Hamil?

1340 Kata
Akhir-akhir ini Aliza sering merasa mual juga pusing secara tiba-tiba. Nafsu makannya pun berkurang. Ada kekhawatiran dalam dirinya. Mungkinkah? Awalnya Aliza tak ingin mengindahkannya, tetapi rasa penasarannya pun kian membesar dari hari ke hari. Pasalnya, ia juga sering menginginkan makanan yang tak biasa. Saat ini, hubungannya dengan Irina pun sudah membaik seperti sedia kala. Dengan rasa penasarannya yang besar, Aliza memberanikan diri untuk memakai tes kehamilan. Hasilnya terpampang nyata tak lama setelah ia menggunakannya. Ya, Aliza hamil. Panik? Bukan lagi! Aliza merasa dirinya sedang bermimpi membayangkan ada janin dalam rahimnya. Apa yang harus Aliza lakukan, Aliza pun tak tahu. Untuk yang pertama kalinya, Aliza ingin tahu siapa sebenarnya pria yang telah merusaknya bulan lalu. Ethan Immanuel, nama itu yang Aliza ketik di mesin pencarian. Di layar laptop-nya, terlihat hasil penelusurannya. Seorang pemimpin besar perusahaan Magic Technology. Seperti namanya, perusahaan yang dipimpin Ethan bergerak di bidang teknologi yang sangat terkenal di Indonesia juga negara asalnya, Jerman. Penelusuran itu juga menampilkan asal-muasal perusahaan itu berdiri, yaitu Norbert yang mendirikan perusahaan itu sebelum akhirnya jatuh kepada putranya, Ethan Immanuel. Berita yang memuat tentang Ethan bukan hanya bisnisnya saja, tetapi juga pernikahannya bersama Riana. Ternyata, saat pernikahan Ethan bersama Riana dilangsungkan, banyak media yang meliputnya hingga ada di beberapa artikel. Tentu, artikel itu juga mengabarkan meninggalnya Riana secara tragis. Namun ketika Aliza mencari nama 'Sania' di artikel yang bersangkutan dengan Ethan, ia tidak menemukannya. Jadi, perihal siapa Sania masih menjadi misteri bagi Aliza. Mengetahui siapa pria yang bernama Ethan Immanuel, Aliza tidak sedikit pun merasa terpaku apalagi tertarik. Pria tampan dan kaya, seharusnya Aliza merasa bangga telah mengandung darah dari pria itu. Sebaliknya, Aliza semakin membenci dirinya sendiri. Pria tidak berperasaan seperti Ethan, tidak layak untuk disukai Aliza. Dunia mungkin memujinya karena tak tahu watak asli pria itu, akan tetapi Aliza sudah tahu buruknya pria itu sehingga tak sedikit pun ia ingin memiliki suami seperti Ethan. Dalam hatinya, Aliza sangat menyayangi janinnya, terlepas dengan cara yang salah janin itu ada di rahimnya. Namun, untuk meminta pertanggung jawaban Ethan juga hal yang mustahil. Selain Ethan sendiri pernah mengatakan tidak sudi bertanggung jawab dan menikahinya, Aliza sendiri tak sudi untuk memiliki suami seperti Ethan. Membayangkan reaksi Abinaya dan Andra jika mengetahui dirinya hamil, Aliza sudah merasa takut duluan. “Rin, tolong bantu aku,” lirih Aliza lalu menundukkan wajahnya. Ia belum mengatakan apa yang terjadi, tetapi ia sudah malu duluan. “Kenapa?” Irina menatap bingung. “A—aku ... aku .... ” Aliza ragu juga malu untuk memberitahu Irina. “Kenapa, Za?” Irina semakin penasaran. “Aku hamil,” terang Aliza tak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Irina. “Apa?!” pekik Irina tak percaya. Matanya melotot, bergerak menelusuri wajah Aliza seolah mencari kebohongan di sana. “Sttt.” Aliza menempelkan jari di bibirnya, tanda agar Irina tidak membuat pengunjung cafe lainnya yang juga merupakan mahasiswa curiga. “Maksudnya gimana, Za?” bisik Irina setelah merapatkan duduknya di samping Aliza. “Tolong bantu aku buat ... gugurin kandungan ini,” pinta Aliza ragu-ragu. “Za? Kamu serius?” Irina ingin memastikan sekali lagi. Tadinya ia pikir Aliza hanya bercanda, tetapi mimik wajahnya tidak terdapat kebohongan saat berucap. Aliza mengangguk atas pertanyaan Irina. Irina kembali bertanya, “Siapa ayahnya?” “Gak penting, Rin. Yang penting sekarang, bantu aku buat gugurin. Aku gak mau Papa apalagi Kak Andra tahu soal ini.” Aliza menolak untuk memberitahu siapa ayah dari janinnya. “Tapi Za, kamu ... siapa? Kamu pernah lakukan itu sama siapa? Kamu gak punya pacar, 'kan?” tanya Irina bertubi-tubi, keingintahuannya begitu kuat. Aliza menggelengkan kepalanya, berkata lirih, “Aku gak bisa cerita, Rin.” Irina tak ingin lagi mendesak Aliza. Ia tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja. Irina berharap, Aliza akan terbuka dan memberitahu apa yang terjadi padanya suatu hari nanti. Mendengar keluhan Aliza yang ingin menggugurkan kandungannya, Irina memberikan usulan agar membeli pil yang dapat membuat gugurnya kandungan Aliza. Irina tidak pernah melakukannya, tetapi ia pernah mendengar masalah yang sama seperti Aliza, yaitu menggugurkan kandungan. Irina sendiri tahu bagaimana kerasnya Abinaya dan Andra kepada Aliza, tentu ia juga merasa khawatir keluarga Mahardika mengetahui hamilnya Aliza. Oleh karena itu, ia pun ingin membantu menemukan di mana tempat untuk membeli pil itu. Dari informasi mulut ke mulut, akhirnya Irina tahu di mana penjual pil terlarang itu berada. Setelah berhasil mendapatkan pil itu, Aliza segera meminumnya. Aliza kejam, bukan? Ya, ia terpaksa melakukannya. Selain tak mungkin meminta pertanggung jawaban Ethan, ia juga tak ingin mengecewakan keluarganya. Abinaya dan Andra sangat melindunginya dari pergaulan bebas. Tapi, apa ini? Aliza yang belum cukup dewasa, tak bisa berpikir panjang. Di hari yang sama, Aliza mengalami pendarahan. Obat itu berhasil. Aliza merasa lega bukan main. Akhirnya ia dapat menjalani hari-harinya dengan tenang seperti biasa. *** Aliza sedang menunggu jemputan datang. Merasa jenuh karena sudah menunggu lama, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan kaki. Aliza yakin, sopirnya pasti sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya. Ia yakin akan bertemu di jalan. Jadi, tidak ada salahnya berjalan kaki sebentar saja untuk melepas penat. Hari juga masih sore, ia tidak merasa takut untuk berjalan sendirian. Sepuluh menit berjalan kaki, sopirnya itu masih belum datang. Aliza merasa sangat lelah, ia pun menepi, duduk di depan sebuah toko untuk beristirahat. Akhir-akhir ini tubuhnya sering merasa lemas walaupun aktivitas yang ia lakukan tidak berat. Satu lagi, rasa mual dan pusing masih sering datang secara tiba-tiba. Namun karena Aliza yakin bahwa dirinya sudah tidak hamil, ia tidak menganggap hal itu suatu yang janggal. Anehnya, ia pun tak ingin memeriksakan diri. Menit-menit berlalu. Aliza masih terduduk di depan toko, pandangannya terarah ke mobil-mobil yang melewatinya, berharap sopirnya segera datang. Namun, pandangannya terasa blur ketika ia merasa pusing di kepalanya. Tanpa dapat bertahan lagi, Aliza pingsan di tempat itu. Orang-orang yang melihatnya, lantas segera mendekat. Di tempat yang sama, Ethan keluar dari toko itu, toko pakaian yang Aliza singgahi untuk beristirahat. Melihat orang-orang mengerumuni seseorang, Ethan tak ingin ambil pusing. Sebaliknya, ia ingin menghindari orang-orang itu, tak ingin berdekatan apalagi berdesakan ketika berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di sana. Tepat ketika Ethan hendak masuk ke dalam mobil, Jefri berseru sehingga Ethan menahan tubuhnya, “Pak, kayaknya itu Aliza.” Ethan mengikuti arah pandang Jefri yang tertuju pada Aliza yang tergeletak tak jauh dirinya. Ethan tak mengatakan apa pun selain kakinya yang melangkah lebar membelah kerumunan. Benar saja, wanita itu adalah Aliza. Entah keinginan dari mana, Ethan segera meraih tubuh Aliza, membawanya ke dalam dekapannya. “Anda kenal orang ini?” tanya salah satu orang. Ethan tak berniat menjawabnya, ia segera menggendong Aliza, membawanya ke dalam mobil. Jefri dan beberapa temannya ikut masuk, sebagian masuk ke mobil yang lain. Mobil bergerak meninggalkan tempat itu. Aliza masih di pangkuan Ethan, wajahnya terlihat sangat pucat, bibirnya pun tampak kering. Ada sedikit rasa kasihan, hanya sedikit. Tidak ada alasan untuk Ethan merasa khawatir. “Ke mana kita sekarang, Pak?” tanya Jefri yang duduk di kursi depan, di samping pengemudi. “Dokter terdekat,” jawab Ethan singkat. “Baik.” Jefri mengangguk paham, lalu meminta sopir untuk mencari klinik terdekat. Tidak lama dari itu, mobil berhenti di pekarangan sebuah klinik. Ethan keluar dari mobil, membawa Aliza di pangkuannya. Wibawanya yang persis seorang raja, membuat beberapa orang yang berada di sana terkagum-kagum. Bahkan, beberapa perawat segera menghampiri, melayaninya dengan sigap. Tidak perlu dijelaskan, perlakuan orang-orang akan berbeda dari yang lain. Mereka tak kenal Ethan, tetapi dari gayanya saja mereka sudah tahu bahwa Ethan bukanlah orang biasa. Saat Aliza dibawa ke ruang pemeriksaan, Ethan diminta untuk menunggu di luar. Tepat ketika ia meluncurkan bokongnya di kursi tunggu, ia merasa aneh sendiri dengan dirinya. Apa ini? Apa yang ia lakukan? Ethan tersentak ketika menyadari dirinya di dalam klinik, duduk bersama orang-orang bahkan pasien. Sejak kapan Ethan kehilangan kewarasannya? Membawa seorang wanita yang tak dikenalinya bukan hal yang wajar. Ya, anggap saja Ethan tak mengenali Aliza. Seketika hatinya menggerutu tak jelas. Sungguh, ia benar-benar tak mengerti lagi. Membawa Aliza ke klinik seolah sesuatu yang menghipnotisnya, terjadi begitu saja. Namun apa boleh buat, ia sudah duduk di kursi tunggu, tentu ia terpaksa menunggu selesainya pemeriksaan Aliza.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN