Kemarahan Aliza

1449 Kata
Ethan menyantap sarapannya tanpa minat. Matanya menerawang jauh, pikirannya berkecamuk tak beraturan yang entah apa penyebabnya. Aliza jelas tidak mengenal Sania, tetapi untuk melepaskannya, rasanya bukan keputusan yang tepat untuk Ethan ambil. Namun jika Aliza tetap ada di sana, atas dasar apa? Apa alasannya? Ethan tak sabar ingin mendengar informasi lainnya perihal Aliza dan Sania agar dapat dengan cepat mengambil keputusan. “Pak.” Suara Jefri membuyarkan lamunan Ethan. Ethan meliriknya dengan kesal, Jefri langsung menundukkan kepalanya sambil berkata, “Kami dapat informasi tentang Abinaya.” “Kalo Abinaya ada hubungannya sama Sania, jelasin. Kalo enggak, jangan buang-buang waktu saya,” balas Ethan tak ingin mendengar omong kosong. “Saya gak tahu informasi ini penting atau enggak, tapi seenggaknya, Pak Ethan harus tahu informasi yang enggak Bapak ketahui selama ini,” jawab Jefri ragu. Ia masih berdiri, enggan untuk ikut duduk bersama tuannya. Ethan mengangguk kecil tandanya memberi izin Jefri untuk menyampaikan informasi. Jefri berkata, “Abinaya itu yang udah bunuh orangtua Pak Ethan.” “Apa?” Ethan langsung terperanjat, secepat kilat melirik ke arah Jefri dengan tatapan tak percaya. “Menurut informasi, Abinaya dan orangtua Pak Ethan dulunya kerabat dekat, bahkan bisa dibilang sahabat. Waktu orangtua Pak Ethan kecelakaan, kabarnya waktu itu hubungan orangtua Bapak dan Abinaya lagi gak baik. Bukan gak mungkin Abinaya yang udah rencanain kecelakaan orangtua Pak Ethan. Pak Thomas juga pernah ngasih saran biar kita gak menjalin kekerabatan sama Abinaya, kan?” ungkap Jefri panjang lebar. “Uncle Thomas emang pernah bilang gitu, tapi dia gak ngasih tahu alasannya kenapa. Kalo bener Abinaya pelakunya, kenapa Uncle diem aja? Kenapa gak ngasih tahu saya?” Ethan mengoceh. “Sebaiknya, Pak Ethan langsung tanyain ke Pak Thomas.” Jefri memberi saran. Tanpa menunggu lagi, Ethan segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Jarinya tampak gelisah, menyentuh layar ponsel dengan gerakan cepat. Setelah telepon hampir terputus karena sang paman tidak menjawabnya, akhirnya seseorang menjawab panggilan itu. Ethan mencecari pertanyaan perihal hubungan orangtuanya dan Abinaya. Tentu, Thomas yang tahu masa lalu adiknya, ayah Ethan, menceritakan apa yang ia ketahui. Sedangkan Ethan, mendengarkan dengan saksama apa yang diucapkan pamannya. Untuk yang pertama kalinya, Ethan mendesak penjelasan dari pamannya. Setahunya, orangtuanya meninggal akibat kecelakaan, bukan karena terbunuh. Saat kecelakaan itu terjadi, Ethan sedang berada di Jerman, di rumah kakek neneknya. Sejak kecil, ia tak pernah bertanya perihal kematian orangtuanya. Namun, informasi yang disampaikan Jefri benar-benar membuat pikiran Ethan sangat kacau. Bagaimana ia bisa tenang ketika mengetahui orangtuanya dibunuh? Apalagi saat ini, pelakunya masih berkeliaran dengan bebas tanpa ada hukuman apa pun. “Ada apa, Eth? Kenapa tiba-tiba nanyain soal itu?” Thomas merasa bingung. “Aku cuma butuh jawaban. Apa iya Abinaya yang bunuh orangtua aku?” Bukannya menjawab, Ethan malah balik bertanya. Bahkan tanpa sungkan, ia menyebut Abinaya sebagai pelaku pembunuhan. Di sebrang sana, Thomas membuang napas dengan kasar sebelum akhirnya ia menjawab, “Uncle gak bisa nuduh Abinaya sepenuhnya. Waktu orangtua kamu kecelakaan, orangtua kamu lagi ada masalah sama Abinaya. Kecelakaan itu dirasa janggal, seolah udah direncanakan. Banyak yang berasumsi kalo Abinaya ada di balik kecelakaan itu, tapi sayangnya gak ada bukti kuat buat lanjutin kasusnya. Bahkan sampai sekarang, kasus itu masih belum ada titik terang, siapa yang udah bunuh orangtua kamu.” “Aku yang bakal lanjutin penyelidikan. Aku yang bakal nyeret orang itu ke penjara!” Ethan bersumpah dengan sungguh-sungguh. Hatinya yang sempat melembut, kini kembali seperti dulu, hati iblis yang tak akan mungkin mengampuni siapa pun yang telah membuatnya murka. “Jangan, Eth. Biar polisi yang selidiki,” cegah Thomas terdengar khawatir. “Udah berapa tahun kasus ini? Dan selama itu, polisi masih aja belum nemuin pelakunya? Kita lihat aja, apa yang bisa aku lakuin biar pembunuh itu mati mengenaskan!” Ethan tak ingin mendengar larangan bahkan dari pamannya yang sudah ia anggap ayahnya. Setelah menutup telepon, Ethan berdiri lalu menggeser kursi yang ia duduki dengan kasar. Tak ingin mengatakan apa pun pada Jefri yang masih berdiri di dekatnya, Ethan meninggalkan ruangan itu. Saat menaiki tangga, Ethan berpapasan dengan Nenden, asisten rumahnya. Ethan bersikap acuh seperti biasanya. Namun entah mengapa, bibirnya bersuara hingga menghentikan langkah Nenden. “Gimana kondisi dia?” tanyanya. 'Dia' yang ia maksud adalah Aliza. “Dia gak mau makan dan minum, Pak. Dia juga gak henti nangis dan minta tolong buat dilepasin,” jawab Nenden sambil menundukkan kepalanya dengan sopan. Tanpa membalas apa pun, Ethan melanjutkan langkahnya. Bukannya masuk ke kamarnya, ia malah berjalan menuju kamar yang ditempati Aliza. Saat membuka pintu kamar itu, mata Ethan langsung menangkap tubuh Aliza yang terbaring lemah. Mulutnya sudah tak terhalangi kain sehingga wanita itu dapat melakukan aktivitas mulutnya seperti makan, minum dan bicara. Namun, borgol di tangannya masih setia membatasi kegiatan Aliza. Siapa pun yang melihat kondisinya, pastilah akan merasa kasihan. Namun, tidak dengan Ethan. Melihat wajah Aliza, wajah itu, wajah yang sangat Ethan benci setelah meninggalnya wanita yang sangat ia cintai, rasanya Ethan ingin melenyapkannya. Namun, ia terus menahan dirinya agar tak berbuat kasar pada Aliza. Walau bagaimanapun, wanita itu bukanlah wanita yang ia cari, Sania. “Ja—jangan ... jangan ke sini.” Tangan Aliza membentang ke depan, meminta Ethan untuk tidak terus mendekatinya. Mustahil Ethan mau mendengar permintaannya, ia terus mendekati Aliza. Dari kejauhan saja, Ethan sudah menelisik wajah dan tubuh Aliza hingga kini ia berdiri sangat dekat dengan Aliza. Matanya masih menatap dalam, sedangkan Aliza menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai bentuk permohonannya agar Ethan tidak menyakitinya. Entah bagaimana perasaan Ethan. Ada rasa benci juga iba yang entah apa sebabnya. Jika tadi malam ia tidak bisa membedakan Aliza dan Sania karena alkohol, kali ini ia bisa melihat perbedaannya dibantu otaknya yang sadar dan pencahayaan matahari dari luar. Wajah Aliza memang sangat mirip dengan Sania, tetapi kulit tubuh Aliza sangat putih, sedikit berbeda dengan Sania yang lebih gelap. Tunggu! Wajah kedua wanita itu mungkin sama, akan tetapi Ethan dapat membedakan mereka dari mimik wajahnya. Mimik Sania terlihat sangar, sinis, sombong, pemberani dan tak mungkin menangis. Aliza? Wajahnya itu terlihat seperti anak kecil yang manja menandakan wanita itu seperti 'wanita rumahan'. Kemurnian di wajahnya tak dapat terelakkan, persis seperti wanita yang baru pertama kali melihat dunia. “Makan. Jangan nunggu mati kelaparan!” titah Ethan tegas, terdengar seperti sedang memarahi Aliza tanpa sebab. Tidak, Ethan tidak sedang marah. Hanya saja, nadanya bicara memang sangat tegas dan lantang. “Apa salah saya? Ngapain kamu culik saya? Kamu butuh uang? Telepon Papa saya, dia pasti kasih uang yang kamu mau! Tapi kenapa kamu juga sentuh saya?” jerit Aliza menghentikan gerakan Ethan yang hendak pergi. Ethan berbalik. Kali ini wajahnya semakin terlihat tidak bersahabat. Hey, ada apa dengan manusia ini? Kenapa perubahannya begitu singkat? Apa yang membuat makhluk itu kesal? Monolog Aliza dalam hati. Ya, Ethan kesal, kesal karena Aliza berani berbicara dengan notasi tinggi dan sumpah demi apa pun, Ethan tidak suka. Belum lagi, Aliza menyinggung soal uang? Sungguh lelucon yang tak masuk akal. Kekayaan Ethan jauh di atas Mahardika. Untuk apa menginginkan uang Mahardika? Yang benar saja! Suara Aliza sangat pemberani, tidak seperti wajahnya yang sendu seolah meminta belas kasih dari orang-orang. “Dengar, kamu bakal tetap di sini sebagai sandera saya sampai perempuan yang saya cari udah ketemu,” kata Ethan berdiri di tempatnya, tidak maju ataupun mundur. “Siapa yang kamu cari? Apa hubungannya sama saya? Kamu nyari perempuan namanya Sania? Kamu pikir saya Sania? Kamu buta? Saya bukan Sania!” teriak Aliza frustasi. Entah mendapat keberanian dari mana, Aliza menjadi berani menyerukan apa yang ada dipikirannya. Aliza yang lemah lembut, penurut, dan tak berani membantah kini menjadi orang lain yang dengan beraninya memaki pria yang sudah Aliza benci itu. Tubuh Aliza sudah tak utuh, begitu pun dengan pikirannya yang berantakan. Takdirnya hanya bisa ia katai 'masa bodoh', Aliza tak takut jika pria itu akan menyakitinya atau bahkan membunuhnya sekalipun. “Tutup mulut kamu!” Ethan bersungut-sungut, melotot kesal ke arah Aliza. Ethan ingin sekali menyapa tubuh Aliza, mencekik lehernya hingga wanita itu mati misalnya. Tapi tidak, dia bukan Sania yang ingin Ethan lenyapkan. Saat Ethan kembali berbalik untuk keluar dari kamar tersebut, Aliza rasa-rasanya sudah kehilangan kesabarannya. Satu tangannya yang tidak diborgol dan dapat bergerak bebas, meraih gelas berisi air tawar di atas nakas. Dengan amarahnya yang menggebu-gebu, Aliza melemparkan gelas itu ke arah Ethan sambil berteriak, “b******n!” Prank!!! Suara gelas terjatuh setelah berhasil menyentuh kepala Ethan. Untungnya, Aliza berteriak sebelum gelas itu sampai ke arahnya. Ethan sudah dapat memprediksi apa yang dilakukan Aliza, tetapi sialnya ia tak sempat menghindari gelas itu dengan sempurna. Akibatnya, keningnya terkena gelas itu saat kepalanya memutar guna mengetahui apa yang dilakukan Aliza. Ethan menyentuh keningnya yang terasa berdenyut, lalu melihat darah segar di telapak tangannya. Matanya yang persis seperti bola api dari neraka, langsung menghunus netra Aliza. Keduanya memancarkan aura kematian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN