Kecantikan Hanun

952 Kata
"Siapa sih yang gak bosen begini? Lima hari gue diskors gara-gara gadis itu. Cewek sok alim, dan juga sok baik itu." Indah sedang berbicara dengan teman-temannya dikantin. Wajah indah begitu muram, memperlihatkan sebuah kebencian yang mendalam pada Hanun. "Iya ndah, gue juga Bete lihat tuh orang. Pakaian udah aneh banget. Kayak orang arab aja. Mungkin dia ikut aliran sesat gitu ya?" kata perempuan yang bersama indah. "Mungkin wajahnya cacat kali ya, sampai-sampai tuh orang pakai cadar kayak gitu." tambah indah. "Ya mungkin. Dia paling cuma nutupin kekurangannya aja ndah." "Oh my god. Gak banget deh itu cewek." Aliya yang kebetulan lewat mendengar itu semua dan menghampiri gerombolan Indah dan kawan-kawannya. "Maaf ya ndah, kayaknya tuduhan kamu ngomongin Hanun itu salah. Hanun itu gak cacat. Jujur aja iya? Aku baru sekali lihat wajahnya, tapi dia itu cantik dan nyaris sempurna. Subhanallah, walaupun dia cantik, tapi dia gak mempertontonkan kecantikannya. Aku bangga berteman sama dia, udah cantik wajah, cantik hati juga." "Gue gak percaya. Loe kan temennya, pastinya ngebelain dia. Punya temen cacat kok bangga." Aliya kesal. Semua sedang menertawakannya. "Emang susah iya kalau ngomong sama orang kayak kalian ini." Aliya segera pergi dari tempat itu. Terlalu lama disana bisa membuatnya tak bisa menahan amarahnya yang memuncak. Setelah itu Alex dan dua anak buahnya datang menghampiri indah. Mereka saling mencium pipi seolah itu sudah biasa. "Hai sayang" ucap Alex "Eh, sayang. Kamu baru datang?" "Iya sayang. Kamu kok gak nungguin aku sih?" "Maaf ya sayang, aku tadi nelpon kami tapi gak kamu angkat sih." "Yaudah sayang. Ngomong- ngomong ngapain kalian tadi ketawa? Ada yang lucu iya?" "Sayangku, kamu tahu gak? Masak tadi Alya ngebelain si aliran sesat itu. Tadi kan kita ngomongin dia. Kita tuh mikir kalau dia itu mungkin cacat sampai pakai cadar kayak gitu. Eh, si Alya gomong kalau dia itu cantik bahkan nyaris sempurna. Ya, kita ketawa aja. Mana ada orang cantik pakai kayak gitu." "Oh gitu iya? Yaudah sayang, gak penting juga ngomongin dia. Mending kita pesan makan aja, biar aku yang traktir semuanya." ~~ Kampus mulai sepi, namun hanya Alex dan juga dua temannya yang sedang nongkrong di luar gerbang kampus. Disisi lain, Hanun yang baru saja mengembalikan jas dan kemeja Ikhwan hendak pulang. Alex yang melihat Hanun sendirian keluar kampus, merencanakan sebuah kejahatan. "Heh loe, Ayo ikut gue." Alex menarik tangan Hanun dengan kasar, namun Hanun segera menepisnya. "Loe berani ngebantah gue iya?" "Maaf, bisa tidak kamu gak usang pegang tangan saya." "Suka-suka gue dong. Lagian gue gak mau ngapain loe kok. Loe tinggal ikut gue aja. Asal loe tahu iya? Loe bukan tipe gue. Ayo sekarang loe ikut gue." "Saya tidak mau." Hanun berlalu dan pergi. Alex geram dan mengejar Hanun. Dia mulai menarik tangan Hanun kembali. Hanun yang reflek lalu menamparnya. "Saya sudah bilang, jangan pegang tangan saya." "Loe nampar gue, berani banget loe ya? Loe gak takut sama gue?" "Saya tidak takut pada siapapun kecuali Allah." "Oh iya? Mana tuhan yang loe maksud itu? Kenapa dia gak nolongin loe dari gue sekarang?" "Allah selalu mendengar dan melihat hambanya yang dalam kesulitan." "Alah, Basi omongan loe. Kalian cepetan buka penutup wajahnya." Kedua teman Alex berusaha membuka cadar Hanun. Hanun berlari dan masuk kembali kekampus untuk mencari pertolongan. "Cepat kalian telanjangi cewek itu." kata Alex. Hanun menangis, langkahnya begitu lambat bagi seorang lelaki seperti Alex dan temannya itu. "Tolong...!!" teriak Hanun. Kedua teman Alex berhasil membuka cadar Hanun dan juga jilbab panjang gadis itu. Hanun berdikir dalam hatinya, meminta pertolongan dari Allah. Hanya itu yang bisa dilakukannya. Alex tercengang melihat kecantikan Hanun, begitu juga dengan kedua temannya. "Cepat kalian telanjangi dia." Alex mendorong tubuh Hanun sampai terjatuh. Hanun hendak bangkit dan meraih hijabnya kembali. Betapa memalukannya kejadian ini baginya. Mahkota yang ia lindungi selama ini dklihat oleh lelaki yang bukan mahramnya. Alex mulai menarik gamis Hanun sampai kain dilengan gadis itu sedikit sobek. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan memukul Alex. "Buggggh.." "Kurang ajar kalian itu. Biadab dan tak beperasaan." Ikhwan terus menghajar mereka bertiga sampai babak belur. "Sekarang kalian pergi sebelum saya melakukan sesuatu yang lebih dari ini." Alex dan temannya segera pergi terbirit-b***t. Ikhwan mengambil jilbab dan cadar milik Hanun yang terjatuh ditanah. Melihat gadis itu menangis menunduk menutupi wajahnya. Dia sakit hati melihat gadis itu diperlakukan semena-mena. "Pakailah lagi jilbabmu ini." Hanun segera memakainya kembali. Gadis itu bediri kembali, namun ia berusaha menutupi bagian yang sedikit sobek itu. "Kamu tidak apa-apa kan?" Hanun masih menangis dan belum menjawab pertanyaan Ikhwan. Ikhwan menyadari kalau bangian tangan gadia itu terluka dan gamisnya juga sedikit sobek. Ikhwan mencopot jasnya dan memakaikannya pada Hanun. "Ayo, saya antar pulang sekarang." ~~ "Hanun kelihatannya syok bu, saya benar-benar minta maaf iya, bu." ucap Ikhwan pada Umminya Hanun. "Ini bukan salah kamu nak. Justru saya yang berterima kasih sama kamu. Kalau tidak ada nak Abi, apa jadinya anak saya satu-satunya itu. Saya sudah curiga dari awal nak. Saya sudah pernah mengatakan padanya agar berhati-hati. Di mesir dan indonesia itu berbeda. Mungkin disana cara berpakainnya itu sudah biasa. Tapi dinegeri ini, semua memandangnya sebelah mata. Dia selalu saja berkata kalau dia harus tetap mempertahankan prinsipnya." "Maaf bu, saya setuju dengan Hanun. Dia itu gadis pemberani. Ibu patut bangga memiliki putri sepertinya." " Dia memang seperti itu nak." Ikhwan melihat raut kecemasan diwajah ibu Hanun. "Jangan khawatir bu. Saya akan menangani masalah ini." Ikhwan telah berjanji akan membuat Gadis itu tidak merasa terancam lagi. Dia juga bertekad akan menyelesaikan masalah ini. Kepeduliannya begitu besar pada Hanun. Dia tidak menyadari kalau perasaannya itu lebih dari sekedar mengasihi dan mengagumi. Dua insan yang saling mengagumi dalam diam. Hanya munajat ditengah malam yang dapat mengungkapkan rasa kekaguman itu. Ketika Hanun dalam Kesulitan, ada Ikhwan yang menolongnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN