Hanya Beralasan

1056 Kata
Menggunakan taksi untuk pulang ke kediaman Mahardika, Aliza mengunjungi seseorang terlebih dahulu. Tati, wanita yang diperkirakan berusia 70 tahun itu pernah bekerja di rumah Mahardika sebagai asisten rumah selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Hubungan Tati dan Aliza bukan sekadar pekerja dan anak majikan, tetapi seperti ibu dan anak. Aliza telah ditinggalkan ibunya sejak bayi, tentu Tati sangat menyayanginya. Namun karena usianya semakin tua dan tenaganya pun tidak sebanyak dulu, Abinaya memberhentikannya bekerja. Kedatangan Aliza ke rumah Tati tidak lain untuk memintanya berbohong kepada Abinaya dan Andra. Aliza meminta Tati mengatakan bahwa selama dua hari ini Aliza menginap di rumahnya. Bukan hanya itu, Aliza juga sudah menyiapkan kata-kata apa saja yang harus Tati katakan nanti di depan ayah dan kakaknya. Sebagai orang tua, Tati malah mencecari pertanyaan perihal di mana Aliza menginap. Bukan hanya Abinaya dan Andra yang merasa khawatir akan pergaulan Aliza, tetapi Tati pun juga demikian. Aliza beralasan menginap di rumah temannya tanpa sepengetahuan keluarganya. Ia berjanji tak akan menginap lagi asalkan Tati membantunya bicara kepada Abinaya dan Andra. Tati tak bisa menolak. Ia tahu bagaimana kerasnya Abinaya dan Andra mendidik Aliza, ia pun mengerti pergaulan jaman sekarang. Menginap di rumah teman sudah menjadi kebiasaan banyak remaja, bukan? Oleh karena itu, Tati bersedia membantu Aliza. Namun, ia pun meminta Aliza agar tidak menginap di rumah orang lain lagi, sepenting apa pun itu. Aliza hanya bisa mengangguk tandanya paham akan nasehat Tati. Entah apa yang Aliza lakukan, ia pun tak tahu. Entah benar atau salah, Aliza tidak dapat membedakannya. Saat ini, Aliza hanya tak ingin keluarganya mengetahui apa yang ia alami. Tidak, lebih tepatnya Aliza tak ingin Ethan menyebarkan video terkutuk itu. Sungguh, Aliza tak ingin keluarganya kecewa ataupun bersedih. Jika video itu tersebar, bukan hanya keluarganya yang akan tahu, tetapi seluruh makhluk hidup termasuk teman-teman kuliahnya. Apa jadinya jika teman-teman kampusnya mengetahui Aliza melakukan itu? Aliza yang dikenal sebagai mahasiswi baik, benar-benar akan tercoreng. Sebaliknya, ia akan terkenal akan perbuatannya di dalam video itu. Video yang memperlihatkan sisi liar dari seorang Aliza akibat obat perangsang. Keadaan ini sangat menguras tenaga dan pikiran Aliza. Namun apa boleh buat, ia tak dapat melakukan apa pun selain melakukan apa yang Ethan inginkan, yaitu tutup mulut tentang apa yang terjadi padanya. Saat memasuki rumah, tampak semua orang sedang berkumpul di ruang tengah. Melihat kedatangan Aliza, tentu membuat semua orang terperanjat kaget sekaligus senang. “Liza,” panggil Abinaya. “Za!” Kali ini Andra yang memanggil adiknya dengan nada tinggi. Merasa kesal, tapi tentu lebih besar rasa bersyukurnya. Ia segera berdiri untuk menghampiri Aliza, begitu pun dengan yang lainnya. “Kamu dari mana aja?” tanyanya sedikit membentak. “Dra, tenang dulu.” Abinaya bersikap lebih santai. “Alhamdulillah kamu pulang.” Desi yang juga ada di sana, tersenyum haru ke arah Aliza. Bukan hanya Aliza yang menjadi perhatian, tetapi Tati juga yang berdiri di belakang Aliza. Andra yang masih marah, bertanya pada Tati, “Bik Tati, kenapa Liza bisa sama Bibik?” “Den, tenang dulu. Bibik jelasin, ya,” jawab Tati lemah lembut, lalu melanjutkan ucapannya, “Non Liza sakit di rumah saya, saya juga lagi sakit, Den. Jadi gak bisa anter Non Liza pulang.” “Kamu sakit? Terus kenapa nomor kamu gak aktif?” Abinaya menelisik tubuh Aliza seolah ingin memastikan ucapan Tati yang mengatakan Aliza sedang sakit. Wajah Aliza terlihat pucat dan matanya sayu, hal itu cukup membuatnya percaya bahwa Aliza memang sedang tak sehat. “HP aku hilang. Pas aku mau pulang, gak ada taksi yang lewat. Aku mau telepon rumah juga gak bisa, soalnya HP aku hilang. Jadi aku pulang ke rumah Bik Tati. Rumahnya Bik Tati di sekitaran kelab itu,” kata Aliza tenang, berharap semua orang dapat mempercayainya. Andra diam sejenak, memikirkan sesuatu yang menurutnya aneh. Ia pun bertanya, “Bukannya rumah Bik Tati jauh ke kelab itu?” “Bik Tati udah pindah, Den. Non Liza emang sering ke rumah Bibik,” jawab Tati tersenyum ramah seolah memang itu kebenarannya. Andra memejamkan matanya beberapa detik guna membuang kekesalannya, sedangkan Abinaya mengembuskan napasnya kasar sebelum akhirnya ia mengomeli Aliza, “Kamu gak tahu gimana Papa sama kakak kamu ini khawatir cari kamu?” “Maafin saya, Pak. Saya yang salah. Harusnya saya langsung ke sini buat kasih kabar. Tapi saya juga kurang sehat, HP juga gak punya.” Tati yang menjawabnya. Waktunya hanya sebentar, dan itu hanya untuk meyakinkan semua orang bahwa Aliza menginap di rumahnya. “Gak apa-apa, Bik. Terima kasih udah rawat Liza,” ucap Abinaya pada akhirnya. Ia tak mungkin terus menyalahkan putrinya karena Tati sendiri yang mengatakan itu. “Kalo gitu, saya pamit pulang, Pak. Taksi nunggu di luar.” Tati segera izin untuk pulang karena tugasnya juga sudah selesai. “Non Liza cepat sembuh, ya,” sambungnya sambil membelai rambut Aliza, lalu mengangguk sopan kepada semua orang sebelum akhirnya pergi. “Aku mau istirahat,” ucap Aliza tak ingin mendengar pertanyaan apa pun lagi dari ayah dan kakaknya. “Ibu temenin, ya?” Desi dengan rendah hati menawarkan diri untuk menemani seolah dirinya adalah pekerja di rumah itu. Hal itu karena Desi merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Aliza. Abinaya dan Andra tak melarangnya. Tubuh Aliza memang terlihat lemah, sehingga istirahat adalah pilihan yang benar untuk gadis itu. Akhirnya, Abinaya, Andra, Syarif, dan Desi dapat bernapas lega karena Aliza sudah pulang. Saat itu juga, Andra mencabut laporannya agar polisi tidak lagi mencari keberadaan Aliza. Setelah kejadian memilukan itu, Aliza semakin menjadi pendiam. Ia tidak ingin berinteraksi dengan siapa pun bahkan dengan Irina, teman satu-satunya yang ia miliki. Aliza merasa sangat malu ketika bayangan bersama Ethan terlintas begitu saja di pikirannya. Ia merasa hina ketika membayangkan hari itu, hari di mana ia bersikap seperti w************n yang memohon sentuhan pria. Begitu liarnya Aliza saat melakukan hubungan intim dengan Ethan, pria yang telah menculik dan memperkosanya. Namun, saat melakukan hal itu untuk yang terakhir kalinya Aliza malah menikmati itu, menikmati sentuhan demi sentuhan yang Ethan lakukan padanya. Apa yang Ethan lakukan dan apa yang direspons tubuhnya begitu memenuhi pikiran Aliza. Aliza membenci dirinya sendiri yang pengecut, dirinya yang tak berani untuk mengatakan apa yang terjadi. Setiap kali melihat wajah Abinaya ataupun Andra, ia merasa sangat berdosa. Memang Ethan yang salah, tetapi wajar Aliza juga merasa bersalah dan berdosa atas kejadian terakhir. Video itu, jelas Ethan menyimpannya. Pertanyaannya, apakah Ethan suka menontonnya? Sungguh, Aliza ingin lupa ingatan saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN