Darah Dibayar Darah

1087 Kata
“Sialan!” Ethan tak bisa menahan kekesalannya lagi. Ia kembali mendekati Aliza, dengan cepat meraih rambutnya hingga kepala Aliza tertarik ke belakang. “Beraninya kamu?!” raungnya tak terkendali. “Saya cuma mau pulang! Lepasin saya!” balas Aliza meronta, satu tangannya mencoba untuk melepaskan cengkraman tangan Ethan yang sedang menjambak rambutnya. “Kamu harus bayar yang barusan! Bayar darah saya sama darah kamu!” Keputusan Ethan sudah final. Aliza telah melukainya hingga mengeluarkan darah, maka Aliza pun akan membayarnya dengan luka dan darahnya. Ya, Ethan memperkosanya. Amarahnya yang tak terkendali, membuatnya seperti orang gila. Hal itu karena Ethan mengingat Abinaya sebagai pelaku pembunuhan orangtuanya. Abinaya telah merenggut kebahagiaannya sejak kecil. Sekarang, jangan salahkan Ethan yang juga merenggut kebahagiaan Aliza yang merupakan putri dari Abinaya. Begitulah yang ada di pikiran Ethan sehingga ia tak peduli dengan Aliza yang merasa tersiksa. Jeritan dan tangis Aliza tidak mempengaruhi apa pun, Ethan tetap melampiaskan kekesalannya. Namun, entah mengapa jeritan Aliza yang memintanya untuk berhenti malah membuat seorang Ethan semakin bersemangat. Biasanya, para wanita yang berbondong-bondong ingin ditiduri seorang Ethan dengan suka rela bahkan tanpa bayaran sekalipun. Sekarang, ia sedang bermain bersama wanita yang secara terang-terangan menolak sentuhannya. Untuk yang pertama kalinya Ethan menyentuh wanita yang tak ingin disentuhnya. Namun jika ditanya sudah berapa kali Ethan menyentuh wanita, maka jawabannya sudah sangat sering. Pria itu sering meminta Jefri untuk mencarikan wanita untuk dijadikan mainannya. Imbalan yang tidak sedikit membuat Jefri dengan mudah mendapatkan wanita yang dapat memuaskan gairah tuannya. Bukan hanya satu kali, tetapi Ethan melakukan hal tak terpujinya berulang kali. Naasnya, tidak ada yang berani untuk berbuat apa pun meski mereka ingin. Rumah itu hanya dihuni orang-orang Ethan dan Ethan sendiri sebagai pemiliknya. Meskipun jeritan Aliza sangat menyayat hati siapa pun yang mendengarnya, mereka tak dapat menghentikan Ethan, mustahil mereka berani. Di tempat lain Abinaya dan Andra merasa sangat khawatir. Mereka sudah meminta pihak kepolisian untuk mencari keberadaan Aliza, tetapi hingga sore, mereka belum mendapatkan kabar baik. Demi apa pun, mereka sangat frustasi hingga tak ingin melakukan apa pun. Mereka tidak masuk kantor secara bersamaan, yang mereka lakukan hanya menghubungi beberapa orang untuk ikut mencari, lalu merenungi hilangnya Aliza. Syarif dan Desi tak bosan meminta maaf. Karena ulah putrinya, Irina, Aliza hilang. Mereka memutuskan untuk tetap di rumah Mahardika. Selain Syarif ingin menemani keterpurukan Abinaya selaku atasannya, ia pun ingin mendapatkan kabar tentang Aliza kalau-kalau ada kabar yang disampaikan polisi ataupun orang-orang Abinaya. Esok paginya Aliza terbangun dari tidurnya yang entah itu tidur atau bukan. Perasaan dan hatinya begitu tak karuan. Ia berharap apa yang dialaminya hanya mimpi dan sungguh, Aliza ingin mimpi buruknya cepat berlalu. Sayangnya, nasibnya kini bukanlah mimpi. Aliza termenung, menangisi takdirnya sendiri. Bukan hanya luka luar yang dilakukan Ethan, tetapi luka dalam hatinya juga. Bahkan, rasa-rasanya hidupnya kini sudah tak berarti. Jika bisa, Aliza ingin mati saja di tempat terkutuk itu. Kesalahan apa yang Aliza lakukan hingga pria itu merusaknya? Ia hanya meminta untuk dilepaskan, ia hanya ingin pulang. Apa yang salah dengan itu? Sania? Siapa dia? Wanita itu yang telah menyeretnya ke dalam kubangan neraka. Aliza tak henti menangis, baik itu sebelum atau sesudah tertidur beberapa saat. Saat Ethan menyerbunya berulang kali, pria itu melepaskan borgol di tangan Aliza. Namun, tenaganya tetap tak seimbang dengan pria yang tak berperasaan dan tak punya sisi kemanusiaan itu. Aliza ingin melarikan diri, tetapi mustahil ia lakukan karena jendela yang ada di kamarnya itu tidak memiliki balkon. Artinya, Aliza akan mati jika meloncat dari jendela yang bertempat di lantai tiga rumah itu atau setidaknya, ia akan mengalami cacat di beberapa bagian tubuhnya. Dalam posisi tubuhnya yang dapat bergerak bebas, Aliza sempat mencari tasnya di kamar itu, tetapi tidak pernah menemukannya. Jelas, ia tidak bisa menghubungi siapa pun menggunakan ponselnya yang tersimpan di dalam tas. Hanya mengandalkan hatinya, ia berharap keluarganya mendengar jeritan hatinya yang meminta pertolongan. Pintu terdengar terbuka. Aliza tak ingin mengindahkannya, tetap menangis memunggungi orang yang masuk ke dalam kamar itu. Bukan Ethan yang datang, tetapi Nenden. Untuk apalagi jika bukan mengantarkan makanan untuk Aliza. Nenden melihat punggung Aliza yang tak tertutup kain. Kulit putihnya bercampur memar akibat kekejaman Ethan. Hati siapa yang tak tersentuh? Tentu, Nenden sangat prihatin dengan kondisi Aliza. Namun, lagi-lagi ia tak dapat berbuat apa pun. Ia pun tak tahu mengapa tuannya itu mengurung Aliza. Siapa Aliza, siapa orangtuanya, apa masalahnya sehingga Aliza ada di sini, Nenden tak tahu. Ia tahu masalah tuannya bersama Sania, akan tetapi ia juga tahu bahwa Aliza bukanlah Sania. Saat ini, ia hanya menjalankan pekerjaannya, yaitu merawat Aliza. “Mbak, makan, ya?” Nenden menyimpan nampan di atas nakas. Suara Nenden sangat lembut, menandakan ia sangat prihatin. Namun, Aliza yang menganggap Nenden sama bersalahnya seperti Ethan karena membiarkannya terkurung di sana, memaki Nenden dengan amarahnya, “Apa kamu gak punya hati? Apa kamu buta dan tuli? Apa kamu gak tahu apa yang udah b******n itu lakuin ke saya? Apa kamu punya anak perempuan? Gimana kalo nasibnya sama kayak saya?” “Maaf. Maafin saya, Mbak.” Nenden berkata lirih, menunduk dalam. Ia merasa bersalah tetapi juga tak mungkin membela Aliza dengan cara melepaskannya. “Saya bakal mati di sini,” gumam Aliza jengah. “Pak Ethan sebenarnya orang baik. Dia cuma gak suka kalo Mbak ngebentak.” Nenden berusaha untuk membuat Aliza tenang. Ya, ia tahu kekesalan tuannya kepada Aliza, yaitu karena Aliza tidak sopan kepada makhluk agung itu. “Bukan ngebentak, saya bahkan bisa bunuh dia! Kamu denger? Saya mau bunuh dia!” teriak Aliza murka. Suara langkah kaki yang terdengar santai masuk ke dalam kamar itu yang memang tidak ditutup. Nenden melirik ke arah orang itu, Ethan. Namun, Ethan tidak menatapnya melainkan menatap Aliza. Pakaiannya yang sangat rapi khas perkantoran, jas berwarna biru tua yang membentuk sempurna tubuh kokoh Ethan seharusnya menjadi pemandangan indah bagi Aliza. Bagaimana tidak? Ketampanan seorang Ethan Immanuel terpancar dari segala sisi. Wibawanya seperti seorang kaisar, tak dapat diremehkan. Tidak, Aliza tidak terpana dengan tubuh, wajah, atau apa pun yang bersangkutan dengan Ethan yang sangat sempurna. Kakaknya, Andra, tidak jauh berbeda dengan Ethan. Hanya saja, wibawa seorang pemimpin yang tegas tidak ada di dalam diri Andra. Sosok Ethan telah menjadi sesuatu yang sangat dibenci Aliza. Pria yang tak berperasaan itu telah menjadikan Aliza seperti orang lain saat ini. “Pak,” sapa Nenden mengangguk hormat. Ethan tak menjawab apa pun dari mulutnya, hanya tangannya yang memberikan isyarat agar Nenden meninggalkan ruangan itu. Segera, Nenden berlalu dari tempat itu. Sedangkan Ethan, masih berdiri di tempatnya, memandangi Aliza yang tak sudi menatapnya. Satu tangannya bersembunyi di dalam saku, membuatnya semakin terlihat sangat tampan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN