Menunggu Penjelasan

1534 Kata
Btari: Menunggu Penjelasan Aku nggak berhenti meringis menahan rasa perih di siku dan pinggangku yang membentur ujung anak tangga. Rasanya nyeri luar biasa, aku bukan hanya jatuh terjungkal saja, tapi juga tertimpa badan Bang Hans. Bayangkan saja bagaimana tubuh tinggi dan tegap laki-laki itu ambruk di atas tubuhku yang tidak bisa dibandingkan dengan porsi tubuhnya. Hampir saja aku menangis, cuma aku menahannya sebisa mungkin. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menjadi cengeng dan selalu bergantung kepada Bang Hans atau pun Kak Chua. Bang Hans menggandengku, membawaku ke kursi makan dan mendudukkan diriku di sana, sedangkan laki-laki itu menghambur pergi entah ke mana. Aku mengembungkan pipi, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan. Tidak lama, sekitar lima menit kemudian Bang Hans kembali ke meja makan seraya menenteng kotak P3K di tangan. Bang Hans meraih tanganku, membersihkan lukaku lebih dulu, baru setelah itu mengobatinya. Selama Bang Hans mengobati luka di siku kanan dan kiriku, aku memilih diam dan menundukkan kepala menghindari tatapan laki-laki itu. Rasanya sakit, tetapi juga malu. Bagaimana bisa tubuh Bang Hans jatuh di atas tubuhku! Wajah kami sangat dekat, aku sempat kehilangan fokus selama beberapa saat, namun segera tersadar ketika aku menggerakkan tanganku yang terasa nyeri. "Kamu belum makan apa-apa, kan?" tanya Bang Hans membereskan kotak obat di atas meja. Aku hanya menggeleng sebagai jawaban. Sudah kubilang, bukan! Untuk saat ini aku tidak ingin terlalu sering bertemu dengan laki-laki di depanku ini. Setiap kali melihat wajah Bang Hans, rasanya aku kembali kesal mengingat dia yang sudah membohongiku. Ketika Bang Hans sedang sarapan bersama Kak Chua, aku memilih untuk pergi makan belakangan. Pada saat makan malam pun begitu. Aku akan makan lebih dulu sebelum Bang Hans, atau menunggu laki-laki itu selesai makan dan pergi ke kamarnya. Apa aku baik-baik saja di saat aku sedang menghindarinya? Jawabannya, tidak. Tentu saja! Sebenarnya, aku tidak sanggup lagi kalau harus menghindari atau berjauh-jauhan dengan laki-laki itu. Bersikap masa bodoh ketika melihatnya sama saja perang batin. Di satu sisi aku merindukannya, di sisi lain aku masih kecewa padanya. Aku menolehkan kepalaku ke belakang, memandangi pintu dapur. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat punggung lebar Bang Hans. Badannya yang selalu saja menggodaku dibungkus dengan kemeja berwarna biru muda. Aku menggelengkan kepala berusaha mengusir pikiran-pikiran nyeleneh yang muncul begitu saja setiap kali melihat Bang Hans. Tidak. Aku mulai gila hanya karena melihat punggungngnya saja. "Jangan pergi ke kamar dulu sebelum makan," kata Bang Hans berjalan mendekatiku, membawa sepiring nasi hangat lalu meletakkannya ke atas meja. "Hm." Aku menjawab dengan gumaman. Setelah meletakkan sepiring nasi hangat juga gelas berisi air dingin, laki-laki itu kembali ke dapur. Aku masih duduk menunggunya di kursi makan, tapi hingga kini aku belum berniat menbuka suara kecuali menunggunya keluar dapur. Bang Hans kembali, kali ini membawa piring berisikan telur gulung dan sambal bawang. Laki-laki itu sempat melirikku, kemudian menyunggingkan senyuman geli. Masakan yang dibuat Bang Hans tidaklah terlalu rumit atau pun mewah. Hanya telur gulung, nasi hangat dan sambal bawang. Aku mendesah, tanpa kentara. Bagaimana bisa aku menolak jika sudah seperti ini? Laki-laki itu paling tahu apa yang aku suka, paling bisa membuatku luluh hanya karena telur gulung dan sambal bawang. Sialan. Hanya karena masakan sesederhana ini aku mulai tersentuh. "Ayo, dimakan." Bang Hans mendorong piring ke arahku. Buru-buru aku melengos lalu menyeret kursiku menjauh dari kursinya. "Kamu boleh marah, boleh ngambek. Asal jangan lupa makan," katanya yang terdengar seperti membujukku. Aku menyeret kursiku semakin menjauhinya, dalam hati aku mendengus sebal. Semurah itu ya harga diriku di matanya? Masa, cuma karena dia memasakkan makanan favoritku, aku langsung luluh, sih? Untuk kali ini saja aku akan berusaha tidak peduli. Aku akan membutakan mata dan telinga agar tidak terpengaruh dengan Bang Hans. Apa pun yang dilakukan laki-laki itu untukku. "EH!" pekikku keras, tahu-tahu Bang Hans menarik kursiku sampai berdempetan dengan kursinya. Bang Hans menggulung langan kemejanya sampai ke siku, lantas menarik piring hingga ke ujung meja. "Aku udah cuci tangan," kata Bang Hans menunjukkan kedua tangannya di depan wajahku. Lagi-lagi aku melengos. Orang ini mau apa sih sebenarnya? Kenapa tidak berhenti menggangguku akhir-akhir ini. Aku memerhatikan apa yang dilakukan Bang Hans sekarang. Setelah menggulung lengan kemejanya, Bang Hans menyentuh nasi yang sudah berbaur dengan sambal bawang yang menggoda lidahku. "Coba, buka mulutnya." Bang Hans menyodorkan tangannya yang dipenuhi dengan nasi. Iya. Laki-laki itu tengah menyuapiku. "Ayo," Bang Hans menggerakkan tangannya, matanya menatapku lurus-lurus. Aku menelan ludah susah payah. Selain karena makanan yang akan disuapkannya ke mulutku, aku lebih tidak fokus dengan penampilannya. Aku berdecak tanpa kentara, memaki diri sendiri karena hampir saja goyah. "Mau disuapi langsung lewat mulut ya, kamu?" ancamnya. Aku semakin gugup dibuatnya. Bang Hans akhir-akhir ini menunjukkan sisinya yang berbeda. Selain mengubah sebutan dirinya ketika berbicara denganku, laki-laki itu bersikap seolah aku ini pacarnya. Bang Hans akan memasukkan makanannya ke dalam mulutnya sendiri. Mataku membeliak, sebelum dia benar-benar menyuapiku lewat mulutnya secara langsung, lebih baik aku mengalah dan menuruti perintahnya. Aku membuka mulutku, memberi isyarat bahwa aku bersedia disuapi olehnya. Bang Hans menahan tawa gelinya, tapi setelah itu dia mengarahkan suapannya ke dalam mulutku. Aku mengunyah dengan ogah-ogahan pada awalnya. Namun, begitu rasa pedas sekaligus asin dari sambal bawang membuat mataku membelalak, tanpa sadar aku memejamkan mata menikmati makanan yang sedang kukunyah. Melihat raut wajahku yang berubah seketika, Bang Hans terkekeh, lalu kembali menyuapiku. Uhuk. Aku tersedak makanan tenggorokkanku. Kutepuk dadaku pelan dan semakin terbatuk-batuk. Bang Hans mendorong piring hingga ke tengah-tengah meja lantas membantuku untuk minum. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Bang Hans menepuk-nepuk punggungku pelan. Kuusap sudut bibirku yang basah, lantas menggelengkan kepala sebagai jawaban. Makanan di piring tinggal beberapa suap lagi. Sayang sekali kalau harus kubiarkan terbuang di tempat sampah. "Mau nambah, nggak?" tanyanya, seolah menyadari raut wajahku yang memelas. Demi apa pun, aku benar-benar menyingkirkan rasa gengsi sekarang. Aku memang masih marah padanya, tapi bagaimanapun aku tetap membutuhkan banyak makanan agar aku memiliki energi dan tetap bertahan untuk marah kepada Bang Hans. Aku mengangguk, setengah ragu-ragu. Dalam hati aku memaki diri sendiri. Ya ampun. Kenapa aku selalu kalah kalau sudah berurusan dengan laki-laki ini, sih? Dia punya apa sampai membuatku luluh dengan mudah! Harusnya kutolak saja. Tapi bodohnya aku malah mengangguk seperti orang linglung. *** "Btari!" Baru saja aku akan pergi tidur, Bang Hans mengetuk pintu kamarku dari luar. Aku mendesah, merasa kesal karena Bang Hans tidak berhenti menggangguku. Sambil menggulung rambut ke atas, aku mendekati pintu dan membukanya. Aku mengerutkan dahi, memandangi penampilannya dari bawah sampai ke atas. "Buruan siap-siap sekarang!" katanya memberi perintah. "Mau ke mana?" tanyaku, bingung. Sekarang sudah malam, dan dia menyuruhku untuk bersiap-siap. Memangnya, dia mau mengajakku ke mana sih? Bang Hans mendorongku pelan, kemudian menutup pintu kamarku. "Aku tunggu di bawah!" serunya di balik pintu. *** Bang Hans membawaku ke sebuah rumah sakit. Entah siapa yang sedang ingin dijenguknya. Aku hendak bertanya, tapi laki-laki itu sama sekali nggak memberikan penjelasan dan hanya menggandengku melewati sebuah lorong yang tampak sepi. "Tunggu." aku menahan tangan Bang Hans. "Kenapa Abang bawa aku ke sini? Siapa yang sakit?" tanyaku, menuntut jawabannya. Bang Hans mengeratkan genggaman tangannya. Aku bisa merasakan jari-jari panjangnya meremas jemariku kuat-kuat. Aku membeku, tidak berani lagi menatapnya seberani tadi. Sebelah tangan Bang Hans mengelua rambut panjangku yang tergerai, kemudian bergumam. "Nanti aku jelasin." Bang Hans setengah membungkukkan punggungnya agar wajahnya bisa sejajar dengan wajahku. "Kamu mau tahu siapa cewek yang pergi ke toko mainan sama aku, kan?" Mendadak saja aku berhenti bernapas sejenak. Kupandangi wajah tampannya selama beberapa detik, lalu mengangguk. Walaupun aku ragu dengan keputusanku, aku tetap penasaran siapa cewek yang aku temui di toko mainan bersama Bang Hans beberapa hari lalu. Cewek berambut panjang berwarna cokelat terang yang membuat Bang Hans jadi membohongiku. *** Bang Hans membawaku ke dalam sebuah ruang rawat inap. Laki-laki itu masih menggandeng tanganki erat, tidak melepaskannya sama sekali seolah takut aku pergi meninggalkannya. Sedari tadi aku memilih diam dan tidak berkomentar apa pun. Tidak bertanya lagi siapa yang akan dijenguknya, kenapa dia membawaku kemari dan pertanyaan-pertanyaan lain di dalam kepalaku. Bang Hans menempelkan ponsel ke telinga kanannya, sedangkan tangannya yang lain masih menggenggam tanganku. Diam-diam aku mendengarkan obrolan Bang Hans dengan seseorang. Dari yang kutangkap, Bang Hans menyebutkan nama Nora, mantan pacarnya. Aku mengempaskan tangan Bang Hans, tetapi segera disambarnya, dan menggenggam tanganku semakin erat. "Aku udah di luar," kata Bang Hans dengan seseorang di telepon. Bersamaan sambungan telepon terputus, pintu kamar inap di depan kami terbuka dan memerlihatkan sosok Kak Nora. Aku menarik napas panjang, kalau Bang Hans ingin bertemu dengan mantan pacarnya, kenapa harus mengajakku? "Hans," Kak Nora menyapa Bang Hans, kemudian pandangan matanya tertuju padaku. "Oh, Btari? Hai," sapa Kak Nora, ramah. Kepalaku mengangguk sebagai balasan menyapanya. "Gimana Chelsea, Ra?" tanya Bang Hans pada Kak Nora. Dahiku berkerut, bibirku bergerak tanpa mengeluarkan suara ikut-ikut menyebut nama 'Chelsea'. Kak Nora tersenyum kecil, dan menjawab. "Dia udah nggak apa-apa. Maaf aku ganggu waktu kamu malam-malam ya, Hans." "Nggak apa-apa, Ra," jawab Bang Hans. Kak Nora mengangguk. "Btari ikut ke sini juga, ya?" tanya Kak Nora padaku. Tanpa harus kujawab, harusnya dia sudah tahu. Sudah jelas-jelas aku berdiri di depannya, tanganku digenggam seerat ini, apa masih belum cukup dijadikan sebagai jawaban? "Aku mau kita meluruskan semuanya." Kak Nora dan aku kompak menengadahkan kepala dan menatap Bang Hans. "Aku nggak mau ada salahpaham lagi..." kata Bang Hans, kemudian. To be continue---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN