Aliya Najwa Syafira

911 Kata
"Hai semua... Assalamu'alaikum." Ucap seorang perempuan yang tiba-tiba masuk kedalam rumah Ikhwan. Wanita itu tak lain adalah Kak Mut, nama panjangnya adalah Siti Mutmainnah. Dia adalah kakak Ikhwan dan anak paling tua dari keluarga Ikhwan. "Mbak Mut.? " Inayah berteriak Histeris. Mut menyalami ummi dan abahnya. "Kapan pulang kak? Kok gak ngomong sih? Kan bisa dijemput kak Abi." "Baru aja tadi pagi dek. Ini kakak kesini mau nganterin oleh-oleh." Inayah melirik sebuah koper besar, sepertinya itu berisi hadiah dari kakaknya. Mut baru datang dari Luar negeri bersama suaminya. "Alika mana mbak? Kok gak ikut sih?" tanya Inayah. "Alika tidur, Kayaknya dia capek. Kan, selama aku diluar negeri yang jagain dia Neneknya." "Padahal ummi kangen dia lho Mut. Kalau kesini lagi dibawa ya?" suruh umminya. "Iya Ummi, besok aku bawa kesini deh." "Ilham gak ikut nak?" tanya Abahnya yang sedari tadi sibuk membaca koran." "Mas ilham capek abah, besok katanya mau kesini." "Ya sudah nak." " Ikhwan kemana?" "Biasalah mbak, dia lagi dikamarnya baca buku. Sibuk banget dia itu. Kenapa juga gak cepat-cepat cari jodoh." "Nah, itu dia intinya. Mut kesini mau tanyain perihal gadis yang mau aku jodohin sama dia ummi." "Yang mana?" tanya umminya. "Aliya, Ummi. Adik sepupunya mas Ilham. Dia kan masih mahasiswa Ikhwan juga, mi." "Kalau kita terserah dia saja nak. Jangan dipaksa. Iya kan ummi?" kata Abah. "Ya, Abah. Ummi setuju." "Emangnya kayak apa sih mbak anaknya.?" tanya Inayah. "Nih, Mbak ada fotonya." Inayah melihat foto Aliya di Ponsel Mut. "Dia itu udah lama suka sama Ikhwan Nay." kata Mut "Mbak kok tahu sih kalau dia suka sama kak Abi?" "Soalnya dia sering kerumah dan nanyain semua tentang Ikhwan." "Cantik sih kak. Tapi masa ada wanita berjilbab nanyain tentang cowok duluan." Inayah memperlihatkan ketidaksukaannya pada Aliya. Ketika itu, Ikhwan turun dari kamarnya dan menuju ketempat dimana keluarganya berkumpul. "Lagi ngomongin apa sih?" Ikhwan menyalami kakak perempuannya itu. "Nah, ini dia adik mbak. Hmm.. Mau nanyain soal Aliya dek, gimana?" " Aliya siapa mbak?" "Aliya Najwa Syafira dek. Mahasiswa kamu." "Oh, dia baik. Gak pernah bolos. Nilainya cukup baik." jawab Ikhwan. "Bukan itu dek. Masalah perjodohan kamu sama dia " "Gimana ya Mbak. Dia itu cantik, baik dan cukup pintar. Tapi sayangnya Ikhwan gak ada perasaan sama sekali sama dia." "Dia kurang apa sih dek, kok kamu gak bisa nerima dia?" "Gak ada, mbak. Mungkin Ikhwan aja yang belum bisa suka sama dia." "Yee.. Aku kan udah bilang mbak, kak Abi gak suka sama Aliya. Kak Abi, mendingan sama temen Aku aja. Dia punya nilai plus- plus kak." "Udah ah, mending aku pergi aja ya? Dari pada kalian berantem cuma gara-gara cari jodoh buat aku." Ikhwan berdiri dan mengucap salam lalu pergi. ~~ Hanun berada disebuah Cafe. Dia sudah ada janji dengan Pak suryo yang berniat mengembalikan uangnya. Hanun sudah menolaknya, tapi Pak suryo memaksa. "Assalamu'alaikum Pak." sapa Hanun pada Pak suryo yang sudah menunggunya. "Wa'alaikumsalam. Duduk dulu nak Hanun. Saya sudah pesan secangkir kopi putih untuk nak Hanun." "Terima kasih pak. Seharusnya bapak tidak usah repot-repot." "Tidak apa nak. Ini uang kue kemarin." pak suryo menyerahkan beberapa lembar uang. "Ambil saja semua nak." "Maaf pak, uang kuenya kemarin kan cuma dua ratus ribu. Tapi ini jumlahnya lebih pak." "Itu untuk nak Hanun saja." "Maaf pak. Bukannya saya menolak, tapi saya tidak mau mengambil hak yang bukan menjadi hak saya. Lebih baik uangnya diberika kepada yang lebih membutuhkan saja." Hanun menyerahkan kembali beberapa uang yang lebih itu. Pak suryo tersenyum melihat tingkah Hanun yang begitu baik itu. "Kalau nak Hanun tidak keberatan, bisa tidak menemani saya disini sebentar. Saya sedang butuh teman bicara." Hanun tersadar jika lelaki tua didepannya itu seperti sedang bersedih. "Baiklah Pak " "Kalau begitu, minum dulu nak kopinya " "Maaf pak, tapi sekarang saya sedang berpuasa. Sekali lagi saya mohon maaf pak." "Ya sudah nak. Maaf, saya tidak tahu kalau nak Hanun ini berpuasa." " Tidak apa-apa , pak. Saya yang minta maaf. Kopinya jadi nganggur kan?" Entah kenpa, pak suryo senang jika berbicara dengan Hanun. Wanita yang menurutnya lain daripada yang lain. "Saya punya satu anak lelaki. Dia dulu tinggal bersama Mamanya. Mantan istri saya meninggalkan saya demi orang lain. Saat itu juga dia pindah agama dari islam ke Kristen. Dia juga menghasut anak saya kalau sayalah yang meninggalkannya demi perempuan lain. Anak saya mulai kecil diasuh Ibunya. Saat beranjak remaja, saya mengambil hak asuhnya. Dan saat iti juga dia sudah membenci saya dan istri baru saya. Saya menikah lagi setelah dua tahun bercerai. Dan saat dia punya adik baru, kebenciannya makin bertambah pada saya dan juga anak istri saya. Kelakuannya semakin hari semakin tidak terkontrol. Dia jadi anak yang brutal. Saya lelah menghadapinya." Hanun tercengang mendengar omongan pak suryo. Ternyata lelaki itu memendam sebuah kisah yang menyedihkan. "Apa bapak sudah pernah mengobrol berdua saja dengannya tanpa ada siapapun.? Cobalah bicara baik padanya pak. Turuti semua keinginannya selagi masih dibatas kewajaran. Ajak dia pergi ke pengajian. Ajak dia shalat berjamaah. Ajak juga dia makan sekeluarga dengan keluarga bapak dan juga keluarga ibunya. Awalnya memang sulit Pak. Tapi perlahan, dia akan mengerti." Pak suryo tersenyum. "Baiklah nak, akan saya coba." "Ya sudah pak. Maaf ya? Saya harus segera pulang. Mungkin lain kali kita bisa saling bercerita lagi. Insya'allah saya akan membantu." "Baiklah nak. Maaf ya, saya merepotkan nak Hanun." "Tidak apa-apa pak. Saya pamit dulu. Assalamu'alaikum" "Wa'alaikumsalam." Pak suryo senang karena ada seorang yang memberinya solusi untuk merubah sifat anaknya itu. Dia juga senang ada seorang wanita yang baru dikenal, tapi mau mendengar semua curahan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN