Pendukung Pertama

1204 Kata
Btari: Pendukung Pertama Kak Chua memandangiku dan Bang Hans dengan kerutan di dahi. Kata Kak Chua, akhir-akhir ini kami terlihat aneh. Sering pergi berdua setiap malam minggu, dan Bang Hans yang seringkali ngotot akan mengantar-jemputku ke kampus, padahal itu adalah tugas Kak Chua. Rasa-rasanya aku ingin protes kepada laki-laki itu. Dia yang menyuruhku untuk tidak terlalu kentara di depan orang-orang, tapi dia sendiri yang membuat hubungan kami sangat terlihat jelas. Dan, Kak Chua menyadari bahwa ada sesuatu di antara kami berdua. Aku dan Bang Hans sepakat untuk merahasiakan hubungan kami di depan orang-orang sampai Ayah dan Ibu memberikan restu secara resmi. Minggu lalu aku, juga Bang Hans pulang ke Surabaya untuk bertemu dengan mereka dan membahas masalah hubungan kami berdua. Bagaimana reaksi mereka setelah Bang Hans dengan yakin meminta izin akan menikahiku? Ayah menghela napas panjang, Ibu memilih diam dan duduk di samping Ayah kami tanpa mengatakan satu kata pun. Sampai saat ini Ayah tidak mengatakan apa pun. Setelah mendengarkan Bang Hans meminta izin kepadanya, laki-laki itu hanya diam, tidak mengatakan setuju atau tidak apabila Bang Hans akan menikahiku. Jujur saja aku merasa pesimis sekarang. Kalau Ayah tidak mengizinkan kami menikah, aku dan Bang Hans harus bagaimana? Aku penasaran apa yang sedang Ayah dan Ibu pikirkan tentang kami. Apa, Ayah menyesal telah mengangkatku sebagai anaknya? Apa, Ibu akan berbalik membenciku karena sudah membuat anak laki-lakinya ingin menikahiku? Siapa sih, aku? Aku cuma gadis biasa yang nggak punya banyak kemampuan. Aku cuma anak angkat, orangtuaku saja tidak jelas keberadaannya. Jadi, alasan apa yang akan membuat Ayah dan Ibu menyetujui hubunganku dan Bang Hans? Bagaimanapun, Bang Hans adalah kebanggaan mereka. Dan aku, cuma anak angkat yang beruntung karena dibesarkan oleh keluarga sebaik mereka. Apa, sekarang mereka menyesal sudah memungutku, tetapi aku malah membalasnya dengan menggoda anak laki-laki mereka? Itu baru reaksi Ayah dan Ibu, bagaimana dengan Kak Chua dan Nao? "Kalian, tuh, kentara banget, tahu! Apa lagi lo, Bang!" Kak Chua melipat kedua tangan di depan d**a. "Mana ada Abang yang cium-cium tangan adeknya yang udah gede?!" Pipiku memanas seketika. Bang Hans tampak menghela napas pelan, dan balas memandangi Kak Chua. "Wa," panggil Bang Hans pada Kak Chua. "Apaan?!" Kak Chua membalas dengan suaranya yang kasar. Bang Hans menarik tanganku, menggenggamnya erat-erat hingga membuat Kak Chua mendengus lalu melemparkan jaketnya ke arah kami. "Tuh, kan!" "Kak Chua nggak suka ya?" tanyaku, mulai cemas. Kalau Ayah dan Ibu saja tidak setuju, bagaimana dengan Kak Chua? Kalau mereka benar-benar tidak mendukung hubungan kami, aku tidak akan memiliki keberanian untuk melanjutkan hubungan kami. "Jahat banget sih, lo berdua!" Kak Chua mendengus. "Harusnya lo bilang ke gue, gini-gini gue saudara kalian. Gue adek lo paling tua, Bang. Masa lo nggak percaya sama gue, sih?" cerocosnya. "Kamu setuju, Wa?" tanya Bang Hans, wajahnya mendadak saja sumringah. "Sejak kapan lo berdua pacaran?" bukannya menjawab, Kak Chua malah balas bertanya. Aku melirik Bang Hans dari samping, menunggu jawaban laki-laki itu. "Baru sebulan yang lalu." Lagi-lagi Kak Chua mendengus, lebih keras dari sebelumnya. "Selama itu? Dan lo nggak ngasih tahu gue sama sekali?" "Maaf, Kak," gumamku, menundukkan kepala. "Gue nggak butuh maaf dari kalian!" seru Kak Chua menunjukku, lalu pada Bang Hans. Aku menelan ludah susah payah. Bang Hans sepertinya akan mengatakan sesuatu, kelihatan dari gerak tubuh dan bibirnya yang bergerak memberi tanda akan bicara. "Gue butuhnya traktiran!" Kak Chua nyengir lebar, sepasang matanya menyipit lucu. Aku terbengong mendengar kalimat Kak Chua barusan. Bang Hans menghela napas lega, begitu pun denganku yang jauh-jauh lebih lega sekarang. Ah, tidak masalah Kak Chua mau minta traktiran apa pun. Makanan apa saja yang dimintanya pasti akan dibelikan oleh Bang Hans. Yang terpenting, aku dan Bang Hans memiliki satu pendukung. Kak Chua, aku mencintaimu! Dia adalah pendukung pertama hubunganku dan Bang Hans. *** Sudah lebih dari dua bulan lamanya hubunganku dan Bang Hans berjalan. Hingga sampai saat ini, Ayah mau pun Ibu belum memberi keputusan apa pun selain diam. Bang Hans tidak henti-hentinya memberikanku pengertian dan menghiburku dengan berbagai hal yang bisa membuatku tanpa sadar menyunggingkan senyum sampai sepasang mataku menyipit dan membuatnya menjadi gemas. Ah, aku bersyukur memilikinya. Bang Hans adalah pilihanku, dan aku tidak salah memilihnya. Hari ini aku bangun lebih siang karena hari minggu. Setiap hari minggu, aku dan penghuni lain di rumah ini akan bangun lebih siang dari biasanya. Kulirik jam di atas nakas, mengembuskan napas seraya merentangkan kedua tanganku lebar-lebar. Ini sudah sangat siang, dan bagaimana bisa aku bangun sekarang? Aku mengikat rambutku ke atas asal-asalan. Sebelum pergi keluar mencari makanan, aku membereskan kamarku lebih dulu. Melipat selimut, menata bantal, serta guling, kemudian merapikan seprai yang kusut. Jujur saja, aku selalu rusuh ketika tidur. Kadang, kalau tidak sengaja tidur di ruang tamu, hanya beralaskan karpet bulu, aku bisa-bisa berpindah tidur dari dekat sofa, dan akan bangun di dekat pintu. Rusuh sekali, kan? Selesai membersihkan tempat tidur, mencuci muka dan menggosok gigiku tanpa mau repot-repot mandi, aku keluar kamar menuju dapur yang ada di bawah. Sembari bersenandung kecil, aku menuruni anak tangga satu per satu sesekali memerhatikan lantai bawah mencari keberadaan Bang Hans dan Kak Chua. "Baru bangun?" tanya Bang Hans muncul di ambang pintu. Tubuh Bang Hans yang sangat nyaman ketika kupeluk tengah dibalut apron berwarna ungu muda, membuatku menatapnya geli lalu terkekeh kecil. Aku menarik kursi makan lalu duduk di sana. Bang Hans berdiri di sampingku persis, tubuhnya yang dua atau bahkan tiga kali lebih besar dariku terhimpit oleh kursi yang kududuki, dan kursi di kirinya, membuat pinggangnya nyaris menempel ke lenganku. "Kak Chua mana, Bang?" aku celingukkan mencari-cari keberadaan Kak Chua yang belum kulihat sampai sekarang. Bang Hans menoleh ke arahku, lalu menjawab. "Lagi pergi sama Mas Bizar." "Mas Bizar ke sini sendirian?" tanyaku. Bang Hans menghadapkan badannya, sebelah tangannya dijejalkan ke dalam apron. "Kenapa?" tanyanya. "Daryl nggak ikut?" tanyaku, lagi. Daryl adalah anak satu-satunya Mas Bizar berusia lima tahun. Bocah laki-laki itu sangat tampan dan pintar. Setiap kali Mas Bizar kemari, laki-laki itu akan membawa Daryl, dan akan menitipkannya kepadaku. Aku sangat menyukai anak-anak. Bahkan, terkadang aku suka memperlakukan Nao seperti anak kecil karena postur tubuhnya sangat mungil untuk ukuran anak laki-laki. "Daryl ada di kamar aku, lagi tidur," jawab Bang Hans. Aku hendak beranjak dari kursi yang kududuki, tapi Bang Hans menarik lenganku hingga kembali duduk. "Ri," gumamnya memanggil namaku. "Apa?" kepalaku mendongak, Bang Hans berdiri menjulang di depanku. "Jangan terlalu deket sama Daryl..." "Hm?" Bang Hans menghela napas panjang, sebelah tangannya bergerak menutupi wajahnya. "Gara-gara kamu terlalu deket sama Daryl, Chua sampe ngasih saran ke aku supaya kamu aja yang diajak nikah sama Mas Bizar!" katanya, terdengar frustrasi. "Bang, apaan sih?" kataku, kemudian mencubit pinggangnya. "Kak Chua suka ngomong sembarangan emang, ceplas-ceplos dari dulu. Kenapa dibuat pikiran?" tanyaku, kedua tanganku melingkari pinggangnya. "Lagian Mas Bizar sukanya sama Kak Chua, bukan aku." Bang Hans menarik tangannya yang semula menutupi wajahnya. Kepalanya menunduk, kedua tangannya menangkup pipiku. "Tapi, Daryl maunya kamu yang jadi mamanya. Gimana kalau gitu?" "Hah? Gimana?" tanyaku sembari memasang tampang bodoh. "Iya. Daryl ngoceh sama Mas Bizar, katanya, Daryl minta kamu jadi mamanya aja. Nggak mau sama Tante yang lain." Bang Hans menatapku serbasalah. Sedangkan aku masih saja belum menyadari kalau Bang Hans khawatir, takut kalau aku jadi berpaling ke Mas Bizar cuma karena aku menyukai Daryl, anak laki-laki itu yang sudah lengket denganku. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN