bc

ALVARES

book_age12+
689
IKUTI
2.3K
BACA
possessive
badgirl
drama
comedy
twisted
sweet
humorous
friendship
school
like
intro-logo
Uraian

"Gue mau mati bunuh diri, tapi gue gak mau masuk neraka. Hidup gue di dunia udah tersiksa. Gue gak mau, di akhirat juga, gue harus tersiksa."~Alvares

'Bahagia?' Satu kata yang mustahil menurut Ares untuk terjadi. Baginya, ia hidup hanya untuk merasakan sakit, luka, dan tersiksa. Dunia seakan kejam baginya.

Rasanya di sayang sama ayah kayak gimana?

Alvares Septian, cowok dengan sejuta luka yang bersarang di hatinya. Tidak pernah disayang oleh ayahnya, entah apa yang membuat ayahnya begitu benci.

Bukan hanya itu, ia pun selalu di bandingkan dengan adiknya---Antariksa. Ayahnya selalu membanggakan Antariksa dan selalu bersikap pilih kasih padanya.

Namun, Ares masih bersyukur karena memiliki wanita yang sangat ia cintai dan selalu menemaninya di saat suka dan duka. Gadis itu bernama Jihan. Satu-satunya wanita yang membuat hidupnya sedikit berarti.

Namun, Tuhan pun merenggut kebahagiaan satu-satunya yang Ares miliki. Ia terjebak dalam keadaan yang membuatnya putus asa. Ares dan Antariksa harus menyukai gadis yang sama.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Pilih Kasih
"ALVARES!!!" teriak seorang gadis di belakang punggungnya. Nada suaranya tampak marah dan menggeram kesal. Perlahan lelaki yang merasa namanya disebut pun membalikkan badan, menatap ke arah sumber suara. "Buat rusuh apa lo, di kelas?!" tanya gadis yang tadi berteriak memanggil namanya. Kedua tangannya berkacak pinggang, layaknya seperti ibu kos yang tengah menangih uang. "Apa?" jawab Alvares santai. Mulutnya sedang mengunyah permen karet. "Lo habis ribut kan di kelas? Itu papan tulis rusak, pasti gara-gara lo!" ujar gadis itu dengan tajam. Kedua matanya memelotot pada Ares. Alvares Septian Amoura, cowok berumur tujuh belas tahun itu, dikenal dengan sikap cuek dan kenakalannya yang sudah melebihi batas. Bahkan nama Alvares tidak asing lagi bagi guru konseling. Karena, cowok itu yang bulak-balik masuk ke dalam ruang BK. "Bukan salah gue, tapi Ronald," jawab Ares dengan dingin, lalu membalikkan badan dan melanjutkan kembali langkahnya. Gadis itu mendengus kesal, karena Ares tidak ingin mengaku. Dia berlari, lalu menahan tangan Ares. "Tapi, lo yang ribut sama Ronald! Berarti, itu kesalahan lo!" ujarnya terus mendesak Ares. Jihan Stefi Amara, gadis yang diketahui ketua kelas XII IPS 3----atau kelas Ares. Cewek dengan segala keberaniannya dan tidak pernah takut kepada siapapun. Bahkan Ares sekalipun, ia tidak akan takut. Walaupun semua orang menakuti cowok nakal itu, namun tidak dengan dirinya. Ia tidak akan pernah diam, jika seseorang berbuat kenakalan. Ares menyipitkan matanya, menatap Jihan. Ia membuqng napas berat, lalu meninggalkan Jihan begitu saja. "ARES GUE BELUM SELESAI BICARA!!" "ARES, LO HARUS GANTI RUGI PAPAN TULIS YANG BOLONG!!" "ARES!!!" Jihan terus berteriak hingga suaranya melengking ke mana-mana. Namun, Ares tidak mendengarkannya. Cowok itu tetap berjalan santai dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku. •••π••• "Mohon agar memberi wejangan pada Ares ya, Pak. Kami selaku guru di sini, sudah kewalahan menghadapi putra Bapak, yang terus buat onar di sekolah ini," ucap wanita paruh baya yang sedang berbicara pada pria, yang tak lain adalah ayah Ares. "Baik Bu, saya sebagai ayahnya Ares meminta maaf sekali lagi atas perilaku Ares yang sangat nakal. Saya akan berusaha, untuk berbicara pada Ares," sahut Iqbal. Lelaki berumur tiga puluh sembilan tahun itu, masih terlihat tampan dan gagah. Bahkan jika Ares berjalan berdua dengan ayahnya, terlihat seperti adik-kakak, bukan seorang ayah dan anak. "Ini surat peringatan untuk Ares." Wanita itu menyodorkan sebuah amplop putih pada Iqbal. Iqbal mengambilnya, ia lalu bangkit berdiri dari duduknya. "Untuk kerusakan papan tulis, nanti saya akan ganti ya, Bu." Wanita paruh baya itu tersenyum simpul. "Baik Pak, terimakasih atas tanggung jawabnya." Iqbal hanya mengangguk. "Baik Bu." Iqbal membalikkan badan, lalu berjalan keluar dari ruang BK. Ia membuka pintu, dan langsung mendapati anaknya yang tengah berdiri di sana. Iqbal menatap Ares sangat murka. Kedua matanya sangat tajam, seperti elang. Ares menunduk, tak berani menatap wajah Ayahnya yang sedang murka. "Maaf Pa," ucapnya. "Pulang!" ujar Iqbal dengan nada tinggi, sambil berjalan duluan meninggalkan Ares. Iqbal sangat jengah dengan sikap Ares yang terus seperti ini. Terus saja buat onar di sekolah, bahkan peringkat kelas saja, cowok itu tidak dapat. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya. Dulu Iqbal adalah murid yang baik, tidak pernah nakal apalagi masuk ruang BK. Namun, kenapa sikap Ares seperti ini? ••••π•••• Plak! Sebuah tamparan yang cukup keras itu, mendarat dipipi Ares. Wajahnya menoleh ke samping, dengan bekas memerah akibat tamparan sang ayah. "Iqbal!!" teriak seseorang yang sedang menuruni anak tangga. Zara berlari menghampiri Ares dan melindunginya dari amarah Iqbal yang sangat menyeramkan seperti itu. "Kamu gak seharusnya nampar, Ares!" ujar Zara, wanita yang kini berumur tiga puluh sembilan tahun, atau sebanding dengan Iqbal. Wajahnya yang cantik masih melekat pada dirinya. "Apa! Kamu mau belain, dia yang salah? Ares tuh udah kelewatan! Sampe kapan, dia kayak gini terus?!" omel Iqbal menatap wajah Ares dengan amarah yang menggebu-gebu. "Tapi, dia juga anak kamu! Gak seharusnya, kamu main tangan sama Ares!" Zara tetap membelanya dan melindungi Ares. Iqbal mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia mengusap wajah kasar. "Kamu kenapa belain Ares terus, Ra? Jelas-jelas dia salah! Masih aja, kamu belain!" Iqbal menatap istrinya dengan heran. Lalu, kedua sudut bibirnya tersenyum sinis. "Oh, apa karena kamu liat wajah anak kita, kaya wajah Ares? Makanya kamu, selalu menentang aku, iya kan Ra?!" Ares yang daritadi menunduk, lantad langsung mendongak menatap wajah ayahnya. Ares? Siapa lagi cowok itu? Kenapa namanya sama? Ares lalu menolehkan wajahnya ke arah Zara. Ia menatap ibunya, seolah meminta ibunya agar menjelaskan semuanya. "Kamu apaan si, Bal?! Bisa gak sih sikap kamu, gak usah kenak-kanakan kaya gini! Dikit-dikit marah! Dikit-dikit emosi! Kamu kenapa sih Bal?!" ujar Zara merasa jengah dengan sikap Iqbal. Iqbal menghela napas panjang. "Aku yang kenak-kanakan atau kamu?" Iqbal menatap wajah Zara sangat dekat, lalu setelah mengucapkan itu, dia melengos pergi dari sana. Kedua mata Zara sudah memerah, dengan air matanya yang perlahan mengalir, membasahi pipi. Iqbal benar-benar sudah berubah. Lelaki itu sama sekali, tidak pernah mengerti tentang perasannya. "Ma..." Ares menatap wajah ibunya, ia melihat ibunya yang menangis. Dengan cepat, Zara langsung menghapus air matanya. Ia mengusap rambut Ares, seraya tersenyum, menyembunyikan luka yang ada di hatinya. "Iya sayang?" jawab Zara. "Maafin Ares," ucap Ares merasa bersalah. Zara tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia kemudian menangkup wajah Ares. "Kamu bisa berubah kan? Demi Mama. Mama gak mau, Papa kamu marah lagi, Res." Ares tersenyum manis. Ia pun mengangguk pelan, lalu meraih tubuh ibunya ke dalam dekapannya. Iqbal memang tidak pernah memberikan kasih sayang pada Ares. Inilah akibatnya, Ares menjadi anak nakal seperti ini. Ia hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Apa salahnya? Kenapa ayahnya tidak pernah menyayanginya? Iqbal hanya sayang pada Antariksa, anak keduanya atau adik Ares yang masih duduk di bangku kelas satu SMA. Semua kasih sayang Iqbal, ia berikan pada Antariksa. Namun Ares masih tetap beruntung, karena ibunya sangat menyayanginya dengan tulus. Tidak pernah membedakan kasih sayang pada dirinya dan Antariksa ••••π•••• "Oh iya Pa, motor Anta udah jelek. Anta gak mau pake motor butut itu lagi, Papa mau kan beliin motor baru buat Anta?" ujar Antariksa menatap ayahnya. Baru saja Iqbal akan menjawab, namun suara Zara, membuatnya kembali menelan ucapannya. "Anta, motor kamu kan masih bagus. Belum lama juga belinya, kenapa mau ganti?" tanya Zara. Mengingat, jika Iqbal baru satu bulan ini, membalikkan motor Antariksa. "Tapi temen-temen Anta, motornya keluaran terbaru semua, Ma. Masa cuma Anta doang, yang motornya jelek?" sahut Antariksa. "Iya Anta, Papa akan belikan motor baru buat kamu," jawab Iqbal, membuat Zara langsung mendeliknya dengan sangat tajam. "Yesss!! Beneran ya, Pa?" Antariksa berteriak histeris, lalu bangkit dari duduknya dan memeluk ayahnya dengan sangat senang. Sedangkan disisi lain, Ares menatap mereka semua dengan kesal. Ia yang sedang menyantap makanan pun jadi menghentikannya. Perutnya yang terasa lapar, kini tiba-tiba tidak ada selera. Brak! Ares menggebrak meja makan dengan sangat keras, membuat Zara, Iqbal serta Antariksa langsung menoleh padanya. Ares langsung pergi dari sana, dan berjalan menaiki anak tangga dengan cepat. "Ares makanan kamu kan masih utuh?!" teriak Zara memanggil Ares, namun Ares tidak mendengarkannya sama sekali. "Kak Ares kenapa si, Ma?" tanya Antariksa melirik Zara. "Dasar anak nggak sopan," ucap Iqbal menatap kepergian Ares. Zara melirik Iqbal. Ia melihatnya dengan tatapan kecewa. Giliran Ares minta dibelikan laptop, Iqbal menolaknya. Zara bangkit berdiri dan pergi dari sana. Ia pun sangat muak, jika Iqbal sudah mulai memanjakan Antariksa. "Ara, kamu mau ke mana? Makanan kamu, belum di makan!" teriak Iqbal namun, Zara tidak mempedulikannya dan tetap melangkah menuju kamarnya. Laptop Ares rusak, karena Antariksa yang meminjamnya dan tidak tau, apa yang cowok itu lakukan, sampai laptopnya rusak. Ares meminta ayahnya untuk membelikan laptop yang baru, namun Iqbal bilang laptop itu masih bisa diperbaiki. Katanya jangan buang-buang uang, hanya untuk membeli laptop baru. Namun, kenapa di saat Antariksa meminta dibelikan motor baru, Iqbal langsung mengabulkannya? ••••π•••• Ares menjatuhkan tubuhnya di balik pintu dengan menekuk kedua lututnya. Ia menenggelamkan wajahnya di atas kedua lipatan tangan. "Apa salah gue? Kenapa Papa gak pernah adil? Apa ada masa lalu, yang buat Papa benci sama gue?" Ares terus bergumam dengan parau. Ares benar-benar sudah capek dengan hidupnya yang seperti ini. Mempunyai ayah, namun berasa tidak mempunyainya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook