Sebuah Perhatian

1730 Kata

Suara bell berbunyi. Aliza yakin yang datang adalah ayahnya, jadi ia sendiri yang ingin membukakan pintu. Sedangkan Nenden langsung pergi ke dapur untuk membuat minuman. Saat mengintip ke jendela, benar saja Abinaya yang sedang berdiri di depan pintu. Tak menunggu lagi, Aliza segera membuka pintu besar itu. “Liza,” sapa Abinaya tersenyum haru. “Papa.” Aliza membalas senyum, lalu mencium punggung tangan Abinaya dengan sayang. “Kamu cantik pakai kerudung,” puji Abinaya terkesima melihat perubahan Aliza yang sangat menonjol, terutama perut putrinya itu yang sudah sangat besar. “Ayok masuk,” ajak Aliza sopan. Aliza sedikit canggung mendengar pujian dari ayahnya. Walaupun bukan hanya kali ini saja pria itu memujinya, tetapi kali ini rasanya berbeda mengingat kebenarannya bahwa ia bukan pu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN