Duduk di atas sofa di kamarnya, Ethan menopang kepalanya dengan kedua tangannya. Kepalanya yang terasa berdenyut hebat, memaksakan untuk sadar dari alkohol yang sedang mempengaruhinya. Ketika melihat Aliza yang ia pikir Sania, Ethan memang merasa wanita itu banyak perubahan. Namun karena pengaruh alkohol, ia tidak dapat berpikir jernih.
Sekarang, Ethan hanya bertanya-tanya dalam hatinya, siapa wanita itu? Mengapa wajahnya sangat mirip dengan Sania? Apa kedua wanita itu memiliki hubungan? Ethan tidak bisa menyalahkan orang-orangnya sepenuhnya. Wajah Aliza dan Sania sangat mirip, wajar jika banyak yang menyangka wanita itu Sania. Bahkan, dirinya pun kian tertipu dengan wajah itu, wajah yang sangat Ethan benci setelah kepergian Riana, istri tercintanya.
Di samping itu, Aliza yang tak tahu apa yang terjadi hanya bisa menangis dalam diam. Ia tak dapat tertidur, hatinya terus berteriak meminta pertolongan. Nama-nama keluarganya selalu ia ucapkan dalam hati, berharap keluarganya dapat mendengar batinnya yang melolong meminta bantuan. Tubuhnya tak memiliki tenaga, hanya isak tangis yang menghiasi kamar terkutuk itu.
Apa yang terjadi saat ini, Aliza benar-benar tidak dapat mencari jawabannya. Siapa pria itu? Apa yang pria itu lakukan? Demi apa pun, Aliza merasa apa yang terjadi padanya kini hanya sebuah mimpi. Pria itu berhasil menghancurkan masa depan Aliza walaupun tidak melanjutkannya. Tetap saja, kini Aliza sudah tidak utuh seperti beberapa jam yang lalu.
“Pak, kami dapat informasi soal perempuan itu,” kata Jefri membawa selembar kertas. Kertas itu berisi informasi tentang Aliza.
“Informasi apa?” tanya Ethan tak sabaran tanpa berniat untuk menatap Jefri yang berdiri tak jauh darinya.
Jefri segera mengangkat kertas itu, lalu membacanya dengan ragu, “Perempuan itu namanya Aliza, anak dari pimpinan MK Group.”
“Abinaya?” gumam Ethan tak percaya. Bola matanya bergerak dengan asal, berusaha mempercayai dugaannya.
“Benar, Pak.” Jefri membenarkan, lalu melanjutkan informasi yang lain, “Perempuan itu anak bungsu dari dua bersaudara. Ibunya sudah meninggal waktu Aliza masih kecil.”
“Terus, hubungannya sama Sania apa?! Kenapa mereka mirip banget?” tanya Ethan tak tenang.
Ethan memang tak tahu orangtua Sania. Setahunya, Sania dibesarkan dari keluarga kurang mampu, bukan keluarga berstatus tinggi seperti Abinaya yang sangat terkenal. Lalu, siapa Aliza? Apa Sania saudaranya? Sehingga wajahnya sangat mirip, benar-benar mirip.
“Hal itu masih kami selidiki, Pak.” Jefri menunduk, tak berani menatap Ethan yang sedang menunggu jawaban.
Merasa tak sabar, Ethan bangkit dari tempat duduknya, keluar dari kamarnya, meninggalkan Jefri yang masih mematung. Langkahnya yang lebar terus melangkah menuju kamar yang ditempati Aliza. Saat itu, Aliza baru saja terlelap beberapa menit. Namun ketika mendengar suara pintu terbuka, matanya reflek ikut terbuka. Mata sayunya menangkap sosok pria tadi, berjalan mendekati ranjang.
Seketika itu, Aliza kembali ketakutan. Tubuhnya yang lemah dipaksa untuk bangkit, sedikit mundur walaupun sebenarnya percuma, Ethan tetap mendekatinya. Wajah keduanya sangat bertolak belakang. Ethan terlihat murka, sedangkan Aliza sangat ketakutan. Keadaan Aliza masih sama seperti terakhir kali Ethan meninggalkannya tadi. Tubuhnya yang tak memakai kain sehelai pun, hanya tertutupi selimut tebal.
Tanpa peringatan, Ethan membuka sumpalan dari mulut Aliza dengan kasar. Aliza meringis, “Ahhh.”
“Jawab jujur, apa hubungan kamu sama Sania?” tanya Ethan cepat, terdengar tak sabar dengan jawaban Aliza.
Aliza diam, menatap pria yang kini tepat di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, pikirannya terus bertanya-tanya, apa yang dimaksud pria itu? Dengan ragu Aliza bertanya, “Si—siapa?”
“Sania. Kalian saudara?” terang Ethan tak sedikit pun melepaskan tatapannya dari netra Aliza.
“Sa—saya gak kenal.” Aliza menggeleng pelan, lalu berteriak kesal, “Siapa yang kamu maksud? Kenapa saya dibawa ke tempat ini? Apa salah saya sampai-sampai kamu hancurin hidup saya?!”
“Jawab aja! Apa hubungan kamu sama Sania! Baru saya kasih tahu, kenapa kamu bisa ada di sini!” bentak Ethan tak terima atas sikap Aliza yang berani berbicara dengan nada tinggi.
“Saya gak kenal Sania. Sumpah,” lirih Aliza sambil terus menggelengkan kepalanya.
Bukan satu atau dua kali Ethan berhadapan dengan seorang pembohong. Saat ini, ia tahu Aliza tidak sedang berbohong. Aliza tidak mengenal Sania, baiklah, akan tetapi mustahil Ethan akan melepaskan Aliza. Ia harus tahu dulu, apa hubungan antara Aliza dan Sania. Tidak ingin mempertanyakan apa pun lagi untuk saat ini, Ethan memilih untuk pergi.
“Hey, lepasin dulu!” teriak Aliza saat Ethan keluar dari kamar tersebut. Samar Aliza kembali berteriak, “Seenggaknya kasih saya minum! Uhuk ... Uhuk .... ”
Suara kering Aliza masih terdengar walau samar. Tanpa sadar, kaki Ethan melangkah menuju lantai bawah. Ia meminta Jefri membangunkan asisten rumah untuk memberikan minum kepada Aliza. Setelah memerintahkan Jefri, Ethan berbalik, kembali menaiki tangga untuk ke kamarnya.
Namun, ia langsung mengutuk dirinya sendiri saat menyadari perintah yang tak pernah ia lakukan. Memberi minum untuk seorang sandera? Yang benar saja! Dari mana Ethan memiliki hati malaikat seperti itu? Siapa Aliza yang berhasil mendapat sedikit perhatian dari seorang Ethan Immanuel? Seketika itu, ia menyesal telah memerintahkan Jefri untuk meminta asisten rumah memberi Aliza minum.
Pagi hari, di rumah kediaman Abinaya Marahdika.
Abinaya dan Andra sedang menikmati sarapannya bersama di meja makan. Tiba-tiba saja ponsel Abinaya berdering. Terpampang si pemanggil adalah bawahannya sendiri, Syarif, ayah Irina. Abinaya merasa khawatir karena sejak ponselnya diaktifkan, Syarif terus menghubunginya. Akhirnya, ia menjawab panggilan itu seraya menjauhi meja makan.
Syarif menceritakan hilangnya Aliza di kelab malam saat Irina membawanya ke sana. Mendengar itu, Abinaya menyentuh dadanya yang terasa sesak secara mendadak. Hal itu tak luput dari pandangan Andra. Setelah mendengar kabar itu, Abinaya dan Andra segera mendatangi rumah Irina guna mengetahui kabar itu secara jelas.
Andra sudah meminta ayahnya untuk tetap tinggal, tetapi Abinaya tak mengindahkannya. Padahal, Abinaya merasa kurang sehat ketika mendengar kabar itu. Ia memiliki kesehatan jantung yang cukup buruk, tetapi tak mungkin ia mengabaikan kabar itu. Putrinya yang sangat ia cintai menghilang? Sungguh, Abinaya tidak baik-baik saja selama di perjalanan menuju rumah Irina.
Jika Abinaya begitu terpukul, maka Andra lebih terpukul lagi. Ia sangat mencintai adiknya, Aliza. Bahkan, ia telah menutup kebebasan bagi adiknya itu semata-mata agar sang adik tetap aman dari pergaulan bebas maupun dari para lelaki b******n. Ia sendiri yang sudah memberikan izin Aliza untuk menginap di rumah Irina, tentu ia merasa sangat terpukul dan bersalah.
“Rina, jelasin kejadiannya dengan rinci. Gimana ceritanya Liza bisa hilang?” cecar Abinaya saat baru saja datang. Bahkan, ia masih berdiri tanpa sempat disambut oleh pemilik rumah.
“Pak Abi, tolong, tenang dulu. Kita dengerin dulu ceritanya kayak gimana,” kata Desi lemah lembut, mencoba untuk membuat pria itu sedikit tenang.
“Anak saya yang hilang, bukan anak kalian. Jelas aja kalian tetap tenang. Seenggaknya, pikirin gimana perasaan saya sebagai ayah!” bentak Abinaya tak bisa mengendalikan emosinya.
“Saya paham, Pak.” Syarif mengangguk sopan. Bukan karena takut, tetapi ia mengerti apa yang dikhawatirkan Abinaya saat ini.
“Rina, gimana ceritanya semalam?” tanya Desi pada Irina dengan lembut.
Irina terdiam sesaat, matanya terus menyapu wajah para orang tua dengan rasa takut. Akhirnya, ia menjawab dengan ragu, “A—aku bawa Liza ke kelab—”
“Apa?!” Andra tak percaya. Adiknya itu sangat pemalu dan penurut. Lelucon apa yang sedang dibicarakan Irina?
“Lanjutin!” Abinaya tak ingin membuang waktunya di sana.
“Aku udah minta Liza buat nunggu aku sebentar. Ta—tapi pas aku balik, Liza udah gak ada,” lirih Irina lalu menunduk dalam, merasa malu juga bersalah dengan apa yang ia lakukan.
“Siapa yang punya rencana buat pergi ke kelab? Liza gak mungkin bohong. Dia bilang mau ngerjain tugas di sini,” cecar Andra tak percaya jika adiknya yang menyimpang.
“Aku ... aku yang minta Liza bohong. Kami gak ngerjain tugas, tapi aku yang maksa Liza buat temenin aku ke kelab.” Irina tetap menunduk. Demi apa pun, ia tak berani mengangkat wajahnya untuk bertatap muka dengan Abinaya dan Andra.
“Dra, kita harus cepat lapor polisi dan cari tahu hilangnya Liza di kelab.” Abinaya memberi keputusan dengan cepat, tak ingin lebih lama lagi berada di sana.
Andra mengangguk paham. Tidak ada gunanya untuk terus bertanya pada Irina atau menyalahkannya, yang harus dilakukannya sekarang adalah melapor kepada pihak berwajib.