Halimah berdiri di depan klinik tempat Sarah bekerja, dia menghela napas untuk menenangkan debaran jantungnya sebelum melangkah masuk. Meskipun hatinya dipenuhi rasa bersalah, dia tahu bahwa pembicaraan ini harus terjadi. Sarah tidak bisa terus-terusan menggunakan kekuasaannya untuk mengha-ncurkan impian orang lain. Dengan langkah pasti Halimah masuk ke klinik. Setelah berbicara dengan resepsionis, dia diarahkan ke ruang praktek Sarah, meski sebenarnya dia sudah tahu di mana posisinya. Pintu dibuka, Halimah melihat Sarah duduk di belakang meja dengan ekspresi terkejut melihat kedatangannya. Mungkin Sarah tidak mengira dia berani datang setelah kekisruhan yang terjadi. "Ngapain kamu ke sini?" Suara Sarah penuh dengan kemarahan terpendam, tatapannya menajam ke arah Halimah. Halimah duduk

