodatanya sekarang juga!" desak Alex tidak sabar. Menunggu satu jam saja dia tidak sabar apa lagi harus menunggu sampai besok pagi. "Tapi Tuan!" protes Kenzi yang tidak menyimpan soft copy karena Alex lebih suka dalam bentuk hard copy. "Aku tidak suka tapi!" tegas Alex. "Baik Tuan, tunggu sebentar!" pinta Kenzi. "Aku akan segera mengantarnya ke apartemen Anda, sekarang juga!" ucap Kenzi yang baru saja tiba di tempat tinggalnya. "Tidak perlu! Foto kan saja! Aku tahu kamu sangat lelah! Kamu tidak perlu mengantarnya. Cukup foto kan saja!" jelas Alex. Sekretarisnya itu bukan Super Hero atau Super Man yang bisa bekerja dua puluh empat jam. "Baik Tuan! Terima kasih!" sahut Kenzi bisa bernafas lega. Setelah mengirim file, ia bisa menikmati mandi dengan air hangat. Menikmati coklat panas lalu pergi tidur di samping sang istri dan anaknya yang masih berusia satu tahun. "Kirimkan segera!" "Baik Tuan! *** Nama : Jesslyn Usia : 18 tahun Alamat : Panti Asuhan Kasih Bunda. Pekerjaan : Karyawan Swasta. Status : Belum Kawin. Alex menatap kartu identitas Jesslyn dengan saksama. Ia menelan ludah. Reaksi tubuhnya ketika bersentuhan dengan Jesslyn kembali terngiang. Pria itu sudah tidak bisa menahannya lagi. Jesslyn malam ini juga aku harus bertemu denganmu. Aku tidak akan melepaskanmu. Alex keluar dari kamarnya. Menyambar baju hangat dan kunci mobil. "Tuan mau ke mana? Nyonya Anna melarang Anda keluar malam-malam sendirian!" tanya Mbok Surti salah satu pelayan rumah tangga yang di suruh Nyonya Anna untuk mengawasi Alex. "Aku cuma pergi sebentar Mbok! Jangan bilang Mama!" titah Alex. Mengenakan alas kaki dan keluar dari unit apartemennya begitu saja. Ia masuk ke dalam lift. Alat transportasi dalam gedung itu mengantarkan Alex hingga ke basemen. Tempat ia memarkirkan mobil. Ting. Pintu lift terbuka. Alex melangkah keluar, ia meraih ponsel di saku celana. Kemudian, membuka sebuah aplikasi petunjuk arah. Panti Asuhan Kasih Bunda adalah tempat tujuannya. Pria itu duduk di belakang kemudi. Menaruh ponsel di stand yang berada di dashboard mobilnya. Selanjutnya, ia menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan kendaraan roda empatnya keluar dari basemen. Jesslyn aku segera datang. Tunggulah! Alex terus menginjak pedal gasnya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Jalanan cukup sepi karena hujan turun. Sejenak ia melirik jam di arlojinya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sebentar lagi ia akan tiba di tempat tujuan. Shittt. Alex menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan sederhana. Di depannya ada sebuah papan nama bertuliskan "PANTI ASUHAN KASIH BUNDA". Pria itu menyapukan pandangan ke sekeliling. Suasana sangat sepi! Gerimis masih turun, membuat enggan keluar. Mengalahkan perang batin dalam hatinya. Alex memutuskan untuk turun dari mobil. Ia membentangkan payung dan mulai melangkah ke gerbang bangunan panti. Ia masih berdiam. Ragu menyelinap saat melihat teras depan sudah sepi. Namun, rasa penasaran membuat Alex tetap masuk. Ia membuka pintu gerbang yang tidak terkunci lalu menerobos, masuk ke dalam. Sampai di teras, Alex segera menekan bel! Hanya ada Jesslyn yang ada di pikirannya. Sampai tiga kali Alex menekan bel, barulah seorang wanita paruh baya keluar dan membuka pintu. "Silakan duduk!" pintanya menatap si tamu keheranan. Asing karena belum pernah melihatnya, dan juga karena ini terlalu malam bagi seseorang untuk bertamu. "Maaf Pak ada yang bisa saya bantu?" tanya Bu Rani yang merupakan salah satu pengurus di panti asuhan. "Perkenalkan nama saya Alex! Saya ke sini karena ingin bertemu dengan Jesslyn!" ucap Alex jupint "Jesslyn?" gumam Bu Rani pelan. "Silakan duduk!" Menunjuk kursi kayu di beranda. Alex duduk, pun begitu dengan wanita paruh baya yang membuka pintu untuknya. "Ada keperluan apa bertemu dengan Jesslyn?" selidik wanita itu. Setahunya, Jesslyn tidak memiliki teman pria. Ia jarang memiliki teman, sesama perempuan pun jarang. Apalagi lawan jenis. Teman dekatnya adalah Bagas dan Chika yang sekarang sudah tinggal bersama orang tua asuhnya. "Jadi tadi siang, saya lupa membawa dompet dan Jesslyn yang membayar ongkos bis untuk saya!" dalih Alex. Ia pandai mengarang cerita saat terdesak. "Oh begitu!" Bu Rani mengangguk paham. "Saya hanya berniat mengembalikan uangnya!" jelas Alex. "Jesslyn belum pulang, sebentar lagi dia tiba di rumah! Jesslyn bekerja di resto dari siang hari jam satu dan pulang jam sembilan malam! Sebentar lagi dia pulang! Tunggulah di sini, biar ibu buatkan teh hangat!" sahut Bu Rani ramah. Tidak menaruh curiga sama sekali. "Tidak usah Bu, saya pamit sekarang biar besok saya ke sini lagi!" pamit Alex. Ia segera beranjak dari duduknya. "Sebentar lagi Jesslyn pulang!" ucap Bu Rani mencegah tamunya pergi. Namun, Alex tetap kekeh meninggalkan beranda rumah sederhana itu. Ia segera masuk ke mobil dan menunggu mangsanya. Kini Alex sudah berada di dalam mobil. Ia melihat ke arah gang masuk. Menunggu Jesslyn datang. Benar saja tak berapa lama ia melihat seorang berjalan di tengah gerimis. Ia menggunakan tas kerja untuk menutup kepalnya. Ya, itu dia Jesslyn. Bagai pahlawan Alex keluar dari mobil dan membawa payung. Kemudian ia berhenti di depan Jesslyn. Menghalangi langkah gadis itu. "Ikut denganku!" titah Alex. "Maaf Anda siapa?" tanya Jesslyn terkejut. "Ada masalah yang harus kita selesaikan!" Alex membuang payungnya ke belakang dan mendorong Jesslyn ke pintu mobil. "Maaf Anda siapa?" tanya Jesslyn kedua netranya menatap lurus ke wajah asing yang saat ini berada di hadapannya. Sangat dekat, tidak lebih dari lima sentimeter. "Aku Alex! Tuan Alex!" sebutnya congak. "Tuan A ...," Jesslyn tidak menyelesaikan ucapannya karena Alex sudah menempelkan bibirnya. Kedua manik mata Jesslyn membulat sempurna bukan hanya sekedar menyentuh bibirnya tapi Alex juga menciumnya dengan basah dan dalam berulang kali. Jesslyn berusaha melepaskan diri dan meronta, tetapi semua sia-sia. Tubuh kekar Alex tak bergerak sama sekali. Tubuh kekar itu masih menguasainya dengan bebas Alex menciumnya. Menikmati bibinya. Alex terus mendarat kan ciuman di bibir Jesslyn, berharap bisa menghapus lipstik merah di bibir gadis itu. Dengan begitu ia akan merasa puas dan tidak mengharapkan lebih. Pria itu melepaskan tautan bibirnya. Mengamati bibir merah Jesslyn. Bukan menghapus lipstik bibir itu terlihat semakin menggoda karena basah. Alex kembali menciumnya lagi dan lagi. Bugh. Jesslyn menendang kaki Alex, lalu memukul matanya, dan mendorong kuat tubuh pria di hadapannya. Kemudian, ia lari begitu saja. Ia merasa sangat ketakutan. To be Continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN