Masuk ke dalam bangunan tua, tempatnya tampak sangat amat berantakan, persis seperti gudang tak berpenghuni. Di sana ada beberapa pria yang sudah cukup tua. Mereka memegang sebuah kartu di tangan masing-masing. Tepatnya, mereka sedang berjudi. Bukan hanya itu, terdapat banyak botol minuman keras juga di sana. Aliza mematung di tempat, tak percaya jika asal-usulnya dulu di tempat seperti itu. Sedangkan Sania, segera mendeketi beberapa pria itu, meninggalkan Aliza di belakangnya. “Aku udah turutin perintah sialan Ayah itu. Sekarang, jangan ganggu aku. Aku mau istirahat,” kata Sania pada Rustam sambil berjalan ke arah tangga. Rustam menelisik Aliza dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berbeda dari dunianya, kehadiran wanita itu tampak seperti malaikat, sangat bertolak belakang. Jauh dari

