Salah Sasaran!

1519 Kata
Beberapa jam kemudian Aliza tersadar dalam posisi berbaring di atas ranjang, di dalam sebuah kamar. Matanya yang lelah, menangkap seorang pria yang tengah duduk di atas kursi, memandanginya dalam-dalam. Tatapannya yang tajam, menghunus tepat ke arah netranya. Melihat wajah pria itu yang penuh amarah, membuatnya diserang kepanikan mendadak. Namun, tangan Aliza yang diikat ke sudut ranjang, membuatnya tidak dapat melakukan banyak hal. Mulutnya tersumpal kain sehingga ia juga tidak dapat mengatakan apa pun. Hanya suara erangan sebagai permohonannya agar ia dilepaskan. Ia pun tak tahu siapa pria itu, dan kenapa ia bisa ada di sana. “Hai... Kita ketemu lagi, Sayang. Wah, penampilan kamu agak berubah, ya. Sekarang kamu kelihatan lebih cantik dan anggun dari biasanya.” Pria tampan itu tersenyum sinis, menyanjung. Berjalan santai ke arah Aliza, pria itu lalu duduk tepat di sampingnya. Aliza tidak dapat bergerak sedikit pun sehingga tidak dapat menghindar saat pria itu mengukung tubuhnya. Sekarang, wajah pria yang sangat menakutkan itu tepat di atas wajahnya, memandanginya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Apa yang kamu dapatin setelah ngebunuh istri saya?” tanya pria itu dingin. “Kenapa kamu melakukannya?” lanjutnya seraya menelisik kedua mata Aliza yang tergenangi air. “Kamu emang gak punya perasaan. Gimana kamu tega bunuh istri saya yang lagi hamil? Kamu perempuan, dia juga perempuan. Gak ada dikit aja perasaan kamu sebagai seorang perempuan?” Pria itu terus bicara. Nadanya terdengar menyakitkan, tetapi Aliza tidak dapat mengatakan apa pun selain matanya yang bertanya-tanya. Sedetik kemudian, pria itu mencekik leher Aliza dengan keras sambil menjerit, “Saya udah kasih uang yang kamu minta! Tapi kenapa kamu tetap bunuh istri saya?!” Lagi, Aliza tidak bisa melakukan apa pun. Suara erangan dan tubuhnya yang meronta sebagai responsnya saat ia hampir saja kehabisan napas. Pria itu melepaskan cekikan, tangannya kembali menyentuh ranjang di kedua sisi tubuh Aliza, kembali mengurung tubuh wanita itu dengan tubuh serta kedua lengannya yang kokoh. “Tapi kamu tenang aja. Saya gak bakal serahin kamu ke polisi. Saya sendiri yang bakal hukum kamu, Sayang. Saya bakal pastiin kamu menderita. Saya berani bersumpah, kamu yang bakal memohon kematian kamu sendiri. Kamu dengar?” Nada pria itu melemah seperti sedang berbicara kepada seseorang yang sangat dikenalinya. Namun, siapa pun yang mendengar kalimatnya tentu tahu, pria itu sedang memberikan ancaman yang tidak main-main. Pria itu tertawa secara tiba-tiba, persis seperti seorang gila. Tawanya yang renyah, terjadi cukup lama. Namun, wajahnya mendadak kembali muram, sangat menakutkan bagi Aliza. “Mau kamu apa? Jadi istri saya? Bercinta sama saya? Ayok, kita lakuin apa yang kamu mau, Sayang.” Tanpa menunggu lagi, pria itu segera menciumi Aliza dengan napasnya yang menggebu-gebu. Malam itu, Aliza mendapatkan perlakuan yang tidak pernah ia alami di sepanjang hidupnya. Pria itu tidak mengindahkan erangan dan tangisan permohonannya saat ingin mengatakan sesuatu. Meronta pun rasanya percuma, pria itu sangat kuat dibandingkan Aliza yang tangannya terikat. Tenaga Aliza kian melemah kala ia terus meronta dan pria itu tetap melakukan aksi tidak terpujinya. Ketika pria itu hendak menerobos mahkota Aliza, baru ia menyadari sesuatu, wanita itu bukanlah yang ia cari! Tanpa ingin melanjutkannya, ia segera berpakaian. Langkahnya yang tak santai, membawanya ke lantai bawah. Pakaiannya tampak belum rapi dipakai, tetapi ia tidak mempedulikannya, yang ingin ia lakukan saat ini adalah menemui orang-orangnya yang sudah membawa wanita itu, Aliza. “Jef! Jefri!” Pria itu terus berteriak keras, mengedarkan pandangannya ke segala arah. Beberapa pria berlarian ke arah pria itu. Salah satunya Jefri, orang kepercayaannya. “Pak—” “Siapa perempuan yang kamu bawa?” Pria itu mencengkram pakaian Jefri, menatapnya penuh amarah. “Sania,” jawab Jefri ragu-ragu. Pria itu semakin geram, matanya menyipit saat berkata, “Sania kata kamu, hah? Dia bukan Sania! Dasar bodoh!” Bukan hanya Jefri, tetapi teman-temannya langsung memucat, tak percaya dengan apa yang disampaikan majikannya. “A—apa? Ta—tapi Pak, dia—” “Dia bukan Sania! Cari tahu siapa dia sebenarnya. Wajahnya emang mirip, tapi dia bukan Sania!” Pria itu membenarkan informasi, bahwa wanita yang dibawa mereka bukanlah Sania, wanita yang sudah menjadi targetnya. Saat punggung pria itu menjauh lalu menghilang dari pandangan, semua orang menatap satu sama lain, masih tidak percaya jika mereka membawa wanita yang salah. Mereka sudah yakin wanita itu adalah Sania, wanita yang sudah berhasil membuat majikannya gila. Pria berusia 32 tahun itu, Ethan Immanuel, pria yang selama beberapa bulan ini depresi akibat istrinya meninggal secara terbunuh oleh Sania, wanita yang ia tinggalkan demi menikahi wanita yang ia cintai. Ethan hidup seorang diri, orang tuanya meninggal karena kecelakaan saat usianya dua belas tahun. Adik ataupun kakak ia tidak punya. Keluarga orang tuanya ada di luar Negeri karena orang tuanya sendiri berasal dari luar Negeri, Jerman. Sejak kecil, Ethan sudah dituntut untuk belajar menjadi seorang pemimpin perusahaan yang ditinggalkan ayahnya. Ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, bermain dengan anak seusianya tidak pernah ia lakukan. Otaknya yang masih belia, dipaksa untuk berpikir dewasa. Sang paman yang mendidiknya sangat keras karena ia juga memiliki perusahaan yang harus ia pimpin, dan ia tidak bisa meneruskan perusahaan yang ditinggalkan sang adik. Rasa kesepian telah Ethan alami sejak kecil hingga ia dewasa dan menjadi pemimpin hebat diusianya yang masih sangat muda. Hidup seorang diri dan memikul beban yang sangat besar bukanlah hal yang mudah Ethan lakukan. Tak jarang, ia akan merasa frustasi dengan bisnisnya, hidupnya, takdirnya, dan lainnya. Jika ia sedang dalam masalah, maka minuman beralkohol yang menjadi teman baiknya. Bukan hanya itu, tetapi juga wanita yang menjadi pelampiasan gairahnya. Di balik namanya yang melambung tinggi karena bisnisnya, Ethan juga dikenal akan malamnya bersama wanita. Salah satunya adalah Sania, wanita yang sudah menjadi teman ranjangnya selama satu tahun tanpa status apa pun. Ya, Sania tidak jauh dari wanita bayaran lainnya. Ia akan meminta berbagai materi sebagai imbalan, dan Ethan selalu memenuhi keinginannya. Cinta? Tidak, Ethan tidak mencintainya. Ia hanya menganggap Sania teman ranjang tanpa ada tuntutan apa pun. Suatu hari, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sederhana, Riana. Wanita itu berhasil menciptakan rasa sayang dan cinta yang tumbuh bersamaan di hati seorang Ethan. Setelah yakin dengan keputusannya, Ethan meminta Sania untuk tidak mengganggunya lagi karena akan menikahi Riana. Siapa sangka, Sania begitu murka ketika mengetahui Ethan akan menikahi wanita lain, bukan dirinya. Bukan rahasia lagi jika semua wanita ingin menjadi istri dari seorang Ethan Immanuel, pria yang sangat sempurna bagi wanita mana pun termasuk Sania. Wajahnya yang sangat tampan dapat memikat hati, ditambah kekayaannya yang terus melambung tinggi, tidak ada alasan untuk tidak menginginkannya. Pernikahan Ethan dan Riana terjadi dengan semestinya. Rasa bahagia yang tak bisa ia ukir dengan kata-kata membuatnya meninggalkan Ethan yang dulu. Ethan sudah menderita sejak kecil, tidak dapat merasakan bagaimana rasanya dicintai dan diperhatikan. Setelah menikah, ia merasakan dunia baru, bahagianya dicintai dan mencintai. Ia juga tidak lagi minum-minuman apalagi bermain wanita. Bukan hanya itu, ia juga menjadi seorang pemaaf dan merubah sikapnya yang sangat kasar dan keras. Ethan benar-benar berubah. Dulu, ia tidak segan untuk melakukan hal kasar bahkan tidak manusiawi pada siapa pun yang membuatnya murka. Ia akan bertindak sesukanya tanpa ingin siapa pun melarangnya dan tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Setelah menikah, ia memiliki istri yang sangat ia cintai, ia tidak ingin melakukan sesuatu yang dapat membahayakan keselamatan istri tercintanya. Saat mengadakan acara empat bulanan, Ethan mengundang beberapa rekan bisnisnya ke rumahnya. Ia tidak mengadakan acara mewah yang dilakukan di hotel, tetapi hanya sederhana dan tamu undangan pun tidak banyak. Bukan hanya tamu undangan yang hadir, tetapi tamu tak diundang juga masuk ke dalam rumah Ethan. Siapa lagi kalau bukan Sania, wanita yang dikenal akan keberaniannya. Entah bagaimana caranya, Sania berhasil mencampurkan racun ke dalam minuman yang akan diminum Riana. Di acara itu, di tengah-tengah banyaknya tamu yang hadir, tubuh Riana ambruk ke atas lantai, mulutnya berbusa dan tubuhnya mengalami kejang-kejang yang hebat. Saat dibawa ke rumah sakit, nyawa Riana tak dapat diselamatkan. CCTV di rumahnya menemukan sosok Sania yang datang secara menyamar. Namun, mustahil Ethan tak mengenali tubuh Sania yang sering bersamanya selama satu tahun itu. Tentu, Ethan meminta orang-orangnya untuk mencari Sania. Hanya saja, keberadaan Sania benar-benar menjadi teka-teki, sulit untuk ditemukan. Wanita itu sangat cerdik menyembunyikan diri dan identitasnya. Sejak Riana meninggal, Ethan mengasingkan dirinya ke Jerman. Tidak ada yang ia lakukan selain minum minuman beralkohol di sana. Ia sering bicara sendiri, tertawa, menangis. Tak jarang juga ia akan mengamuk, menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya. Tidak ada satu pun orang yang dapat menenangkannya. Bahkan, keluarga dari orangtuanya pun tidak dapat mengendalikan keterpurukan Ethan. Ya, Ethan depresi atas meninggalnya Riana. Belum lagi Riana meninggal dengan janinnya yang ia kandung. Bayi itu, bayi yang dikandung Riana telah menjadi hadiah tak ternilai bagi Ethan bahkan sebelum kelahirannya. Bayi itu yang akan menjadi penerusnya, masa depannya di saat tua. Takdir mempermainkannya. Baru saja Ethan merasakan kebahagiaan, memiliki istri dan calon anaknya sebagai keluarganya, Tuhan sudah mengambilnya kembali dalam waktu yang singkat. Setelah sempat terpuruk hingga ke dasar jurang, Ethan akhirnya dapat merelakan kepergian Riana. Kondisinya pun berangsur-angsur membaik. Setidaknya, ia tidak selalu menghabiskan waktunya bersama minuman-minuman yang dapat membunuhnya sewaktu-waktu. Mengingat kembali perusahaan yang ia tinggalkan dan ia percayakan kepada seseorang, Ethan akhirnya mau kembali ke Indonesia hanya untuk melanjutkan kepemimpinannya di perusahaan yang ayahnya tinggalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN