Ancaman Ethan

1854 Kata
Selesai dengan mandinya yang memakan waktu dua jam lamanya, Aliza keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe. Dirinya tidak ada lagi pakaian, sedangkan pakaian yang terakhir ia pakai sudah tak terbentuk wujudnya karena Ethan merusaknya. Melihat Ethan yang juga ada di kamar itu, duduk di sofa yang tak jauh dari ranjang, Aliza menghentikan langkahnya, berdiri di ambang pintu. “Boleh pinjam pakaian?” kata Aliza ragu-ragu. Ethan meliriknya sambil berkata, “Bukannya kamu mau cepat pulang? Atau kamu masih betah—” “Saya mau pulang!” potong Aliza cepat. “Kalo gitu, kamu harus memenuhi syarat yang udah kita sepakati tadi biar kamu bisa keluar dari rumah ini,” jawab Ethan tenang, menyimpan ponsel yang tadi ia otak-atik di atas meja. “Se—sekarang juga?” Aliza ingin memastikan, menatap waspada. “Kalo kamu maunya nanti malam, berarti kamu pulangnya besok pagi.” Ethan memutar bola matanya dengan malas. “Saya mau pulang hari ini juga!” Keputusan Aliza sudah bulat, yaitu menyelesaikan 'misi' terakhirnya di rumah itu. “Sini. Minum ini.” Ethan mengangkat tangannya yang sedang memegang kecil sebuah kapsul. Aliza melangkah mendekat, dengan ragu ia mengambil kapsul yang diberikan Ethan. Ia bertanya, “Apa ini?” “Minum aja.” Ethan juga menyodorkan gelas berisi air tawar. Aliza mengambil gelasnya, lalu duduk tak jauh dari Ethan. “Racun?” tebaknya mengernyitkan kening. Ethan tak menjawab apa pun selain matanya yang tetap fokus pada wajah Aliza. Aliza tersenyum kecut, lalu mengoceh seperti orang frustasi, “Kenapa saya harus nanya, ya? Hidup saya emang udah gak berarti. Gak ada bedanya hidup atau mati. Oke, saya mau minum ini. Cuma satu pil ajai? Kenapa gak lima atau sepuluh pil sekalian biar—” “Cepet minum. Saya gak sabar mau lihat kamu mati.” Ethan bangkit, lalu berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Terlepas sesantai apa Ethan saat itu, mustahil Aliza merasa baik-baik saja. Kapsul yang berada di tangannya kini telah diyakini dapat menyakitinya atau bahkan membunuhnya. Apa pria itu benar-benar ingin melihatnya mati? Manusia macam apa dia? Namun, mengapa berbentuk kapsul? Pria itu bisa mencampurkan racun di dalam minuman atau makanan Aliza jika ia mau. Tapi, apa ini? Pria itu secara terang-terangan meminta Aliza meminum racun? Aliza terus bertanya-tanya dalam hatinya sebelum akhirnya ia menelan kapsul itu. Tidak ada yang Aliza lakukan setelah meminun kapsul itu. Ia tetap duduk di atas sofa, merasa bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Ethan berbaring di ranjang, memejamkan matanya seolah akan tertidur. Haruskah Aliza mendekatinya untuk menyelesaikan 'pekerjaannya' agar bisa cepat pulang? Untuk membayangkannya saja, Aliza sudah merasa menjadi wanita yang sangat murahan. Beberapa saat kemudian, Aliza mulai merasakan gundah di hatinya. Entah apa alasannya, ia merasa tak karuan. Jari jemarinya tak henti saling bertaut guna membunuh waktu. Jari kakinya pun kian bergerak-gerak dengan asal. Tubuhnya merasa panas, ingin sekali melepaskan bathrobe dari tubuhnya. Apa yang terjadi padanya? Ia masih tetap hidup setelah meminun kapsul itu, tetapi sekarang malah seperti orang kehilangan akal warasnya. Aliza melirik ke arah Ethan. Seketika itu, ada keinginan untuk mendekati pria itu, melakukan sesuatu yang tak ingin ia lakukan. Aliza ingin ... ingin mendapatkan sentuhan yang pernah Ethan lakukan semalam. Tunggu! Pikiran Aliza memang sudah dipenuhi adegan panasnya bersama Ethan, tetapi hatinya bertanya-tanya, kenapa ia seperti ini? Apa yang sudah merasukinya? Pikirannya menginginkan itu, tetapi hatinya tidak! Ethan beranjak dari ranjang. Ia berkata dengan suara khas orang bangun tidur, “Gak mau pulang? Kamu buang-buang waktu aja.” “Tunggu!” Aliza berlari, mencegah Ethan pergi. “Saya mau pulang,” rengeknya. Wanita itu terlihat sangat manis dan tidak berbahaya ketika merengek menginginkan hal yang semula ditolaknya dengan tegas. Ethan tersenyum dalam hatinya, akan tetapi wajahnya tetap dingin. “Udah siap?” tanyanya yang mendapat anggukan dari Aliza. “Kamu yakin?” lanjutnya berbasa-basi. Sekali lagi, Aliza menganggukkan kepalanya. Tanpa bisa menahan keinginannya lagi, Ethan segera meraih tubuh Aliza agar semakin dekat. Detik selanjutnya, ia mulai menyapa bibir Aliza yang berwarna pink alami, terlihat sangat menggoda. Aliza tidak menolak. Bahkan, ia membalas serangan yang lidah Ethan lakukan walau terasa kaku bagi Ethan sendiri. Begitu nikmat. Kata-kata itu yang ada dalam benak Aliza. Desahan kecil terus keluar dari mulut Aliza saat Ethan memainkan ujung bukit kembarnya dengan gemas. Seperti keinginan Ethan, Aliza melakukannya dengan suka rela bahkan tak malu untuk meminta lebih. Wanita itu begitu terlihat berbeda. Jika kemarin hanya ada suara jeritan penolakan, sekarang adalah suara kenikmatan yang tak pernah Aliza dapatkan dalam hidupnya. Rasa itu ... rasa yang membuat Aliza merasa melayang sungguh membuatnya ingin lagi dan lagi. Ya ... Ethan memberikan obat perangsang pada Aliza. Ia hanya ingin menikmati saat-saat terakhirnya bersama wanita itu, wanita yang entah ia benci atau ia kasihani. Namun yang jelas, Ethan tak ingin mendengar penolakan Aliza seperti sebelumnya. Ia ingin wanita itu melayaninya dengan suka rela. Tidak, tidak, tidak, bukan itu tujuan utama Ethan, bukan ingin menikmati tubuh Aliza, tetapi ia sedang melakukan rencananya. Setelah berulang kali melakukannya, Ethan bagaikan tak pernah bosan, tenaganya seolah tak pernah habis. Ia terus menggerayangi tubuh Aliza. Namun sekarang, obat terkutuk itu sudah mulai hilang. Aliza tak ingin melakukannya lagi. Dengan ragu, Aliza menahan jari jemari Ethan yang sedang bermain di area sensitif bagian bawahnya. “Aku mau pulang,” lirihnya. Ethan berhenti. Tidak ada reaksi marah ataupun memaksa, ia segera bangkit dan mengambil pakaiannya yang berserakan di atas lantai. Begitu Ethan masuk ke dalam kamar mandi, Aliza buru-buru memakai pakaian yang sudah disiapkan di sana, tak ingin pria itu melihat tubuhnya yang polos lagi. Tak lama dari itu, Ethan keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang sudah melekat di tubuh. Untungnya, Aliza pun sudah selesai memakai pakaiannya. “Kamu mau lihat sesuatu?” Ethan duduk di sofa, kedua tangannya mengambil laptop-nya yang terletak di atas meja lalu membukanya. “Apa?” Aliza penasaran. Entah mengapa, firasatnya tiba-tiba saja tak enak. “Duduk,” pinta Ethan tanpa menatap Aliza, jarinya terus menyentuh bagian cursor laptop-nya. Aliza duduk di hadapan Ethan, tak sudi berdekatan dengan pria itu. Tak sampai menunggu satu menit, Ethan memutar laptop-nya menjadi ke arah Aliza. Aliza dapat melihat dengan jelas, apa yang sedang laptop itu tampilkan. Adegannya bersama Ethan yang baru saja selesai dilakukannya! Aliza memalingkan wajahnya yang sangat malu juga kesal, tak mengerti untuk apa Ethan merekam kejadian memalukan itu. “Kamu?!” Aliza melotot tak percaya. “Mau kamu apa? Kamu mau meras keluarga saya? Setelah culik perkosa saya, sekarang kamu mau meras harta keluarga saya juga?” cecar Aliza dengan nada rendah. Tentu ia ingin memaki, tetapi rasanya tenaganya sudah habis untuk melakukannya. “Nggak,” bantah Ethan tegas. “Terus apa ini?” protes Aliza yang kini memberanikan diri untuk menatap Ethan. Ethan bertanya, “Kamu gak kenal saya?” Jelas, nadanya terdengar kesal. Ucapan Aliza yang mengatakan 'memeras harta' telah membuatnya ingin mengeluarkan beberapa sarkasnya. Melihat reaksi Aliza yang kebingungan, sepertinya apa yang Ethan tanyakan telah membuat Aliza salah paham atau memang Aliza yang tidak berpengetahuan luas sehingga tak mengenal dirinya yang sering berlalu lalang di pertelevisian sebagai pebisnis besar. Aliza tak mengerti dengan pertanyaan Ethan. Dengan polosnya ia bertanya, “Emang kita saling kenal?” “Gak,” jawab Ethan malas. Benar saja dugaannya, wanita itu tidak mengenal dunia perbisnisan. “Terus gimana saya bisa kenal kamu? Emangnya kamu artis? Nama kamu aja saya gak tahu,” gerutu Aliza lalu mendengus kesal. “Ethan Immanuel.” Ethan memperkenalkan diri tanpa ragu. “Sekarang kamu tahu nama saya. Tapi kamu gak perlu sebutin nama kamu, saya udah tahu nama kamu Aliza. Kalo kamu penasaran siapa saya, kamu bisa cari nama saya di pencarian internet, dan kamu bakal tahu siapa saya.” Akhirnya, Ethan dapat mengeluarkan sarkasnya dengan percaya diri. “Kalo kamu berani ngadu ke siapapun tentang apa yang saya lakuin ke kamu, video itu bakal tersebar di sosial media. Bukan cuma keluarga atau teman kamu aja yang bakal tahu permainan kita, tapi seluruh dunia,” lanjut Ethan tenang seolah tidak ada yang salah dari ucapannya. “Kamu ngancem?” Aliza tersenyum meremehkan, tampak seolah ia tak takut sedikit pun dengan ancaman Ethan. “Sejenisnya. Kamu yang putusin, mau ngadu atau tutup mulut.” Lagi-lagi Ethan bicara dengan santainya. Sama seperti Aliza, ia terlihat tak peduli jika Aliza mengadu pada orangtuanya tentang apa yang telah ia lakukan. “Kamu mau saya tutup mulut? Apa kamu gak tahu kerugian yang saya alami akibat perbuatan kamu?! Kamu udah hancurin kehidupan saya, masa depan saya! Kamu pikir apa? Siapa yang mau nikahin saya setelah ini? b******n!” murka Aliza tak dapat ditahan lagi. Aliza sudah berusaha bersabar sejak tadi. Tidak, tapi sejak kemarin, sejak dirinya ada di tempat terkutuk itu. Sekarang, ia benar-benar berani untuk membentak seorang Ethan. “Kamu mau apa sebagai imbalannya?” Tidak ada kalimat lain yang terlintas di pikiran Ethan selain menawarkan 'imbalan' seperti kepada wanita lainnya yang telah ia tiduri. Alih-alih dapat menenangkan Aliza, ucapan Ethan malah membuat wanita itu semakin jengkel. Aliza berdiri, dengan berani ia menunjuk-nunjuk Ethan yang tetap tenang. “Apa? Apa saya kelihatan miskin? Apa kamu pikir saya kekurangan materi? Kayaknya kamu yang gak tahu siapa saya! Saya yakin, Papa saya bakal seret kamu ke penjara!” ancamnya tak main-main. “Aliza Arabella Mahardika.” Ethan menyebutkan nama lengkap Aliza beserta marga kebesarannya. “Papa kamu pimpinan yang hebat. Saya akui itu,” sambungnya membuat Aliza menganga tak percaya. Ethan mengenali Abinaya? Lalu, kenapa ia tetap memperlakukan Aliza seperti wanita hina? Apa yang ada di pikiran pria itu? Kenapa harus Aliza yang menjadi santapannya dan bukan wanita yang bisa ia beli sesuka hatinya? Sekarang, dengan mudahnya ia meminta Aliza agar tidak memberitahu siapa pun tentang apa yang dialaminya? Aliza kehabisan kata-kata untuk ia serukan. Terlalu banyak umpatan sehingga ia bingung untuk mengabsennya. “Kamu yang putuskan, ngadu atau tutup mulut. Saya gak main-main. Saya bakal sebarin kegiatan kita tadi. Ah ya, tentang kerugian kamu, kamu juga yang putusin, mau apa dari saya. Apapun itu, saya bakal kasih. Satu hal yang gak bisa saya kasih, yaitu nikahin kamu.” Ethan memberikan pilihan, ancaman, peringatan dan yang lainnya. Benar, Ethan bisa memberikan apa pun yang diinginkan Aliza. Hanya saja, ia tidak bisa menikahi wanita yang sudah ia rusak itu. Cinta di hatinya hanya untuk istrinya tercinta, Riana, dan akan tetap seperti itu. Dulu, Ethan tak pernah memikirkan tentang pernikahan. Persetan dengan itu, Ethan hanya ingin menikmati hidupnya tanpa tuntutan. Namun setelah mengenal cinta Riana, hatinya telah terkunci oleh istrinya itu. Tidak mudah membangkitkan rasa cinta bagi Ethan, apalagi kepada orang baru seperti Aliza, kepada wanita yang wajahnya sangat Ethan benci. Saat di dalam kamar mandi bersama Aliza tadi, Jefri dengan mudahnya menyimpan dua kamera di tempat yang langsung dapat menangkap adegan Aliza dan Ethan di atas ranjang. Ini rencana Ethan untuk menakut-nakuti Aliza agar tidak mengadu pada siapa pun tentang apa yang terjadi. Ethan memang melakukan kesalahan, akan tetapi ia tidak ingin pusing berurusan dengan hukum ataupun keluarga Mahardika. Merasa bersalah? Sedikit, hanya sedikit saja. Jika Abinaya terbukti seorang pelaku pembunuhan orangtuanya, Ethan bersumpah akan menghancurkan seluruh keluarga Mahardika. Apa yang dilakukannya pada Aliza belum seberapa dengan kebahagiaan Ethan yang telah hilang sejak kecil, sejak orangtuanya meninggal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN