Btari: Kok, Adek? Aku duduk tegang di depan Ayah dan Ibu. Di sampingku, ada Bang Hans yang tidak melepaskan genggaman tangannya. Jujur saja, aku merasa sangat-sangat gugup sekarang. Di sini hanya ada kai berempat. Sedangkan Kak Chua disuruh pergi ke kamarnya oleh orangtua kami. Ada banyak hal-hal yang berkelana di dalam kepalaku. Seperti kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan kami hadapi nantinya. Bisa saja kedatangan Ayah dan Ibu ke Jakarta untuk mengatakan ketidaksetujuannya terhadap hubungan aku dan Bang Hans, kan? Aku tersentak, Bang Hans meremas jari-jariku cukup kuat, seolah menyadarkanku. Dia sangat tahu apa yang sedang kurasakan sekarang. Di dalam perjalanan menuju ke rumah, Bang Hans tidak berhenti meyakinkanku. Bahwa hubungan kami akan tetap baik-baik saja. Tatapan Ayah

