"Aku antar?" Aku terpana ketika sorot teduh Kahfi memindai wajahku. Seperti ada sesuatu yang membuatku tak bisa berkedip. Tidak boleh Halimah, kamu tidak boleh seperti ini, apa bedanya kamu dengan Dayat kalau bersikap seperti ini? "Halimah?" Kahfi melambaikan tangan di depan wajahku menarik kembali kesadaranku. "Makasih, aku bisa sendiri." Aku gegas berjalan keluar dari warteg menuju sepeda motorku di parkir. Berdekatan dengan Kahfi membuatku serba-salah. "Ya udah, nanti sepeda motormu yang di klinik aku suruh montir yang antar ke rumah." Aku hanya mengangguk. Entah gugup atau licin, helm terlepas dari tanganku lalu menggelinding, hendak meraih benda itu Kahfi lebih sigap. "Dari tadi aku perhatikan kamu ngelamun terus, ada masalah?" Kahfi hendak memasangkan helm ke kepalaku, tetap

