Gosip

2686 Kata
Hans: Gosip "Beneran mau makan di sini aja?" Btari menganggukkan kepala dengan mulut penuh makanan. "Aku nggak suka makanan yang aneh-aneh," katanya, kemudian mengusap sudut bibirnya menggunakan ujung Ibu jarinya. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil mendengarkan celotehan kecil Btari yang seringkali membuatku gemas. Btari menggigit rotinya lagi, bersiap mengeluarkan celotehan-celotehan kecilnya. "Mau makan apa lagi kalian abis ini?" tanyaku, mengusap pipi kanannya yang terkena selai cokelat. Btari dan Daryl saling melihat satu sama lain dan berseru. "Es kriiiim!" jawab keduanya kompak. Aku dan Btari sedang pergi keluar untuk mencari makan. Ah, tidak hanya berdua saja, melainkan mengajak Daryl, putra semata wayang Mas Bizar yang sangat-sangat lengket dengan Btari. Btari dan Daryl adalah dua orang yang sulit dipisahkan sepertinya. Entah kenapa Daryl yang susah didekati orang asing jadi kepincut setelah diajak ngobrol dan bercanda sama Btari beberapa waktu lalu. Bayangkan saja, Daryl baru mengenal Btari kurang dari dua bulan, tapi bocah itu sangat ngotot ingin menjadikan Btari sebagai Mama barunya. Kedekatan Btari dan Daryl sebenarnya sedikit mengganggu pikiranku akhir-akhir ini. Mungkin akan terdengar sedikit keterlaluan, tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, kalau aku takut pada akhirnya Btari luluh karena bujukan Daryl. Btari sangat-sangat menyukai anak kecil. Bukan hanya Daryl yang mudah Btari dekati, sampai-sampai anak tetangga sebelah jadi sering berkunjung ke rumah hanya untuk menanyakan Btari. Aku memutar otak, mencari cara agar Daryl tidak lagi merengek kepada Mas Bizar untuk menjadikan Btari sebagai Mama barunya. Kalau aku mengatakan ketidaksukaanku tentang kedekatan Btari dan putranya, itu akan terdengar sangat kekanakan. Hei! Aku bukan cowok remaja, lagi! Usiaku sudah tiga puluh tahun, lagi pula aku bukan tipe orang yang melakukan segala sesuatunya dengan gegabah. Semua butuh pertimbangan, termasuk membuat Daryl berhenti merengek dan mengganggu Btari. Ah, aku menemukan satu cara. Dan semoga saja mendapatkan hasil yang baik. Aku akan berusaha mendekati Daryl seperti Btari mendekati bocah itu. Membuat Daryl merasakan kenyamanan yang sama seperti bocah laki-laki itu berada di dekat Btari. Hal pertama yang aku lakukan adalah mengajak Daryl pergi bersama kami. Malam ini Mas Bizar kembali datang ke rumah untuk mengajak Chua pergi jalan-jalan. Entah ke mana, aku juga tidak terlalu mau ikut campur urusan mereka berdua. Bagaimanapun Chua sudah cukup dewasa, dan aku sangat mempercayai Mas Bizar, laki-laki itu tidak akan melakukan sesuatu yang aneh kepada adik perempuanku. Karena Mas Bizar tahu soal fobia yang Chua derita, juga Chua yang kesulitan berinteraksi kepada anak-anak kecil, Mas Bizar berinisiatif menitipkan Daryl kepadaku dan Btari. Untung saja Daryl tidak keberatan ditinggal oleh papanya pergi bersama Chua. Malahan, Daryl terlihat senang lalu menghambur memeluk kaki Btari. Dalam hatiku mendengus. Anak itu sangat mudah memeluk dan mencium Btari. Sedangkan aku? Ah, aku tidak bisa semudah itu. Aku selalu menjaga diriku sendiri agar tidak melakukan sesuatu yang bisa merugikan Btari sebagai perempuan. Bagaimanapun aku laki-laki, kalau saja aku kelepasan sedikit saja, aku yakin bukan hanya Btari saja yang menyesal, tapi diriku juga. Selepas Mas Bizar pergi bersama Chua, aku mengajak Btari dan Daryl pergi. Tadinya ingin mengajak mereka berdua jalan-jalan. Entah makan, pergi ke wahana mainan atau sekadar berburu kuliner. Daryl berceloteh, mengatakan ingin pergi ke minimarket untuk membeli roti sosis dan sekotak s**u rasa cokelat. Aku hendak menyela, mengatakan akan mengajaknya pergi ke tempat selain minimarket, tapi, Btari buru-buru menahan lenganku, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Nggak gitu caranya mendekati anak-anak," bisik Btari. Aku menghela napas panjang, bahkan Btari tahu maksudku mendekati bocah itu. Sepasang mata Btari menatap Daryl yang mengenakan celana pendek berbahan jeans, kaus berwarna hijau muda, juga topi warna hitam yang menghiasi kepalanya. "Ayo! Mau makan roti sosis sama s**u cokelat, kan?" tanya Btari setengah membungkukkan badan. "Om, gendong Daryl, dong!" Btari tahu-tahu menarik lenganku, sepasang alisnya bergerak naik-turun seolah memberiku kode agar menggendong anak semata wayang Mas Bizar yang lumayan cerewet. Daryl memandangiku selama beberapa detik, aku menggaruk kepala, balas memandangi Daryl serbasalah. "Ayo, gendong Daryl, Om!" serunya penuh semangat. Bocah itu menggapai tanganku, lalu digoyangkannya setengah rusuh seakan tidak sabar kugendong. "Gendongnya gimana?" tanyaku mendekatkan wajah ke teling Btari. Btari mencebikkan bibirnya. Badannya agak dia miringkan. "Abang kayak nggak pernah deket sama anak kecil aja, ih!" keluhnya, kesal. "Anggap aja lagi sama Nao," kemudian, sebelah mata Btari mengedip lucu menggodaku. "Anggap kayak lagi sama Nao, ya?" gumamku mengusap ujung telinga. "Iya." Btari mengangguk-angguk. "Jangan tegang. Santai aja," katanya, lalu menggenggam tanganku dengan jari-jarinya yang kecil. Aku mendengarkan apa saja yang dikatakan Btari. Apa yang harus aku lakukan ketika berhadapan dengan anak-anak seusia Daryl, bagaimana aku harus berinteraksi kepada mahluk-mahluk kecil yang kadang menggemaskan, kadang menyebalkan lewat celotehan-celotehan mereka. Salah satunya adalah celotehan Daryl. Satu pertanyaan, tapi terus diulang-ulang hingga membuatku ingin protes, dan mengatakan bahwa Btari adalah milikku, bukan milik orang lain, apa lagi dipaksa-paksa untuk dijadikan sebagai Mama barunya. "Tante Btari mau jadi Mama baru Daryl, nggak?" Hampir saja aku akan menyemburkan minuman soda yang akan kutegak, pertanyaan semacam ini sudah diulang berkali-kali oleh Daryl, dan hanya ditanggapi senyuman sama Btari. "Kapan Tante Btari mau main ke rumah Daryl?" tanyanya, lagi. Kedua tangan bocah itu memegangi roti sosis, memberi jeda sebelum melahapnya kembali. Aku melirik Btari, dengan sengaja aku menjawil pinggangnya, membuat Btari mencebikkan bibir. "Daryl pengin kayak temen-temen yang punya Mama!" celotehan Daryl nggak berhenti juga. Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini. Sainganku bukan laki-laki dewasa seusiaku, atau cowok-cowok yang usianya sama seperti Btari. Tapi anak kecil berusia lima tahun! Bagaimana caranya aku menjelaskan bahwa Btari tidak akan menjadi milik siapa pun, selain diriku! "Mau ke mana?" Btari mendongakkan kepala menatapku, sebelah tangannya menahan lenganku. "Beli air," jawabku. Lantas, Btari melepaskan tanganku dan membiarkanku kembali masuk ke dalam minimarket. Aku membutuhkan air dingin untuk menjernikan otakku. Kalau aku terus-terusan duduk di sana, mendengarkan pertanyaan Daryl yang menyebalkan tanpa bisa protes, aku bisa gila nanti. Lebih baik aku mencari minuman dingin untuk mengurangi rasa kesalku, baru akan kembali duduk bersama mereka di depan minimarket. Aku berdiri di depan mesin pendingin. Meletakkan sebelah tanganku ke arah kanan, dan membiarkan rasa dingin yang menguar dari mesin pendingin yang terbuka lebar-lebar. "Permisi." Aku menoleh, seorang perempuan memegangi keranjang, lalu menunjuk kemasan puding rasa mangga yang ada di dalam mesin pendingin. "Ah, maaf." Buru-buru aku berjalan ke samping, memberi ruang agar bisa mengambil puding mangga di dalam mesin pendingin. Perempuan itu memasukkan dua atau tiga puding mangga ke dalam keranjang, kemudian menutupnya. Sebelum perempuan itu benar-benar pergi, dia menyeletuk. "Kalau mau cari adem jangan di sini, Mas! Ganggu banget, tahu!" Aku menggaruk ujung keningku, sesekali mengangguk, menggumamkan kata maaf. Ah, sial. Kenapa aku jadi seperti orang linglung sekarang? Aku meraih sebotol air mineral dingin, lantas segera pergi menuju tempat kasir untuk membayar. Aku tidak akan lagi mempermalukan diriku sendiri seperti tadi. Aku tidak mau dianggap sebagai orang aneh, apa lagi dikira berdiri di depan mesin pendingin dengan sengaja. Selesai membayar dua botol air mineral di tangan, aku membalikkan badan berniat kembali kepada Btari dan Daryl yang kutinggal di meja depan minimarket. "Kok, Kakak bisa ada di sini?" Buru-buru aku berjalan mundur hingga tanpa sadar menabrak orang lain di belakang punggungku. Sialnya, orang yang kutabrak adalah perempuan yang mengataiku di depan mesin pendingin. "Dasar orang aneh!" cibirnya, kemudian mendorong pintu keluar minimarket. Kuusap dadaku, menggumamkan kata sabar beberapa kali karena sudah dianggap orang aneh hari ini. Aku berdiri di dekat pintu, mengamati meja Btari dan Daryl. Mereka tidak berdua lagi, tapi ada satu cowok yang kuperkirakan seusia Btari. Atau, mungkin saja satu atau dua tahun lebih tua dari gadis itu. Mereka ngobrol cukup lama dan disaksikan oleh Daryl yang memandang cowok itu tidak suka. Ini apa lagi, ya ampun. Belum selesai soal Daryl, sekarang muncul lagi cowok lain. Mereka terlihat cukup akrab. Entah apa yang sedang mereka obrolkan sehingga tidak menyadariku yang belum kembali ke meja. Btari menoleh ke belakang, tepat ke pintu minimarket, aku segera bersembunyi sebelum Btari menemukanku berdiri di sana dan mengawasi mereka berdua yang tampak asyik berbincang. Aish. Banyak sekali cobaan memiliki calon istri seperti Btari. Bukan hanya anak kecil yang mudah kepincut kepada gadis itu, tapi juga cowok ganteng, dan seusia dengan Btari. *** "Abang tadi kenapa lama banget?" Btari mengekor di belakangku, mengikuti setiap langkahku ke mana pun aku pergi. Sepulangnya dari minimarket, aku tidak mengatakan apa pun sampai Mas Bizar dan Daryl pamit pulang. Aku mengantar pasangan Ayah dan anak tersebut sampai ke depan rumah. Baru kembali masuk ke dalam setelah mobil hitam Mas Bizar meninggalkan halaman rumahku. "Abang, kok, diem aja aku tanyain sih?" protesnya marah. Aku tidak mempedulikan ocehan Btari. Rasa-rasanya aku masih kesal melihat kedekatan Btari bersama cowok lain. Mereka ngobrol, mereka tertawa, bahkan saling melambaikan tangan ketika mereka berpisah. Ah, manis sekali, bukan? "Abang, ih!" Aku membalikkan badan. "Apa?" balasku. "Aku lagi nanya sama Abang," katanya, cemberut. Aku menarik napas panjang, satu jariku menunjuk pintu kamar mandi. "Iya, nanti," Btari mengikuti jariku menunjuk. "Aku mau mandi dulu. Kamu masih mau di sini? Atau ikut aku ke dalam sekalian?" Kedua pipi Btari bersemu merah. Gadis itu mengentakkan kakinya, merasa malu karena tidak menyadari bahwa dirinya sudah mengikutiku sampai di depan pintu kamar mandi, dan baru sadar saat aku memberitahunya. Btaru mengentakkan kakinya sekali lagi, memutar badan memunggungiku, kemudian pergi dengan bibir mencebik mirip bebek. *** Sore ini aku sedang menunggu Btari di depan gerbang kampus gadia itu. Cukup lama aku menunggunya. Padahal, Btari telah mengirim pesan dan mengatakan bahwa dia akan keluar kurang dari sepuluh menit lagi. Hampir setengah jam lebih, Btari tidak muncul juga. Aku merogoh saku celanaku, menariknya kembali setelah menemukan ponsel di dalam sana hendak menghubungi nomor Btari. Belum sempat mendial nomornya, Btari keburu muncul bersama seorang temannya yang kuketahui bernama Laliana. Aku membuka kaca mobil, memerhatikan wajah Btari yang tampak lesu, serta Laliana yang tidak berhenti mengusap bahu dan lengan gadis itu sebelum akhirnya berpisah. "Kenapa?" tanyaku begitu Btari masuk ke dalam mobil. Btari menggelengkan kepala, kedua pipinya mengembung lucu. Setengah memiringkan badan menghadap ke arah Btari, aku bertanya sekali lagi. "Ada masalah?" tanyaku, lagi. Kali ini Btari menatapku, pandangan matanya tampak sedih. "Jalan dulu aja. Nanti aku ceritain." Aku mengikuti kemauan gadis itu tanpa membantah atau pun protes karena Btari menolak menceritakannya secara langsung. Di sepanjang perjalanan, Btari banyak menarik napas dalam, kemudian mengembuskannya pelan, lalu menoleh ke arahku. Sebelah tanganku mengusap pipinya, lalu bergerak ke atas mengusap puncak kepala Btari. Gadis itu memejamkan matanya, jari-jarinya bergerak menyentuh punggung tanganku dan membalas mengusapnya lembut. Ada yang aneh dengan Btari. Tidak biasanya gadis itu keluar kampus dengan wajah semurung ini. Biasanya, setiap kali gadis itu pulang kampus, wajahnya akan sumringah, ada sisa-sisa tawa di bibirnya. Tapi hari ini tidak. Aku tidak menemukan senyum atau tawa kecil Btari saat melihatku berdiri bersandar ke badan mobil untuk menjemputnya. "Abang marah nggak, kalau dibilang udah punya anak?" tanyanya tiba-tiba. "Hm?" aku menoleh sebentar ke arahnya. Dia menggenggam sebelah tanganku, dan diletakkannya di atas pangkuannya. "Masa, aku digosipin punya anak hasil di luar nikah." Refleks aku menghentikan mobil hingga nyaris saja menabrak pengendara lain di depanku. Segera kutepikan mobilku, menatap Btari, bingung. "Kemaren aku ketemu sama salah satu Kakak senior, kan," ceritanya, jari-jarinya dengan sengaja memainkan jariku yang dua kali lebih besar dari ukuranh jari Btari. "Padahal pas dia nanya, Daryl siapa, aku udah jawab anaknya temen Abang," "Terus?" "Tapi hari ini temen-temen di kampus pada gosipin aku, katanya aku pura-pura polos aja selama ini supaya bisa menarik perhatian cowok-cowok ganteng di kampus. Nggak tahunya, aku cewek nakal, punya anak hasil di luar nikah." Mata Btari berkaca-kaca. "Abang, aku nggak kayak yang mereka bilang, kan? Aku bukan cewek nakal, ya, Bang?" Setelahnya, Btari menangis sesenggukkan, menjadikan tanganku untuk menutupi wajahnya. Anak-anak jaman sekarang kenapa mudah sekali termakan gosip, sih? Padahal Btari sudah mengatakan bahwa Daryl adalah anak dari temanku, Mas Bizar. Kenapa malah menuduh Btari bohong, lalu mengatakan kalau Daryl adalah anak Btari? Mereka tidak berpikir, berapa usia Btari ketika mengandung kalau usia Daryl saja sudah sebesar itu! Lagi pula, mereka mendapatkan keyakinan darimana kalau Btari mempunyai seorang anak hasil dari luar pernikahan? "Aku nggak pernah aneh-aneh selama ini. Aku selalu nurut setiap kali dikasih tahu sama Abang, Kak Chua buat nggak pergi ke mana-mana sepulang sekolah, atau pulang kampus. Kalau aku cewek nakal, kapan aku punya waktunya kalau hampir tiap hari aku dikurung, nggak boleh keluar rumah sama Abang!" Btari menangis sesenggukkan, setengah menundukkan kepala menghindari tatapanku. Dalam hati, aku merasa bersalah kepada Btari yang tidak pernah kuperbolehkan pergi ke mana-mana sendirian tanpa aku atau pun Chua. Bukan bermaksud membatasi pertemanan Btari, hanya saja, di jaman semodern ini tidak selamanya apa yang kita lihat baik, benar-benar baik. Misalnya saja soal pergaulan. Seringkali aku merasa ngeri dengan pergaulan anak jaman sekarang. Walaupun tidak semua anak-anak modern melakukan pergaulan yang buruk, tapi setidaknya aku ingin menjaga Btari, menjauhkan Btari dari orang-orang yang memiliki niat buruk terhadap gadis itu. Apa aku salah? Aku tidak akan membela diri. Aku hanya mengatakan apa yang menjadi kekhawatiranku selama ini. "Dengar, hei," Kutangkup pipi Btari, mengusap setiap butiran air mata yang turun. "Kamu bukan cewek nakal, kamu cewek baik-baik, mereka aja yang otak sama mulutnya yang jahat." Btari menatapku lurus-lurus dengan matanya yang merah. "Lagi pula Daryl bukan anak kamu, jelas-jelas Daryl anaknya Mas Bizar sama mantan istrinya. Dan juga, Daryl nggak ada mirip kamu sama sekali. Gimana bisa mereka berkesimpulan kalau Daryl anak kandung kamu?" Btari mengusap hidungnya yang ikut merah. Gadis itu menarik napas sebelum memberikan reaksi atas kata-kataku baru saja. "Aku udah bilang gitu ke mereka, Abang," katanya, setengah terisak. "Tapi mereka tetep nggak percaya. Itu cuma alasan aku aja. Untung ada Laliana yang belain aku tadi." Aku masih menangkup pipinya, hingga membuat bibir Btari mirip seperti Ikan Koi. "Nggak usah kamu tanggapi kata-kata mereka. Yang namanya gosip, bakal menghilang dengan sendirinya. Hm?" aku menggerakkan kepala Btari naik-turun. "Ya tetep aja, Bang," Btari akan menangis lagi. "Kalau mereka percaya sama gosipnya, gimana?" "Yang penting aku percaya sama kamu," gumamku, membuat Btari menggigit telapak tanganku kesal. "Kok, digigit, sih?" protesku. "Ya karena Abang tahu faktanya Daryl anak siapa, makanya bilang percaya!" seru Btari mendorong tanganku di pipinya. "Abang aja masih ragu sama aku, nggak percaya kalau aku nggak akan noleh ke mana-mana. Tapi...," Btari memberi jeda selama beberapa detik, kemudian melanjutkan. "Abang ngambek nggak jelas cuma gara-gara aku ngobrol sama cowok lain di depan minimarket. Aku lihat, ya, Abang sembunyi sambil ngintipin aku di dekat pintu!" Mataku membeliak, antara bingung sekaligus malu karena ketahuan mengintip Btari dan teman cowoknya yang sedang ngobrol di depan minimarket. Aku kira Btari nggak menyadari keberdaanku, makanya aku diam dan membiarkan gadis itu ngobrol bersama teman cowoknya. Setelah cowok itu pergi, baru aku kembali menghampiri Btari. "Sedih, tahu, kalau Abang masih aja ragu sama aku. Emang aku ada tampang-tampang nggak setia, ya?" Btari memasang wajah melas, "Kalau aku nggak setia sama Abang, aku nggak akan bertahan sampai sekarang." "Ri, aku nggak maksud gitu," gumamku, bingung. "Aku aja percaya Abang sama Chelsea nggak ada apa-apa, padahal sering jenguk, kan?" "Sekarang udah nggak, Ri, ya ampun," sahutku, gemas. "Setelah aku bilang kalau kamu calon istri aku, aku udah nggak pernah lagi menjenguk Chelsea." "Tapi dia sering ngirim pesan ke Abang!" Aku memijat keningku. Menarik napas lebih dulu sebelum melanjutkan penjelasanku kepada Btari. Kusodorkan ponselku kepada Btari, mulanya Btari menolak dan bertanya untuk apa aku memberikan ponselku kepadanya. Aku berdecak, menarik tangan kanan Btari lalu meletakkan ponselku di sana. "Pegang." kataku, "Mulai sekarang kamu yang pegang HP aku kalau lagi berdua, atau di rumah, atau di mana pun waktu sama aku." Btari menaikkan sebelah alisnya. "Kalau perlu kamu yang balas semua pesan masuk." Btari diam, jari-jarinya menggenggam ponselku. Ini adalah cara terbaik agar Btari tidak menunduhku berhubungan dengan Chelsea. Demi apa pun aku tidak memiliki hubungan dengan gadis itu. Aku memang sempat mengunjunginya beberapa kali, tapi setelah hubunganku dan Btari resmi terjalin, aku tidak lagi pergi menjenguknya walaupun Nora memintaku untuk datang, atau pun Chelsea yang bertanya kepadaku kapan aku akan menjenguknya kembali lewat pesan singkat. "Abang," panggil Btari. "Apa?" tanyaku, setelah lima menit penuh diam. Btari menunjukkan satu pesan yang berasal dari nomor Chua. "Buruan kalian pulang! Ayah sama Ibu lagi di rumah, sekarang." Aku dan Btari saling menatap satu sama lain setelah membaca pesan Chua. Kami diam selama beberapa detik, ada raut cemas yang kutangkap dari wajaj Btari. Aku mengusap kepalanya, dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN