Perjanjian Sebelum Pulang

1315 Kata
Perlahan-lahan, Ethan melangkahkan kakinya ke arah ranjang. Sedangkan saat itu, Aliza tetap diam, tubuhnya tidak bergerak sedikit pun untuk menghindari sentuhan Ethan. Aliza sudah tak peduli dengan apa yang akan Ethan lakukan. Percuma saja menolak, berteriak, menangis, atau apa pun itu. Aliza hanya bisa pasrah dengan hidupnya. Pandangannya hanya tertuju ke arah jendela, menatap angin tanpa minat. Tanpa mengatakan apa pun, Ethan menggendong tubuh Aliza ke dalam dekapannya. Jelas, Aliza terkejut karena pergerakan Ethan yang sangat cepat. “Mau ngapain?!” pekik Aliza sedikit meronta ingin diturunkan dari gendongan Ethan. Ethan tak menjawab, langkahnya terus tertuju ke arah kamar mandi yang juga ada di dalam kamar itu. Setelah berhasil masuk ke dalam, Ethan menurunkan tubuh Aliza di bathtub. Tubuh Aliza yang hanya terhalangi sebuah selimut, segera disingkirkan oleh Ethan sehingga kini tidak ada apa pun yang menghalangi tubuhnya. Aliza menutup area intimnya dengan kedua tangannya, kakinya sengaja dirapatkan agar tidak memperlihatkan aset yang sudah tak berharga itu. Aliza ingin lari, tentu saja! Namun, tubuhnya yang terasa remuk itu tak mungkin mendukungnya untuk berlari. Jadi, ia hanya bisa pasrah dan mengetahui apa yang diinginkan pria itu. “Kamu bisu?” Aliza kesal karena Ethan tak juga mengatakan apa pun. Pria itu menyalakan air, membasahi tubuh Aliza dari rambut hingga seluruh tubuhnya. “Saya udah lihat semuanya, gak perlu ditutupin.” Ethan merasa geram sendiri melihat Aliza begitu menggemaskan, tampak malu-malu yang malah membuat Ethan ingin melahapnya. “Saya bisa mandi sendiri.” Aliza ingin menolak sentuhan Ethan yang sedang mengusap punggungnya dengan telapak tangannya yang terdapat sabun cair. “Kamu gak denger?” tegur Aliza tetapi dengan nada rendah, tak ingin pria itu melakukan hal kasar karena kesal atas makiannya. “Makanya jangan ngelawan, jadi saya gak kasar sama kamu,” balas Ethan santai, tangannya terus menyentuh kulit Aliza hingga berbusa, tampak seperti sedang memandikan anak kecil. “Terus, yang kamu lakuin ke saya itu apa? Emangnya kamu pernah gak kasar?” keluh Aliza yang sebenarnya ingin mencaci, tetapi lagi-lagi ia harus menyabarkan dirinya. “Kamu mau pulang?” tanya Ethan basa-basi. Aliza ingin menangis mendengar pertanyaan konyol itu. Tentu saja Aliza ingin pulang! Untuk apa pria itu masih mempertanyakannya? Adanya Aliza di sana bukanlah keinginannya! Pria itu yang tak ingin mendengar penjelasan hingga hilangnya kesucian yang selama ini Aliza jaga. Pria itu pula yang tak ingin melepaskannya dan malah menjadikannya pemuas nafsu bejatnya! “Kamu pulang abis ini,” lanjut Ethan santai. Baru setelah itu, Aliza mau menatapnya dengan terheran-heran. Pria itu mau melepaskannya? Aliza tidak dapat menyembunyikan kesenangannya, matanya berbinar memancarkan bahagia. Ethan tidak terpengaruh dengan tatapan Aliza, ia tetap acuh seolah apa yang ia ucapkan hanya bualan semata. Wajahnya yang dingin, tidak memperlihatkan reaksi apa pun ketika melihat tubuh Aliza yang terekspos. Bahkan jika orang-orang melihatnya seperti itu akan bertanya-tanya, apakah pria itu normal? “Gak perlu ngasih harapan palsu.” Aliza cemberut, tak yakin dengan ucapan Ethan karena sebenarnya wajahnya pun memang meragukan. “Kamu gak percaya?” Aktivitas Ethan terhenti, matanya menyapu seluruh wajah Aliza. Aliza juga menatapnya. Antara takut juga ingin memaki terjadi di saat yang sama. Tidak, Aliza belum siap mendapat kekerasan lagi. Jadi, ia berkata lirih tetapi kalimatnya tentu menyinggung, “Kalo kamu punya hati manusia, kamu pasti lepasin saya sejak kemarin, bukannya—” Aliza menggantung ucapannya, tak berani melanjutkannya ketika melihat wajah Ethan yang semakin keruh bagai limbah. “Apa?” desisnya takut-takut. “Kamu pemalu dan pengecut, gak perlu sok-sokan berani. Saya yakin, orangtua kamu pasti manjain kamu, kan? Jadi, saya bakal lepasin kamu.” Ethan balas menyinggung keberanian Aliza yang dibuat-buat. Sudah jelas wanita itu takut padanya, tetapi bersikap seperti ia seorang pemberani. “Siapa Sania?” tanya Aliza ingin tahu. Nama itu yang sudah menyeretnya ke dalam masalah ini, tentu ia ingin tahu masalah apa yang terjadi antara Sania dengan pria yang sampai sekarang belum diketahui namanya. Mendengar pertanyaan itu, Ethan menghentikan kegiatannya. Bola matanya bergerak asal, pikirannya melayang tinggi. Pertanyaan itu pernah diserukan istri tercintanya, Riana. Tepatnya setelah menikah, Sania pernah muncul di hadapan Riana, bersikap seolah dirinya lebih penting bagi Ethan. Riana cemburu. Berhari-hari ia tak ingin bicara pada Ethan. Kalimat yang pertama kali terucap setelah berhari-hari menjadi orang asing adalah 'siapa Sania?'. Saat itu, Ethan tidak bisa berkata jujur. Ia tak ingin Riana kecewa karena ternyata suaminya adalah seseorang yang sering berganti pasangan di setiap malamnya. Oleh karena itu, Ethan hanya bisa menjawab bahwa Sania adalah mantan kekasihnya. Namun karena Ethan tak bosan untuk membuktikan cintanya pada Riana, akhirnya sang istri mau memaafkannya. Sekarang, seorang wanita menyerukan pertanyaan yang sama, akan tetapi dalam keadaan yang berbeda. Jika ia bisa berbohong pada istrinya sendiri perihal Sania, maka saat ini ia sama sekali tak ingin menjawab siapa Sania di hidupnya kepada Aliza. “Bukan urusan kamu,” tandas Ethan tak ingin membicarakan tentang wanita itu. “Saya ada di sini atas nama dia. Gak salah kalo saya mau tahu siapa dia.” Aliza menatapnya lekat, matanya menyiratkan keingintahuan yang dalam. “Nggak,” jawab Ethan sangat tegas. Sebelum Aliza kembali bertanya, Ethan sudah melanjutkan ucapannya, “Saya ulangi, apa kamu mau pulang? Kalo enggak, kamu bisa tetap di sini—” “Saya mau pulang,” sela Aliza sebelum Ethan selesai bicara. Pria itu tidak peka, bukan? Jadi, Aliza harus menegaskan bahwa dirinya ingin pulang, sangat ingin. “Tentu.” Ethan mengangguk satu kali. “Tapi ada syaratnya,” sambungnya ketika baru saja Aliza tersenyum senang. “Saya gak bakal ngadu ke siapapun tentang apa yang kamu lakuin,” kata Aliza langsung pada intinya. Tidak, Aliza hanya membual. Ia hanya sedang berakting, berharap Ethan mempercayai ucapannya. Jika sudah pulang ke rumahnya, tentu Aliza akan mengadu pada keluarganya. Bahkan, hati kecilnya sudah bersiap-siap untuk tersenyum saat pria itu diseret ke penjara suatu hari nanti, yang perlu ia lakukan saat ini hanyalah bicara omong kosong sebisanya agar Ethan percaya. “Bukan itu.” Ethan menggelengkan kepalanya membuat kening Aliza mengkerut tak mengerti. “Terus?” Aliza meminta penjelasan. Apa yang diinginkan pria itu? “Saya mau kamu layani saya tanpa penolakan,” bisik Ethan tepat di telinga Aliza, membuat bulu kuduknya meremang seketika. Aliza melemparkan tatapan protes. Ujung bibirnya sudah menampung beberapa makian yang ingin ia serukan. Namun, Aliza harus tetap tenang. “Cuma sekali aja. Setuju?” tawar Ethan ingin mendapat jawaban. Aliza terdiam, otaknya berputar-putar menimang keputusannya. Sedangkan Ethan, asyik dengan aktivitasnya mengusap punggung Aliza hingga terasa sangat licin akibat sabun yang terus ia tuangkan. Aliza tak sedikit pun melepaskan kedua tangan yang menghalangi bukit kembarnya. Namun karena area bawahnya tergenangi air dan busa, ia tidak mengkhawatirkan itu. “Setelah itu saya pulang?” Aliza ingin memastikan. “Ya.” Ethan mengangguk singkat. “Janji?” Aliza memutar tubuhnya menghadap Ethan. Mau tak mau Ethan melepaskan tangannya dari punggung Aliza. Kini keduanya saling menatap dari jarak yang sangat dekat. “Saya berjanji.” Sekali lagi, Ethan mengangguk dengan mantap. Melihat wajah Ethan yang sungguh-sungguh, sepertinya pria itu tidak akan berbohong. Pada akhirnya, Aliza mengangguk pelan tandanya setuju dengan syarat yang diberikan pria gila itu. Pria itu sudah membuat Aliza kehilangan akal sehatnya! Aliza tak ingin membuang waktunya di sana lebih lama lagi. Tubuhnya sudah berapa kali menjadi santapan pria itu, tidak ada salahnya melakukan hal itu lagi. Hanya satu kali ini saja untuk yang terakhir kalinya. Begitulah monolog Aliza dalam hati. “Kamu lanjutin.” Ethan berdiri, lalu membasuh tangannya yang licin. Setelah itu, ia pun keluar dari kamar mandi. Aliza melihat pintu kamar mandi tertutup kembali setelah Ethan berhasil keluar. Di saat itu juga, Aliza menangis dalam senyum. Ya, ia merasa telah menjadi wanita hina. Pria itu secara terang-terangan ingin dilayani seolah Aliza adalah wanita bayaran. Namun apa boleh buat, Aliza hanya bisa menyanggupinya jika pada akhirnya Ethan akan membiarkannya pergi. Namun, hati kecilnya tentu sudah tidak sabar untuk melihat Ethan meminta maaf saat di persidangan nanti. Lihat saja apa yang akan Aliza lakukan. Ia akan membuat pria itu menyesali perbuatannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN