Tak lama dari itu, Aliza masuk ke dalam kamar. Saat itu, Miftah hanya memandangnya dengan tenang, berbaring di atas ranjang. Perasaan Aliza mendominasi antara kasihan juga sedikit kesal. Kesal karena Miftah tak mengerti bahwa dirinya butuh privasi dan beristirahat, tetapi Aliza juga kasihan karena sikap Miftah yang seperti itu justru semata-mata menganggapnya sebagai ibunya. “Mif, kamu main aja sama temen-temen kamu,” ujar Aliza sambil mendekati ranjang. “Aku mau sama Ibu Iza.” Miftah menggeleng tegas. “Tidur siang? Atau belajar?” tawar Aliza tak ingin mengusulkan Miftah untuk bermain dengan teman-temannya lagi. “Aku mau main sama utun.” Miftah memeluk Aliza yang saat itu masih duduk di tepi ranjang. Ini sudah kebiasaan Miftah dan Aliza tak bisa menolak. Ia pun ikut berbaring di samp

