Bab. 23

1021 Kata

"Gio mau tidur dipelvk Ibun." Rengekan Gio membuat hatiku luluh, niat hendak membuat s**u kuurungkan setidaknya sampai dia terlelap. "Gio masih pusing?" Aku mera-b4 jahitan di dahi Gio yang sudah kering. "Udah gak Ibun, Gio kan, anak kuat." "Ibun percaya, tiap hari Ibun doakan agar Gio jadi anak sholeh, pintar, disayang semua orang." Gio tersenyum memperlihatkan barisan gigi s**u yang terawat. Namun, rautnya tiba-tiba berubah sendu. "Kenapa? Ada yang sakit?" Gio menggeleng. "Gio kangen Ayah. Ayah ke mana, kok gak pulang-pulang?" Aku tertegun mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Gio. Wajar dia mempertanyakan Ayahnya, sebab beberapa hari ini tidak bertemu Mas Dayat. "Ayah gak sayang Gio lagi, ya, Ibun? Apa karena Gio nakal? Ayah juga jarang peluk Gio, gak seperti teman-tem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN